Lukisan Pelangi Ama


Cerpen Y Agusta Akhir (Suara Merdeka, 27 April 2014)

Lukisan Pelangi Ama ilustrasi Farewell

HUJAN baru saja berhenti beberapa saat lalu. Dari teras rumah, Ama masih menatap lekat lengkung pelangi yang menggurat di langit biru. Ia memandangnya seolah ada yang ia lihat selain garis warna merah, kuning dan hijau yang sudah mulai pudar itu. Kuperhatikan wajahnya. Masih ada gurat sedih di wajah mungilnya itu.

‘’Apakah ia masuk surga, Tante?’’ gumamnya tanpa berpaling dari lengkung pelangi itu. 

Ah, Ama. Rupanya kau masih memikirkan temanmu itu. Dan seingatku, itu pertanyaan yang ketiga yang diulangnya sejak ia tahu, teman sebangkunya meninggal karena sebuah kecelakaan saat dalam perjalanan pulang dari sekolah. Dan jawabanku juga masih sama dengan sebelumnya.

‘’Tentu saja, Sayang. Anak kecil belum memiliki dosa.’’

‘’Apakah ia akan melewati pelangi itu?’’ tanyanya lagi. Sekarang ia mengalihkan pandang kepadaku. Bola matanya yang kecil beradu pandang denganku. Aku, seolah dapat melihat lengkung pelangi di bola mata Ama yang bening dan jernih itu. Tapi yang membuatku sedikit tersentak adalah ucapannya tadi. Ia belum pernah berkata begitu sebelumnya. Ah, anak kecil memang seringberimajinasi.

Tapi, tak urung aku menjawabnya juga.

‘’Tentu saja,’’ kataku sembari mengulum senyum dan merundukkan badan demi bisa lebih dekat dengannya. ‘’Dia akan diantar banyak bidadari, Sayang.’’

‘’Tapi kata ibu guru di sekolah, pelangi itu tanda ada bidadari yang sedang turun mandi.’’

Bisa saja anak kecil ini. ‘’Iya. Tapi mereka perlu kembali juga, bukan?’’ jawabku sekenanya. Lalu aku tunjuk pelangi itu. Ia mengikuti arah telunjukku. Menatap pelangi yang sudah tampak mulai samar itu.

‘’Itu tandanya bidadari sudah kembali. Nah, saat itu, barangkali temanmu pergi bersama mereka,’’ terangku. Berharap ia terhibur dan tidak bersedih lagi.

Saat ia mengatakan bahwa temannya meninggal karena kecelakaan, aku sungguh bersedih. Beberapa jam sebelumnya, aku sudah membaca berita itu di koran. Anak itu bernama Edo, salah satu siswa sekolah tempat di mana Ama juga jadi murid di sana. Ketika Ama memberitahukan kepadaku kalau anak yang meninggal itu adalah teman sebangkunya, aku jadi ikut bersedih. Ya, aku selalu bersedih mendengar berita semacam itu: Anak-anak mati. Anak-anak yang belum sempat menginjak dewasa. Atau kematian kanak-kanak justru lebih baik? Ah, entahlah. Bukankah itu kehendak Tuhan?

Ama, gadis kecil keponakanku itu memang sering bercerita tentang temannya yang pandai menggambar. Namanya Edo. Katanya, ia sering meraih juara setiap mengikuti lomba lukis anak-anak.

‘’Di sekolah belum ada yang menandingi, Tante.’’

‘’Oya? Dia pasti juga anak yang baik.’’

‘’Dia sahabatku, Tante.’’

‘’Sahabat yang baik tentunya.’’

‘’Iya, Tante.’’

Beberapa hari sebelum kejadian tragis yang menimpa sahabatnya, ia juga sempat bercerita kalau akhir-akhir ini, Edo sering menggambar pelangi. Ucapan itu sedikit membuatku terenyak. Aku jadi ingat ada orang yang mengatakan bahwa kematian selalu datang dengan memberikan isyarat terlebih dahulu.

‘’Ia juga sering bilang ingin terbang menggapai pelangi,’’ kata gadis mungil itu.

‘’Ama, sekarang ia sudah berada di surga,’’ aku mencoba menghiburnya. Tanganku menunjuk ke langit yang kini berwarna biru cerah disaput mega yang putih bersih. Aku tak tahu benar apa yang sedang aku lakukan. Aku hanya ingin ia tak bersedih lagi memikirkan temannya. Ah,anak-anak ternyata sudah dapat merasakansedih juga. Tentu perasaan itu yang jujur.

***

PADA hari-hari berikutnya, tampaknya Ama sudah bisa berhenti memikirkan teman sebangkunya yang sudah meninggal itu. Setidaknya ia tak pernah menyinggung lagi nama Edo atau bertanya apakah temannya itu ke surga atau tidak.

Tapi, pagi ini, sebelum ia berangkat ke sekolah, Ama bercerita kepadaku tentang mimpinya semalam.

‘’Ia memberiku sebuah gambar, Tante,’’ katanya.

‘’Oya? Gambar apa?’’ tanyaku.

‘’Itu gambar diriku yang sedang melintasi pelangi.’’

Agak kaget juga aku mendengarnya, sekalipun itu hanyalah mimpi dan diucapkan oleh seorang anak kecil. Tapi kucoba menyembunyikan kekagetanku dengan mengulum senyum. Kematian datang dengan membawa isyarat terlebih dahulu. Kalimat itu mengiang di telingaku.

‘’Sambil memberikan gambar itu,’’Ama melanjutkan ucapannya, ‘’Edo berkata, ‘Di sini sungguh menyenangkan. Semuanya anak-anak. Kau ke sinilah. Aku tunggu, ya?’ Lalu ia buru-buru pergi, Tante.’’

‘’O, begitu.’’ Hanya itu yang dapat terucap dari bibirku. Dan entah kenapa saat mengucapkan itu, jantungku terasa berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Hatiku tiba-tiba terasa tak enak.

‘’Iya, Tante. Tapi apakah aku juga akan ke surga?’’ ia bertanya dengan kepolosan seorang bocah.

Dan lagi-lagi aku dibuat tersentak oleh gadis cilik ini. Bagaimana bisa ia memiliki pikiran semacam itu. Sungguh, ini membuatku heran tapi sekaligus merasa was-was.

‘’Mengapa Tante diam?’’

‘’Oh, iya,’’ aku tergeragap. ‘’Iya, tentu saja, Sayang. Kau akan ke sana. Tapi tidaksekarang.’’

‘’Kapan dong, Tante?’’

Hampir saja aku hendak mengatakan kalau akan ke surga, harus melalui mati terlebih dahulu. Tapi aku segera sadar itu bukan kalimat yang tidak bagus diucapkan pada Ama.

‘’Besok, kalau cita-cita kamu sudah tercapai,’’ akhirnya itulah yang aku katakan. ‘’Katanya kau mau jadi….’’

‘’Tapi kata Edo,’’ ia memotong, ‘’Di sana yang ada hanya anak-anak.’’

Ucapannya barusan membuatku terdiam. Sejenak aku berpikir. Lalu berkata, ‘’Ya, tentu saja. Semua yang masuk surga akan kembali menjadi anak-anak.’’

‘’Juga Kakek?’’

‘’Ya. Juga Nenek.’’

‘’Lucu sekali. Kakek dan Nenek pasti akan menjadi teman Edo.’’

‘’Ya. Semua yang di surga akan saling mengenal dan menjadi teman. Nah, sekarang berangkatlah. Dan jangan lupa berdoa juga untuk Edo, ya?’’

Ia mengangguk. Sesungging senyumnya membuatku tak tahan untuk memberikan cubitan kecil di pipi tembemnya. Dan ketika gadis mungil itu hendak mencium tanganku, aku sempat melihat selarik pelangi di bola mata kecilnya yang bening itu.

Tapi kemudian ia segera berpaling dan berlari-lari kecil memanggil papa dan mamanya. Samar aku dapat mendengar suaranya, ‘’Ama sudah siap! Ayoberangkat!’’

***

SEPENINGGAL mereka, entah kenapa perasaanku begitu resah. Aku mencoba mengusirnya dengan mengerjakan pekerjaan rutinku: menyapu, mencuci, membersihkan kamar, dan banyak lagi. Ya, itulah yang harus kukerjakan, tentu saja. Apalagi, pembantu di rumah kakakku sudah seminggu ini pamit pulang ke desa.

Dan ketika aku hendak membersihkan kamar Ama, betapa aku dibuat tersentak saat melihat sebuah lukisan yang tergeletak begitu saja di atas ranjang keponakanku itu. Lukisan pelangi. Kuambil lukisan itu ke dalam rengkuhan tanganku. Mendekatkannya pada wajahku, pada mataku. Beberapa saat kuamati. Ah, lukisan ini, aku membatin. Betapa mirip dengan mimpi yang pernah diceritakannya. Apakah bocah kecil yang sedang meniti pelangi itu adalah Ama, ataukah Edo? Aku tak dapat menerkanya. Kukira bocah dalam lukisan pelangi itu bukan keduanya.

Aku tak tahu, mengapa setelah itu jantungku berdetak lebih cepat. Hatiku tiba-tiba resah. Kematian senantiasa datang membawa sebuah isyarat terlebih dahulu. Kalimat itu kembali mengiang di telingaku, di dalam pikiranku. Aku tidak tahu, kapan pertama kali kalimat itu menggema dalam diriku. Aku juga sudah lupa, kapan pertama kali mendengar atau membaca kalimat semacam itu. Atau kalimat itu ada dengan sendirinya di dalam benakku? Entahlah.

Aku juga tak tahu mengapa bayangan wajah Ama tiba-tiba menyeruak ke dalam pikiranku. Dan seketika itu juga aku memikirkan gadis cilik itu, memikirkan keselamatannya, memikirkan hidupnya yang belum genap sepuluh tahun di dunia. Kekhawatiran itu kian menyergapku ketika kudengar telepon berdering. Maka tergopoh aku berlari meninggalkan kamar Ama. Menuju ke ruang tengah, yang di salah satu sudutnya ada pesawat telepon. Gemetar tanganku mengangkat telepon. Belum sempat aku mengatakan ‘’Halo’’, suara anak kecil yang sudah sangat aku hafal lebih dulu terdengar. Suara yang mendesak. Suara yang tampaknya sedang panik dan buru-buru.

‘’Tante! Tante! Tolong antarkan lukisanku. Aku lupa membawanya. Tadi kutaruh di atas tempat tidur. Itu tugas dari sekolah. Setengah jam lagi akan dikumpulkan! Cepat ya, Tante!’’

Aku membuang napas. Lega. Seolah sedang melepaskan beban berat dari pundakku. Aku sempat mengamati lukisan Ama yang baru kusadari ternyata masih berada di tanganku. Lalu tak kalah tergopohnya dengan saat keluar dari kamar Ama beberapa saat tadi, aku segera membuka garasi, mengeluarkan sepeda motor dan tancap gas menuju ke sekolah Ama. Ucapan yang tadi mengiang di dalam pikiranku, tak ada lagi. Raib entah ke mana. (62)

 

Y Agusta Akhir, penikmat sastra dan aktif di Komunitas Sastra Alit, Solo

 

 

3 Responses

  1. Wow… Alur ceritanya bikin spot jantung

    Like

  2. boleh minta alamat email, ada yang ingin saya tanyakan. terima kasih

    Like

  3. Unsur instrinsik dan ekskrinsik apa? Tolong jelasin dong,saya ada tugas tentang cerpen ini.makasih

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: