Cerpen Wina Bojonegoro (Media Indonesia, 27 April 2014)

dunia angka ilustrasi pata areadi

MAUKAH kau kuberi tahu sebuah rahasia?

Kalau begitu, mari, duduklah di sini. Di dekatku. Sebab, ini rahasia antara kau dan aku saja. Jangan sampai ada orang lain yang menguping. Sebab, itu berarti kematian bagi kita.

Baiklah, kumulai saja cerita ini.

Kau lihat, orang-orang yang lalu-lalang di koridor itu? Pasien-pasien yang diusung menuju ruang ICU, beberapa pasti kau kenal baik, bukan? Ya. Para pemimpin, birokrat, orang-orang penting di negerimu, mereka yang mencari dan mencuri perhatian dengan jauh-jauh berobat ke sini. Tahukah kau, apa sebenarnya yang dilakukan oleh dokter kami pada mereka? Dokter-dokter itu sesungguhnya sedang memasang chip pada otak mereka. 

Ssstt…! Jangan menjerit! Tenanglah! Oke? Baik, kita lanjutkan.

Operasi pemasangan chip pada otak pasien yang tengah dirawat di ICU itu hanya butuh waktu 30 menit. Percayalah, dokter-dokter di rumah sakit ini semuanya terlatih. Mereka, para ahli microprocessor, dokter saraf, ahli bedah, anestesi, yang datang dari berbagai belahan bumi dengan bayaran empat atau lima kali lipat dari negara asal mereka. Mereka mengerti betul cara membuat pasien yang sebenarnya baik-baik saja untuk masuk ke ruang ICU. Caranya? Tentu saja dengan membuat mereka koma.

Sekali lagi kutegaskan, kawan! Ini rahasia antara kau dan aku. Suatu saat, jika kau tak bisa lagi meneleponku, tak ada e-mail yang kauterima, maka saat itu mencari mayatku adalah sebuah kemustahilan. Mereka bisa saja membakar jasadku hingga tak berbekas, memasukkan tubuhku ke dalam tabung dan menutupnya dengan semen, atau menenggelamkannya di lautan lepas dengan pemberat besi.

Ah, tak usah kau terkejut berlebihan begitu. Sejak awal aku sudah tahu, inilah konsekuensi dari pekerjaan ini. Dan, aku sudah siap dengan segala risikonya.

Oh iya, kembali kepada soal chip. Ini sama sekali bukan teknologi baru. Dengan metode yang sama, kami telah melakukannya pada kepemilikan kartu kredit, e-mail dan semua perangkat yang kalian miliki. Apakah kau pernah berpikir bahwa sesungguhnya kau sudah terhubung dalam gerakan kami sejak awal?

Ha ha ha! Kau tak bisa bersembunyi. Dunia ini begitu kecil dan kau hanyalah sebuah angka. Satu saat kau sakit dan dirawat di sebuah rumah sakit, saat kau gesekkan kartu asuransimu, seketika itu seluruh dunia tahu kau sedang sakit apa, di mana kau dirawat, siapa doktermu, obatmu apa. Atau saat kau menggunakan kartu kreditmu, dalam hitungan detik, komputer kami mencatat kau ada di mana, makan apa, berapa jumlahnya. Ini pekerjaan kami, membuat dunia dan isinya hanya sebuah angka, dan kau tak lagi punya rahasia.

Seseorang pernah bertanya padaku, “Bagaimana Anda tahu nama saya dan saya pernah memiliki riwayat sakit apa, bukankah kita belum pernah bersua?”

Orang itu sudah menjadi target operasi kami sejak lama. Yang harus kami lakukan hanya membuka bank data tentang dirinya. Sesederhana itu. Namun, kepada orang itu aku akan menjawab diplomatis: “Tentu saja saya tahu. Anda orang terkenal, banyak yang membaca artikel tentang diri Anda. Saya termasuk sebagian dari yang mengagumi Anda. Maka, saya kumpulkan informasi tentang Anda, melalui mesin Google.”

Lihat, kan? Betapa mudahnya. Kami bekerja secara sistematis, kami cair seperti air mineral, tak berbau, tak berbekas, mengikuti bentuk wadah, kami benar-benar likuid.

Ngomong-ngomong, kau mau kopi?

Oke, tunggu di sini sebentar!

Oh, maaf kalau aku terlalu lama. Ini kopimu, minumlah dulu. Baiklah, mari kita lanjutkan. Sampai di mana kita tadi?

Dari chip yang terpasang itu kami dapat mengamati pola pikir, rancangan jangka pendek maupun jangka panjang seseorang. Bahkan, kami dapat melakukan interupsi dan perintah-perintah melalui komputer yang ada di markas kami, di lantai 33 Capital Tower. Lewat orangorang penting tersebut akan lebih mudah bagi kami untuk mengendalikan sebuah negara. Jadi, kau tahu sekarang mengapa hanya orang terpilih yang kami target?

Di dalam chip itu juga tertera nomor register untuk setiap target. Para target itu kami sebut dengan istilah source. Dan, setiap source memiliki kode register yang berbeda. Maka, demi memudahkan identifikasi, kami memanggil para source dengan nomor masing-masing.

Misalnya, seorang mantan kepala negara yang saat berkuasa berhasil menuruti perintah kami untuk menjual ladang minyak di laut Jawa selama 35 ta laut Jawa selama 35 tahun kepada perusahaan minyak Prancis, dia memiliki kode 666. Apa? Ya, kau benar. Angka setan! Sementara seorang mantan menteri, perempuan cerdas yang sekarang kami beri jabatan di sebuah lembaga keuangan internasional, ia bernomor 777. Seorang pemimpin partai fundamentalis dan mengaku ingin menjadikan Indonesia lebih religius, kami beri nomor 888.

Beberapa menit yang lalu kami baru saja selesai memasang chip pada seorang penting yang lain. Kau mau tahu siapa?Hahaha… Maaf, kawan, aku tak bisa menyebutkan namanya. Yang jelas, ia orang sangat penting di negerimu. Dan, dia kami beri nomor 999.

Nomor 999 ini adalah target terpenting kami sejauh ini. Sebenarnya ia bukanlah target utama, melainkan suaminya. Tapi, untuk mendapatkannya terlalu sulit bagi kami. Lelaki itu terlalu sering tampil untuk menarik perhatian, baik di negerinya maupun dunia. Akan berbahaya jika kami menjadikannya source.

Maka, ketika beberapa waktu lalu lelaki itu mengumumkan akan membawa istrinya berobat ke rumah sakit ini, kami seperti menemukan sebuah celah. Ketidakpercayaannya kepada produk negerinya sendiri tanpa ia sadari telah menjadi jalan bagi kami untuk menguasainya, juga kelak negerinya. Dan, memang, tipe pemimpin seperti itulah yang kami butuhkan, kawan. Pemimpin yang tidak yakin akan kemampuan rakyat sendiri, maka berobat pun harus ke mancanegara. Hahaha!

Apa yang sebenarnya tengah kami incar? Hahaha…Pertanyaan bagus!

Kau pasti pernah mendengar, sebuah wilayah di sebuah wilayah di Madakaripura, kamimenemukan ada cadangan minyak sekitar 14 ribu barel per hari, dengan pendapatan sekitar 1,4 juta dolar. Setelah Orde 666 tumbang, kami tak bisa lagi menggunakan kekuatan aparat. Maka, kami pun menggunakan cara-cara yang lebih halus. Provokasi. Kau tentu masih ingat bukan, isu mengenai gesekan dua sekte agama yang menimbulkan pertumpahan darah, baru-baru ini?

Hahaha… Pintar juga kau, ternyata. Benar, itu semua rancangan kami. Melalui para source itu, juga beberapa orang kami yang diam diam ikut memprovokasi, kenyataan telah kami balikkan dari yang semula hanya permasalahan dua keluarga menjadi isu agama, hingga merebak ke seluruh negeri. Dari sebuah layar flat televisi di Capital Buliding, kami tertawa menyaksikan bagaimana orang-orang yang berlagak heroik itu membela mereka yang terusir. Media-media dengan getol menyiarkan setiap peristiwa demi menaikkan rating.Isu agama adalah makanan empuk bagi negerimu yang toleran itu. Hahaha!

Tentu saja, kawan, akan lebih mudah bagi kami untuk menyusup di tengah kerusuhan.Apalagi kami memiliki 999 dan suaminya, jalan seolah terbuka lebar bagi kami sekarang. Lewat 999 kami akan meracuni pikiran suaminya agar bersedia melepas Blok Madakaripura itu. Hanya masalah waktu saja, kawan, dan kami harus tetap waspada. Tak boleh salah langkah. Hanya masalah waktu.

Bip… bip… bip…

Oh, tunggu sebentar. Ada yang menelepon.

Ya, halo! Oh, apa? Ada perubahan rencana? Oh, begitu. Jadi kalian sudah punya rencana yang lain? Apa maksudmu? Hmm… Oh, begitu. Ya ya ya, baiklah. Semoga harimu menyenangkan.

Hahaha… Benar-benar luar biasa. Ini sempurna. Hahaha… Kau mau ikut berpesta, kawan? Ah, ayolah, kita rayakan ini dengan sebotol champagne paling istimewa. Dan, kau nanti bisa kurekomendasikan untuk bergabung bersama kami.

Hahaha… Apa kaubilang? Aku pengkhianat bangsa? Hmm, ya ini bukan persoalan paspormu bergambar apa.Negara ini pun bukan dibangun atas semangat patriotisme. Ini negara yang dibangun dari keping-keping dendam. Ayahku mati oleh senapan petugas yang mengatasnamakan keamanan. Adikku mencoba menjadi pahlawan untuk menggulingkan orde pembaruan. Tapi, dia cacat seumur hidup akibat demo yang rusuh. Ibuku yang tidak bisa menerima kenyataan menjadi gila dan masuk rumah sakit jiwa.

Apa lagi yang tersisa dariku? Bukan, kawan, bukan aku pengkhianat itu. Tapi, bangsa inilah yang telah mengkhianati dirinya sendiri. Aku hanya salah seorang perantara.

Ah, aku menceritakan ini kepadamu, sebab aku telah mengenalmu sejak lama. Sejak peristiwa 1998 itu, kukira kau sama seperti teman-teman kita sesama mantan aktivis:menjelma seorang yang berpikiran praktis dan pragmatis. Tapi, ternyata aku salah. Kau masihtetap seseorang yang idealis, sama seperti dulu. Ya ya ya, tidak apa. Aku sudah mengantisipasinya, agar informasi ini tidak bocor ke telinga orang lain.

Kau mau aku beri tahu satu rahasia lain?

Di dalam cangkir kopimu itu, kutaburkan serbuk sianida, untuk membungkam mulutmu agar tak bicara.

 

Wina Bojonegoro, cerpenis, tinggal di Surabaya. Buku cerpennya, Korsakov (2012).

Advertisements