Cerpen Hary B Kori’un (Media Indonesia, 20 April 2014)

Yang Datang dari Negeri Asap ilustrasi Pata Areadi

KAU keluar dari asap, mengerjap-ngerjapkan mata, dan berjalan menyusuri trotoar. Jalan  memutih, cenderung kelabu, asap di mana-mana. Tak jelas, apakah masih pagi, siang,  atau senja. Asap mengepung kota. Orang-orang bergegas dengan masker di wajah mereka. Dan kau, tetap santai berjalan di trotoar itu, berlawanan arah dengan mereka yang hampir semuanya berpakaian warna kelabu, mirip warna asap. 

Dari jarak 20 meter, aku mengikutimu. Di dekat  sebuah toko buku tua–toko buku langgananku, aku sering mendapatkan buku-buku langka yang sering kau bilang bau apek–kau menghilang. Aku mempercepat langkah. Setelah sampai di kelokan itu, kau berteriak mengagetkan, “Cilukba!” Aku sangat terkejut karena tiba-tiba wajahmu yang memucat sangat dekat dengan wajahku.

“Beraninya mengikutiku, ” katamu kemudian.

Aku tersenyum kecut, sambil menelan ludah yang terasa pahit.

“Ini toko buku tua yang sering kamu ceritakan itu?”

Aku mengangguk. Dia keluar dari kelokan itu dan masuk ke toko buku. Aku membuntutinya. Kami tak saling bicara lagi, dia sibuk melihat-lihat buku-buku tua yang terpajang di rak-rak berdebu. Ruangan toko itu hanya 4 x 4 meter dan banyak buku yang tidak tertata.

“Benar-benar apek,” katamu, kemudian keluar dan duduk di bangku  trotoar. Aku di sebelahmu.

Beberapa saat lamanya kita tak saling bicara. Kau asyik dengan pandangan pada jalan raya yang macet, pengap, menyesakkan. Tapi, seperti dulu saat kita sering bertemu dan hampir selalu di musim asap seperti ini, kau mengatakan tak merasa terganggu dengan asap yang mengepung kota. “Asap adalah kehidupanku,” katamu selalu. Aku mengernyitkan dahi.

Ini entah sudah musim asap yang ke berapa.

Sudah sekian bulan hujan tak turun. Banyak sumber air yang mengering, tanah rengkah, sawah-sawah mengeras, jalan penuh debu, bara di bawah gambut kembali muncul dan menimbulkan asap di mana-mana. Di tempat lain, kau selalu mengatakan, banyak pengusaha perkebunan memanfaatkan kemarau dengan membuka lahan, menebang hutan, membakarnya. Asap yang kemudian menyerbu masuk kota, yang membawamu terus berkelana dari gang-gang sempit, ke mal-mal yang menjulang, juga toko buku itu, tempat pertama kali aku melihatmu melintas di depannya.

Aku berpikir kau seperti gadis-gadis lain di kota ini. Gadis-gadis modis dengan rambut diponi berpakaian seksi, dengan gigi berkawat warnawarni. Aku menyangka kau bagian dari pusat-pusat hiburan yang setiap malam menawarkan kebisingan, kesyahduan, atau kebingaran musik-musik cadas. Kadang aku curiga, jangan-jangan kau gadis alien dari luar angkasa yang sengaja diturunkan ke bumi, untuk memantau keberadaan manusia, mencari kelemahannya, dan suatu saat akan dikirim pasukan alien untuk menghancurkan mereka.

“Kau tak yakin kalau aku benar-benar manusia?” tanyamu suatu saat.  “Kau curiga dengan dandananku yang mirip perek di ujung jalan Arengka?” katamu, sambil tersenyum. “Karena pakaianku seksi, gigiku berkawat dan rambutku diponi? Jangan biasakan menilai seseorang dari penampilan. Bisa tertipu kamu!”

Kau bicara sambil tertawa.

Aku tergagap dan kikuk. Berusaha mencari alasan, tapi suaraku tak keluar.

“Sudahlah. Jangan bohong…” katamu santai, sambil menyeruput es air Tebu yang barusan diberikan oleh penjualnya. “Seger, di tempat asalku tak ada minuman sesegar ini,” katamu kemudian.

“Memang tempat asalmu di mana?” tanyaku.

Sejenak kau diam, menatap wajahku sebelum kemudian menyeruput sedotan pada gelas berisi es air tebu itu. Berulang-ulang. “Kasih tau enggak ya… Pengin tau aja atau pengin tau banget?” katamu. Namun kemudian mimik wajahmu berubah serius. “Asalku dari negeri asap. Negeri yang setiap hari dipenuhi asap.”

***

Negeri Asap, katamu, adalah sebuah dunia yang mirip dengan dongeng pengantar tidur. Negeri yang kemarau senantiasa. Tandus. Tak ada tumbuhan yang hidup, juga hewan. Tapi anehnya, manusia tetap hidup. “Kami punya kantong air yang lebih besar dari unta di padang pasir. Kami hanya perlu minum setahun sekali, atau malah bisa beberapa tahun, untuk mengisi kantong air di dalam tubuh kami, ” ceritamu suatu kali.

Tak ada cahaya matahari atau bulan, karena tak pernah ada siang atau malam. Setiap waktu, asap selalu menyelimuti. Semua orang yang tinggal di negeri itu berkulit sewarna asap: pucat kelabu.

“Ini berbeda dengan Negeri Senja. Itu jiran kami. Bila Negeri Senja dipimpin perempuan diktator, di negeri kami tak ada pemimpin. Semua orang bebas melakukan apa saja, damai, tak ada yang saling menyakiti. Tak ada kejahatan, semua orang saling menghormati, saling memberi. Kelak, kau bisa singgah di negeriku.”

“Gadis-gadisnya berpakaian seksi, rambut lurus diponi, dan berkawat gigi warna-warni sepertimu?” tanyaku bercanda.

“Iya, semua wanita di sana mirip antara satu dengan yang lain. Kami hidup kekal, tak pernah tua. Tetap ada kelahiran, tapi tak ada kematian. Namun, populasi kami tak berubah. Kami merasa jumlah kami segitu-segitu saja, tak ada pertumbuhan penduduk, seperti di bumi.”

“Lalu, bagaimana kalian memenuhi kebutuhan hidup? Makan misalnya? Apakah kalian juga mengembangkan pertanian?”

“Kami tak perlu makanan. Asap adalah asupan nutrisi yang sangat lengkap. Vitamin, karbohidrat, serat, dan sebagainya, sudah ada dalam asap. Tanpa asap, populasi kami akan punah.”

“Tapi di sini, asap membuat kami bisa mati. Lalu, mengapa setiap bersamaku, kau selalu minta minum air es tebu dan makan bakso?”

“Nah, itu bedanya. Kalau di sini tubuhku mengikuti tubuh manusia-manusia di sini juga, perlu asupan nutrisi yang sama denganmu. Tapi, air es tebu memang menyegarkan. Dan bakso, hemmm, maknyus…” katamu sambil tertawa.

Aku ingin tak percaya dengan ceritanya  ketika asap yang bisa membunuh manusia di bumi, malah menjadi asupan nutrisi bagi manusia di negerinya. Asap yang muncul karena hutan terbakar, gambut, atau apapun yang terbakar itu, diserap mesin pengolah asap yang dikembangkan di negerinya, kemudian berubah menjadi nutrisi.

“Bagaimana jika di sini musim hujan, tak ada hutan atau apapun yang terbakar? Bagaimana kalian bisa mendapatkan asap?” tanyaku penasaran.

“Kami punya cadangan. Tidak semua asap yang kami dapatkan kami sebarkan secara gratis kepada penduduk. Kami kembangkan teknologi supaya udara tetap stabil, tak ada angin kencang yang bisa membawa lari asap-asap itu. Jika udara stabil, maka asap itu bisa bertahan lama. Kami punya gudang berisi cadangan asap. Jika asap menipis karena musim hujan di tempatmu, kami keluarkan cadangan itu sedikit demi sedikit…”

“Jangan-jangan kau dikirim ke sini untuk memprovokasi penduduk atau perusahaan-perusahaan perkebunan itu untuk membakar hutan dan lahan gambut itu. Atau kalian kirim banyak penduduk kalian untuk membakarnya sendiri…” kataku bercanda.

Tiba-tiba dia kelihatan murung. Sejenak kemudian, dia tersenyum, tetapi tampak aneh. Senyum misterius.

***

Aku berdiri di depan puing-puing toko buku langgananku yang kini hanya menyisakan kepulan asap. Beberapa saat tadi, dua buah mobil pemadam kebakaran sudah meninggalkan lokasi. Tak ada yang tersisa. Semuanya rata dengan tanah, menjadi abu. Ini gedung kesekian yang terbakar.

Telepon genggamku bergetar. Ada panggilan masuk.

Sebuah nomor asing.

“Martin…” Aku mengenal suara itu. Sudah lama dia tak muncul dan aku merindukannya. “Maafkan aku. Sekian lama aku tak datang ke negerimu. Mereka menutup akses bagiku. Bahkan kini mengurungku.

Mencurigaiku. Mereka mengirim mata-mata setiap aku ke negerimu. Mereka mengirimku untuk operasi intelijen, membakar semua yang mudah dibakar di negerimu agar menghasilkan asap untuk kehidupan negeri kami. Mereka tahu aku tak melakukannya, aku malah sering bertemu denganmu. Lama-lama aku memang lupa tugasku setelah dekat denganmu, setelah aku sadar: aku mencintaimu. Aku tak tega melakukannya. Aksesku ditutup. Mereka mengirim orang lain. Mereka mengambil alih tugasku.” “Kau bilang, negerimu damai,” kataku dengan dada perih.

“Dulu memang begitu. Tapi sejak diadakan pemilihan pemimpin, semuanya berubah. Mereka menjadi rakus dan ingin mengusai. Kalau sebelumnya kami cukup hanya menunggu musim kemarau di negerimu untuk mendapatkan asap, sekarang mereka ingin lebih. Maka, dikirimlah operasi intelijen besar-besaran ke negerimu. Mereka mengurungku agar aku tak bisa menemuimu. Aku tahu, toko buku langgananmu adalah salah satu target, karena mereka marah kepadamu. Agar kamu terpukul karena kamu sayang pada toko buku itu. Kamu disalahkan, karena membuatku jatuh cinta dan melupakan tugasku. Tadi aku mencuri telepon genggam milik petugas jaga, dan kini dia sudah mendekatiku. Dia terlihat marah.

Maafkan aku, Martin…” Klik! Hubungan terputus.

Aku menemukan kursi panjang, tempat kami ngobrol setelah keluar dari toko buku. Aku menenangkan diri. Aku tak tahu harus bagaimana.

Semuanya buram dan kacau. Tiba-tiba aku merindukannya: Alia, gadis lincah dengan rambut diponi, memakai kawat gigi warna-warni, berpakaian seksi, yang selalu keluar dari asap dan mengerjap-ngerjapkan matanya yang berbulu lentik.

 

 

Hary B Kori’un, sastrawan, tinggal di Pekanbaru.

Telah menerbitkan enam novel. Luka Tanah, novel terkininya, sedang dalam proses penerbitan.

Advertisements