Syukuran


Cerpen Sori Siregar (Kompas, 13 April 2014)

Syukuran ilustrasi 13 April 2014

SETELAH aku baca, undangan itu kulemparkan ke meja di depanku. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengambil keputusan, tidak akan memenuhi undangan itu. Ini tak dapat ditawar karena merupakan keputusan final. Tidak akan.

Tidak ada yang salah sebenarnya jika untuk memasuki rumah baru Dilan mengadakan upacara selamatan atau syukuran. Tapi mengaitkannya dengan pembebasan Darmola terlalu mengada-ada. Aku mengenal Dilan selama dua puluh tahun. Sebagai pegawai negeri sipil, kejujurannya mengagumkanku. Ia menabung bertahun-tahun untuk membayar sebagian uang muka rumah jenis T-70. Pembayaran cicilan juga akan dilakukannya bertahun-tahun. 

Mengapa Darmola menumpang gratis kepada si jujur Dilan untuk membuktikan dirinya bersih. Tidakkah putusan pengadilan yang menyakitkan hati itu tidak cukup untuk membersihkan namanya? Mengapa Dilan begitu mudah ditumpangi Darmola? Mengapa ia begitu naif dan tidak sadar bahwa Darmola menumpang menang pada nama baiknya?

Satu minggu setelah selamatan itu atas permintaannya aku bertemu dengan Dilan, di warung kopi di halaman kantornya. Setelah mengucapkan selamat karena ia mulai menghuni rumah yang dibeli dengan KPR itu, aku minta maaf karena tidak dapat menghadiri selamatan itu.

”Tidak apa-apa. Aku memang tidak dapat menolak.”

”Maksudmu?”

”Aku tahu mengapa kau tidak datang.”

Aku diam. Dia masih seorang pembaca yang baik. Tanpa harus diberi penjelasan ia sudah dapat menangkap isyarat yang aku berikan.

”Dia mampu membeli 100 rumah seperti rumahku, kalau dia mau. Kekayaannya memang mengejutkan semua orang. Tapi, dia saudara sepupuku yang dulu membayar semua biaya operasi jantung ibuku.”

Aku membiarkan Dilan menuturkan segalanya yang dianggapnya perlu kuketahui agar aku tidak serta-merta menyalahkannya. Wajahnya yang memohon pengertian itu memanggil rasa ibaku.

”Bukan hanya kau. Aku juga merasa ia memiliki semua kekayaan itu dengan cara yang tidak benar. Beberapa tahun ia aman, tetapi dua tahun lalu ia tidak dapat lari dari jerat hukum. Ia mendekam di balik jeruji, walaupun hanya untuk dua tahun. Hukuman dua tahun itu membuat semua media ribut. Tidak adil, kata mereka. Mestinya dia dihukum 20 tahun, kalau perlu seumur hidup.”

Dari warung kopi, yang kalau tidak salah disebut coffee shop dalam bahasa Inggris itu, Dilan menatap ke jalan raya yang mulai macet. Tidak lama lagi mobil-mobil di jalan itu akan merangkak beringsut-ingsut. Pemandangan yang hadir setiap hari di depan mata. Dialogku dengan Dilan masih berlangsung satu arah.

”Ketika Darmola tahu aku akan mengadakan selamatan untuk memasuki rumah baru itu, ia memintaku untuk mengizinkannya menggunakan kesempatan itu sekaligus sebagai acara syukuran karena kembalinya ia ke dunia bebas. Berhari-hari aku tidak dapat menjawab. Darmola tidak bodoh. Ia mengulangi keinginannya itu kepada ibuku.”

Dilan menggeleng. Berkali-kali. Kemudian dengan suara lirih ia mengatakan:

”Memang tidak enak jadi orang miskin. Kalau tidak karena kemiskinan aku tidak akan menerima bantuan Darmola ketika ibuku menjalani operasi jantung itu. Karena merasa berutang budi itu pula ibuku memintaku mengabulkan permintaan Darmola itu.”

Dilan menarik napas. Dia seakan baru menurunkan beban berat dari pundaknya. Pembicaraan satu arah ini aku sambut dengan suara lirih pula.

”Kau tidak miskin, Dilan. Jutaan orang lain kondisinya jauh lebih sengsara dan parah daripada kau.”

”Mungkin kata miskin itu kurang tepat. Yang lebih sesuai barangkali, aku kurang mampu. Aku memang memiliki kartu Askes, begitu juga istriku dan kedua anakku. Tapi kartu itu tidak berlaku untuk ibuku. Ketika keadaan kritis karena operasi harus dilakukan segera datanglah uluran tangan Darmola sebagai juru selamat. Saat itu aku benar-benar merasa betapa mulianya hati saudara sepupuku itu. Ia datang ketika tidak seorang pun dapat menolongku.”

Kami saling bertatapan. Tampaknya ia merasa belum berhasil meyakinkanku. Ia mungkin merasa seperti itu karena ia tahu bahwa aku bukanlah orang yang mudah diyakinkan tentang apa saja. Sebelum ia melanjutkan penjelasannya, aku segera mendahuluinya.

”Seandainya aku dalam posisi seperti itu, mungkin aku juga akan segera menerima uluran tangan itu, bahkan mungkin memintanya sebelum tangan itu diulurkan.”

Dilan merasa tidak seorang diri. Ada teman yang dapat memahaminya dan mendukung sikapnya yang permisif. Baginya itu sudah cukup, walaupun di lubuk hatinya ia merasa bersalah karena–walaupun dalam keadaan terpaksa–ia bersyukur atas pembebasan Darmola.

”Kata prasejahtera, sejahtera I, sejahtera II atau sejahtera lain untuk mengaburkan makna kata miskin memang sangat manipulatif,” ujarku.

Kata-kata itu dipopulerkan sebuah rezim untuk bersembunyi di balik ketidakmampuannya memberantas kemiskinan. Karena itu orang tidak merasa dirinya miskin, tetapi sejahtera. Malangnya, begitu mereka membutuhkan bantuan, mereka tiba-tiba merasa miskin dan jika ada orang yang mengulurkan tangan memberikan pertolongan, mereka menganggap orang itu sebagai juru selamat yang harus dihormati bahkan dimuliakan.

Orang-orang yang diharuskan oleh hukum untuk berdiam sementara di bui, paham betul akan hal itu. Para penjahat ini sadar bahwa orang-orang miskin yang disebut sejahtera itu menunggu pembebasan mereka dengan penuh harap. Apalagi sebelum mendekam di balik jeruji, para gangster tersebut terkenal pemurah dan sering memberikan sumbangan kepada masyarakat termasuk rumah-rumah ibadah.

Karena itu sering, bahkan sangat sering, para pencoleng yang nirmalu itu disambut dengan hangat oleh masyarakat di sekitarnya ketika mereka telah selesai menjalani hukuman. Mereka dianggap tidak bersalah, korban fitnah, jauh dari perbuatan aib dan menjadi mangsa peradilan sesat. Tidak jarang pula mereka diperlakukan sebagai pahlawan.

Darmola adalah salah seorang dari gangster yang kebal dari rasa malu itu. Tidak mengherankan jika pada hari pertama setelah dibebaskan dari kerangkeng, ia berteriak dengan membusungkan dada mengatakan dirinya menjadi mangsa peradilan sesat. Itu pula sebabnya berbagai doa sebagai ungkapan rasa syukur dilakukan di rumahnya dan di sejumlah rumah keluarga besarnya.

Yang terakhir adalah doa yang dilakukan di rumah Dilan itu. Mengapa Dilan harus dilibatkan? Tidakkah Darmola tahu bahwa pegawai negeri sipil yang satu ini terkenal jujur sampai ke ubun-ubun?

Yang dapat menjawabnya hanyalah Darmola, karena tidak mungkin ia tidak tahu bahwa Dilan sangat tersiksa karena melaksanakan doa syukur di rumahnya untuk seorang bandit yang juga sepupunya. Darmola juga pasti tahu bahwa Dilan pasti akan menolak permintaannya jika ibu Dilan tidak turun tangan.

”Darmola itu orang baik. Dia sering bersedekah ke panti asuhan. Beberapa orang anak orang tidak mampu diangkatnya menjadi anak asuh agar mereka dapat bersekolah, sumbangan tetapnya untuk mesjid tak terhitung lagi. Sekolah dasar di Rengas sana, dapat dibangun karena sebagian besar biayanya ditanggung Darmola. Ibu tidak pernah mendengar celaan orang terhadap dirinya. Karena itu ketika dia ditangkap, banyak yang mengatakan ia korban fitnah dan sengaja dijebak untuk dijerumuskan.”

Ketika ibunya berkata demikian sebelum membujuknya untuk mengabulkan permintaan Darmola, Dilan mulai merasakan sesuatu yang sangat tidak diinginkannya. Ia tidak ingin ibunya telah dibeli oleh Darmola dengan setumpuk uang dan lembaran-lembaran kertas haram itu telah membutakan mata hati ibunya. Ia tidak ingin itu yang telah terjadi, walaupun kemungkinannya sangat besar memang begitulah keadaan sebenarnya.

Dilan menyadari bahwa mata Darmola cukup jeli membaca situasi. Syukuran memasuki rumah Dilan adalah saat yang paling tepat untuk mengembalikan pamornya sebagai orang baik. Dilan dipandang sebagai simbol di kalangan orang-orang jujur yang mengenalnya, yang jumlahnya tidak sedikit. Sebagai pegawai negeri sipil, Dilan memegang jabatan cukup menentukan yang sebenarnya dapat membuatnya menjadi orang kaya jika ia mau. Tetapi ia selalu menghindar dari peluang itu.

Jika orang sejujur Dilan mengucapkan doa syukur karena seseorang dibebaskan setelah menjalani hukuman, pastilah pembebasan orang itu patut disyukuri. Darmola telah membaca itu sejak awal. Dia hanya memanfaatkan peluang yang terbuka.

Pada mulanya Dilan ingin menutup peluang itu, tetapi ibunya membuka peluang itu lebar-lebar hanya karena uluran tangan di masa lampau yang menyelamatkan dirinya. Karena itu, agak mengejutkan bagiku ketika Dilan dengan yakin mengatakan:

”Orang tidak akan semudah itu menganggapku telah menjual diri kepada seorang perampok. Terutama teman-teman dekatku yang telah memberikan pinjaman agar aku dapat membayar seluruh uang panjar pembelian rumahku. Termasuk kau. Hari ini aku memintamu datang ke warung kopi ini dalam hubungan itu. Aku tidak dapat membayar utangku dalam waktu dekat. Belum tahu kapan. Mohon pengertianmu.”

Aku tersenyum. Bangga.

9 Responses

  1. Bagus. Thank you

    Like

  2. izin share

    Like

  3. dibantu dong:D saya sedang ada tugas suruh mencari sinopsis dari sebuah cerpen ini dibantu yaaa

    Like

    • sinopsisnya gimana?

      Like

    • Tolong d bantu gimana sinopsisnya dan nilai yg terkandung dong

      Like

  4. dibantu dong saya ada tugas mencari unsur intrisik dan entrisik

    Like

  5. Apa tema cerpen syukuran

    Like

  6. *lambaikantangan
    Gak kuat memahami isi nya… :v saking bagusnya..

    Like

  7. berikan contoh pertanyaannya okey

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: