Cerpen Yetti A.KA (Jawa Pos, 13 April 2014)

Kekasih Hujan (6) ilustrasi Bagus

BULAN dua belas. Bulan di mana orang-orang senang membicarakan cuaca. Di bulan ini pula ia lahir. Tetapi bulan kelahiran ini, baginya, tidak lebih sebagai perayaan sekian kemurungan.

***

Ia berubah menjadi perempuan yang banyak menarik diri dari kehidupan – selain tentu pula kulitnya mulai kendur, kantung mata sedikit turun, dan bintik-bintik hitam makin banyak di pipi. Dulu –paling tidak sebelum ia memasuki usia 40—ia perempuan manis yang selalu menyenangkan di mata orang lain. Ia menyimpan kesedihan dalam-dalam dan bersikap ramah dalam situasi apa pun. Teman-teman, kenalan, tetangga, menyukainya. Ia membagikan kue-kue yang dibikin di hari libur. Anak-anak membukakan pintu dengan riang tiap ia memencet bel di rumah mereka dan menjulukinya ”Ibu Baik Hati“. 

Tapi waktu pada akhirnya mengasingkan ia dalam kesepian yang menakutkan. Ia sering tiba-tiba menggigil, mirip anak kecil melihat sesuatu yang jahat. Atau tiba-tiba merasa betapa kesunyian itu bagai ujung gunting yang mengarah ke jantungnya. Karena itu ia memilih segera pergi ke suatu tempat di mana kesunyian tumbuh dengan semestinya.

***

Tempat itu terletak di pinggir kampung, persis berada di atas bukit. Di bawah bukit itu mengalir sungai kecil dengan ikan-ikannya yang sembunyi di balik rumput air. Sejak lama ia terobsesi pada sebuah tempat yang mirip tanah pertanian keluarga O’Hara: Tara. Puluhan tahun silam ia sudah menemukannya. Dan lima tahun lalu ia memutuskan menetap. Ia tak lagi bisa tinggal di kota, di kompleks yang makin padat, itu –yang anehnya ia malah merasa sangat sendiri. Ia bahkan sudah setahun tidak melihat rumahnya di sana. Rumput di halaman pasti sudah tinggi sekali. Sudah berbuah. Berkecambah.

Belakangan ia benar-benar ingin menjauh dari siapa pun. Menolak memikirkan orang lain. Tepatnya: berhenti. Ia memutuskan diri dengan masa lalu. Ia ingin hidup sebagai manusia baru di tempat yang jauh. Ada empat orang pekerja yang tinggal bersamanya. Mereka mendirikan pondok-pondok kecil berdinding kayu, berjajar di samping kiri rumah induk. Di tanah itu mereka mengurus tanaman karet, bertanam pohon buah-buahan dan segala jenis sayuran. Di musim hujan mereka akan menemukan banyak jamur. Di musim panas mereka akan berhadapan dengan banyak serangga. Di kedua musim itu angin tidak henti-henti berembus kencang pada malam hari. Menerbangkan seng yang paku-pakunya lupa dikuatkan.

***

Seseorang meneleponnya tadi pagi. Cuma beberapa orang teman lama saja yang tahu nomornya dan mereka tidak terlalu sering saling berkabar. Ia hampir saja mengabaikan si penelpon kalau saja orang itu tidak memanggilnya: Mil. Tidak banyak dari teman-teman yang tahu nama kecilnya. Hanya orang-orang yang sangat dekat.

Ia benar-benar tidak mengenali suara itu. Ketika orang itu menyebutkan sebuah nama, ia butuh satu menit untuk mengembalikan gambar seorang lelaki tampan pada masa lalu. ”Jiro!” serunya.

Mereka dulu mengajar di universitas yang sama –tepatnya di jurusan yang sama pula. Jiro fokus di filologi. Sementara ia mengajar sastra dan memutuskan mundur di usia 46 tahun karena alasan sakit.

Ia kadang cemburu pada Jiro yang seakan tidak pernah lelah. Jiro yang punya semangat tinggi. Jiro yang pernah berkata saat menemukannya menggigil ketakutan di depan pintu jurusan, ”Kau bisa mengadalkanku, Mil. Kau tidak sendirian.” Lelaki itu cukup tahu tentang kehidupannya. Tentang pada satu waktu ia mendadak diserang rasa takut berlebihan dan setelah itu ia menangis di pintu toilet dan Jiro memberikan tangannya untuk ia genggam dan ia berkata, “Ini sudah saatnya aku menyerah, Jiro.”

Mereka diam untuk sepuluh detik. Mereka membiarkan lintasan kenangan berlesatan.

”Mil, ini bulan Desember, bukan?“ tanya Jiro kemudian. ”Apa yang paling kau inginkan di bulan kelahiranmu?”

”Kau masih mengingatnya?“

”Kau benar-benar lupa, Mil, bahwa tepat pada hari ulang tahunmu, lima belas tahun lalu, minggu ke-4 bulan Desember, ada hal lain yang terjadi dan sejak itu aku selalu mengingat hari kelahiranmu?“

”Maaf,“ katanya, ”ada banyak yang terjadi di bulan kelahiranku, dan semuanya berwarna gelap.“

”Mil,“ suara di seberang seakan tengah membujuknya.

”Baiklah, apa yang terjadi pada hari itu?“

”Hari itu kau mengenakan blus merah dengan pita yang cukup besar dan tanganmu memegang novel –ah, aku lupa judulnya.“ Suara di ujung telepon agak mengambang.

Ia memutar kembali ingatan ke belakang dan sayang sekali tidak menemukan bayangan tentang apa yang dikatakan Jiro. Lagi pula apa yang istimewa dengan baju merah. Itu warna kesukaannya. Ia terlalu sering pakai baju merah. Kemungkinkan saat itu ia memang memegang novel, bisa jadi karya Margaret Mitchell. ”Itu biasa sekali.“ Ia berkata apa adanya.

”Sama sekali tidak biasa, Mil. Pada hari itu aku datang ke mejamu dan mengatakan kalau aku dan Vivin akan berpisah. Kalau saja kau tidak mengenakan blus merah, mungkin saja saat itu aku sudah menangis di depanmu. Ingat, warna tertentu bisa memengaruhi emosi seseorang. Ah, apa kau mendengar kabar kematian Vivin satu bulan lalu?“

”Tidak,“ sesalnya. Mendadak ia merasa demikian jauh dari pusat kehidupan. Tak ada kabar apa-apa yang sampai. Namun ia tak hendak mengungkit soal Vivin atau bertanya macam-macam apa penyebab kematiannya itu. Sudah terlalu banyak kematian dalam hidupnya. Kawan lamanya itu hanya butuh teman yang mendengarkan saat sedikit mengenang tentang mantan istrinya. Itu sudah cukup baginya.

Kemudian, dengan keputusan sepihaknya, Jiro menginginkan mereka berkumpul lagi di hari kelahiran pada akhir bulan dua belas, minggu depan.

Ia cuma sekali mengadakan pesta, saat umur 23 tahun. Itupun karena mama memaksanya. Mama ingin sekali bertemu teman-temannya. Ia mengudang teman-teman kuliah. Sekitar 10 orang. Hari itu mama tampak bahagia. Ia menciumi semua temannya dengan mata basah. Pada malam harinya mama berbisik padanya, ”Paling tidak jika aku pergi dari dunia ini, aku tahu kau memiliki teman-teman yang manis dan menyenangkan yang akan menjagamu untuk tetap bisa tersenyum.“ Pagi harinya, saat bangun, ia menemukan mama tidak bergerak lagi di sampingnya.

Setelah itu ia tak pernah lagi mengadakan pesta ulang tahun. Ia merayakan bulan dua belas dengan cara duduk sendirian di kafe, mengenakan baju warna merah, memegang sebuah novel –ada beberapa judul novel yang sangat ia sukai—dan memesan kopi, sambil mengingat kematian mama.

Jiro menanyakan siapa saja yang ia inginkan hadir di perayaan Desember. Ia bilang, aku tidak tahu. Sebenarnya ia menginginkan mama dan Derapu. Pada mama ia ingin sekali lagi bertanya siapa papanya. Pada Derapu –lelaki yang membuatnya tidak bisa jatuh cinta lagi setelah kematiannya yang tragis dalam sebuah kecelakaan motor di bulan dua belas—ia ingin minta lelaki itu melepaskan hatinya.

Apa kau bisa menghadirkan mereka, Jiro?

Bulan dua belas, bulan kelahirannya, memang menjadi tempat bagi beberapa kematian. Sebab itu, selama ini, ia lebih suka merayakannya dengan caranya sendiri.

Tapi Jiro telah mengatakan akan mengatur segalanya. Dia cuma perlu memastikan bahwa kesehatannya cukup baik untuk melakukan perjalanan ke kota selama dua sampai tiga hari.

***

Hujan turun sejak mobil yang ia tumpangi memasuki kota. Jiro sudah diberitahu kalau ia langsung ke penginapan. Jiro akan menjeputnya satu jam lagi. Mereka akan berkumpul di sebuah kafe yang lelaki itu merahasiakan namanya. Mungkin Jiro mau memberi kejutan. Kafe itu sudah dipesan dan tak ada pengunjung lain yang datang selain teman-teman mereka, dari sore hingga malam nanti.

Di pikirannya, begitu memasuki kota ini, justru tentang rumput yang sangat tinggi di halaman rumah. Ia takut kalau-kalau ular sudah masuk ke rumah. Bersarang di sana. Rumah itu tempat ia menyimpan sebagian besar kenangan. Rumah yang tidk akan ia lepaskan pada orang lain sebelum ia mati.

Kembali ia menelepon Jiro, mengatakan kalau ia akan meninggalkan penginapan sebentar. Jika terlambat kembali, ia minta Jiro menunggunya.

”Kau bisa memberitahuku akan pergi ke mana, Mil?”

Ia sudah menutup telepon. Ia terburu-buru. Dipesannya taksi. Menunggu sepuluh menit. Taksi datang. Ia tak ingin terlalu terlambat nanti dan mengacaukan apa-apa yang sudah dilakukan Jiro.

***

Ia berdiri di dekat pintu pagar, berteduh di bawah payung. Tidak ada rumput tinggi seperti bayangannya. Cuma rumput-rumput kecil yang kurus di sela-sela kerikil yang basah. Air matanya jatuh. Sebutir. Lalu dua. Tiga. Ia melongokkan kepala ke dalam. Sepi. Tentu saja tidak ada siapa-siapa di sini. Siapa yang membersihkan rumput di halaman? Mungkin tetangganya.

Rumah-rumah lain juga sepi. Anak-anak yang biasanya ramai, tidak satu pun keluar rumah. Lucy. Anan. Si kembar Nadhira dan Nadhiva. Mereka semua penggemar kue-kue buatannya. Mereka pasti sudah besar sekarang. Sudah duduk di SMP atau SMA. Sudah repot dengan les-les tambahan.

Ia tatap sekali lagi di halaman rumah. Lalu ia lihat jendela-jendela, juga pintu. Di pintu itu mama melambaikan tangan, melepasnya pergi sekolah. Di pintu itu, ketika ia berumur 18 tahun, mama sering bilang kalau potongan gaun yang ia kenakan terlalu pendek, tapi ia membela diri dengan mengatakan teman-temannya juga mengenakan gaun serupa. Di pintu itu, jelang malam, ia dan mamanya senang melihat langit dan sekali waktu ia berkata: seharusnya ada papa di sini. Untuk pertama kali mama mengakui kalau ia sengaja tidak ingin memberinya seorang papa dan tidak ingin membicarakannya lagi.

”Kau boleh kecewa pada Mama,” ujar mamanya, mendesah.

Ia tidak bisa memutuskan apa kecewa atau tidak. Ia diam saja. Selama satu minggu ia menghindari berbicara dengan mama.

Di pintu yang sama, kekasihnya, Derapu, pamit pulang sehabis menemaninya belanja buku. Di pintu itu terakhir kali ia melihatnya.

Di pintu itu, disaksikan hujan, ia pernah menangis, setelah benar-benar sendirian. Lalu ia berkata kalau harus melanjutkan hidup. Sejak itu ia sibuk sekali, menjadi manusia baik hati bagi orang lain, dan lupa membahagiakan diri sendiri.

Sebutir lagi air matanya jatuh. Kemudian tak terhitung lagi.

Ia tak akan masuk ke dalam sekarang. Mungkin besok. Jiro pasti sedang menunggunya. Mereka harus berangkat ke pesta ulang tahun. Ia tidak tahu siapa saja yang akan datang.

Ia segera berbalik. Dan… dua meter di depannya, ia melihat Jiro tersenyum, memegang payung. Ia merasakan ada ledakan kecil di dadanya. Jiro tetap saja tampan. Rambutnya masih hitam. Dan diberi minyak, seperti biasa. Tubuhnya berdiri tegak, bagai kayu yang kuat.

“Aku tahu akan menemukanmu di sini, Mil.” Jiro mendekat. Membuang payungnya. Memeluk. ”Sejak lima belas tahun lalu, aku selalu ingat baju merahmu dengan pita yang cukup besar, dan itu membuatku harus menemukanmu.“

Derapu, apa kau sudah melepaskan hatiku tepat ketika Vivin melepas hati Jiro?

Hujan terus turun di belakang punggung mereka. Kalau boleh memilih, ia lebih suka hujan di pagi hari ketimbang sore. Tapi sekarang ia menerima semua hujan yang turun di bulan dua belas, bulan kelahirannya, dengan hati yang megar. ***

 

GM, 2014

Yetti A.KA, tinggal di Kota Padang, Sumatera Barat

Advertisements