Bidadari Serayu


Cerpen Sungging Raga (Kompas, 6 April 2014)

Bidadari Serayu 6 April 2014

DI sungai Serayu, pada suatu pagi tahun 1886, ditemukan sesosok mayat lelaki mengambang, tubuhnya tersangkut di salah satu besi penyangga bendungan. Lelaki itu adalah Salimen, yang sejak malam sebelumnya dinyatakan menghilang dari rumah.

Alkisah, beberapa saat setelah kejadian tersebut, warga mulai berkumpul…

”Ini sudah mayat keempat belas di Serayu.”

”Mengerikan.”

”Bahkan Salimen yang tidak pernah macam-macam pun ikut jadi korban!”

Tak seperti penemuan mayat-mayat sebelumnya di mana warga segera mengangkat mayat itu dari sungai, kini mereka hanya berdiri di tepian, melihat dengan raut yang ketakutan. 

”Jelas ini bukan kematian biasa.”

”Jadi benar yang dikatakan Kyai Subale? Salimen mati karena mengintip bidadari yang sedang mandi, seperti yang terjadi pada orang-orang sebelumnya?”

Begitulah kabar yang beredar di desa tepi Serayu, seorang kyai kharismatik bernama Kyai Subale memberi penjelasan perihal kematian misterius yang terjadi selama beberapa hari terakhir.

”Kalau kalian mengintip para bidadari yang sedang mandi di sungai Serayu, apalagi mencuri selendangnya, kalian akan dibawa ke langit, dan hanya badan saja yang akan kembali ke bumi, sementara jiwa kalian menjadi tawanan. Percayalah dan ikuti nasihat saya.”

Awalnya warga tak begitu percaya dengan ucapan Kyai Subale, tapi kematian demi kematian yang berurutan membuat penjelasan Kyai Subale terdengar masuk akal. Warga pun mulai bertanya-tanya, sejak kapan para bidadari suka mandi di Serayu?

Sungai Serayu yang permukaannya berwarna hijau, luas, dan cantik, memang sangat cocok jika disandingkan dengan sosok bidadari. Bahkan berdasarkan salah satu riwayat yang dituturkan secara turun-temurun oleh sesepuh desa, nama Serayu berasal dari Sirah Ayu atau Kepala Cantik.

Menurut riwayat tersebut, dahulu Sunan Kalijaga pernah menyeberangi sebuah sungai besar di daerah Banyumas, Jawa Tengah, dan beliau terkejut melihat seorang gadis sedang mandi di tengah sungai. Gadis itu hanya tampak kepala dan wajahnya yang ternyata sangat cantik. Tentu saja, sebagai bentuk penghargaan tertinggi kepada Sunan Kalijaga dan kepada riwayat ini, kita tak perlu bertanya mengapa tak dipastikan dulu tubuh gadis itu seperti apa. Sebab di zaman ketika dongeng menyerupai kenyataan, banyak gadis-gadis yang berkepala manusia tapi bentuk tubuhnya ternyata menyerupai makhluk lain.

Kabar itu dengan cepat menyebar ke seantero desa, ”Kyai Subale juga bilang, biasanya bidadari mandi menjelang matahari tenggelam, jadi jangan ada yang berani datang ke dekat Serayu menjelang matahari terbenam. Jika ada keperluan, tunda sampai setelah isya’. Sebab bisa jadi kita awalnya tidak ingin mengintip, tapi kalau mendengar suara kecipak air dan suara tawa bidadari, maka kita pun tergoda.”

Sejak itulah, sungai Serayu yang sedianya menyajikan pemandangan indah, barisan pohon pinus, suara ricik air, anak-anak kecil menyeberangi jembatan bambu, juga perahu-perahu yang ditambatkan, sekarang berbalik sangat mencekam.

Dari sore sampai isya’, tak terlihat aktivitas warga, jalan kampung yang menuju jembatan Serayu menjadi lengang. Namun mereka tahu bahwa ini tidak menuntaskan seluruh masalah. Warga sepanjang tepi sungai Serayu lalu mengadakan pertemuan di balai desa untuk menemukan jalan keluar yang konkret. Kepala desa dan semua tokoh masyarakat ikut berkumpul. Mereka berunding cukup alot.

”Ini konyol, pembunuhan oleh bidadari itu jelas sebuah konspirasi dunia gaib. Mana ada bidadari yang seharusnya cantik jelita dan baik, justru menyandera bahkan membunuh? Ini melawan teori.”

”Apa Anda yakin bidadari itu pembunuhnya?”

”Siapa lagi? Bukankah Kyai Subale bilang sendiri?”

”Kyai Subale hanya bilang warga kita diangkat ke langit dan dibunuh, tapi kyai tidak memastikan bidadari itu pembunuhnya.”

”Hm. Begitu, ya. Jadi maksudmu, mungkin saja bidadari hanya umpan, sengaja turun ke Serayu, lalu penduduk kita diangkat ke langit, akhirnya dibantai oleh makhluk lain di sana?”

Mendengar kata ”dibantai”, beberapa peserta rapat tampak terkejut dan berbisik satu sama lain.

”Jadi, mari kita urun rembuk solusi, kita tidak bisa diam, kita harus melawan. Masing-masing silakan menawarkan ide.”

Perundingan semakin alot, satu per satu usul bermunculan, ibu-ibu sibuk menyiapkan kopi dan pisang goreng bagi peserta rapat.

Sejenak kita tinggalkan warga di balai desa. Sambil menunggu perundingan itu selesai, saya—sebagai penulis cerita—akan menyajikan beberapa intermeso sebagai berikut:

Alkisah, dalam sudut pandang lain, dalam platform cerita yang berbeda, para bidadari cantik dari dunia dongeng memang rajin berkunjung ke sungai Serayu untuk mandi.

Setiap menjelang senja, para bidadari akan turun dari langit, mendarat lembut di tanah basah, meletakkan selendang di atas batu, melepas ikat kepala sehingga rambut mereka akan tergerai, lalu menceburkan diri ke sungai dan mandi sepuasnya sambil tertawa-tawa. Kadang mereka saling mencipratkan air satu sama lain, kadang sebagian dari mereka memanjat sebuah tebing yang cukup tinggi, dari puncak tebing itu mereka melompat ke dalam sungai dengan gerakan salto akrobatik menyerupai atlet lompat indah.

Dan sungguh para bidadari tak pernah tahu perihal manusia yang selalu mengintip mereka, perihal laki-laki yang mengintip dan berharap mencuri selendang agar bisa mewariskan namanya dalam cerita dongeng.

Juga satu hal yang penting, bidadari-bidadari itu ternyata tak pernah mempermasalahkan perihal hilangnya selendang, mereka punya banyak selendang di langit, kalau mereka tak mendapati selendang ketika selesai mandi, maka mereka akan tetap melesat ke langit, tubuh-tubuh mereka yang serupa cahaya itu akan sangat menyilaukan. Anatomi apakah yang bisa dilihat dalam cahaya selain cahaya?

Jadi, sebenarnya bidadari-bidadari itu merasa tak punya hubungan apa-apa dengan kasus warga yang mencuri selendang lalu ditemukan mati mengapung di Serayu keesokan paginya. Mereka justru ikut bertanya-tanya, siapakah yang telah melakukan pembunuhan dan mencemarkan nama baik bangsa bidadari? Adakah makhluk di alam ini yang melakukannya karena cemburu pada kecantikan dan kesempurnaan mereka?

Kembali ke cerita sebelumnya, malam sudah tiba di tepi Serayu, bintang-bintang adalah lampion waktu, cahaya purnama seperti memercik pada daun-daun pepohonan yang gemetar, seperti seremonial alam yang paling murni dan sabar.

Rapat telah selesai setengah jam lalu, warga sudah bubar dan kembali ke rumah masing-masing, ada yang melanjutkan perbincangan di pos ronda atau warung kopi. Hasil perundingan itu menghasilkan keputusan yang kelak akan menjadi titik balik sejarah sungai Serayu:

Warga memutuskan akan mengotori sungai itu, setidaknya sampai para bidadari tak betah mandi di sana lagi.

”Kita harus sering-sering membuang sampah atau melakukan apa saja sampai warna air sungai tidak lagi menjadi hijau, tapi coklat,” kata sang pemimpin rapat.

Keputusan yang sebenarnya kontroversial itu langsung dijalankan keesokan harinya. Warga yang awalnya sangat mencintai sungai Serayu dan menjaga keelokannya, tiba-tiba menjadikannya tempat untuk melakukan sebagian aktivitas rumah tangga dan aktivitas tubuh manusia. Para ibu suka mencuci di sungai, warga desa membuat saluran pembuangan yang mengarah ke sungai itu, berbagai macam limbah desa mengalir ke sana.

Waktu demi waktu berlalu, warna sungai pun mulai berubah, hijaunya perlahan memudar, berganti warna pekat. Dan mereka ternyata berhasil. Ketika air sungai telah berubah coklat, tak seorang bidadari pun mau mandi di sungai itu. Menurut kabar beberapa orang, para bidadari berpindah ke sungai Porong di Sidoarjo.

Kyai Subale telah mengonfirmasi bahwa sungai Serayu kembali aman. Hari itu juga menjelang matahari terbenam, warga berkumpul di tepi sungai untuk merayakan keberhasilan mengusir bidadari, tak ada lagi rasa takut, anak-anak kecil bergembira, ibu-ibu sibuk menyiapkan pesta untuk seluruh desa…

Namun satu bulan kemudian, masalah lain muncul. Sebuah masalah baru yang memaksa warga kembali melakukan rapat.

”Bidadari sudah pergi. Jadi, ada yang tahu bagaimana caranya membuat Serayu kembali berwarna hijau?” Tanya salah seorang warga. Mereka saling berbisik, seperti memikirkan sesuatu yang jauh lebih berat dari sebelumnya.

”Sejak bulan lalu kita sudah berhenti membuang sampah di sana, tapi airnya belum berubah juga. Apakah ini semacam kutukan dari bidadari?”

”Sudah, jangan bicara kutukan lagi!” Balas warga lainnya.

”Mana Kyai Subale, dalam keadaan begini dia justru tidak muncul!”

”Kalau Sunan Kalijaga masih hidup, ia pasti tidak mengenali Serayu yang sekarang.”

”Ayo, siapa yang waktu itu mengusulkan untuk mengotori sungai kita? Sekarang harus bertanggung jawab!”

Suasana rapat berangsur ramai. Bahkan ada beberapa orang yang berdiri dari kursinya. Pemimpin rapat coba melerai mereka.

”Tenang. Tenang. Itu adalah keputusan bersama. Serayu akan tetap menjadi Serayu apapun warna airnya. Sekarang kita hanya perlu merawat apa yang masih ada. Pohon-pohon pinus, sawah-sawah yang hijau di sekitar bantaran sungai, itu tanggung jawab kita. Dan satu hal, sebaiknya jangan ceritakan pada keturunan kita, bahwa dulunya sungai ini berwarna hijau. Setuju?”

Warga berpandangan, tak tahu harus setuju atau tidak. Namun begitulah akhir dari rapat kedua yang tampak tak begitu memuaskan. Orang-orang pulang dengan perasaan beragam. Sementara itu, sungai Serayu tetap mengalir dengan megahnya. Meski tak sehijau pada awalnya dan tak lagi menjadi tempat persinggahan bidadari, sungai itu tak hendak mengutuk siapa pun, ia membiarkan segala cerita hanyut bersama alirannya yang tetap tenang, begitu tenang, sampai ke Pantai Selatan….

 

 

4 Responses

  1. lagi dan lagi hehe. sungging raga menulis lagi tentang serayu. 😀

    Like

  2. Cerpen Sungging Raga di KOMPAS kali ini seperti anak kecil masuk sekolah; sekedar datang dan mengisi presensi.

    “Saya hadir, Bu Guru!” katanya sambil mengangkat jari telunjuk.

    Like

  3. Ide dan alur cerita sederhana, tapi mengena dengan kondisi sekarang.

    Like

  4. Rasa dibawah ke zamaan dahulu..
    Alur sederhana dan bagus dengan pesan-pesan moralnya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: