Archive for April, 2014

Dunia Angka
April 27, 2014


Cerpen Wina Bojonegoro (Media Indonesia, 27 April 2014)

dunia angka ilustrasi pata areadi

MAUKAH kau kuberi tahu sebuah rahasia?

Kalau begitu, mari, duduklah di sini. Di dekatku. Sebab, ini rahasia antara kau dan aku saja. Jangan sampai ada orang lain yang menguping. Sebab, itu berarti kematian bagi kita.

Baiklah, kumulai saja cerita ini.

Kau lihat, orang-orang yang lalu-lalang di koridor itu? Pasien-pasien yang diusung menuju ruang ICU, beberapa pasti kau kenal baik, bukan? Ya. Para pemimpin, birokrat, orang-orang penting di negerimu, mereka yang mencari dan mencuri perhatian dengan jauh-jauh berobat ke sini. Tahukah kau, apa sebenarnya yang dilakukan oleh dokter kami pada mereka? Dokter-dokter itu sesungguhnya sedang memasang chip pada otak mereka.  (more…)

Advertisements

Keringat
April 27, 2014


Cerpen Jorge Amado (Koran Tempo, 27 April 2014)

Keringat ilustrasi Munzir Fadly

MEREKA menuruni tangga bersamaan. Ketika mereka sampai di pintu keluar, orang asing itu mencoba mengajaknya bercakap-cakap. Ruap napasnya yang panas menyapu wajah si wiraniaga. Malam ini udara terasa gerah dan lembap, tak ada angin berembus. Namun, si orang asing pasti sedang kedinginan karena ia terus melesakkan tangannya ke dalam saku mantel. Matanya lebar dan ujung tulang rahangnya yang persegi tampak runcing.

“Anda tinggal di sini?”

“Ya, lantai dua.”

“Sewanya tinggi?”

“Tinggi? Ya, lumayan tinggi, tapi di mana lagi kita bisa mencari yang lebih murah?”  (more…)

Lukisan Pelangi Ama
April 27, 2014


Cerpen Y Agusta Akhir (Suara Merdeka, 27 April 2014)

Lukisan Pelangi Ama ilustrasi Farewell

HUJAN baru saja berhenti beberapa saat lalu. Dari teras rumah, Ama masih menatap lekat lengkung pelangi yang menggurat di langit biru. Ia memandangnya seolah ada yang ia lihat selain garis warna merah, kuning dan hijau yang sudah mulai pudar itu. Kuperhatikan wajahnya. Masih ada gurat sedih di wajah mungilnya itu.

‘’Apakah ia masuk surga, Tante?’’ gumamnya tanpa berpaling dari lengkung pelangi itu.  (more…)

Pesta Kunang-Kunang
April 27, 2014


Cerpen Ilham Q. Moehiddin (Jawa Pos, 27 April 2014)

Pesta Kunang-Kunang ilustrasi Bagus

1/

TAK ADA makam di sini. Hanya rongga di batang pohon Dedalu raksasa yang tegak di tengah desa. Rongga yang disebabkan hantaman petir, dan kerap dipenuhi kunang-kunang yang berpesta selepas jasad diletakkan di dalamnya, membuatnya tampak seperti pesta lampion di malam tahun baru.

Saat Dedalu tua itu ditemukan di hutan utara, Ama (bapak) Huga takjub pada ukurannya. Ia kemudian mendirikan rumah 500 meter dari pohon itu. Pada tiga tahun pertama, orang-orang berduyun datang lalu ikut mendirikan rumah di situ. Rumah-rumah yang kini mengepung Dedalu tua raksasa. Ketakjuban Ama Huga pada Dedalu tua itu tak pernah hilang bahkan menjelang kematiannya. Ia ingin agar rongga di Dedalu tua itu menjadi makamnya dan makam setiap orang yang kelak mati di kampung yang ia namakan Lere’Ea ini. Orang-orang menurutinya. Karena pohon Dedalu menyerap aroma busuk di sekelilingnya, maka pohon itu juga menghisap bau kematian dari jasad-jasad orang mati.  (more…)

Rumah Air
April 27, 2014


Cerpen Anton Kurnia (Kompas, 27 April 2014)

 
Rumah Air ilustrasi

JIKA hujan singgah, Mamah akan gelisah. Hujan memang anugerah. Pohon-pohon yang kekeringan, daun-daun yang kehausan, dan rumput-rumput yang ranggas akan senang menerima guyuran air segar basah. Tapi hujan juga bisa jadi musibah. Air yang melimpah-ruah tapi tak lancar mengalir bakal menjadi banjir. Rumah kami yang mungil pun dipaksa menjadi rumah air.

Sejak Ibu pindah ke Jakarta untuk bekerja agar aku bisa tetap bersekolah tanpa kekurangan biaya, aku tinggal bersama Aki dan Mamah—orangtua almarhum Bapak. Rumah warisan Bapak yang terletak di batas kota—cukup jauh dari tempat tinggalku sekarang—disewakan kepada tetangga yang memerlukan rumah bagi anaknya yang baru menikah.  (more…)

PR Matematika
April 20, 2014


Cerpen N Mursidi (Republika, 20 April 2014)

pr-matematika-ilustrasi-rendra-purnama

PR Matematika ilustrasi Rendra Purnama

TELEVISI di ruang tengah rumah Noura masih menyala.

Noura duduk bersimpuh di karpet, dengan tangan kanan memegang pensil dan di hadapannya terbentang dua ruas buku tulis yang sudah penuh coretan. Gadis berusia sepuluh tahun yang duduk di bangku kelas lima sekolah dasar itu bingung menuliskan angka di lembaran kertas. Sesekali, ia menambahkan beberapa angka. Sayang, ia tak tahu apa yang harus dilakukan.

Ia benar-benar tak bisa menghitung. Tak mungkin, ia akan bertanya kepada Bik Munah, wanita setengah baya yang menjadi pembantu di rumahnya. Wanita itu jelas tak akan tahu apa pun soal pekerjaan rumah satu ini. Sialnya, ia tak bisa bertanya lagi kepada Ibunya, Meisya. Ibunya belum lama pergi. Sepuluh menit lalu, telepon genggam ibunya berdering. Ia tidak tahu: telepon itu dari siapa. Ia hanya tahu, seketika itu, ibunya menyalakan televisi. Gugup, dan pucat. (more…)

Yang Datang dari Negeri Asap
April 20, 2014


Cerpen Hary B Kori’un (Media Indonesia, 20 April 2014)

Yang Datang dari Negeri Asap ilustrasi Pata Areadi

KAU keluar dari asap, mengerjap-ngerjapkan mata, dan berjalan menyusuri trotoar. Jalan  memutih, cenderung kelabu, asap di mana-mana. Tak jelas, apakah masih pagi, siang,  atau senja. Asap mengepung kota. Orang-orang bergegas dengan masker di wajah mereka. Dan kau, tetap santai berjalan di trotoar itu, berlawanan arah dengan mereka yang hampir semuanya berpakaian warna kelabu, mirip warna asap.  (more…)