Cerpen Gunawan Tri Atmodjo (Jawa Pos, 30 Maret 2014)

Istri Pengarang ilustrasi Bagus

HANYA manusia bodoh yang menganggap cemburu sebagai tanda cinta. Tapi adakah cinta yang datang tanpa kebodohan? Kau tak akan bisa menghindari cemburu tapi kau bisa mengolahnya. Jika gagal, mungkin jalan hidupmu akan berakhir sepertiku saat ini, mendekam di tempat ini dan berurusan dengan rekan-rekan seprofesimu sekarang ini. Mungkin juga kau tak akan percaya pada cerita cemburuku ini karena ini seperti kisah cemburu pada hantu. Sebaiknya kau menyimak ceritaku ini dengan saksama karena mungkin kau dapat belajar banyak darinya. 

Sebenarnya kehidupan keluargaku sudah cukup mapan. Aku bekerja sebagai pegawai bank dan suamiku murni bekerja sebagai penulis lepas. Suamiku menulis apa saja yang dapat mendatangkan uang, mulai dari novel, cerpen, puisi, esai, naskah film, hingga teka-teki silang. Dia setia pada prinsipnya yakni hidup dari menulis. Sebenarnya akulah yang menopang perekonomian rumah tangga kami. Karena, jujur saja, pekerjaan menulis suamiku sulit diandalkan. Dia seperti bekerja pada keberuntungan. Pada suatu saat, tulisannya bisa dimuat di beberapa koran atau majalah dan penghasilannya lumayan. Tapi di saat lain, tak ada satu pun tulisannya yang dimuat dan penghasilannya hanya dari royalti novelnya yang tak seberapa karena kurang diminati pasar.

Tapi aku tak pernah memusingkan masalah materi dengannya. Aku juga tahu dia begitu khusyuk menulis setiap hari. Bahkan kuanggap dia sangat profesional karena memiliki jam kerja menulis yang terjadwal. Dia akan bangun pagi-pagi, menyeduh kopi sendiri, menyalakan komputer yang diletakkannya di bawah jendela, lalu menulis, dan akan kudengar harmoni papan ketik beradu dengan jemarinya, membangunkanku di pagi hari. Aku sering bertanya dalam hati, dari mana dia memperoleh ide yang seakan tak pernah kering itu? Terkadang aku menduga bahwa dia hanya menyalin mimpinya semalam ke dalam tulisan.

Ritus menulisnya di pagi hari akan berakhir saat harus mengantarku ke kantor. Sepulang mengantarku, dia akan kembali menghabiskan waktu seharian untuk bergulat dengan imajinasinya. Dia akan keluar rumah kembali saat jam jemput tiba. Aku sering berandai-andai, jika saja kami dikarunia anak, tentu kesibukannya menulis dapat dengan sendirinya terkurangi. Dia bisa mengasuh anak dan menjadi bapak rumah tangga yang baik, sembari menulis di waktu luang. Tapi semua itu masih sebatas angan karena sejak tujuh tahun menikah, kami belum juga dikaruniai momongan.

Dulu kami bertemu di angkringan dekat taman budaya. Aku kos di dekat tempat itu dan dia sering nongkrong di sana. Saat itu aku masih mahasiswa semester dua dari fakultas ekonomi dan dia sudah drop out dari kuliahnya di fakultas sastra. Aku seperti mendapati dunia yang lain saat berhadapan dengannya. Sebuah dunia yang mengandalkan olah batin dan perasaan. Aku seperti kehilangan logika yang begitu diagung-agungkan di bangku kuliahku. Dia seperti nabi bagiku. Kata-katanya kadang tak masuk akal tapi selalu bisa kurasakan kebenarannya. Pada akhirnya kami berpacaran.

Kami habiskan masa pacaran selama tiga tahun dan karyanya mulai bertebaran di berbagai media. Tapi aku masih saja kurang minat membacanya dan dia selalu tak mempermasalahkannya. Dia begitu yakin ketika melamarku dengan naskah novelnya yang sedang dalam proses negosiasi dengan penerbit. Aku menerima pinangannya meski saat itu aku baru lulus kuliah yang berarti juga bakalan menempuh hidup dalam ketidakpastian karena hanya hidup dari tulisannya. Orang tuaku yang sebelumnya meremehkan pekerjaannya juga berhasil diyakinkannya. Jadilah kami menikah, dan beberapa bulan kemudian nasib baik menghampiri, lamaranku sebagai pegawai bank diterima.

Dia bersyukur aku bisa bekerja sebagai pegawai bank karena itu berarti fondasi kehidupan kami jadi lebih kuat. Ada ladang uang lain yang membuatnya lebih idealis dalam menulis. Dia jadi tidak terlalu mengarus pada selera pasar, media, atau kepentingan lain hanya demi publikasi tulisan yang berujung uang. Singkatnya, tak apa bila tulisannya tak laku toh kami masih bisa hidup dengan gajiku. Sampai akhirnya kami dapat membeli rumah sederhana yang sebenarnya kubeli dengan tabungan gajiku dan suamiku itu hanya menyumbang pagar serta tanaman-tanaman hias sebagai penyalur minat berkebunnya.

Tapi kehidupan selalu berjalan di luar dugaan. Kemapanan kami goyah. Bukan darinya memang, tapi dariku. Di tempatku bekerja berembus isu akan ada penyegaran pegawai. Dan posisi teller yang kududuki sekarang paling rentan terkena PHK. Banyak sekali lulusan baru yang berwajah lebih menawan dan punya konsentrasi lebih tinggi daripada pegawai lama sepertiku. Mereka bersedia digaji lebih rendah ditambah sistem kontrak dengan durasi pendek. Ini tentu lebih menguntungkan perusahaan dibanding harus melestarikan pegawai lama yang produktivitasnya sudah menurun dan gaji yang makin tinggi. Memang kami menang pengalaman, tapi apalah artinya pengalaman karena dengan pelatihan sebulan seolah mereka dapat bekerja seperti kami yang telah bertahun-tahun bekerja di bank ini. Saat kukatakan hal ini pada suamiku, dia hanya menanggapinya santai. Katanya, kami bisa hidup lagi seperti awal pernikahan yakni hidup dari tulisannya. Aku ngeri membayangkan semua itu. Saat ini tentu berbeda dengan tujuh tahun lalu. Aku enggan tercabut dari kemapanan.

Dan hal yang kukhawatirkan sungguh terjadi. Aku terkena PHK dengan pesangon yang tak seberapa. Perusahaan seperti buta dengan jasa dan pengabdianku selama bertahun-tahun. Kutumpahkan dukaku pada suamiku dan dia kembali menyerahkan dirinya untuk tempatku menaungkan hidup. Aku takjub dengan kemampuan suamiku mengelola perasaannya. Dia membisikkan kalimat yang membuatku tenang, “Kau bisa menungguiku menulis dan kita bisa bercinta kapan saja kita mau, dan jika beruntung nanti, kita bisa memperoleh bayi. Kau tahu apa alasan utamaku mencintaimu?”

Aku menggeleng, lalu bibirnya kembali berucap,”Karena hanya padamu aku kembali menjadi manusia biasa yang tidak direpotkan dengan kegiatan berpikir dan berasa yang kadang terasa menyiksa. Padamu aku bisa membicarakan hal remeh temeh dan sejenak melupakan teror ide untuk dituliskan. Padamu aku seperti selalu libur sebagai penulis.”

Aku terharu mendengarnya dan mulai tergerak membaca karya-karyanya sembari menunggu lamaran pekerjaanku dijawab. Inilah kali pertama sejak tujuh tahun lalu menikah aku benar-benar membaca tulisan suamiku. Aku seperti mendapat hiburan dan pengalaman aneh saat membaca tulisan-tulisannya. Aku seperti menemukan sosoknya yang lain dalam tulisannya. Sosok yang lebih kaya secara batin dan membuatku kian jatuh cinta padanya.

Bulan pertama berjalan lancar, kami jadi seperti pengantin baru lagi. Aku sering menggodanya saat khusyuk menulis dan selalu berakhir dengan percintaan yang memuaskan. Tapi bulan berikutnya aku mulai merasakan kejenuhan. Belum ada satu pun lamaran kerjaku yang dijawab sedang uang pesangon terus berkurang. Aku menyadari betapa sulitnya mencari pekerjaan baru bagi perempuan berusia tiga puluhan sepertiku. Aku jadi sensitif dan mudah sekali marah.

Hingga suatu ketika kubaca cerpen suamiku yang berjudul Nadia. Dalam cerpen itu, suamiku menulis sebuah kisah perselingkuhan yang kurasa begitu hidup dengan adegan persetubuhan yang begitu detail. Apalagi dia bercerita dengan sudut pandang tokoh ‘aku’. Imajinasiku gamang, kurasakan seperti di ambang kenyataan. Diam-diam kecemburuan menyelinap di hatiku. Tapi aku tidak cukup gila untuk menanyakan tokoh Nadia dalam cerpen ini pada suamiku.

Tapi hari-hari berikutnya suamiku terus menulis cerpen dengan tokoh perempuan bernama Nadia. Kurasa dia produktif sekali. Dalam sehari dia bisa menghasilkan satu cerpen di samping tulisan lain. Keranjingannya menulis cerpen ini hampir berjalan sekitar sebulan. Dia terus menulis dengan tokoh Nadia dan semuanya bertema percintaan. Hampir setiap penggambaran fisik dan perwatakan tokoh Nadia ini selalu sama di tiap cerita berbeda. Aku mulai curiga kalau tokoh Nadia ini memang sungguh ada di kehidupan nyata. Tapi siapa dia? Kenapa suamiku begitu memujanya dalam setiap cerita yang ditulisnya? Kecemburuan di hatiku kian menjadi tapi aku belum cukup gila untuk mengakuinya.

Hari berganti dan kian banyak cerita tentang Nadia yang kubaca hingga sebuah peristiwa langka terjadi. Saat tidur suamiku mengigau dan menyebut nama Nadia. Padahal seumur hidup dia tak pernah mengigau. Aku meradang dan menyingkir dari tempat tidur. Di meja kulihat ponsel suamiku tergeletak. Kuberanikan diri membuka rekaman pesan dan panggilannya dan kucari-cari nama Nadia. Tapi tak kutemukan nama itu. Oh tentu suamiku tidak terlalu bodoh. Tentu saja dia telah menghapusnya. Kecemburuanku kian tak tertahan dan aku akan menanyainya meski dia akan menganggapku gila.

“Siapa Nadia?” tanyaku datar pada suatu pagi yang memanas. Suamiku hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku. Kuulang pertanyaanku dengan intonasi yang lebih tegas, “Siapa Nadia?” Dia menghentikan ketikannya dan tersenyum, “Dia perempuan yang memberi kita makan selama beberapa minggu ini dan mungkin beberapa bulan ke depan.” Katanya sambil menunjuk tumpukan koran dan majalah yang memuat cerita Nadia.

Aku tak puas dengan jawabannya. Kurasa suamiku bersilat lidah. Kecurigaanku bertambah dengan kekerapan suamiku keluar malam akhir-akhir ini. Tidak seperti biasanya, dia enggan kudampingi. Alasannya selalu sama, bahwa ini acara khusus pria. Dan aku akan tinggal sendirian di rumah dengan kecamuk cemburu yang membabi buta. Berbagai bayangan perselingkuhan dan persetubuhan antara suamiku dan sosok Nadia kian menggila dalam kesendirianku. Aku merasa ini bukan lagi khayalan tapi sudah menjelma kenyataan.

Tak ada kesibukan yang bisa kulakukan untuk meredakan kecemburuan ini. Aku tidak suka berkebun dan semua teman sepertinya sudah kukunjungi. Aku merasa kendali emosiku semakin lemah. Sosok Nadia seperti hantu yang terus menerorku dalam kemisteriusannya. Dan pada suatu siang yang jahanam, kejadian yang paling ingin kuralat sepanjang hayatku itu terjadi.

Aku mengiris semangka yang ingin kuhidangkan pada suamiku. Dia begitu khusyuk menulis hingga tak menyadari kehadiranku. Dia terus mengetik dan dari belakang aku dapat membaca apa yang diketiknya. Dia lagi-lagi menulis tentang persetubuhan tokoh ‘aku’ dengan Nadia dengan begitu erotis. Aku menatap tiap huruf yang muntah, tiap kata yang lahir, dan tiap kalimat yang tercipta. Adegan persetubuhan itu seperti demikian gamblang di hadapanku dan suamiku tampak begitu menikmatinya. Darahku tiba-tiba mendidih. Kucabut pisau dari semangka dan kutusuk tengkuk suamiku hingga tembus ke lehernya. Darah segera muncrat ke mana-mana. Suamiku tercekat tapi tak mampu bersuara. Dia ingin berbalik ke arahku tapi ajal keburu datang. Sebuah kematian yang bahagia, menurutku saat itu, karena dia meninggal saat menulis, hal yang mungkin diidamkan oleh banyak pengarang.

Baru beberapa menit setelah kejadian itu, aku menyadari perbuatanku ini sebagai kekhilafan yang fatal. Aku tak bisa lagi menganulirnya. Aku menangis meraung-raung. Aku benar-benar kehilangan kendali atas jiwa dan ragaku. Aku telah membunuh orang yang begitu aku cintai dan begitu mencintai aku. Lalu aku tak sadarkan diri.

Dan di rumah sakit jiwa inilah aku berakhir. Tindakanku dianggap sebuah kegilaan yang tak mungkin dipidanakan. Sungguh, sebenarnya aku ingin dihukum mati saja agar tertebus rasa bersalahku.

Kutulis ceritaku ini padamu agar kau tahu penderitaan dan penyesalanku yang mendalam. Dan tentu kau tak usah bertanya mengenai tokoh Nadia karena dia memang benar-benar hantu. Tak akan kautemukan dia dalam kehidupan nyata. Dia murni fiksi karena hanya direka suamiku dari membalik suku kata namaku. Perlu banyak waktu dan pengorbanan untuk mengurai kesederhanaan nama ini. Dan aku tidak terlalu cerdas sebelum takdir buruk ini terjadi. Kecemburuan telah membutakan akal sehat dan logikaku.

Kutinggalkan catatan ini padamu agar ada lagi yang dapat kau pelajari perihal laku buruk cemburu. Selamat tinggal psikiater muda. Saat kau baca tulisan ini mungkin kita telah berbeda dunia. Aku ingin segera bersatu kembali dengan suamiku. Semoga kau bahagia selalu. Sahabatmu, Diana. ***

 

 

Solo, 2011-12

Gunawan Tri Atmodjo, lahir di Solo pada 1 Mei 1982. Alumnus Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS Surakarta. Memenangkan beberapa kali lomba penulisan sastra. Buku kumpulan cerpennya Sebuah Kecelakaan Suci baru saja diterbitkan.

 

Advertisements