Cerpen Handry TM (Suara Merdeka, 23 Maret 2014)

Liontin untuk Mathias Dadores ilustrasi -

Janganlah kau pahami cinta seperti membeli setangkup roti. Ketika kedinginan semalaman kau lantas kobarkan unggunan api. Roti kau lempar sekenanya ke tengah bara, dan kau tunggui.

 

Brisbane, Mei 1998

 ‘’LAKUKAN apa yang mesti kau lakukan, Amelia. Tapi jangan kamu membenci diriku seolah menyingkirkan beban napasmu yang kepayahan.’’

Kata-kata itu terus terngiang. Sepanjang perjalanan bus dari Gold Coast menuju Brisbane. Udara malam menembus jaket, sesekali deru AC terasa dingin hingga ke kulit.

Amelia menyusut air matanya. Mengenangkan laki-laki yang selama ini tak menenteramkan hatinya. Laki-laki kurus dengan sorot mata gelisah, sejak pertemuannya di airport sepekan lalu, keduanya terlibat pertengkaran yang luar biasa hebat. Pertemuan berikutnya Hungry Jack, sebuah kedai burger di kawasan Winter Garden, Brisbane, selepas senja.

Ia tipe laki-laki petualang, tigapuluh lima tahun, bapak dua orang anak di Dili. Sementara Amelia, ia gadis muda yang terjebak dalam petualangan hak azasi manusia di kawasan ibukota Queensland, sepanjang dua tahun ini.

‘’Perubahan apa yang terjadi pada dirimu, Amelia? Setidaknya setelah mengenalku? Kehancurankah? Kemuliaankah?’’ tanya lelaki itu, masih terngiang di telinganya.

Bus terus melaju, menembus malam, menyobek kabut dini hari, yang butiran embunnya menempel di ujung daun serupa pecahan kaca. Sesekali bus itu berhenti, memuntahkan penumpang di jalan dan menderu lagi.

Gigitan kue di mulutnya tak mampu mengusir ingatannya tentang kata-kata kasar tadi.

‘’Gila, aku benar-benar jatuh cinta padanya,’’ rutuknya di hati.

Cinta seperti apa rupanya? Ketika koran-koran Australia memberitakan kerusuhan massal di Jakarta, mendadak Mathias Dadores, laki-laki asal Timor itu menyeruak dalam kehidupannya. Kehadiran Mathias begitu cepat dan mendadak di hatinya.

‘’Angin apa yang membawamu ke negeri kutukan ini, sayang?’’ ia masih mengenangkan kata-kata Mathias yang penuh rayu itu.

Mathias Dadores, mengaku menjadi wakil dari kelompok generasi Neo Timor. Begitu menginjakkan kaki di airport Brisbane, kepala Mathias melongok santai ke kanan-kiri. Gayanya sangat yakin diri. Negeri ini seperti sudah menjadi bagian dari hidupnya. Melihat Amelia yang mirip dengan rumpun Melayu, Mathias langsung menghampiri.

‘’Indonesia, ya?’’

Tak perlu dijawab sekalipun dengan anggukan. Laki-laki berkulit logam itu langsung memosisikan diri sebagai teman. Mula-mula menyapa dengan bahasa Inggris. Begitu Amelia melakukan anggukan pertama, kalimat melayunya langsung mencerocos. Keduanya sepakat, mereka masih sama-sama disatukan dalam sebuah wilayah negara.

‘’Asal Bandungkah?’’ kejar Mathias. Amelia mengangguk. Rambut ekor kudanya dijuntai ke depan. Gadis yang cantik, demikian Mathias menyimpulkan.

‘’Sahabat-sahabat pergerakan Timor Loro Sae-kah?’’

‘’Penerus, pejuang penerus. Tapi kami tak berani bermimpi membangun sebuah negara di samping Indonesia. Kami cuma ingin mengabarkan ke poros dunia, Timor Loro Sae sedang sakit parah. Tolong, Australia jangan merecoki, Amerika tak perlu memperkeruh perasaan kami.’’

‘’Apa hubungan negara-negara itu dengan Timormu?’’

‘’Ini,’’ katanya, sembari membuka lembaran daftar LSM di Timor.

‘’Ini dia agen kejatuhan negeri Timor sendiri. Dulu mereka berjuang mengangkat senjata dan berhasil menggantikan rezim. Kini, mereka tak lebih dari tengkulak internasional dengan imbalan uang yang menggiurkan.’’

Astaga! Amelia hampir tertawa. Di kota Brisbane, sepanjang dua tahun bergelantungan dari bus satu ke bus lainnya, bisik-bisik mengenai gerakan bawah tanah anak-anak Timor, bukan menjadi berita yang luar biasa. Dalam sebuah konser jazz di City Botanic Garden beberapa bulan lalu, sejumlah stan LSM internasional menawarinya menjadi member. ‘’Dana kami cukup, bergabunglah untuk memperjuangkan sebuah paham,’’ rayu seorang aktivis di stan itu.

‘’Apanya yang janggal, Mathias Dadores?’’

‘’Kami menolak!’’

‘’Kami? Siapa yang kamu wakili dengan sebutan ‘kami’?’’

‘’Porak-porandalah wilayah Timor nanti.’’

‘’Sudah, sayang. Sudah terlalu hancur. Jangan menjadi pahlawan kesiangan.’’

Ia memang lelaki gagah dan keras. Amelia menyadari hal itu dari cara Mathias menjentikkan jari kelingking ke ibu jarinya, di saat berucap kalimat yang bermakna mengkerdilkan. Gerakan matanya menyempit, serasa sedang menyempitkan persoalan pada dirinya.

‘’Ibarat sebuah peta menyilang, sejumlah wilayah memang harus terpisah dari Ibu Pertiwi.’’

Kalimat itu diucapkannya sembari menahan luka hati. Air mata laki-laki, menurutnya, pantang dikeluarkan pada saat sedang berjuang. Namun air muka Mathias masih mengeras, hunjaman matanya menekan tajam.

‘’Mathias,’’ kata Amelia.

Laki-laki itu menoleh cepat. Tak ada suara, hanya sunyi di antara keduanya.

‘’Aku mengerti perasaanmu,’’ sambung Amelia.

‘’Tak cukup rasanya hanya dengan mengabarkan kesedihan di sana. Peluru-peluru berdesingan, ratusan selongsong berhamburan. Daging manusia memburai, beberapa di antaranya adalah saudara dan para tetua.’’

‘’Tidak ada yang tidak pedih, Mathias.’’

‘’Sementara inilah Brisbane. Aku berdiri tegak di Negeri Dongeng. Di hadapanku seorang putri anggun. Oh, kekasihku, penderitaan begitu jauh jaraknya dari tempat kita. Namun rintihan bangsa Timor Loro Sae, sangat terdengar dari tempat kita berada.’’

‘’Sudahlah, sudah. Mari kita minum kopi di hotel. Lupakan untuk sore ini saja. Jangan hamburkan semua kesedihanmu hingga tidak tersisa. Nanti kamu akan terbiasa. Kalau kesedihan itu terus dikelola, rasa harumu akan perlahan sirna.’’

Amelia menangkap bahu laki-laki itu. Mathias menyorongkan mantel yang kuat, dan menerima ajakan Amelia minum kopi di lobi hotel.

Setelah mencari tempat duduk, Amelia memesan kopi bagi keduanya. Tangan Amelia tak ingin sendiri, digenggamnya telapak tangan Mathias sepenuh hati.

‘’Siapakah ibu yang sangat berbahagia melahirkan laki-laki setangguh kamu, Mathias?’’

Mathias setengah terusik. Senyum kecilnya tersungging kecut. Ia mengangguk, seperti diingatkan oleh rasa bangga terhadap ibunya.

‘’Mama Maida, lengkapnya Maida da Silva. Perempuan terpandang dari Atambua, Timor Timur bagian barat.’’

‘’Ia pasti sangat kesakitan saat melahirkanmu. Menurut cerita nenekku, seorang ibu yang melahirkan bayi pejuang, akan mengalami rasa sakit yang luar biasa.’’

‘’Mama Maida tak pernah bercerita.’’

‘’Tentu saja, karena beliau hemat berkisah tentang rasa sakitnya.’’

‘’Yang kudengar, beliau malah kehilangan suami saat aku belum berumur sepekan.’’

‘’Maafkanlah ayahmu, Mathias.’’

‘’Kami yang bersalah. Membiarkan ia bertempur di hutan, bergabung bersama penentang kezaliman.’’

Terdiam. Keduanya saling tidak memandang. Acid Jazz lamat-lamat disuarakan seorang pemain piano di sudut lobi.

Malam ini Mathias seperti mendapatkan tambatan. Seperti sedang diayun bidadari berhati lembut berparas menawan.

‘’Sebenarnya, cinta seperti apa yang kau harap dariku, Mathias Dadores?’’

‘’Cinta yang seperti ibuku, ketika dengan berat melepas kepergian ayahku.’’

‘’Aku bukan perempuan yang lahir dari perjuangan seberat itu.’’

‘’Tak berharap aku mengubah dirimu seperti Mama Maida.’’

‘’Tapi keinginanmu itu…?’’

‘’Ah, anggap saja sedang berimajinasi. Setiap manusia memiliki ilusi idealnya sendiri-sendiri.’’

Kepada Mathias, Amelia mengaku tak banyak tahu tentang arti hidupnya. Ia sadar, perjalanan cintanya bersama lelaki itu tak ingin berhenti sampai di sini.

‘’Aku akan melangkah seiring perjuanganku,’’ Mathias berkata tegas.

‘’Jalan pikiran kita berbeda. Tapi tidak mengapa, bukankah kita sedang sama-sama ditekan perasaan?’’

Mathias terpaku mendengar jawaban Amelia.

***

 

Brisbane, Akhir 1998

 TERNYATA itu cuma kenangan panjang. Sesudahnya, mereka tak pernah saling bersua. Berkali-kali Amelia menghubungi email Mathias, tapi tak pernah ada balasan. Alamat itu menjadi semacam kotak surat yang vakum lama, Mathias tak punya nyali membalasnya.

Bagi Amelia, menyaksikan pengamen yang gelisah atas berbagai perubahan, merupakan pemandangan yang biasa. Perkuliahan yang penuh tesa, menjadikan dirinya serupa loker perpustakaan. Sewaktu-waktu loker dibuka apabila datanya dibutuhkan.

Sore ini di apartemennya yang kecil, pikirannya merambat gamang. Ingin sekali turun ke lantai bawah, berlari-lari kecil menuju Myer Mall yang terletak hanya berseberangan dari tempatnya tinggal. Kebiasaan itu dilakukannya dalam tiga kali sehari saat pertama dulu tinggal.

Dengan menggunakan taksi, ia sering menuju ke seberang sungai. Dari siang pukul 12.00 hingga sore hari, ia duduk di bantaran sungai yang penuh taman. Berjam-jam dipandanginya kanal luas River City dengan teropong di tepi taman.

Tapi sore ini tak ia lakukan. Ada sesuatu yang ingin ia tunggu. Yakni kabar di mana kini Mathias tingal. Kecupan yang pernah lama dan lekat di bibirnya, baginya merupakan dosa yang tak pernah hilang. Kecupan dari seorang lelaki beranak istri nun jauh di sana. Kecupan yang sebenarnyatabu, meski sekadar dirindukan.

Tiba-tiba ada tarikan kuat untuk berlari. Berlari agak kencang menghadang taksi. Taksi itu melintasi River City, menyeberangi kanal menuju ke tepi.

Sampai di apartemen ia membuka e-mail. ‘’Dear, Amelia!’’ Sebuah kalimat tertera di layar. Kalimat penuh liris dan puja-puji. Di bawah kalimat itu tertera nama Mathias Dadores dari Dili.

‘’Aku menunggumu, menunggumu dalam imajinasi liar yang tak menentu. Bersama keluargaku, anak-istriku. Aku merindukanmu, tanpa sedikit pun mereka tahu. Sungguh keji kerinduan ini terhadapmu.’’

Amelia menitikkan air mata. Kalimat itu ingin tak seketika ia baca. Ia masih ingin ada kalimat tersisa. Amelia tak ingin kehilangan momentum lebih cepat dari yang ia rasa. Ia sangat rindu Mathias, rindu luar biasa.

‘’Sedang kupersiapkan sebuah sejarah besar, Amelia. Bukan aku seorang, namun para nasionalis tanah bangsa Timor Loro Sae. Kami sedang berembug, teramat salahkah jalan yang kami tempuh? Kami ingin berperang,’’ tulisnya.

‘’Aku ingin bertahan di antara dua kekuatan. Kekuatan sebagai laki-laki cengeng di hadapanmu. Atau memilih menjadi pejuang yang compang-camping dan kalah perang.’’

Lolong anjing di kejauhan berkali-kali menyela. Ini sudah malam, kota Brisbane lampunya seperti kunang-kunang. Namun gadis itu ini masih belum tidur karena banyak pikiran.

 ***

 

Dili, Juni 1999

 ‘’AKU sama sekali tidak peduli ketika akhirnya tanah ini kau miliki. Satu pertanyaanku, siapakah berani memancing kekisruhan sekeras ini? Aku, Mathias Dadores, bukanlah manusia hutan yang buta warna. Telah kubaca banyak hal dari banyak teori tentang negeri ini.

Aku bukan orang suci. Pernah kulakukan sesuatu yang tidak benar. Misalnya menyetubuhi kekasih lain di luar perempuan yang kuperistri. Tapi ketika tanah bangsa Timor diperkosa dengan berbagai janji, insting kebinatanganku menyeringai.’’

Wajah laki-laki itu kini tak sebersih dulu. Kemejanya tak lagi terpasang dasi. Senyum flamboyannya turut lenyap, hanya kumis dan cambangnya yang tumbuh lebat. Namun di balik semua itu, Mathias Dadores tampil menjadi pribadi yang matang dan teguh.

Hari agak siang ketika Amelia memasuki markas Mathias di Kota Dili. Setelah sebelumnya melewati jalan raya sepi, menelusup kawasan bersemak perdu bersama rombongan wartawan televisi, tibalah kini di tempat yang ia cari. Sebuah markas kelompok perlawanan Timor Loro Sae, di bawah pimpinan Mathias Dadores.

Dalam hitungan menit, keduanya telah berhadap-hadapan. Laki-laki berkumis bercambang itu, astaga telah berbeda dibanding dulu. Ia seperti pemimpin organisasi yang tidak lagi peduli masa lalu.

Ia tatap mata Amelia hingga ke dalam.

‘’Mathias Dadores,’’Amelia menyebut namanya dengan tercekat.

‘’Kini kau telah menemukanku. Kau lihat sendiri, sekarang aku sibuk sekali,’’ Mathias berkata dingin.

Tak ada kata-kata, mereka berdiam agak lama.

‘’Aku sudah tidak berharap kau seperti dulu,’’ sahut Amelia, masih gemetaran. Mathias diam. Namun lekat matanya tetap menatap hangat perempuan yang pernah disayanginya.

‘’Sebenarnya aku tak bisa melupakanmu,’’ bisik Mathias.

‘’Aku mengerti kesulitanmu. Jangan dipaksa.’’

Mathias kembali membisu.

‘’Di manakah keluargamu? Maksudku, istri dan anakmu?’’

‘’Kami punya saudara di Lisabon. Mereka lebih tenang berada di negeri yang bukan tanah lahirnya. Paling tidak untuk saat sekarang. Bila saatnya tepat, mereka akankembali.’’

‘’Kamu nampak gagah dengan pakaian diplomasi seperti ini,’’Amelia memuji.

‘’Aku membawahi lebih dari satu batalion tempur di sini, meski kami bukan milisi. Kami sudah bukan Indonesia lagi, ingat itu.’’

Amelia tidak tertarik menanggapi. Ia menelan ludah kuat-kuat.

‘’Apa yang kauharap dari pertemuan kita?’’

‘’Aku ingin bertemu dirimu. Ingin memastikan,apakah Mathias Dadores masih hidup, ataukah sudah mati. Besok aku akan keluar dari Dili. Bersama rombongan jurnalis internasional itu, kami akan singgah sehari di Bali.’’

‘’Tak ada yang menjamin kita akan bersua setelah ini,’’ sela Mathias. Amelia mengangguk cepat, lalu katanya,

‘’Andai kelak bertemu, kita harus menjadi kekasih yang saling melupakan.’’

‘’Aku suka dengan kata-katamu, gaya bahasamu khas seorang aktivis. Sampai kapan kau bergentayangan di negeri orang?’’

‘’Sampai anak-anak di bawah umur bisatertidur lelap, dan merasakan tangan-tangan keadilan menjangkau negeri moyangku.’’

Keduanya saling melempar senyum. Senyum getir dan pilu.

‘’Selamat bertugas, Pak Mathias, Mathias Dadores.’’

Itulah kata-kata terakhir Amelia kepada laki-laki yang dulu menjadi kekasihnya. Sambil tanganya menggenggamkan sesuatu ke telapak tangan Mathias, Amelia berbisik lirih penuh haru, ‘’Pakailah sebagai kenang-kenangan.’’

Dibalasnya kata-kata itu dengan senyum arif sambil menggenggam kuat pemberian Amelia. Dan Amelia keluar dari bilikMathias dengan mata berkaca.

 ***

 

Brisbane, Agustus 1999

 ITULAH pertemuan yang benar-benar terakhir di antara keduanya. Amelia melihat berita di televisi, selepas jajak pendapat, sebuah pergolakan dahsyat terjadi di Timor Loro Sae. Seorang lelaki tampak bersimbahdarah terkapar di tanah. Dadanya robek terhunjam peluru.

Amelia yakin, laki-laki itu Mathias Dadores. Karena di leher korban melingkar kalung berliontin pemberiannya.

‘’Kuberikan kalung berliontin itu di hari terakhir kita bertemu. Sungguh aku tidak berharap kembali melihatmu bersama liontin itu. Tapi…’’ (62)

 

Handry TM, sastrawan ini baru saja menerbitkan novel Kancing yang Terlepas (Gramedia Pustaka Utama 2013). Menyusul buku berikutnya, Mata yang Berdusta dan Cinta yang Mendera sebagai trilogi GangPinggir. Kekasih Plastik adalah antologi cerpen terbarunya yang siap terbit. Bersamaan dengan itu, ia sedang mempersiapkan antologi puisi terbarunya, Eventide. Ia bisa disapa di akun twiternya: @handrytm.

 

Advertisements