Lembudana-Lembudini


Cerpen Eka Nur Apiyah (Republika, 23 Maret 2014)

lembudana-lembudini-ilustrasi-rendra-purnama

Lembudana-Lembudini ilustrasi Rendra Purnama

“JON, ke sini!” panggil seseorang pada Joni. Suaranya lirih hampir tak terdengar sedangkan napasnya berjungklatan tak teratur. Joni langsung mencari sumber suara. Ternyata itu suara Sapri, teman sekampungnya. Dengan rasa malas, Joni mendekati temannya itu.

“Kamu ngapain sih, Pri, ngumpet di situ?”

“Ssstt … jangan keras-keras, Jon, aku takut.”

“Takut sama siapa? Orang kampung sedang yasinan kok. Lagian buat apa ngumpet segala.” Sapri masih diam. Mengatur napas lalu meminta Joni untuk mendekat.

“Tadi… tadi….”

“Tadi apa?” Joni tak sabar ingin mendengar apa yang hendak diucapkan Sapri kepadanya.

“Tadi aku melihat makhluk jadi-jadian, Jon,” Sapri bergidik, lalu melanjutkan ceritanya.

“Tadi pas aku memancing di Kali Pemali, aku melihat ada makhluk aneh. Gede banget. Pokoknya serem, Jon.”

“Ah kamu sih, udah tau malam Jumat Kliwon bukannya yasinan malah mancing.

Kualat kamu!”

Sapri terdiam, mengiyakan apa yang dikatakan Joni. Barangkali ini ganjaran untuknya yang berani melanggar kesepakatan warga. Sejak kejadian bocah tenggelam di Kali Pemali, warga Dumeling tak boleh memancing. Apalagi malam hari. Meskipun korban yang tenggelam itu bukan penduduk asli warga Dumeling Brebes. Kepala desa tetap melarang. Katanya, kali itu memang angker. Ada penunggunya.

***

“Jangan sekali-kali kalian mancing di Kali Pemali, pamali!” Suara pak kades masih terngiang di telinga Sapri, namun ia tak peduli. Pun dengan makhluk seram yang dilihatnya kemarin malam. Kemelaratan yang akrab dengan hidupnya membuat Sapri putus harapan. Terbayang pikiran lain dalam otaknya. “Aku harus kaya,” pekiknya dalam hati.

Seperti biasa, Sapri merenungi nasibnya. Kapankah Tuhan akan mengabulkan doanya? Ah, persetan! Sapri mengutuk. Mengutuk malam yang tak jua ramah padanya. Kailnya masih tenang, setenang aliran Pemali di depannya. Tak ada riak. Tak ada gelombang. Hanya diam.

Ia sudah tak acuh akan larangan di desanya. Dia yakin tak akan mati oleh makhluk buas itu. Makhluk itu tak mungkin memangsanya. Toh dia pribumi, asli Dumeling. Tiba-tiba ada yang bergerak, kailnya disentak. Sapri semringah, ada ikan besar yang tersangkut pikirnya.

***

Malam ini tak ada ronda. Desa aman. Seluruh warga meluruh di rumah masing- masing. Hanya Joni yang masih bertandang di rumah pak kades, ngopi sembari bercerita tentang makhluk yang dilihat Sapri tempo hari.

“Apakah ini pertanda akan muncul malapetaka, Pak?” Joni meminta pendapat Pak Warjo, kepala Desa Dumeling. Sesepuh itu merupakan pribumi yang sudah lama menetapi desa itu sehingga paham seluk-beluk serta legenda Kali Pemali.

Warjo menggeleng. Ia pun tak mengerti mengapa makhluk itu tiba-tiba muncul lagi setelah sekian lama beritanya tenggelam terbawa arus Pemali.

“Kita berdoa saja, Jon, semoga tak terjadi apa-apa.” Warjo masih berusaha menutupi kekhawatirannya. Dia berdoa. Semoga apa yang dilihat Sapri tempo hari itu bukanlah Lembudana-Lembudini. Hanya ilusi dan halusinasi akibat ketakutan yang berlebih. Tiba-tiba keringat Warjo menetes, aneh, padahal cuaca dingin. Warjo kaget sampai gelas di tangannya merosot. Joni ikut tersentak, lalu menghampiri Warjo.

“Kita harus ke Pemali sekarang.”

Dua laki-laki itu bergegas. Menerabas rerumputan yang menjulang. Senyap. Kali Pemali masih senyap, tak ada riak atau gelombang. Warjo menerawang. Pikirannya masih kacau pun napasnya memburu. Dia mengerti.

“Bagaimana, Pak, apa ada tanda-tanda?”

Warjo masih menggeleng, dia tak ingin orang di sampingnya ketakutan. Lalu, dia mengajak Joni untuk meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba, kaki Warjo menginjak sesuatu. Sebuah sandal, dia tahu itu adalah sandal miliknya yang dipinjam Sapri. Dua hari yang lalu Sapri meminjamnya, dia bilang sedang tak punya uang untuk beli sandal.

“Celaka, ini celaka!” tanpa sadar kata-kata itu meluncur dari mulut Warjo. Joni bingung, namun dia tak mau banyak tanya. Meski dadanya berkecamuk rasa ingin tahu.

***

“Gawat, Pak… gawat!” sebuah suara mengagetkan Warjo yang sedang melebur dengan zikir yang masyuk pada keesokan harinya. Dia bergegas menghampiri pemuda itu.

“Ada mayat mengapung di Kali Pemali, Pak! Tak jelas siapa, wajahnya menelungkup ke bawah. Tak ada yang berani mengangkat. Takut ikut tenggelam.”

Pagi itu, warga Dumeling resah. Setelah sekian lama tenang, kini desa itu seperti kejatuhan meteor dari langit. Ribut. Warga saling berbisik. Berkerumun di pinggir kali. Namun, tak ada yang berani mengangkat mayat itu hingga ke tepi.

“Angkat mayat itu!” pinta Warjo pada warganya. Namun, semua masih terdiam.

Menahan kengerian.

“Kita tak bisa membiarkan mayat itu terus mengambang di kali, mari kita angkat, lalu kita semayamkan sebagaimana mestinya.”

Ajakan itu masih belum bersahut, akhirnya Warjo menceburkan diri. Menarik mayat itu dengan tambang. Alangkah terkejutnya Warjo setelah tahu mayat siapa yang mengambang itu, Joni. Pemuda yang menemaninya ke kali semalam.

Alunan Yasin menggema di sebuah ruang. Sementara, Warjo masih menyepi, di sudut dengan pikiran kalut. Bagaimana mungkin ini terjadi? Hatinya masih bertanya, tak percaya akan kejadian ini.

Apakah Lembudana-Lembudini benar-benar sedang murka sampai-sampai dia membunuh pribumi? Siapa yang tega membunuh Joni? Laki-laki itu adalah orang yang baik dan ramah.

***

Tok … tok … tok ….

Sebuah pintu rumah diketuk.

Diam

Tak ada sahutan, sekali lagi.

Tok … tok … tok ….

Setelah dua kali ketukan halus, lalu berubah menjadi ketukan keras. Tak teratur.

Tok, tok, tok, tok, tok, tok, tok, tok, tok, tok, tok, tok, tok, tokkkkkkk!!!

Bruk!

Warjo terjatuh dari bale, tempat tidurnya. Lalu bangkit. Kupingnya tegak, pintu rumahnya masih digedor. Entah siapa, bertandang tengah malam. Mendadak bulu kuduknya juga ikut tegak.

Bunyi desisan terdengar jelas di telinga. Mungkinkah itu suara Lembudana-Lembudini? Keringat dingin mulai mengucur, dengan langkah getar Warjo membuka pintu. Tak ada siapa-siapa, bunyi ketok telah raib. Kembali angin panas menamparnya. Seperti ada tamu, tepatnya tamu tak diundang. Warjo terpejam, merapal mantra sakti. Berlindung dari godaan segala makhluk terkutuk.

“Tolong!” sebuah teriakan mengagetkan Warjo, dua orang warga berlarian menuju rumahnya.

“Tolong saya, pak kades, bayi saya hilang. Istri saya menjerit tak keruan. Ada makhluk menyerupai ular yang membopong bayinya.” Cerita salah satu di antara mereka.

“Iya, pak kades, anak saya juga hilang, padahal baru ditinggal sebentar sama istri saya.” Seru yang lain.

Warjo semakin lemas. Ia yakin kalau makhluk itu bukanlah Lembudini. Tak mungkin ia memangsa warganya sendiri. Joni, dua bayi itu, dan mungkin juga Sapri yang tak jelas rimbanya.

“Saat ini, semua warga sedang berkumpul di Pemali, Pak, berharap bayi kami akan ditemukan.”

Warjo masih terdiam.

“Baiklah kita ke sana sekarang.” Warjo dan dua orang itu berjalan menuju Pemali. Mulut Warjo masih tak henti merapal mantra sakti. Beberapa ayat suci ia lantunkan. Tak henti.

Warga Dumeling masih berkumpul di pinggir Pemali. Tampak seorang ibu menangis tak keruan. Ia menangisi anaknya yang hilang di Pemali tadi sore. Seorang warga melihat anak ibu itu terpeleset dan jatuh dari jembatan Pemali. Berarti sudah ada lima korban.

“Bagaimana ini, pak kades, kita harus segera bertindak. Kita tidak bisa membiarkan hal ini berlarut-larut, akan ada banyak korban nantinya,” ucap salah seorang warga.

“Setujuuu….” seru yang lainnya.

***

Dini hari, Warjo masih merenung. Memikirkan bagaimana menguak misteri yang terjadi di desanya. Lembudana-Lembudini mungkin telah murka pada desa ini. Tapi, apa yang membuatnya murka? Semenjak Sapri hilang, banyak korban lain yang berjatuhan. Apa ini ada hubungannya dengan Sapri? Sebenarnya, apa yang telah dilakukan Sapri hingga Lembudini murka? Kalau saja Joni masih hidup, mungkin dia bisa membantunya.

Malam Jumat Kliwon sebelum berita hilangnya Sapri, Warjo melihat Joni dan Sapri pergi mengendap-endap entah ke mana. Barangkali saja mereka pergi ke Pemali. Kalau memang Lembudini yang memangsa Sapri, kenapa Joni juga tak ikut dimangsa? Ini berarti Sapri pergi ke Pemali lagi, makanya hanya dia yang hilang.

Entahlah, aku bingung. Tuhan, berikan petunjuk pada hamba yang lemah ini. Warjo menutup malamnya dengan doa yang panjang.

***

“Tolooooong… tolooooong… toloooong….” lolongan orang minta tolong itu semakin menusuk telinga Warjo. Orang itu diseret ular raksasa berkepala kerbau ke Pemali. Teriakannya semakin menjadi, Warjo kaku, tak berdaya. Sungguh kakinya tak mau digerakkan. Sementara, ular itu semakin dalam membawa korbannya ke dasar sungai. Riak bergelombang menenggelamkan ular itu bersama mangsanya.

“Joniiiiii ….” Warjo terbangun. Ternyata mimpi buruk. Benarkah Joni dimangsa Lembudini? Warjo masih ragu. Lalu, telinganya menangkap suara desisan. Mirip suara ular.  Benarkah itu ular? Atau, hanya pikirannya?  Dengan hati-hati, Warjo mengintip dari balik jendela, suara itu semakin jelas terdengar.  Lagi-lagi, hawa panas menyerangnya.

Warjo kaget hampir mati melihat sosok itu, tak percaya dengan pemandangan di depannya. Seekor ular raksasa, tapi bukan berkepala kerbau seperti yang dilihatnya dalam mimpi, akan tetapi seekor ular raksasa berkepala Sapri!

***

Malam hari ketika Sapri berpikir mendapat ikan besar, ia berusaha menarik kailnya, namun tak berhasil. Sekuat tenaga dia mempertahankannya, namun jebol. Ia terlempar ke Pemali, terbawa pusaran gelombang. Dalam dan semakin dalam. Sapri menangis, berontak. Tapi percuma.

Sapri tak mati, dia hanya berubah bentuk. Tubuhnya tak lagi utuh. Hanya tinggal kepala dan tangan. Sementara tubuhnya bersisik, menjelma ular. Jadilah raksasa ular berkepala Sapri. Dia tak mau begitu, tapi nafsunya membujuk. Dia tak mau hidup melarat terus, inginlah berubah kaya. Akhirnya, dia pun bersekutu dengan iblis.

Tak mudah memang menjadi budak iblis. Demi segepok uang, nyawa pun ditukarnya meski orang lain menjadi korbannya. Tak peduli meski Joni sahabatnya sendiri ia bunuh. Sebenarnya, tak ingin Sapri membunuh Joni, tapi sahabatnya itu memergokinya tengah membawa bayi seorang warga. Agar tak ketahuan, Sapri melilit Joni hingga mati lalu membuang mayatnya ke Pemali.

Menyesal memang, tapi Sapri tak berubah pikiran. Dia ingin kaya, untuk mundur pun tak bisa. Iblis telah menjeratnya.

***

Warjo masih membelalak, menatap tegak makhluk di hadapannya. Dicarinya mata Sapri. Dia menatapnya dalam seolah ingin berkata, “Sadarlah, Pri, kembali ke Tuhanmu.  Tak ada guna bersekutu dengan iblis, mereka pembangkang besar. Mereka akan terus menjeratmu dan membawamu ke neraka!”

Sapri melemas, tak lagi buas. Ditatapnya Warjo. Orang tua itu seperti bapaknya sendiri. Berangsur tubuhnya beringsut meninggalkan Warjo yang mematung, lalu menceburkan diri ke Pemali.

Pagi itu warga geger lagi. Ada mayat yang terjebur di Pemali. Mengambang, wajahnya tak jelas. Hitam dan membiru. Warjo mendekat, memandang mayat itu lekat- lekat. Hatinya remuk, mayat itu sudah seperti anak sendiri.

“Akhirnya kau kembali, Pri,” pekiknya dalam hati, tangisnya pecah. (*)

 

 

Sosok kelahiran Brebes, 12 Agustus 1987, ini aktif sebagai pegiat sastra dan kini berdomisili di Brebes, Jawa Tengah.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: