Cerpen Agus Salim (Suara Merdeka, 16 Maret 2014)

Sanca ilustrasi Farid

SAAT lelaki itu muncul dari balik kegelapan malam, hujan sedang turun deras dengan hebatnya. Angin mengamuk.Daun-daun pohon mangga, nyiur, dan akasia diombang-ambingkan. Suara gemuruhnya membuat hati siapa saja menjadi giris. Termasuk aku. Petir menjulurkan lidahnya yang bercabang-cabang. Menimbulkan suara seperti ledakan meriam. Membuat sekujur tubuh bergetar. Langit seperti retak. Aku berpaling dan sesekali menutup telinga. Aku yakin, saat itu semua warga sedang asyik sembunyi di balik selimut sarung dengan mata rapat terpejam. Malam benar-benar telah dihantam gigil. 

Kecuali aku. Mataku masih terbuka. Aku tidak bisa tidur kala itu. Setiap hujan deras disertai angin kencang dan juga petir yang menyambar-nyambar aku pasti tidak bisa menutup mata dengan tenang. Selalu saja ada bayang-bayang buruk yang berkelindan di mata. Mungkin karena aku terlalu sering menyaksikan tayangan televisi tentang banjir yang membenamkan rumah-rumah warga. Aku takut banjir itu datang kemari.

Aku terus memandangi jendela yang berkali-kali dibentur angin dan bulir-bulir hujan. Jendela kamarku lurus dengan pintu rumah ibumu. Jadi aku bisa leluasa menatap dengan seksama siapa saja yang menghampiri rumah ibumu. Aku menyaksikan lelaki itu melangkah pelan-pelan seperti maling, mengendap-endap dengan tubuh membungkuk, menuju pintu rumah ibumu. Ia mengetok-ngetok pintu. Pintu terbuka. Dan dalam sekejap mata lelaki itu sudah berada di dalam rumah ibumu. Walau merasa ngeri, aku tetap membuka mata karena tidak ingin ketinggalan sebuah peristiwa.

Pintu rumah ibumu tidak tertutup sepenuhnya. Masih sedikit menganga. Ibumu memang lengah. Andai saja ayahmu pulang malam itu, pasti kelakuan mesumnya akan langsung ketahuan. Tapi sayang ayahmu tidak kunjung pulang. Mungkin terjebak hujan deras saat lembur di kantornya. Selalu seperti itu.

Setelah satu jam terlewati, lelaki itu keluar disertai ibumu. Mereka sempat bermesraan sejenak sebelum melepaskan genggaman tangan. Lelaki itu mengecup pipi ibumu. Mesra sekali. Ibumu melambaikan tangan saat lelaki itu pergi dengan berlari. Secepat angin lelaki itu menembus hujan. Lalu kemudian lenyap di kepekatan malam.

Bukan hanya malam itu saja sebenarnya lelaki itu mendatangi rumah ibumu. Mungkin sudah berkali-kali. Aku lupa berapa kali tepatnya. Setiap lelaki itu datang, pasti bersamaan dengan hujan yang turun deras. Ini seperti sudah direncanakan.

Beberapa hari kemudian, setelah malam itu, ibumu diketahui hamil. Ayahmu curiga dan marah. Pertengkaran hebat tidak bisa dihindarkan. Pertengkaran itu terjadi di depan rumahmu. Aku bisa melihatnya dengan jelas. Juga bisa mendengar apa saja yang dikatakan ayah dan ibumu dengan seksama.

’’Bagaimana kau bisa hamil, Sani? Sedang aku ini sudah divonis mandul oleh dokter.’’

’’Jangan tuduh aku yang macam-macam, Mas. Aku hanya tidur denganmu. Tidak dengan lelaki lain.’’

’’Dalam sebulan ini kita sama sekali tidak bercinta. Bagaimana bisa benihku sampai kepadamu kalau kita tidak berhubungan intim? Ayolah Sani, jujurlah kepadaku.’’

’’Pokoknya aku tidak selingkuh.’’

’’Aku tidak percaya. Cepat katakan. Siapa lelaki yang telah menghamilimu. Biar aku tebas batang lehernya. Cepat katakan! Kalau tidak mau mengaku, lebih baik aku pergi dari rumah ini.’’

’’Terserah kamu.’’

’’Baiklah, jika kau tidak mau mengaku. Sejak detik ini aku menceraikanmu.’’

Ayahmu kalap. Semua benda-benda berbahan beling dilempar dan ada juga yang dibanting. Pecahlah hingga berkeping-keping. Temasuk kaca jendela rumah, dilemparinya dengan batu. Banyak warga desa menonton dari jauh. Aku juga tidak keluar rumah.

***

BEBERAPA hari kemudian, setelah kepergian ayahmu, desas-desus dan gunjingan tentang pertengkaran itu mulai lenyap. Warga desa juga sudah melupakan perihal kenapa ibumu bisa hamil.

Ibumu merawat kandungannya sendirian. Namun sesekali lelaki itu datang malam-malam sekadar menaruh bungkusan di depan rumahmu. Esok harinya ibumu mengambilnya. Tidak banyak yang tahu apa isi dari bungkusan itu. Tapi aku yakin bungkusan isinya uang.

Lepas sembilan bulan lebih sedikit, kau lahir. Peristiwa kelahiranmu sangat sunyi. Walau suara tangismu mengusik telinga, tidak ada satupun warga yang datang berkunjung sekadar menjenguk. Hanya Wak Ju, dukun beranak yang masih belum tergantikan posisinya oleh bidan, menjadi saksi kelahiranmu.

Kau diberi nama Sanca. Aku menduga ibumu sengaja memberi nama kepadamu dengan nama sejenis ular dengan alasan tertentu. Atau mungkin saja ibumu sedang menggabung dua nama menjadi satu: Sani (nama ibumu) dan nama lelaki gelapnya itu.

Kau tahu, lelaki yang menghamili ibumu itu adalah seorang dukun ternama di desa ini. Yang kemudian kuketahui bernama Carta. Aku tahu nama lelaki itu dari ibumu. Nama lelaki itu sangat aku kenal. Bahkan setiap hari aku mendengarnya. Entah, kenapa ibumu mau berterus terang padaku, bercerita tentang lelaki gelapnya itu kepadaku. Dan semenjak peristiwa pertengkaran besar antara ibu dan ayahmu, lelaki itu menghilang dari desa ini. Entah ke mana ia pergi.

Namun suatu ketika aku dengar kabar dari temanku yang ada di desa Manding, Carta hidup dengan seorang janda beranak dua di sana. Janda itu kaya. Berkat modal yang diberi oleh janda itu, Carta maju dalam pemilu legislatif tingkat kota dan berhasil meraup suara banyak sehingga saat ini ia menjadi seorang wakil dewan kota. Ia berhenti menjadi dukun. Tidak, tepatnya istirahat jadi dukun.

Saat usiamu enam bulan, ibumu meninggal dunia karena serangan jantung. Ada kabar buruk dari seorang kawannya yang sesama pedagang di pasar: pasar terbakar. Semua toko, kios, tenda dan lapak hangus terbakar. Termasuk toko ibumu. Tidak ada yang tersisa. Ibumu tidak kuat mendengar kabar itu, lalu rubuh tak sadarkan diri, sebelum akhirnya meninggal.

Lalu bagaimana kau bisa sampai ke tanganku? Begini. Kau itu tidak dihanyutkan ke sungai sebagaimana Musa yang dihanyutkan di Sungai Nil sehingga bisa sampai kepadaku. Setelah ibumu meninggal, kau itu dititipkan oleh Wak Ju kepadaku. Saat ibumu meninggal, memang hanya Wak Ju yang mengurus. Padahal ia bukan kerabatmu. Warga hanya sedikit yang datang. Itu pun karena terpaksa.

Semua sanak keluargamu tidak ada yang bersedia merawat dan membesarkanmu. Mereka tidak mau menanggung malu. Kau sudah dicap sebagai anak haram yang dilahirkan dari hubungan terlarang.

Aku bersedia memeliharamu karena aku tidak memiliki keturunan. Sebenarnya aku bisa memiliki keturunan tapi suamiku tidak mau anak dariku. Entah apa sebabnya. Sudahlah, aku tidak mau membahas suamiku. Bagiku, ia aku anggap sudah tiada.

***

KAU pasti bertanya-tanya dari mana aku dapat uang untuk membiayai hidupmu. Ayahmu selalu mengirimi aku uang.Meski tidak banyak, tapi itu cukup untuk belanja sehari-hari,dan selalu berlebih. Yang aku ketahui dari kabar-kabar yang berkelebat, ayahmu menikah lagi dengan seorang perempuan yang banyak memiliki sawah. Ia ikut jadi petani. Berhenti kerja kantoran. Ia sukses dengan istrinya yang sekarang. Aku bersyukur.

Tapi keberutungan ayahmu tidak bertahan lama. Saat musibah datang, banjir dengan ketinggian lebih dari atap rumah, memberangus sawah dan rumah-rumah, termasuk rumah ayahmu, kiriman uang dihentikan. Dengar-dengar istri ayahmu bangkrut. Semua padinya gagal panen. Rumahnya ambruk. Sedang modal sudah banyak dikerahkan untuk menanam padi. Istri ayahmu gila. Dan beberapa hari kemudian, setelah akibat dari musibah banjir itu berangsur bisa dipulihkan, ayahmu meninggal dunia. Entah apa sebabnya, aku tidak tahu.

Aku hanya bisa menduga, ayahmu meninggal karena tidak kuat menerima tekanan hidup: istri gila dan harta tinggal tanah yang belum bisa menghasilkan apaapa. Banyak dari warga desa yang ada di sekitar rumah ayahmu mengungsi sejauh-jauhnya. Dan aku dengar kabar ada yang tidak ingin kembali ke desa itu. Ada yang mengira desa tempat ayahmu tinggal itu sudah dikutuk. Sehingga musibah datang dengan leluasa.

Saat-saat bersamamu, mulanya banyak yang mencibir dan menggunjing. Namun lama-kelamaan menjadi normal kembali. Awalnya aku dianggap telah bersekongkol dengan lelaki yang menghamili ibumu. Aku terima itu dan tidak melawan. Aku anggap itu sebagai akibat dari kecerobohanku.

Aku memang ceroboh. Seharusnya aku tidak menerimamu. Dan terserahlah siapa yang akan merawatmu. Tapi aku merasa kasihan kepadamu. Kau tidak bersalah. Kau bukan anak haram. Kau itu suci. Dan Tuhan tidak sembarangan dalam menciptakan makhluknya.Semuanya sudah terencana dengan matang. Tidak ada yang tidak disengaja.

Maka pesanku, jadilah anak yang baik. Menuruti semua nasihatku. Jangan bertindak bodoh yang nantinya bisa dikait-kaitkan dengan proses penciptaanmu. Bisa runyam masalahnya. Dan aku bisa dapat getahnya.

Aku menyekolahkanmu agar kau pandai. Setidaknya kau bisa menjadi generasi penerusku. Aku ini perempuan bodoh. Tidak berpendidikan. Orang tuaku tidak sanggup menyekolahkanku karena terbelit perekonomian sulit kala itu. Dan aku dipertemukan dengan lelaki tampan yang kala itu mau menikah denganku. Aku menikah di usia remaja. Masih tak tahu apa-apa. Tapi anehnya, semenjak awal menikah hingga sekarang, suamiku tidak mau menyetubuhiku. Entahapa alasannya. Aneh, bukan?

Suamiku memang lelaki aneh.Pekerjaannya sehari-hari sebagai dukun. Ia terkenal dengan dukun yang sakti. Pasiennya banyak. Ia bisa menggandakan uang. Banyak orang datang hanya ingin cepat kaya. Mereka yang datang kebanyakan tidak mau repot-repot bekerja tapi ingin banyak uang. Suamiku dikenal sebagai dukun pesugihan. Dan ia telah bersekutu dengan jin yang berbentuk ular.

Bukan hanya aku istri suamiku. Kata orang, aku adalah istri kesembilan. Aku tidak terkejut. Tidak mau terkejut. Sudah biasa menurutku. Karena memang banyak lelaki di desa ini yang memiliki harta berlebih kesenangannya memiliki istri banyak. Kau tahu Pak Haji Musleh? Istrinya sepuluh dan dikumpulkan dalam satu rumah. Pak Unais, Naufal, dan Ridwan, juga sama. Dan masih banyak yang lainnya.

Aduh, kenapa aku jadi bicara tidak keruan? Padahal aku sudah bilang tidak ingin membicarakan suamiku lagi. Sekarang aku ingin bertanya kepadamu, pernahkan kau becermin dan menatapi wajahmu lekat-lekat? Apa yang kau bisa tangkap saat becermin?

’’Tidak ada, Nek. Lagi pula aku tidak suka memperhatikan wajahku. Aku hanya becermin seperlunya. Menyisir rambut dan membenahi baju.’’

Wajahmu itu tampan sekali. Mirip sekali dengan Carta. Lelaki itu memang diberkahi ketampanan wajah. Tapi sayang perilakunya busuk.

’’Saya melihat sebuah foto seorang lelaki yang ada di dinding kamar Nenek. Itu siapa, Nek?’’

Itu Carta. Suamiku. Mungkin saat ini dia sudah menjelma ular. Aku berharap seperti itu. Aku tekankan kepadamu, mulai sekarang jangan banyak tanya lagi tentang lelaki itu padaku. Aku muak mendengar namanya. (62)

 

 

Rima, 2014

— Agus Salim, cerpenis kelahiran Sumenep, Madura, 18 Juli 1980. Cerpennya dimuat di beberapa media massa.

 

Advertisements