Dongeng New York Miring Untuk Aimee Roux


Cerpen Triyanto Triwikromo (Kompas, 16 Maret 2014)

Dongeng New York Miring Untuk Aimee Roux ilustrasi Gede Suanda

SESEORANG akan membunuhmu di Central Park yang membeku. Seseorang akan membunuhmu dalam badai salju. Nicole berkali-kali mendengarkan bisikan semacam itu justru ketika tiga hari lalu dia menerima telepon dari Manhattan, dari Aimee Roux: “Mungkin tak lama lagi aku akan meninggal. Temuilah aku sebelum Obama menendangku ke neraka.”

Ada nada guyon sekaligus mengiba-iba dalam suara yang sangat lirih dari sebuah rumah sakit di pusat kota. Justru karena itulah Nicole tak hendak mengabaikan keinginan Aimee, keinginan kekasih yang sudah setahun meneliti respons orang-orang Arab-Amerika terhadap pembangunan 9/11 Memorial dan 9/11 Memorial Museum di Ground Zero. 

“Tiga bulan lalu hingga sekarang aku selalu diserang rasa pusing luar biasa. Setiap serangan itu datang ada semacam delirium: aku melihat gedung-gedung di New York miring dan seakan-akan hendak menangkup, memerangkap aku dalam kegelapan,” kata Aimee, “Jadi segeralah memelukku. Segeralah membawaku pulang ke Paris sekalipun kau selalu bilang: cinta itu nonsens, cinta itu cuma semacam hiasan yang dirancang oleh arsitek bodoh di tepi Sungai Seine. Ayolah, Nicole, tak perlu menunggu ada pesawat menabrak Empire State Building untuk membawaku pulang bukan?”

Nicole ingin tertawa mendengarkan kata-kata yang kedengaran seperti dengung lebah itu. Meskipun demikian dengan nada riang dia menjawab keinginan Aimee. “Baiklah, aku akan menjemputmu. Aku akan menjemputmu.”

***

SAAT itu Nicole tak sedang di Rue Notre Dame. Saat itu dia tidak sedang di ruang sunyi, tempat dia, sebagai antropolog, menulis esai-esai tentang hantu-hantu yang berkeliaran di Bordeaux atau Pirenea akibat penggantungan dan pembakaran kepada ratusan laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang dianggap sebagai penjelmaan serigala.

Akan tetapi, Aimee tahu di mana Nicole berada karena tiga bulan lalu dia mendapatkan surat elektronik dari perempuan mawar yang sangat ia kasihi itu: Aku akan cukup lama tinggal di Salatiga. Aku hendak menulis kisah hantu-hantu yang membuat Arthur Rimbaud beberapa kali berhasrat berubah menjadi serigala. Di Salatigalah kali pertama Rimbaud membikin perjanjian dengan setan. Setan memberi jubah kulit serigala sehingga setiap malam—sebagai serigala—ia berkeliaran ke tangsi-tangsi.

Tak peduli pada kisah para hantu, Aimee mencerocos lewat telepon lagi, ”Ya, ya, cerita Rimbaud sebagai serigala memang menarik. Tetapi kau tak keberatan untuk sementara meniggalkan Rimbaud dan Salatiga bukan?”

Tentu saja tidak, batin Nicole. Meskipun begitu agak gigrik juga Nicole ke New York pada saat pusaran udara dingin dari wilayah Arktik mencengkeram. Jika nekat, berjalan-jalan di Central Park, Nicole akan dihajar suhu minus 14 derajat celcius. Atau jika dia ingin mengajak Aimee beristirahat di pinggiran Danau Michigan, tubuh mereka akan jadi patung es sepanjang waktu.

”Bahkan beruang kutub di Kebun Binatang Lincoln tidak mau keluar kandang saat ini, Aimee. Tetapi untuk cinta, apa yang tidak bisa kulakukan untukmu?“ jawab Nicole mencoba meyakinkan Aimee.

Aimee tersenyum sinis. Dia tahu Nicole tak mungkin bisa menembus badai salju. Dia tahu jika nekat, Nicole akan mengalami hipotermia. Nicole akan bicara melantur, kulit berubah jadi abu-abu, detak jantuung melemah, dan tekanan darah menurun. Itu belum seberapa, bisa-bisa jika tak tertolong, Nicole akan pingsan, tubuh membeku kaku, dan akhirnya mati.

”He-he-he, kau bukan manusia besi dari Planet Krypton yang dungu dan selalu menantang bahaya, Nicole. Tunggulah sampai badai salju reda. Percayalah, malaikat belum berani mencabut nyawaku sebelum kau datang, sebelum kau memelukku.“

Kini Nicole yang meringis. Dia paham cinta memang kerap ingin mengubah siapa pun untuk menjadi hero. Akan tetapi, pada saat sama nekat menembus badai salju pada suhu minus 14 hingga minus 50 celcius adalah bunuh diri yang tak bisa dimaafkan.

***

AKAN tetapi bagi Nicole Chen—yang lebih tampak sebagai Putri China ketimbang bangsawan Perancis—kematian lebih dimaknai sebagai semacam labirin ancaman yang harus dilalui untuk mendapatkan kehidupan penuh anugerah.

Semua rintangan sudah kulalui. Mengapa sekarang harus gigrik membawa pulang dan menikah dengan Aimee hanya karena Manhattan dikepung salju?

Tak ingin jadi pecundang, Nicole pada 1998, pada usia 17 tahun, berhasil membunuh pria beringas yang hendak memperkosa dirinya di Muara Angke dan akhirnya migrasi ke Perancis, lebih memilih menjemput Aimee. Hanya Aimee yang memungkinkan dia berani berhadapan dengan apa pun yang menakutkan. Hanya Aimee yang memungkinkan dia tetap tinggal di Paris sekalipun mukim di Hongkong atau Jakarta lebih pas untuk perempuan blasteran Jawa-Perancis-Tionghoa seperti dia.

Kau mungkin menyangka menjadi manusia tanpa akar—Tiongkok bukan, Jawa bukan, Perancis bukan—sepertiku akan sangat menyiksa. Kau keliru: aku justru tersiksa ketika cintaku yang tak bertepi pada Aimee. Perempuan indah yang suka mengisap ganja itu, ditentang oleh keluarga, terutama ibuku. Mengapa perempuan indah tak boleh mencintai perempuan yang juga indah?

Nicole tak pernah menunggu orang lain untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan konyol yang ia lontarkan pada saat-saat yang juga konyol. Karena itu, tanpa menunggu persetujuan Aimee, dari Bandara Soekarno-Hatta dia terbang ke Bandara John F Kennedy, terbang melawan apa pun yang dia anggap sebagai lingkaran ancaman yang lembek.

***

BERJAM-JAM di pesawat membuat Nicole bosan. Mau nonton Man of Steel, dia sangat membenci Superman yang dalam film ini ditampilkan sebagai sosok yang rapuh. Terbayang pada Kill Bill, tetapi film besutan sutradara Quentin Tarantino yang menjadikan Uma Thurman sebagai perempuan perkasa berpedang samurai Hattori Hanzo yang mematikan itu sudah tidak ditayangkan lagi.

Akhirnya Nicole iseng-iseng menonton La Marque des Anges. Nicole merasa disindir oleh film yang diaptasi dari novel Miserere dan dibintangi oleh Gerard Depardiu ini. Dia merasa menjadi Lionel Kasdam—yang sungguh mati seperti malaikat tanpa sayap—diragukan tak mampu membongkar pembunuhan seorang pemimpin koor gereja dan sindikat penculikan anak. Dia juga merasa menjadi Frank Salek, polisi interpol, yang memiliki trauma dikejar-kejar pembunuh.

Aku bukan jenis manusia yang gampang keok. Aku tak mau gendang telingaku pecah oleh suara-suara yang mungkin saja akan didengungkan secara monoton oleh siapa pun saat aku sampai New York. Aku tak mau seseorang atau siapa pun membuatku pusing sehingga semua gedung miring dan hendak memerangkapku dalam kegelapan. Aku—siapa pun aku—boleh saja berhasrat jadi malaikat, jadi penyelamat Aimee.

Akan tetapi, kebosanan tetap saja menghajar. Tak ada cara lain, Nicole harus melawan dengan tidur. Sayang sekali Nicole punya persoalan dengan alam yang menjadikan Sigmund Freud sebagai psikoanalisis yang kampiun itu. Setiap tidur dia selalu memiliki mimpi berlapis-lapis sehingga begitu bangun, akan terengah-engah dan linglung. Tak tahu dia berada di alam nyata atau dunia khayal.

Tahukah kau apa mimpi Nicole kali ini? Mula-mula dia bermimpi menjadi Aimee yang sedang menatap senja. Dalam mimpi yang dipenuhi warna semburat merah itu dia bermimpi lagi menjadi senja yang tengah menatap seorang pembunuh yang tengah membidik Aimee di sebuah taman. Begitu seterusnya hingga Nicole merasa menjadi pembunuh yang sudah melesatkan peluru ke dada Aimee, jadi Aimee yang bersimbah darah, jadi darah yang mengucur ke taman yang dibungkus salju yang ditatap Aimee yang sekarat, dan akhirnya jadi perasaan mati yang membelit leher sehingga membuat Nicole tercekik.

“Jangan mati dulu, Aimee! Jangan mati dulu! Jangan jadi hantu!” Nicole berteriak tak keruan.

Tentu saja teriakan itu membuat penumpang lain di sebelah terkejut dan berusaha menenangkan Nicole. ”Tak ada hantu di Etihad. Pesawat sudah hampir sampai. Sampean jangan tidur lagi.“

Seperti biasa Nicole terengah-engah dan linglung. Seperti biasa dia tidak tahu sedang berada di alam nyata atau khayal. Yang jelas, Nicole diserang oleh rasa pusing yang luar biasa. Itu membuat Nicole memilih memejamkan mata. Nicole takut sebagaimana Aimee, begitu membuka mata dia akan melihat gedung-gedung di New York miring dan seakan-akan hendak menangkup, memerangkap dalam kegelapan.

“Apakah Anda perlu kami antar ke rumah sakit?” seorang pramugari yang melihat wajah Nicole memucat membisikkan tawaran.

Nicole mengangguk dan mendesiskan nama rumah sakit yang tengah merawat Aimee. Sepanjang perjalanan Nicole akan terpejam. Dia tak ingin menatap gedung-gedung yang menjulang menyibak langit di Manhattan. Dia tak peduli pada tebaran salju yang menyelimuti aneka lampu.

Begitu sampai di rumah sakit, Nicole hanya akan bilang, “Apakah New York masih miring, Aimee? Apakah kota ini membuat siapa pun menjadi orang asing. Aku asing bagimu? Kau asing bagiku?” 1)

***

BEGITU Nicole membuka mata, tak ada satu benda pun yang berposisi miring. Tak juga televisi dan almari di ruang perawatan. Tak juga posisi selang-selang infus. Tak juga perawat yang sedang menunggu Aimee.

Tetapi Nicole sungguh terkejut ketika Aimee bilang, ”Mengapa kau berjalan miring, Nicole? Kau hendak meledekku? Kau tak percaya bahwa berkali-kali New York bisa miring bagiku?“

Nicole terdiam. Dia merasa ada sesuatu yang tak beres di kepala. Ini tak mungkin dibiarkan. Karena itu, dia segera bertanya kepada Aimee, ”Apakah kau pernah diancam seseorang yang bilang: Seseorang akan membunuhmu di Central Park yang membeku. Seseorang akan membunuhmu dalam badai salju.“

Aimee mengangguk. Dia merasa—entah dalam mimpi atau kenyataan—pernah hendak ditembak seorang keturunan Arab-Amerika saat berdiri di Lingkaran Imagine, di lingkaran yang membuat Yoko Ono selalu menangis tersedu-sedu itu.

”Kalau begitu. Tunggu aku di sini. Aku akan ke Central Park. Akan kubunuh siapa pun yang mengancam dan membuat kita gila.“

Aimee yang masih rapuh terdiam. Lalu Nicole melesat ke trem bawah tanah menuju Central Park. Nicole tak peduli apakah dia berjalan miring dan hendak menangkup dalam kegelapan.

Nicole yakin setelah dia dan Aimee akan kian banyak orang yang terperangkap oleh New York yang miring dan tak tahu aturan. 2)

Karena itu, satu-satunya cara menyelamatkan kehidupan kita adalah membunuh siapa pun yang menyulap kita hanya jadi binatang di kota yang menganggap penghuninya cuma sebagai binatang. Dan aku tahu siapa orang itu, Aimee, aku tahu di mana harus kuletuskan pistol yang telah kuberi peredam.

Kini sambil menggigil kedinginan Nicole telah berdiri di Strawberry Fields Memorial. Tentu saja dia tak sedang menunggu arwah John Lenon. Dia menunggumu. Menunggu kematianmu. Kematian siapa pun yang selalu mengancam dan membuat kepala Nicole seperti pecah berkeping-keping dan otak kacau balau berantakan tak menentu.

Aimee, Aimee Roux-ku, aku tak tahu apakah setelah “Imagine” mengalun, aku masih sanggup menulis dongeng tentang New York miring untukmu….

 

 

Catatan:

  1. Teringat komentar penyair Goenawan Mohamad: Lama sekali saya tak ke kota itu: kota tempat setiap orang adalah orang asing dan sekaligus orang New York.
  2. Arsitek Marco Kusumawijaya pernah bilang: New York adalah Babylon modern dan Jakarta yang lebih baik meskipun lebih muda.

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: