Cerpen Gus tf Sakai (Media Indonesia, 16 Maret 2014)

Angkutan dari Rusun ilustrasi Pata Areadi

PAGI ini tak bisa lagi Iman tak marah. Kapal gratis ke Muara Baru masih belum bisa jalan, sementara Rahmat anaknya yang sekolah pada sebuah SD di Pluit tak mau berangkat dengan bus. Tapi tentu saja Iman mestinya ngerti. Dengan bus, dari Marunda, Cilincing, ke Pluit, Penjaringan, jaraknya 10 kilometer. Pukul berapakah Rahmat akan sampai di sekolah?

Tetapi Iman sudah bilang ke Rahmat agar bangun lebih pagi. Rahmat saja yang tampaknya seperti malas. Ah, ada apakah sebetulnya? Walau sejak pindah ke Marunda banyak hal memang tak lagi sama, namun Iman punya firasat bukan karena itu Rahmat berubah. Ya, ada sesuatu yang seperti berubah. Kelas 4 SD, 10 tahun, memang usia nakal-nakalnya. Apakah ada sesuatu yang terjadi di sekolah? 

“Aku juga tak tahu,” kata Warsinah, istrinya, saat kemarin Iman bertanya. “Tapi yah, dibanding di Pluit, di sini Rahmat lebih banyak main.”

“Mm, apa karena main? Apakah karena asyik main ia jadi malas?”

Iman masih menggerutu, masih uring-uringan, saat pamit pada istrinya. Sapaan beberapa orang yang tengah duduk-duduk minum pagi di kios dan gerobak-gerobak lantai dasar, ia balas seadanya. Di halaman yang luas, Iman agak tertegun. Dilihatnya truk-truk dan orang-orang, para pekerja bangunan, ramai, menurunkan berbagai peralatan. Sepagi ini. Mmm. Pasar sayur itu, rupanya, benar-benar akan ada di depan rusun mereka.

***

Sampai di tempat mangkalnya, pasar ikan Muara Baru Jalan Gedong Panjang, hari memang telah agak siang. Tetapi bagi Iman, telat atau tidak memang tak soal, karena pasar ikan itu hanya tempat kerja antara, sebelum kemudian ia mangkal di Taman Waduk Pluit. Selain ‘mengisi’ langganan, orang-orang yang biasa utang rokok atau barang kecil ini-itu, pasar ikan adalah tempat Iman menitipkan asongan kepada seorang juragan ikan yang dulu, sebelum ia pindah ke Marunda, adalah juragannya.

Taman Waduk Pluit menjadi tempat asongan utama, karena di situlah sumber uang kontan Iman. Semua pembeli adalah orang asing, orang-orang yang sebelumnya Iman tak kenal, para pengunjung taman, yang entah datang dari mana. Hari-hari biasa Iman bisa untung Rp40 ribu-Rp50 ribu, sedangkan Sabtu dan Minggu bisa mencapai dua kalinya. Ditambah upah Warsinah yang membantu-bantu di sebuah kios lantai dasar rusun, penghasilan mereka cukup untuk bertiga dan kadang bisa mengirim ke Yeni, kakak Rahmat yang tinggal bersama orangtua Iman dan sekolah di sebuah SMP di kampung mereka di Magetan.

Siang Iman akan istirahat seraya menunggu Rahmat pulang dari sekolahnya pada sebuah SD dekat Emporium Pluit. Bersama, mereka lalu makan siang di sebuah warung dan, sesudahnya, dibantu Rahmat, Iman akan terus mengasong sampai malam. Sungguh tak terbayangkan, lokasi yang Januari lalu masih berupa perumahan kumuh, dipadati gubuk-gubuk di bantaran waduk, tak lebih sembilan bulan, telah menjelma jadi taman. Dan salah satu dari gubuk itu, tentu saja adalah gubuk Iman. Kadang, dengan setengah bercanda, Iman suka bertanya ke Rahmat, “Ayo, di mana dulu rumah kita?”

“Di situ!” tunjuk Rahmat, seraya berlari-lari ke sebuah lokasi di sisi waduk.

“Bukan!” sanggah Iman. Dan seraya menunjuk agak ke tengah, ke sisi bagian dalam waduk, ia bilang, “Di sana….”

“Kok di dalam waduk?” Rahmat protes.

“Ya tentu. Waduk kan diperlebar….”

Memang, selain dikeruk, waduk juga diperlebar. Luas yang dulu 60 hektare, untuk menanggulangi banjir, akan dijadikan 80 hektare. Sampai pertengahan November itu, baru sisi barat waduk yang jadi taman. Selain area pusat taman yang diresmikan Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta yang biasa dipanggil Jokowi, 17 Agustus 2013 lalu, sudah ada pula area teater terbuka, jalur jalan untuk joging, dan bangku-bangku. Jokowi bilang, “Bertahun-tahun ke depan, taman ini akan jadi hutan kota. Tak ada lahan komersial. Semua untuk warga. Gratis.” Warga juga boleh berdagang, tetapi asongan, karena tak boleh ada bangunan.

***

Masih juga kapal belum bisa jalan. Sudah lebih seminggu. Dan seperti harihari lalu, Rahmat masih juga seperti malas. Kadang mau sekolah, kadang tidak. Dan, hal lain yang juga mulai terasa dan membuat Iman kini kepikir, adalah ongkos bus. Bolak-balik Marunda-Pluit bisa mencapai Rp20 ribu. Ah, kapankah cuaca kembali baik sehingga kapal Marunda- Muara Baru bisa pula kembali jalan?

Bila terus begini, semua akan kacau. Kondisi keuangan keluarga juga akan tak lagi mencukupi.

Ah, andai saja masih seperti dua bulan lalu, saat bus Marunda-Pluit masih beroperasi.

Memang, bagi warga yang dipindahkan akibat normalisasi waduk ke rusun-rusun yang lokasinya jauh, disediakan angkutan gratis. Dan untuk yang dipindahkan ke rusunawa Marunda, selain dengan kapal Marunda-Muara Baru yang lewat laut, disediakan pula bus Marunda-Pluit yang lewat darat. Tetapi karena perjalanan dengan kapal lebih cepat, hampir semua orang memilih angkutan laut, dan angkutan darat jadi sepi. Lama-lama bus jadi kosong, dan dua bulan lalu kemudian berhenti. Tetapi, kenapa harus berhenti? Tidakkah, sebelum diputuskan berhenti, warga rusun mestinya lebih dulu ditanyai?

Ah, banyak hal memang tak berjalan sebagaimana mestinya. Dan satu hal yang membuat Iman was-was, adalah unit-unit rusun yang disewakan ke orang lain. Karena berbagai pertimbangan, banyak yang sehabis kerja tak pulang ke rusun dan memilih menginap di sekitar waduk. Dari semula menginap, lama-lama mereka menyewa kamar di Muara Baru, lalu rusun mereka kontrakkan. Bekerja sama dengan oknum pengelola rusun dan calo-calo, sewa unit rusun yang paling mahal Rp159 ribu per bulan, bisa menjelma jadi Rp700 ribu. Bila ketahuan, bukan hanya si penyewa asli, penyewa di seluruh lantai juga akan dikeluarkan.

Dan, bukan itu saja, juga kios dan gerobak-gerobak di lantai dasar. Katanya, akan diundi secara terbuka. Tetapi ada kios yang berganti pengelola, dan si pengganti ternyata famili atau masih satu keluarga.

Ah, Iman berdesah. Dan, tiba-tiba ingat Rahmat. Hari itu, karena Rahmat tak mau sekolah, Iman juga jadi enggan kerja. Di samping paginya juga hujan. “Ke mana ia?” tanya Iman kepada istrinya.

“Entah. Tetapi tadi ia ke bawah. Katanya ke lapangan. Karena hujan, ada temantemannya yang juga tak sekolah.”

Iman melangkah, keluar dari unit rusunnya, berjalan ke arah tangga. Dari teras tangga di lantai dua, Iman bisa memandang ke lapangan serbaguna yang terletak antara Blok A-6 dan Blok A-5. Dan di lapangan itu, di bawah sana, dilihatnya Rahmat, bersama teman-temannya, sedang berlarian berteriak-teriak bermain bola.

Iman juga ingin berteriak, memanggil, tetapi tiba-tiba membatalkannya.

Pemandangan itu, serombongan anak berlarian mengejar bola, tiba-tiba mengingatkan Iman ke suatu masa, di kampungnya, Magetan, 30 tahun lalu.

Iman seperti tertegun. Terpaku lama. Dan lalu, mendadak, seolah ada yang tibatiba bergejolak di dadanya, Iman berbalik. Ia melangkah setengah berlari ke unit rusunnya. “Aku tahu, Inah! Aku tahu!”

***

Apa yang menurut Iman ia tahu, adalah dunia dan permainan itu. Melihat Rahmat dan teman-temannya bermain bola, Iman terbayang masa kanak-kanaknya di Magetan. Betapa mengasyikkan. Betapa menggembirakan. Selain berlarian mengejar bola, ada makebo-keboan, engklek, gobak sodor, boyo-boyoan. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan di Marunda, tak bisa didapatkan Rahmat di Pluit, apalagi saat mereka dulu di bantaran. “Mas yakin itu yang menyebabkan Rahmat malas sekolah?” tanya Warsinah.

“Sangat yakin,” tukas Iman, “dan baik Rahmat kita pindahkan.” “Ke sini?”

“Iya. Ada SD tak jauh dari sini, di Sipitung.”

Warsinah seperti berpikir.

“Dah, jangan berpikir. Dan masih ada lagi.”

“Masih ada lagi? Apa….?”

“Pasar sayur… kau lihat orang-orang sedang bekerja, membangun pasar di depan. Aku akan mendaftar.”

“Mendaftar? Ikut jualan sayur?”

“Iya.”

Warsinah seperti terpana. Sesaat, lalu senyum mengembang di bibirnya. “Kita… kita betul-betul hanya akan di sini? Mas juga takkan lagi ke Pluit?”

Iman mengangguk. Warsinah mendekat, menyentuh tangan Iman tak percaya. Tetapi kembali Iman mengangguk. Memastikan. Dan, senyum Warsinah kini benar-benar mekar. Mengembang lebar….

***

Cerpen ini merupakan bagian dari sebuah karya yang lebih luas.

Gus tf Sakai, pengarang kelahiran Payakumbuh, 1965. Menulis novel, cerpen, dan puisi. Ia mendapat penghargaan SEA Write Award dari Kerajaan Thailand untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2004), juga Khatulistiwa Literary Award (KLA) untuk kumpulan cerpen Perantau (2007). Buku terkininya Kaki yang Terhormat (2012).

Advertisements