Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 9 Maret 2014)

Thung Se ilustrasi Bagus

SEBAGIAN orang menganggap mendiang ayahku sebagai orang yang beruntung karena terpilih sebagai perantara dewa. Sebagian yang lain masih mengenangnya sebagai orang baik yang ringan tangan. Bahkan sampai sekarang –dan ini menurutku keterlaluan– masih saja ada yang menganggap beliau sebagai orang sakti!

”Kalau bukan karena A Fui (begitulah semasa hidupnya ayah akrab disapa) atas petunjuk dewa yang memintaku mengubah arah pintu dapurku, mungkin sampai sekarang aku masih hidup melarat…“ Atau, ”Dokter sudah menyerah dengan ngilu di punggungku, tapi A Fui hanya menyuruhku menabur beras dan garam di sudut kamar.“ 

Ayahku, kau tahu, kebal api dan tak mempan senjata tajam setiap kali dewa-dewa itu merasuki tubuhnya. Di depan mata kami sendiri, ia membakar tangan dan kakinya, atau yang lebih mengerikan: mengolok lehernya dengan pisau daging tajam! Tak terluka sedikit pun. Hanyalah atas kehendak Dewa Fa Kong ia bisa menembus pipinya sendiri dengan paku.

Tapi itu pada malam hari, ketika ia sebenarnya sudah kecapekan setelah seharian melayani para pembeli di toko kelontong kecil kami di Pasar Lama. Siang harinya ia hanyalah seorang lelaki bertubuh tambun yang selalu tampak keringatan dan penggugup. Selain cepat panik jika ada masalah, kukira ayah juga sedikit penakut. Mungkin itu sebabnya toko kelontong kami tak pernah berkembang jadi toko yang lebih besar. Dari dulu cuma sepetak toko kecil yang terhimpit di tengah-tengah toko elektronik berpintu tiga dan bengkel sepeda yang kini sudah menjelma jadi bengkel motor.

Ia juga sering dipalak para preman pasar. Selain suka meminta uang, preman-preman itu kerap keluar-masuk toko kami untuk mengambil rokok, gula, beras tanpa bayar. Maklum, tak seperti A Kong si pemilik toko elektronik yang berteman baik dengan Kapolsek atau bengkel motor sebelahnya yang menjadi langganan anak Pak Camat, ayahku bahkan tidak kenal baik dengan seorang hansip pun di pasar!

“Kenapa para dewa tidak melindungi suamiku dan menghajar fan kui-fan kui1 busuk itu?!“ tukas ibu sengit di depan Kon Fo Pak2 ketika suatu hari Herman, salah satu preman pasar memporak-porandakan hampir separo isi toko –menumpahkan beras, gula, tepung terigu– setelah ayahku memberanikan diri menolak memberikan uang. Ayah terkencing di celana.

”Para dewa tak mungkin menyakiti manusia. Mereka baru akan turun tangan jika berhadapan dengan ruh jahat atau siluman,” jawab Kon Fo Pak kalem waktu itu.

“Tapi mereka mengobrak-abrik rumah kami setiap kali datang!” gugat ibu dengan suara meninggi di antara isak tangisnya, ”Mereka sama saja dengan para preman itu!”

Ah, umurku baru sebelas tahun ketika hampir setiap malam dewa-dewa itu datang ke rumah kami dan berbuat onar. Mereka membuat seisi rumah kami berantakan; membalikkan meja, melempar kursi, menendang pintu lemari hingga rengkah, dan membanting piring-mangkuk-gelas –membuat pecahan-pecahan belingnya berserakan di lantai dapur. Ibu lagi-lagi hanya bisa menangis. Para tetangga yang berdatangan juga tak bisa berbuat apa-apa menghadapi para dewa itu. Mereka begitu garang!

Pernah suatu malam, Fong Khiu3, tetangga depan rumah yang bertubuh tinggi-besar dibuat terpelanting dengan dagu memar membentur sudut meja saat mencoba menghalangi ayah menggulingkan mesin jahit ibu. Ya, seperti biasa kami hanya bisa pasrah menunggu Kon Fo Pak (yang bergegas dijemput oleh seorang tetangga) tiba, atau amukan itu mereda dengan sendirinya dan kondisi ayahnya perlahan kembali normal.

Kedua adik perempuanku yang tak henti-hentinya menjerit ketakutan dibawa masuk ke dalam kamar oleh bibi sepupuku yang datang belakangan. Kurasakan tangan ibu yang mencekal kuat lenganku begitu kencang, juga dingin.

Dewa-dewa sialan itu (ah, dulu aku selalu cemas kalau mereka bakal mendengar umpatanku dalam hati) bertandang sekitar pukul sembilan malam. Tidak seperti biasa, kali itu tak ada tanda-tanda apa pun sebelumnya. Tidak tercium aroma arak yang santer, tak ada wangi dupa gaharu yang tiba-tiba mengental di udara, atau angin yang mendadak berkesiur kencang.

Ayah baru saja selesai menghitung pemasukan toko, baru seteguk menyeruput kopi panas yang dibuatkan ibu di atas meja dapur, ketika di hadapan kami tubuhnya mulai bergetar. Kedua matanya tampak mendelik dan wajahnya memucat. Sebelum kami benar-benar sadar apa yang terjadi, ia telah menghempaskan cangkir kopi mengepul di atas meja hingga melayang menghantam tembok dan pecah berhamburan. Percikan cairan kopi panas nyaris mengenaiku. Ibu terpekik. Aku dan kedua adikku terbelalak ketika didahului satu teriakan melengking, ayah kemudian menggebrak meja dan menendang kursi yang ia duduki…

Kau tahu, sejak kakekku meninggal para dewa dari khayangan itu tak pernah datang lagi ke rumah kami. Tapi menjelang perayaan Pat Ngian Pan tahun itu –ya, hanya dua hari memasuki bulan delapan kalender lunar– mereka tiba-tiba kembali menyambangi kami dan merasuki ayahku. Hanya dalam waktu dua minggu, keonaran itu terulang untuk kesembilan kalinya!

”Berdoalah… Kita berdoa,“ desah Pastor de Koning yang sampai ke rumah kami lebih dulu dari Kon Fo Pak, dengan suara parau. Kami tidak tahu siapa yang memanggilnya ke pastoran. Ia membuka tas kulit hitamnya, mengeluarkan Alkitab –oh, bukan– Madah Bakti yang kulit sampulnya terlihat begitu kumal dan sudah gompal di beberapa bagian. Lalu dengan suaranya yang berat, ia mulai bernyanyi. Melantunkan sebuah lagu dari Mazmur Daud yang sering kami nyanyikan dalam latihan koor anak-anak calon Katolik setiap Jumat siang sepulang sekolah: ”Tuhanlah gembalaku, takkan kekurangan aku… DibaringkanNya aku di padang rumput yang hijau…“

Ayah memang tidak mengamuk lagi saat pastor Belanda itu tiba. Tapi terduduk di kursi sambil meracau tak jelas dengan suara serak yang terputus-putus. Namun begitu mendengar nyanyian Pastor de Koning, kepalanya jadi teleng dan matanya tiba-tiba berubah sayu. Aku menahan nafas ketika dari bibir ayahku meluncur tembang San Ko4 yang lirih. Sembari bangkit dari duduknya, tangan kanan ayah melambai di depan wajahnya yang gemulai seperti mengibas rambut panjang tergerai yang tak ada.

“Itu Dewi Ho Hsian Ku…”

Kudengar seorang bergumam di belakangku, gemetar menyebut salah satu dari Pat Hsian5 yang beberapa kali telah terdengar kisahnya dari Sam Suk Kong6, adik kakekku nomor tiga, jika beliau datang dari Jebus dan menginap di rumah kami.

Barangkali di lain waktu dan suasana, orang-orang yang sudah tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan tingkah-pola ayahku. Dengan tubuh tambun dan kumis tebal di atas bibir, gayanya yang kemayu (kurasa agak kenes) dan suaranya yang mendayu-dayu bukan saja membuat ayah tampak menggelikan, tetapi juga tak ubahnya bencong kesasar yang mengerikan!

Aku yakin Pastor de Koning kala itu pasti merasa dirinya seperti diejek. Wajahnya yang kemerah-merahan tampak kian memerah. Dan tentu saja tembang San Ko yang saling menimpali dengan lagu dari Madah Bakti terdengar aneh, keduanya memang tak mungkin dinyanyikan seiringan. Karenanya, Bong Sin Fu7 (begitulah kami menggelarinya, artinya Bapa Kuning) itu pun akhirnya terdiam.

Ya, mungkin hanya Kon Fo Pak yang bisa meladeni seorang dewi dari khayangan berbalas San Ko. Itulah yang dilakukan oleh lelaki ceking berumur 60-an itu begitu ia sampai ke rumah kami. Dengan tangkasnya ia menangkis setiap untaian kalimat yang ditembangkan Ho Hsian Ku lewat mulut ayahku.

Mereka beradu sampiran, bertanding isi. Saling menyerang dan menampik, sesekali melemparkan olok-olok. Kali itu kami semua terpukau mendengar indahnya kalimat yang terus bersahutan tak putus-putus. Sampai akhirnya lewat seuntai San Ko pamungkasnya yang sarat rayuan gombal, Kon Fo Pak berhasil membuat wajah ayah merona merah.

Ngiat kong an liong keu an phoi

Jai jap hoi hoi thian fung choi

Jai jap hoi hoi thian lu sui

Koko ta pan thian moi loi8

Beberapa orang yang tak mampu lagi menahan geli, terkikik. Saat itulah Ho Hsian Ku yang kurasa tak sanggup lagi menahan malu meluncur keluar dari tubuh ayahku. Ah, kubayangkan dewi yang konon cantik jelita itu terbirit-birit balik ke khayangan. Tapi kami juga terlanjur malu…

***

TENTU  saja –seperti telah kusinggung sekilas di atas– peristiwa ini bukanlah kejadian terburuk yang menimpa ayahku. Di awal bulan, ketika para dewa itu merasukinya untuk pertama kali, pipi kiri ayah berlubang. Dewa Fa Kong (begitulah kami tahu kemudian) yang merasuki tubuhnya, menembus pipinya dengan sebuah paku sepanjang 3 inci sisa perbaikan palang-palang dapur yang tergeletak di teras belakang. Ibu jatuh lemas saat melihat bagaimana darah mengucur deras dari pipi suaminya.

Ayah mengerang kesakitan sepanjang malam. Pagi harinya pamanku A Chung bersama ibu kemudian mengantarnya ke balai pengobatan. Karena tidak ikut serta, aku tidak tahu apa jawaban yang diberikan ibuku waktu ditanya dokter (yang mungkin menanyakannya) perihal sebab luka tersebut. Pipi ayah dijahit, itu yang aku tahu. Dua hari ia tidak membuka toko. Tapi anehnya luka bulat yang cukup besar itu mengering dengan cepat. Pada hari ketiga saat plester dibuka, lubang itu telah nyaris lenyap tanpa bekas. Hanya menyisakan benang jahitan yang melekat. Dokter tercengang, kami tercengang.

Kami Sam Suk Kong, Dewa Fa Kong memiliki pusaka sebatang panah perak sakti. Karenanya, seringkali para Thung Se yang sedang dirasuki dewa bermata tiga itu melubangi pipi mereka dengan panah replika.

”Mereka menulis mantera phu9 dengan tinta darah untuk mengobati orang sakit,” lanjut Suk Kong sambil mengisap rokok kreteknya. Ibu kadangkala keberatan paman mertuanya itu menuturkan kisah dewa-dewi kepadaku, terlebih soal lelaku Lok Thung10.

”Ia calon Katolik, dan sekolah di sekolah pastor,” tukas ibu sedikit masam. Suk Kong menyeringai dan membalas dengan nada tinggi: ”Kakeknya seorang Thung Se, ia harus tahu itu. Lagipula ia belum dibabtis si Holland kan?“

Kulihat ibu merengut. Jika saja bukan Suk Kong, mungkin sudah disemprotnya. Toh ia tak bisa membantah kalau mendiang kakekku, mertua laki-lakinya, memang seorang Thung Se. Kakek –ah, beliau meninggal ketika usiaku baru empat tahun– menurut Suk Kong, adalah Thung Se terkenal yang diikuti oleh Dewa Thai Song Lo Kiun. Semasa beliau masih sehat, rumah hampir tak pernah sepi dari orang-orang yang datang minta pertolongan. Yang sakit, yang memiliki masalah rumah tangga, yang kena sengkala, yang diganggu ruh jahat atau makhluk halus…

”Kayak dukun?“ aku terpukau waktu itu.

Sam Suk Kong tersenyum, ”Kakekmu bukan dukun. Dia tidak punya kemampuan apa-apa kalau sedang tidak dirasuki Thai Song Lo Kiun yang welas asih.“

Aku nyaris tak ingat apa pun tentang kakek. Hanya kenangan samar-samar pada aroma arak dan hagaru yang seolah menyatu dengan dirinya. Tapi aku pernah sekali diajak ayah melihat aksi Lok Thung di pelataran kelenteng Kuto Panji beberapa tahun sebelumnya. Yakin saat aku baru kelas tiga SD.

Pat Ngian Pan, Festival Bulan. Puncak kepercayaan bulan dewa. Orang-orang dengan kening dan pinggang dililit kain merah –di antaranya yang kukenali adalah Paman Chun Tet tukang ikan langganan ibuku dan Hiung Ko11 tetangga depan rumah yang masih SMA –duduk berjajar di bangku panjang yang mengelilingi halaman kelenteng. Tubuh mereka tampak bergetar hebat saat mantera suci dibacakan. Bergantian, kadang secara serentak dua-tiga orang melompat ke tengah halaman, berteriak-teriak memeragakan berbagai gerakan kungfu. Tangan kosong, dengan pedang atau toya. Ya, itu ketika ayah belum menjadi incaran para dewa atau meminjam bahasa Kon Fo Pak: belum mewarisi takdir bapaknya!

“Suamimu orang baik, karena itu banyak dewa menginginkannya jadi perantara,” aku masih mengingat kata-kata pembaca mantera itu pada ibuku. ”Kalau ia mau membuka diri dan memilih salah satu dari dewa-dewi itu, urusan selesai.”

Ibu tercenung kala itu dan menyeka air mata yang mengambang di sudut matanya. Sementara ayah –yang tubuhnya baru saja ditingggalkan oleh segerombolan dewa– terduduk di kursi dengan sekujur tubuh basah kuyup dan nafas naik-turun, dikipas oleh Chung Khiu-khiu.

***

NAMUN apa kata Pastor de Koning?

”Imannya baru sebesar biji sesawi. Ia belum sungguh-sungguh berkenan menerima Kristrus,“ ujar sosok tinggi besar (yang disebut-sebut Sam Suk Kong sebagai keturunan monyet pirang tapi dari jenis yang berbeda dari Sun Go Kong) itu menyimpulkan apa yang terjadi pada ayahku.

Walau demikian, Pastor de Koning tampaknya tidak mau bersikap gegabah. Paling tidak, itu menurut Chung Khiu-khiu yang berbisik-bisik padaku. Pastor Kuning, kata Chung Khiu-khiu, sebenarnya orang yang cukup bijak.

”Pengalamannya luas. Lagipula ia sudah puluhan tahun di sini dan bergaul akrab dengan orang kita. Ia tahu dewa-dewa China juga menganjurkan kebajikan dan berkenan mengorbankan diri buat manusia, bukan cuma Yesus…“

Awalnya aku tidak begitu paham apa maksud paman bungsuku itu. Namun aku masih ingat betul kata-kata yang pernah diucapkan oleh Pastor de Koning saat ia berkunjung ke rumah sehari setelah ibuku dibaptis.

”Gereja Katolik tidak melarang orang Tionghoa bersembahyang untuk arwah leluhur dengan sesajen dan dupa, tapi tidak boleh ada berhala… maaf, dewa di rumah.“

Ia buru-buru meralat ucapannya.

”Mungkin ia takut kualat dan dikutuk para dewa! Hehehe,“ Chung Khiu-khiu terkekeh. Tapi wajah Khiu-Khiu tiba-tiba memerah dan suaranya berubah ketus ketika berujar: ”Tidak kayak Frater Frans. Orang China, tapi justru…“

Frater Fransiskus Liu, guru agama kami di sekolah sekaligus orang yang bertanggung jawab pada persiapan anak-anak calon Katolik. Ia berasal dari Mentok, tapi orang tuanya China Palembang. Suatu hari saat sedang memberi kami pelajaran agama, ia dengan lantang menyebut anjuran kebajikan dari para dewa sebagai tipu muslihat setan yang tak boleh diikuti. Bahkan mengatakan penyembuhan di kelenteng sebagai perbuatan iblis. Tentu saja baginya ritual Lok Thung tak lain dari kerasukan setan! Akibatnya, banyak orang tua yang sedianya mengizinkan anaknya dibaptis, mengubah keputusan mendadak setelah beberapa dari kami pulang ke rumah dan menceritakan apa yang dikatakan si frater. Seminggu kemudian, Frater Frans ditarik ke Pangkalpinang.

Tapi frater kami itu bernasib baik, minimal ia tetap sehat walafiat. Dulu, kata Chung Khiu-khiu, ada seorang pendeta Protestan (bukan kera kuningan kayak Pastor de Koning) asal Medan yang suka melontarkan celaan kepada dewa-dewi China, tiba-tiba kencing darah setelah membongkar altar Kwan Kong di rumah salah satu jemaatnya…

Nah, aku sudah lupa apa persisnya jawaban ibuku menanggapi permintaan Pastor de Koning soal altar. Namun, seingatku, wajah ayah berubah pucat pasi saat mendengar ide tersebut.

”A-aku bisa dikutuk dewa dan dilaknat orang tuaku…,“ katanya tergagap gemetaran. Tapi ia langsung terdiam begitu ibu melotot padanya dengan wajah bersemu merah.

Dua hari kemudian, altar Dewa Thai Song Lo Kiun yang telah tiga generasi mendiami ruang tengah rumah kami pun diturunkan. Tak ada yang bisa mencegah, tidak juga Chung Khiu-khiu. Untung saja ibu bersedia mengadakan ritual kecil (di mana Hiung Ko berjingkrak-jingkrak seperti kebakaran ekor karena dirasuki seekor kera murid Sun Go Kong) ketika altar dengan lukisan dewa tua berjanggung panjang dan hiong lu12 besar tersebut dibongkar. Kami, anak-anak, juga diizinkan ibu bersembahyang di depan altar itu untuk terakhir kalinya dengan dupa.

”Kalau ibumu tak mau mengadakan ritual, aku akan mempertahankan altar itu mati-matian. Aku tak mau keluarga ini celaka!“ tukas Chung Khiu-khiu. Sam Suk Kong yang tidak diberitahu sama sekali perihal pembongkaran altar itu kemudian ngamuk besar ketika datang dari Jebus. Belum pernah kami melihatnya semarah itu. Ibu dicaci-makinya sebagai ”perempuan sundal“, ”menantu tak tahu diri“, bahkan ”tukang cebok pastor Belanda“. Ibu tersedu-sedu. Suk Kong baru berhenti mengumpat dan pergi sambil bersungut-sungut ketika kedua adikku ikut-ikutan menangis dan menjerit.

Dua minggu kemudian setelah suasana yang sempat memanas reda, Pastor Kuning datang membawa salib berukuran cukup besar beserta gambar Bunda Maria dan Hati Kudus Yesus. Sebuah altar baru, berukuran kecil, dibuat di ruang tengah rumah kami. Tapi di sisi dinding yang berbeda, bukan di bekas altar dewa Thai Song Lo Kiun sebelumnya. Tentu saja altar kali ini diperuntukkan bagi Yesus dan Bunda Maria! Dan ibu, setiap malam kemudian selalu menyalakan dua batang lilin putih di atas altar itu dan berdoa rosario dengan khusyuk… (Ah, bertahun-tahun kemudian setelah beliau meninggal pun, kadangkala adik bungsuku Siaw Lan masih sering melihat ibu duduk di depan altar itu dengan untaian rosario merahnya).

Tetapi sejak itu pulalah, tepatnya sejak Pastor de Koning mengadakan misa pemberkatan rumah, ayahku mulai bertingkah ganjil. Ia suka tertawa sendiri dan bergumam tidak jelas. Atau kadang-kadang omongannya ngelantur ke mana-mana tanpa bisa ditangkap apa yang ingin ia katakan. Ia juga sering bangkit dari tempat tidurnya di tengah malam dan berjalan menuju pekarangan dengan mata terpejam sambil menyenandungkan tembang-tembang San Ko.

”Ia tak bisa mengelakkan takdirnya menjadi seorang Thung Se,“ demikian kata Kon Fo Pak tegas, sehari sebelum aku dibaptis.

Kurasa aku tak perlu menceritakan apakah ayahku akhirnya berkenan menjadi perantara para dewa itu atau menerima Kristus secara sungguh-sungguh seperti anjuran Pastor de Koning. Sebagai anaknya, tentu saja aku merasa senang dan cukup bangga mendengar beragam pujian orang-orang terhadap beliau yang sarat dengan ungkapan terima kasih dan rasa hormat hingga sekarang.

Hanya saja aku tidak tahu, apakah kau masih akan tetap menganggap ayahku sebagai orang yang beruntung?

Ah, ini hanyalah sebuah cerita lama….***

Krapyak Wetan, Jogjakarta, Februari 2014

CATATAN

Thung Se: Perantara dewa, orang yang meminjamkan tubuhnya kepada (untuk dirasuki) dewa. Dalam keadaan trance, mereka bisa mengobati penyakit atau mengusir ruh jahat yang mengganggu, juga melakukan berbagai atraksi kanuragan yang mencengangkan.

1. Fan Kui: secara harfiah artinya Setan Terbalik. Umpatan di kalangan Tionghoa terhadap pribumi. Hal ini karena bentuk gramatika bahasa Indonesia yang berkebalikan dengan bahasa China (dan kebanyakan bahasa). Contoh: lam/blue (biru) pit/pencil (pensil) = pensil biru.

2. Pak: Paman tua dari pihak ayah atau lelaki yang lebih tua dari ayah (dialek China-Hakka).

3. Khiu: Paman dari pihak ibu atau lelaki yang lebih tua/muda dari ibu (dialek China-Hakka).

4. San Ko: secara harfiah artinya Tembang Alam. Berbentuk empat seuntai dan berima persis seperti pantun Melayu. Biasanya dua baris pertama berupa sampiran, dua baris terakhir merupakan isi.

5. Pat Hsian: Delapan Dewa. Berasal dari karya sastra China klasik, ”Pat Hsian Ko Hoi“.

6. Suk Kong: Kakek-paman, saudara laki-laki dari kakek.

7. Sin Fu: secara harfiah artinya Bapa Suci. Sebutan untuk pastor Katolik.

8. Terjemahan harfiahnya: Bulan begitu terang anjing begitu riuh menggonggong/Daun nyiur melambai-lambai langit memerah rejeki/Daun nyiur melambai-lambai embun khayangan turun/Kakak berdandan gadis khayangan datang// (dialek China-Hakka).

9. Phu: kertas kuning persegi panjang yang ditulisi mantera dari tinta merah atau darah, lazim digunakan sebagai penangkal bala atau jimat.

10. Lok Thung: ritual meminjamkan tubuh kepada (kerasukan) dewa, di beberapa tempat di Indonesia disebut juga Ta Thung.

11. Ko: Kakak laki-laki, sapaan terhadap lelaki yang lebih tua (dialek China Hakka)

12. Hiong lu: Guci untuk menancapkan dupa (dialek China-Hakka).

Advertisements