Serimpi Sangopati


Cerpen Karisma Fahmi Y. (Koran Tempo, 2 Maret 2014)

Serimpi Sangopati ilustrasi Munzir Fadly

RARA Ireng menatap sekali lagi merah cermai yang lekat di bibirnya. Dipatutnya bayangan pada cermin lonjong di depannya. Sebelumnya ia tak pernah membayangkan tubuh dan rupanya akan sesempurna itu. Ia nyaris tak percaya bayangan itu adalah dirinya.

Ia pernah pergi ke tengah kali dan menatap parasnya. Air bergelombang ketika gethek yang ditumpanginya berjalan pelan menyibak riak sungai yang kecokelatan. Ia merasa ikan-ikan mengikuti bayangannya, seolah mengolok rupanya yang sawo matang. Pada sekilas guratan air yang bergelombang itu, ia menemukan dirinya. 

Tapi di depan cermin lonjong malam itu, ia hampir tak dapat mengenali dirinya. Kulitnya berubah menjadi kuning langsat setelah aneka lulur diborehkan selama ia tinggal di keputren ini. Ia merasa asing dengan bayangan itu. Di pantulan bayangan cermin ia kehilangan wajahnya, kehilangan rupa yang selama bertahun-tahun dimilikinya.

Ia membenahi sanggulnya. Bokor mengkurep itu sungguh berat memasung kepala hingga lehernya. Dengan sanggul ini, kau tak bisa bergerak sembarangan. Sanggul ini akan menjadi kekuatanmu, kata mbah Yayi. Dua bulan penuh ia berlatih menari pada Mbah Yayi di pendopo keputren keraton. Itu bukan hal ringan. Ia bersama tiga anggota pasukan telik sandhi lain ditugaskan untuk mengikuti latihan menari Serimpi untuk menyambut kedatangan sang gupermen kumpeni.

Bergeraklah dengan pikiranmu, jangan hanya menggerakkan tubuhmu. Biarkan gamelan menggerakkan tubuhmu. Biarkan gamelan membawa jiwamu. Bergeraklah dengan pelan, ringan, gemulai seperti mimpi. Itulah tujuan Serimpi, kata Mbah Yayi lagi, menjawil ujung dagunya. Jangan lupa tersenyum.

Pentas tari adalah rahasia yang harus ia penuhi malam itu. Nyalinya benar-benar diuji. Tak seperti tugas-tugas biasanya ketika ia menjadi kesatria, menjadi mata-mata, pemburu atau bahkan pembunuh. Kali ini ia menjadi penari. Jelas ia tak akan mengenakan topeng penutup muka. Kini ia adalah tombak, yang langsung menghadang sasaran. Ini adalah kali pertama ia harus percaya pada kelemahlembutan dalam menghadapi lawan. Tugas berat itu langsung diperintahkan Kanjeng Sinuhun padanya. Berbulan-bulan ia melatih diri menjadi perempuan lembut sempurna dalam balutan gemulai tari agung putri kahyangan.

Rara Ireng menarik napas dalam-dalam. Dadanya berdebar. Kelonengan gamelan di pendopo keraton mulai dimainkan. Sekali lagi dipatutnya kaca. Centhung, garuda mungkur, sisir jeram sa’ajar dan cundhuk menthul masih terpasang apik di sanggulnya. Ia merasa terlalu berlebihan. Namun ia tahu, bedak kuning yang dipasang di mukanya memang untuk menyembunyikan dirinya. Menyembunyikan jati dirinya.

Gamelan berkeloneng merdu. Barisan abdi dalem duduk bersimpuh menunggu Kanjeng Sinuhun. Rara Ireng menghanturkan sembah takzim. Abdi dalem membawa bokor berisi air kembang, mengharap keselamatan dan keberhasilan. Kanjeng Sinuhun berjalan menuju pendopo utama. Dengan tangan menyembah, Rara Ireng berjinjit mengikut di belakang.

AKU tak membayangkan pendopo akan sewingit ini. Ruangan menjadi lebih terang. Niyaga khidmat menabuh gamelan. Nada yang lamat-lamat terdengar menyayat. Aroma kamboja menyengat ruangan. Ini adalah tugas besar yang harus terlaksana. Upaya ini harus berhasil, Kanjeng Sinuhun harus bisa menyelamatkan pantai pesisir utara dari tangan serakah Belanda. Dan demi itulah aku berada di sini. Di garis depan. Pesisir utara adalah tanah air tempat segala cintaku bermula. Apa pun bisa terjadi hari ini. Senjata yang kusemat ini akan menjadi bekal ketika semua harus berakhir tak sesuai rencana. Tak ada lagi permainan. Peluru pun siap ditembakkan. Aku harus mengasah kesabaran. Inilah harga mahal untuk kemerdekaan.

Panji-panji perang tegak berjajar di tepi ruangan. Semoga kumpeni merah itu tak peduli makna panji-panji ini. Aku tersentak. Benar-benar kurang ajar cindhil raksasa ini. Mereka duduk sama tinggi dengan Kanjeng Sinuhun! Kalau bukan demi tugas ini pasti sudah kugorok leher mereka yang gendut berlipat itu dengan cundrik. Tapi aku sadar, kesombongan mereka memang harus ditaklukkan. Dan untuk itulah aku berada di sini. Mengelabui makhluk-makhluk merah itu dan menanggalkan keserakahan mereka.

Lembut suara gamelan memenuhi ruangan. Gaungnya membawa siapa saja pada bayangan surga. Dadaku berdegup kencang. Akankah Serimpi Sangopati ini benar-benar menjadi jalan kematian? Aku menghayati alunan lembut itu. senyum manis harus segera kurekahkan. Senyum yang melambangkan api yang beterbangan dalam diri manusia. Keserakahan dan kesombongan mereka harus ditumbangkan. Kini aku tahu mengapa aku harus merias diri sedemikian rupa untuk tarian ini. Karena itulah satu-satunya hal yang dapat menjadi pembeda. Aku harus bisa melepas diriku sendiri dan benar-benar menjadi penari. Pupur tebal ini bahkan mengelabui diriku sendiri. Mungkin juga akan mengelabui mautku. Juga para kumpeni itu. Mereka tak boleh tahu arti semua ini. Mereka tak boleh tahu siapa aku, anggota pasukan telik sandhi yang biasa menyusup ke sarang mereka.

Gayatri menangkap keresahanku dengan siaga. Dialah yang menjadi angin dalam pementasan ini. Serimpi Sangopati. Drama sederhana tentang pertarungan. Sebuah peperangan yang dilakukan dalam gerak halus gemulai swargaloka. Drama pertarungan manusia menuju mimpi sebelum menghadapi kematian.

Dengung gong lembut bergema membawa angan ke dunia yang tak terjamah. Dunia tanpa bentuk Serimpi Sangopati. Benar nasihat Mbah Yayi, biarkan musik membawa dirimu menari. Aku mengikuti arus itu, alunan yang mengerakkan raga begitu saja. Aku hanyut, menerbangkan para kumpeni ke alam mimpi.

Api, tanah, air dan angin dalam tarian ini menembus ruang mata para kumpeni yang menganga larut dalam kelembutan. Gerak agung ini pun menyihirku. Berkali-kali takjub mataku menyaksikan cindhe kembang ungu tua yang kami kenakan bermekaran. Di ambang cahaya yang semakin temaram, kembang-kembang itu merekah segar. Mereka hidup, menawarkan mimpi ungu surgawi dalam balutan perang berselubung gemulai tari.

Arak pun mengisi ruangan. Inilah hidup yang sebenarnya, mampir ngombe. Dan inilah hidup yang sebenarnya bagi kami, panggung halus yang mencengkeram tulang belakang. Kami akan pertahankan tanah kelahiran kami. Cindhil merah itu terus menenggak arak ketan ke mulut mereka yang lebar. Beberapa kali roncean tiba dhadha tersibak, menebarkan wangi yang gaib. Aroma kematian. Aku menggigil dalam tarian. Musik bergelombang pelan. Angin berembus dingin menerbangkan harum melati, kantil dan kamboja, mengalahkan aroma kecut ragi ketan di cawan-cawan yang tak henti mereka reguk.

Ketika gamelan menaikkan dan mempercepat bunyi, tubuhku mulai mengkilap oleh keringat. Gerak gemulai ini menghabiskan tenaga yang setara dengan seratus kali tikaman belati. Tubuhku duduk, berdiri dan berputar perlahan seperti api yang tenang membakar. Seperti angin jahat yang perlahan menerbangkan nafsu duniawi, seperti menggali tanah sebelum mengubur diri sendiri, seperti berenang melawan arus seribu pusar air di kedalaman. Tubuhku lelah, gamelan sendu terus mengalun.

Kukibarkan sampir putih hingga jatuh ke pangkuan. Sampir putih yang menjadi ketulusanku mengabdi pada negeri ini. Aku mengatur nafas menolak lelah, tak sedetik pun aku boleh lengah. Aku terus menari.

Mata para kumpeni  itu mulai memerah. Hanya cawan arak dan tuak itulah yang mengalihkan pandangan mereka dari pentas. Selebihnya, mata itu menatap kami dari kepala hingga ujung kaki. Jemparing, jebeng, pistol dan cundrik tersimpan rapi di lipatan kain kami. Kami harus terus bersiaga. Sesekali senjata-senjata itu tergenggam dalam adegan perang dalam tarian, dan lagi-lagi kami harus menahan diri dari kepungan mata laknat kumpeni. Kami harus bisa mengelabui kumpeni dengan siasat ini.

Para kumpeni dan Kanjeng Sinuhun telah membahas perjanjian. Perjanjian perihal kedudukan pantai pesisir utara dan hutan-hutan jati di sekitarnya. Kupasang telinga dan kusiagakan mata. Arak dan tuak sudah bekerja. Suasana mulai gempita. Para kumpeni tertawa-tawa. Bau keringat mereka menguar ke udara. Bacin, kecut, seperti aroma keju campur cerutu. Waktu berjalan lamban. Aku yakin tak ada yang sia-sia. Aku percaya pada rencana yang telah dititahkan Kanjeng Sinuhun.

Gamelan melantun sunyi. Sesaat sunyi mencekam, kawanan buto bule itu pun menandatangani kertas perjanjian. Cawak tuak kosong berserakan. Kanjeng Sinuhun mengerdipkan mata pada niyaga. Gamelan kembali menggema. Sesekali tawa mereka meledak memenuhi ruangan. Kanjeng Sinuhun tersenyum. Cita-cita kami telah tercapai. Kami berhasil menaklukkan mereka dalam perang yang gemulai dan tanpa pertumpahan darah. Pertunjukan usai. Kami bersimpuh duduk tegak takzim di pinggir ruangan, mengatur napas lelah agar tak terdengar. Letih luar biasa. Inilah sebenarnya pertarungan kesatria perempuan.

Kanjeng Sinuhun telah menyiapkan kereta kencana dengan dua kuda putih di halaman. Sambil tertawa mereka berjalan sempoyongan, bersender di saka guru pendopo. Tubuh mereka doyong hampir rubuh. Beberapa prajurit jaga membantu mereka memasuki kereta. Mereka menyanyikan lagu berbahasa Belanda dengan sumbang. Kanjeng Sinuhun berjalan ke depan, melepas tamu-tamu hingga hilang dari pandangan.

RARA Ireng membawa kudanya berlari menempuhi riak-riak ombak di sepanjang pantai utara. Ia berhenti di ambang pantai. Dituntunnya Ireng, kudanya yang hitam mengkilat gagah berani. Berdua mereka berjalan beriringan di sepanjang pantai. Ditatapnya pasir pantai yang lolos dari cengkeraman kaum kumpeni. Inilah pesisir yang ia pertahankan dengan gemulai pusaka agung tarian perang beberapa bulan yang lalu agar tak jatuh ke tangan penjajah.

Ditatapnya bulan sabit yang menghias langit. Sesaat lagi fajar merah akan merekahkan pantai. Ia akan menangkupkan telapak tangan untuk bersemadi. Dari arah selatan terdengar derap-derap kuda melaju. Ditajamkannya pandangan dan pendengaran. Gerombolan kuda itu tak berbendera, tak berpanji. Alis hitamnya segera menaut ketika matanya menangkap para penunggang kuda yang melaju ke arahnya. Seketika dicabutnya cundrik dari lipatan bajunya. Cundrik hadiah dari Kanjeng Sinuhun setelah pementasan tari serimpi itu. Ia tahu, makhluk-makhluk serakah itu akan mengkhianati perjanjian.

 

Rumah Ladam,

Januari 2014

 

Catatan

Gethek: rakit dari bambu. Bokor mengkurep: jenis sanggulan rambut. Telik sandhi: regu mata-mata. Abdi dalem: pegawai istana. Niyaga: penabuh gamelan. Cindhil: anak tikus yang masih merah. Cundrik: keris kecil. Cindhe kembang: salah satu jenis motif batik. Mampir ngombe: mampir minum, falsafah hidup orang jawa memahami hakikat hidup di dunia. Tiba dhadha: roncean kembang melati yang biasanya digunakan para pengantin, disampirkan di bagian samping dada. Jemparing: panah. Jebeng: tombak pendek. Buto: raksasa jahat. Saka guru: tiang bangunan.

Karisma Fahmi Y

Lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Ia tinggal di Solo.

One Response

  1. Patrotisme yang dirindukan namun tetap asing

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: