Misteri Burung Gagak dan Cerita Lainnya


Cerpen Agus Noor (Jawa Pos, 2 Maret 2014)

Misteri Burung Gagak dan Cerita Lainnya ilustrasi Bagus

JANGAN pernah membiarkan lelaki itu mendekatimu. Apalagi mempersilahkan masuk ke dalam rumah. Bertamu, atau datang untuk minta sedekah, hanyalah alasan, sebelum pada akhirnya ia merenggut sepasang matamu yang paling berharga.

Kau akan segera mengenalinya. Ia selalu berjalan dengan seekor gagak bertengger di tangannya. Siapa pun yang gampang tergoda, pasti terpesona sorot matanya. Ditambah gaya bicaranya yang meyakinkan setiap kali menjelaskan dari mana gagak itu muncul dalam hidupnya. 

”Burung ini berasal dari hati perempuan yang mati dibakar di pinggiran hutan. Ia dituduh berzinah! Ia hamil, padahal belum menikah. Karena ia bukan santa yang bisa hamil tanpa suami, maka orang-orang pun merajamnya; tubuhnya dilempari batu hingga rusak, dan tak bisa lagi dikenali wajah yang semula paling cantik di kampung itu. Belum terpuaskan, penduduk pun membakar perempuan itu. Saat api padam, dari tubuh gosong yang telah menjadi arang itu muncul burung gagak.“

Bila kau terpesona ceritanya, ia akan melanjutkan.

”Suatu malam burung ini muncul dalam mimpi orang-orang yang membakar perempuan itu. Mematuki mata orang-orang itu, yang ketika bangun langsung menjerit karena telah kehilangan mata. Sejak itu banyak sekali yang kehilangan biji mata, dipatuki burung gagak ini. ’Jangan takut,‘ ia akan menenangkanmu, ’karena gagak ini hanya akan memakan biji mata pemerkosa‘!“

Tapi, saya pernah mendengar, sesungguhnya lelaki itulah yang memperkosa perempuan itu. Semua yang diceritakan adalah caranya mengelabui. Sementara burung gagak itu mematuki matamu agar tak ada saksi mata.

Jogjakarta, 29 Januari 2014

Pesan Terakhir

BARANGKALI, inilah kasus pembunuhan yang tak akan bisa saya pecahkan sepanjang karier saya sebagai detektif. Saya mendapat kiriman tiga mayat dalam peti. Semua dengan kondisi kematian yang identik: leher terikat, ada bekas diseret, tusukan di bagian dada berpola persis dan serupa, sebutir peluru di kepala, lambung penuh racun, dan pesan:

”Kami bertiga saling membenci, tapi kami sepakat mati baik-baik. Tentulah menyenangkan bila permusuhan kami diakhiri dengan kematian yang menurut kami paling indah. Kami harus mati dengan cara sama, agar tak ada lagi dendam di antara kami. Pada hari yang telah ditentukan, kami bertemu. Kami mendiskusikan bagaimana sebaiknya kami saling bunuh. Rasanya ini seperti perjamuan terakhir untuk kematian. Kami setuju mencoba beberapa cara. Pertama kami saling menjerat leher dengan tali, kemudian dengan serentak yang satu menyeret yang lainnya. Ternyata itu tak membuat kami mati. Lalu kami saling menusukkan pisau ke jantung. Ini pun belum tuntas. Maka kami segera saling menembakkan pistol: satu peluru ke kepala yang lain. Tapi ini pun tak membuat kami mati. Lalu kami melanjutkan menenggak racun yang sama, dan duduk melingkar masing-masing memegang gelas, diulurkan ke mulut sebelahnya. Serentak kami teguk racun itu.

Kami menulis pesan ini setelah mati. Di antara kami bertiga, rupanya ada yang berkhianat, dan lolos dari kematian. Kami mengirimkan mayat kami agar Tuan Detektif bisa menyelidiki: siapa, di antara mayat kami bertiga ini, yang berkhianat…”

Sampai hari ini saya masih berdiri memandangi mayat dalam tiga peti mati itu.

Royal Amabarrukmo, 25 Januari 2014

Profesor yang Mati dalam Botol Infus

SECARA teoritis manusia bisa masuk ke dalam botol. ”Bukan hanya jin!” ujar Profesor Paklikku. Struktur kimia H2O dan hydrogen dalam tubuh manusia memungkinkan itu. Ia terobsesi ketika mengetahui profesor Yahudi, Isaac Yitzhak, berhasil membuat onta berjalan menembus lubang jarum; dan ilmuwan Ibnu Jabir Al-Khwarizmi yang hidup di bawah tanah –5 Imam dan 10 penguasa Arab telah menfatwakan halal hukumnya membunuh ahli alkemis ini—berhasil membelah sehelai rambut menjadi tujuh bagian. Ini pencapaian gemilang yang memungkinkan manusia bisa selamat ketika berjalan melintasi titian neraka.

Sementara keberhasilan Isaac Yitshak akan menghindarkan manusia dari bencana semesta dengan cara memasuki lubang cacing waktu. Bila mampu memasukkan manusia dalam botol, Profesor Paklikku yakin ia akan dikenang sebagai ilmuwan yang menyelamatkan spesies manusia dari kepunahan saat datang bencana banjir, yang jauh lebih besar dari musibah Nuh, di masa depan.

Ia memulai eksperimennya dengan terlebih dulu menyuling kadal, tikus, meningkat ke kelinci dan kucing. Baru kemudian menyuling bayi yang memiliki kandungan air 75%-80%. Proses penyulingan yang rumit itu baru diketahui setelah berlangsung puluhan tahun. Ketika menggerebek laboratoriumnya, polisi menemukan 212 bayi yang diawetkan dalam tabung-tabung kaca.

Kami, perawat dan dokter di Rumah Sakit Jiwa ini, ekstra intensif memonitor Profesor Paklikku, sejak polisi menitipkan ke sini. Terlebih, meski telah diawasi 24 jam dan diisolasi, ia berhasil mencuri asam sulfat untuk membakar 3 pasien lain. Lelehan tubuh sisa pembakarannya dilarutkan dengan etanol ke botol infus. Otak genius memang tak mudah ditebak. Otak gila hanya dipahami orang gila. Dan itu terjadi suatu pagi.

Profesor Paklikku menceritakan ”bagaimana cara paling gampang memasukkan manusia dalam botol” pada anak idiot yang baru seminggu lalu masuk Rumah Sakit Jiwa ini. Anak itu tersenyum, ”Orang paling goblok juga tahu! Itu sangat gampang. Segampang memasukkan gajah dalam kulkas. Tinggal buka pintu kulkas, suruh gajah itu masuk, lalu tutup pintu kulkas. Nah, saya bisa memasukkan Tuan ke dalam botol, bila Tuan mau.”

Seorang perawat yang mengantar obat ke kamar Profesor Paklikku menjerit, ketika menemukan tubuh profesor itu mengapung dalam botol infus yang tergantung.

Sevel Tebet, 2 Februari 2014

Teka-teki Tiga Terdakwa

KETIGANYA perempuan. Ketiganya sama cantik, dan dikenal bersahabat baik. Sebut saja, mereka berinisial A, B, dan C.

B didakwa C membunuh suaminya. ”Sudah lama B ingin membunuh suami saya,” kata C saat melapor. Ini ada kaitan dengan masa lalu mereka, yang pernah gagal bertunangan, dan meninggalkan dendam. ”Saya yakin, B, merencanakan pembunuhan itu dengan A. Sejak dulu mereka memang ngincer suami saya. Cih, dasar perempuan suka ganggu suami orang!” kata C, sembari memperlihatkan beberapa bukti.

Sementara A, pada saat yang sama, men-tersangka-kan C karena berdasar bukti-bukti, diyakini telah membunuh suaminya. ”Yang terakhir bertemu suami saya, tak lain C,” kata A, sehari setelah suaminya ditemukan mati bugil di hotel.

A yakin kalau C melakukan pembunuhan itu bersama B. ”Mereka memang iblis yang mau melakukan apa saja demi mendapatkan suami saya,” ujarnya.

Bersamaan dengan itu, suami B mati mengenaskan. ”Sudah pasti, suami saya diracun. Bener-bener sadis. Suami saya bukan aktivis, kenapa diracun! Pelakunya A,” tegas B. ”Dia sejak dulu memang mencintai suami saya. Tapi mana mau suami saya ama perempuan murahan kayak dia. A pasti kalap, lalu bersama C merancang niat jahat meracuni suami saya. Dasar pelacur! Saya menemukan celana dalam A di dekat mayat suami saya,” B membeberkan itu ke wartawan.

Tiga suami mati terbunuh pada saat bersamaan. Tiga perempuan menjadi terdakwa tiga pembunuhan itu. Tiga perempuan yang kini terbaring di meja autopsi saya. Bisakah, Tuan Puan, membantu memecahkan teka-teki ini?

Bandara Soeta, 24 Januari 2014

Kepompong

SETELAH bertahun-tahun perburuan yang hampir mustahil berhasil, polisi akhirnya mengendus keberadaan Krowak, penjahat paling dicari yang telah membunuh 69 perempuan. Semuanya calon pengantin.

Krowak membunuh dengan sadis, sekaligus unik. Semua mayat ditemukan tidak dalam keadaan rusak, tetapi telah tak berdaging. Entah dengan cara bagaimana Krowak meremukkan tulang dan daging para korban itu, tanpa membuat lecet sedikit pun kulitnya. Para intel yang frustasi kadang berkelakar, ”Mungkin itu yang disebut teknik bandeng fresto duri lunak.“ Maksudnya, Krowak membuat lunak terlebih dulu tulang dan daging korban, kemudian mengerut perlahan-lahan, seperti bila kau mengerut alpukat dengan sendok. Daging yang telah dikeluarkan dari tubuh para korbannya itu kemudian diganti dengan kapas, seperti bila kau membuat boneka.

Bisa kau bayangkan, tubuh para calon pengantin itu tetap terlihat utuh, tapi sudah tak berdaging, karena menjadi semacam boneka –yang dirias dengan cantik—kemudian dikirim ke pengantin laki-laki. Seorang mempelai laki-laki yang menjadi gila menemukan kepompong tergeletak dekat mayat calon istri-nya. Kepompong itulah yang menjadi petunjuk.

Seorang informan memberi tahu perihal rumah tua di pinggir kota yang halamannya penuh kepompong. Sepasukan polisi segera mengepung. Tak ada celah secuil pun bagi Krowak melarikan diri. Penggerebekan berlangsung cepat. Di dalam rumah ditemukan banyak boneka dan kepompong, juga berkarung-karung kapas. Tak ada perlawanan, karena polisi menemukan tubuh Krowak tergeletak di kasur yang busuk. Tubuh Krowak tak berdaging. Hanya berisi kapas.

Ada kepompong di pojok dekat lemari, seakan menatap dari dalam kegelapan. Ketika akhirnya para polisi pergi, kepompong itu menyeringai. Tak seorang polisi pun melihatnya.

Garuda GA 355, 31 Januari 2014

Anjing Jejadian

KAU tengah mengendap-endap pulang, takut kepergok peronda, ketika tiba-tiba anjing itu muncul di tikungan jalan. Bulan mati. Mata anjing itu seperti menyala penuh dendam. Kau langsung teringat gunjingan orang-orang kampung, perihal suami janda yang barusan kau tiduri. Laki-laki itu menghilang. Ia pencoleng paling dicari. Para penembak misterius, yang telah membunuh ratusan gali, pasti telah menghabisinya. Tapi mayatnya tak pernah ditemukan. Ketika di kampung seekor anjing hitam berkeliaran tiap tengah malam, orang-orang mulai yakin, itu anjing jejadian si pencoleng.

Anjing itu menggeram, seakan mengendus bau tubuhmu yang masih berkeringat. Sembari pelan-pelan mengambil batu, kau menatap anjing itu. Anjing jejadian bisa dikenali dari kelopak matanya. Ekor, kaki, kepala, dan seluruh tubuh anjing jejadian benar-benar persis anjing; tapi kelopak matanya tetap tak sempurna, masih terlihat seperti kelopak mata manusia. Dan itulah titik kelemahannya. Orang-orang zaman dulu selalu membunuh anjing jejadian dengan cara menusuk matanya. Sekuat tenaga kau menyambitkan batu tepat mengenai matanya. Kau mendengar lolong mengerikan menjauhi kampung.

Sampai rumah kau mendapati istrimu begitu panik menggendong anakmu yang terus-terusan menangis.

”Kenapa?“

”Entahlah,“ jawab istrimu. ”Ia mendadak terbangun. Seperti ada yang tiba-tiba menyambit matanya. Lihatlah…”

Kau melihat mata anakmu terus meneteskan darah. Kau melihat mata anjing itu.

Borneo Beer Kemang, 1 Februari 2014

Buronan

MEREKA memburuku. Aku dituduh membunuh diriku sendiri. Sungguh tuduhan tak masuk akal. Tapi mereka yakin ini memang pembunuhan yang sangat rapi: aku memotong-motong tubuhku sendiri, dan memasukkannya ke dalam kopor yang kini selalu kutenteng ke mana pun pergi. Sejak itu aku tak diketemukan. Mereka menuduhku melarikan diri. Mereka ingin membuktikan bahwa kopor yang selalu kubawa ini memang berisi potongan tubuhku sendiri.

Aku ingin menjelaskan, tapi aku yakin mereka tak akan pernah percaya ceritaku. Suatu malam aku pulang, sedikit mabuk, karena habis minum bersama seorang kawan yang setelah bertahun-tahun tak bertemu mendadak muncul ke kantor. Terus terang, dia memang pacarku dulu. Masih cantik, meski terlihat sedih. Ia baru saja seminggu jadi janda. Suaminya mati terbunuh.

”Aku yakin ia dibunuh seseorang yang dulu pernah menjadi pacarku, karena ia tahu suamiku suka menyiksaku,” katanya. ”Ia juga marah, karena memergoki istrinya tidur dengan suamiku.”

Kuajak ia minum. Bertanya apa yang akan ia lakukan. Ia bilang tak tahu, dan hanya menangis menyandarkan kepalanya ke bahuku. Lalu ia pergi, dan aku pulang. Sampai di rumah aku memergoki istriku sedang tidur bersama seorang laki-laki. Aku mengenalinya. Dia laki-laki yang suka menyiksa istrinya. Aku benar-benar tak paham, bagaimana mungkin istriku mengkhianati laki-laki sebaik aku, dan serong dengan laki-laki yang bahkan pada istri sendiri pun suka memukul. Aku tak ingin ini menjadi gosip murahan penduduk kota. Kubereskan semuanya, dan aku pergi membawa kopor yang kini selalu kutenteng ini. Aku mendatangi rumah perempuan yang tadi sore menemuiku. Aku yakin ia masih mencintaiku. Tapi rumahnya terkunci. Tetangga bilang perempuan itu sudah mati dibunuh sekitar sebulan lalu, karena cekcok dengan seorang perempuan yang ketahuan tidur dengan suaminya.

Entah apa yang diceritakan istriku, pada polisi. Kini mereka memburuku. Mereka ingin tahu di mana aku menyembunyikan potongan-potongan tubuhku yang sampai saat ini tak pernah ditemukan.

Largo Bistrot, 4 Februari 2014

Segelas Sunrise

HATI-HATILAH pada orang yang tak pernah marah. El Picho, si bromocorah pelabuhan, tak menyadari itu. Baginya, Dul hanya anak lembut yang butuh perlindungan. Hingga kuli-kuli kasar, para pelaut pemabuk, juga para pemangsa dan turis-turis pedofil, tak ada yang berani menyentuh bartender tampan berkulit halus itu.

”Di sini, kamu jauh lebih aman dalam lindunganku ketimbang dalam lindungan pendeta dan Tuhan,” kata El, setiap usai menggagahi Dul. El suka tatapan belia itu.

El tahu Dul mencintainya. Atau memujanya. Atau dia memang takut kehilangan perlindungan. Apa pun, El menyukai Dul, karena pemuda semanis kucing angora itu tak pernah mempersoalkan hubungannya dengan Al, penyanyi bar yang bertahun-tahun menjadi simpanannya juga.

”Hidup ini keras,“ kata El, ”belajarlah menerima bahkan yang tidak bisa kamu terima.“ Dul hanya mengangguk tersenyum setiap Al menginap di kamar El. Bahkan Dul kerap sabar menunggu di depan pintu kamar. Duduk bersandar memandangi ribuan burung terbang melintasi cakrawala yang perlahan menggelap sementara El dan Al bercinta dalam kamar. Lalu menyiapkan minuman kesukaan El. Segelas sunrise. Ini cocktail favorit El. Kombinasi soda, gin, sedikit vodka, dengan irisan limau segar dan rahasia yang hanya diketahui Dul. Minuman, yang bila dinikmati setelah bercinta, membuat kerongkongan terasa mengembang.

Segelas sunrise itulah yang telah disiapkan Dul ketika El keluar kamar. Tubuh El yang kekar mengilat berkeringat. El tersenyum. Ia makin menyukai Dul yang tak pernah marah. Nyali besar memang bisa menghilangkan kewaspadaan. El lupa. Tak pernah ada orang yang tak pernah marah. Yang ada hanya orang yang pintar menyembunyikan kemarahannya. Dul menyodorkan segelas sunrise. Dengan pipet El segera menyedotnya.

El tak pernah tahu, Dul telah memasukkan tusuk gigi dari bambu –dia pilih yang ujungnya paling runcing– dan menaruh tusuk gigi itu di dalam sedotan.

Tebet, 13 Februari 2014

Halte

HALTE  itu hanya terlihat di malam hari. Bila gerimis turun dan jalanan dirayapi kesunyian, samar-samar kau akan melihat halte itu seperti bayangan yang menyembunyikan diri. Di halte itu kau akan melihat seorang perempuan berdiri sendirian. Kau akan menyaksikan, bila hujan turun deras, perempuan itu menghambur ke tengah jalan yang lengang, bermain hujan. Bergerak seperti melayang, merentangkan kedua tangannya, seolah hendak memetik setiap butiran air yang bagai kesedihan berjatuhan. Sampai perlahan tubuh perempuan itu lenyap. Setelahnya, kau hanya akan mendengar isak sedih berkepanjangan.

Ketika pagi menampakkan diri, kau tak akan menemukan halte itu lagi. Juga perempuan itu.

Ada yang bilang, ia perempuan yang mati diperkosa bertahun-tahun lalu di halte itu. Ada yang bilang, ia perempuan yang masih saja terus menunggu kekasihnya. Ada yang bilang, itu hantu seorang pelacur yang mati digorok. Beberapa orang sering berulang-ulang menceritakan semua kisah itu pada saya.

Ah, andai saya bisa pergi dari halte itu.

Jakarta, 17 Januari 2014

Agus Noor, cerpenis tinggal di Jogja

One Response

  1. apakah sinopsis dari cerper tersebut?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: