Cerpen Gunawan Tri Atmodjo (Suara Merdeka, 2 Maret 2014)

Antara Debu Merah dan Ciuman Catalina ilustrasi Toto

Debu Merah dan Renda Spanyol

ADA yang menarik tanganku dan mendekatkan wajahku pada wajahnya. Lalu ia menatapku lama. Mataku masuk ke matanya, menemukan kedalaman yang asing. Aku segera berkedip dan sepersekian detik itu pula wajahnya terhapus dari hadapanku.

Aku tahu itu wajah angin tapi tiba-tiba aku teringat Tuhan. Sosok agung yang selalu mengambil sesuatu yang aku miliki dengan paksaan. Aku ingat satu atau dua kejadian ketika pertemuan tak bisa lagi dielakkan dan Dia membuatku merasakan perpisahan, merasakan kehilangan, yang kadang terasa sakit namun lebih sering terasa membebaskan. 

Seperti kejadian barusan. Lewat jemari angin, Dia seperti merenggut sesuatu dari tempatku semula dan memindahkanku ke tempat ini. Tapi aku tak tahu pasti apa yang dibawa- Nya pergi. Aku hanya merasa lapang. Lapang yang teramat luas dan tak terbatas dalam diriku. Sebuah kekosongan yang menyenangkan. Tidak ada apa-apa di situ. Tidak ada diriku yang dulu, tidak ada bayangan dan kenangan. Aku juga tidak melihat pengharapan akan masa depan. Aku seperti berjalan dengan tenang di hamparan kafan. Tapi aku paham bahwa ini adalah jalan yang telah Dia pilihkan.

Aku hanya sebutir debu merah yang kini bersarang di renda spanyol, yang menjadi aksesori elok di baju perempuan ini. Aku bertahan cukup lama di sini sejak gemuruhnya pesta. Senantiasa melekat pada sebuah rongga bordir yang likat. Aku merasa nyaman di renda spanyol ini karena merasa dapat berlindung dari tatapan Tuhan.

Ketika menyembunyikan diri dari Tuhan dan cara kerjanya, aku selalu membayangkan tentang sesuatu yang bernama kebetulan. Barangkali pertemuanku dengan perempuan ini juga cuma kebetulan. Dan kau paham, kebetulan itu seperti keajaiban kecil. Sesuatu yang tak terbeli dan sering hanya terjadi sekali. Tentu saja kebetulan juga tidak direncanakan dan baru bisa dicerna setelah beberapa saat kejadian.

Ketika asyik merenungkan kebetulan yang terlepas dari campur tangan Tuhan, tanpa sebab yang jelas, jemari angin dari jendela yang terbuka kembali melentingkanku ke udara dan mendaratkanku di telapak tangan perempuan itu yang sedang tertidur lelap. Perempuan itu tidak pernah lupa berdoa sebelum berangkat tidur tapi dia selalu lupa pada mimpi-mimpinya.

Semula kuanggap hembusan angin itu hanya kebetulan tapi justru hal sepele itu mengantarku mencuri lihat suratan. Di telapak tangan perempuan itu yang memucat, aku tercekat. Aku berusaha menerbangkan diri lagi tapi tak kuasa. Aku gemetar dan limbung. Aku kadung membaca kematian di garis tangannya.

Aku mencari-cari wajah Tuhan di kamar itu tapi yang kutemui hanya mata berongga milik selarik renda spanyol yang menatap kosong pada diriku yang menangis tanpa airmata.

Jalan Anjing

TIDAK ada yang tahu persis kenapa jalan ini dinamakan Jalan Anjing. Orang tentu saja tidak asal dalam menamai sebuah ruas jalan. Menurut kebiasaan, nama yang dipakai untuk sebuah jalan adalah nama seorang pahlawan atau kata indah lainnya yang mungkin sekalimenyimpan romantika sejarah. Intinya nama-nama yang berbau kebaikan. Maka kau mungkin benar jika mengira dahulu ada sosok anjing luar biasa yang pernah dilahirkan atau hidup di daerah ini. Dan sebagai penghargaan atas jasa-jasanya maka namanya digunakan sebagai nama jalan. Dan dengan penamaan ini, berarti anjing terhormat itu telah mengangkat harkat dan martabat anjing di seluruh dunia dan akhirat.

Tapi perkiraanmu mungkin juga luput karena nama jalan ini tidak merujuk pada satu nama anjing. Nama ini masih terlalu umum sepertihalnya Jalan Bekicot. Tapi mungkin kita akan berpikiran sama ketika melintasi jalan ini yang akan segera mengingatkan pada sebuah film mengharukan yang mendramatisasikan kesetiaan seekor anjing pada tuannya. Konon anjing adalah binatang yang paling setia. Bahkan terkadang anjing lebih setia disbanding orang-orang tercinta, karena seekor anjing adalah pemaaf tulen bagi kesalahan- kesalahan tuannya. Tapi satu hal yang pasti, tidak pernah ada garansi atas kesetiaan sehingga jika kesetiaan itu rusak maka tidak akan ada tempat untuk mereparasinya.

Tapi anehnya di sepanjang jalan ini tidak ditemukan patung atau monumen anjing. Barangkali pemerintah kota termasuk pemuja fanatik kebatinan sehingga menganggap kesetiaan tidak pantas diberhalakan namun mengalir seperti udara yang ditarikhembuskan oleh semua pemakai jalan ini —ini jika kita masih bersikeras mengidentikkan anjing dengan kesetiaan. Tapi sekali lagi, tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai penamaan jalan ini. Kau juga boleh beranggapan bahwa anjing adalah binatang yang tidak setia karena tega memakan bekicot, misalnya. Tidak ada seorang pun yang menganjurkanmu untuk belajar setia di jalan ini.

Dan pada pagi yang berlinang hangat cahaya ini seekor anjing melintas di jalan itu. Seekor anjing berbulu tebal kecokelatan dengan muka murung dan gelisah. Dari kesantunan geraknya terbaca kesetiaan. Anjing itu berjalan menunduk seperti dikutuk cuaca cerah. Dia enggan memuja kejernihan langit. Di sebuah tempat yang bersih, di bawah pohon maple yang menggugurkan daunnya anjing itu menghentikan langkah dan merebahkan diri. Daundaun maple berjatuhan dan berputar di udara seperti baling-baling merah yang bahagia.

Anjing itu tanpa kekhawatiran melihat lalu-lalang manusia. Ada sepasang kekasih sedang bercengkrama di sebuah bangku di sisi lain pohon maple itu. Barangkali mereka juga sedang mengikrarkan kesetiaan. Lidah anjing itu terjulur seakan sedang menjilat partikel-partikel kegembiraan di udara. Tidak ada yang mengira bahwa sebenarnya anjing itu sedang berdoa. Dia menghadap sosok yang sangat berkuasa dan tentu saja tidak kasat mata. Sebuah doa yang dilandasi selembar kesetiaan yang tulus, yang hanya dimiliki bangsa binatang. Doa pendek agar Tuhan menggagalkan rencana pembunuhan yang sedang disusun tuannya.

 

Pembalasan Dendam Robbie

NAMA panggilannya Robbie. Dia terlahir tidak untuk mengampuni. Dia keras terhadap segala hal bahkan terhadap dirinya sendiri. Dia laki-laki dan tak sepatutnya memberi tempat pada kelembekan hati.

Robbie memiliki seekor anjing dan seorang kekasih. Anjing yang sangat setia dan kekasih yang tak lagi setia. Anjing yang menurutnya rajin mendoakannya dan kekasih yang nyata-nyata berselingkuh di depan matanya. Maka sudah semestinya kekasihnya itu mendapat hukuman. Cinta adalah ikrar kesetiaan dan tak ada pengampunan untuk pengkhianatan.

Robbie bukan seorang pecinta yang rapuh yang senantiasa menganggap bahwa karunia terbesar dari cinta adalah pemakluman. Robbie tidak akan memaklumi tindakan kekasihnya yang mengobral cinta sucinya di hadapan banyak pasang mata. Robbie harus bersikap tegas. Maaf dan pemakluman hanya akan menjadikannya kian lemah dan tidak dihargai.

Robbie rajin membaca kitab suci dan merasa menjadi sosok yang kuat dan tegas karenanya. Banyak tulisan dalam kitab suci yang menuntut umatnya untuk menegakkan kebenaran. Hal senada juga sering didengarnya dari suara para pengkhotbah di tempat ibadah. Hidup di dunia ini penuh dengan larangan. Hidup yang penuh rambu-rambu dengan garis batas yang tidak boleh dilanggar. Jika terjadi pelanggaran tentu Tuhan akan marah. Dan manusia sebagai messiah harus menegakkan aturan Tuhan atas si pelanggar dan kembali membersihkan dunia dari ancaman laknat Tuhan.

Dan Robbie yakin sepenuhnya bahwa kekasihnya tidak hanya berselingkuh tapi juga telah melanggar ketetapan Tuhan. Maka demi kesucian nama Tuhan dan pemurnian atas jiwanya yang ternodai, dia harus bertindak. Dia mengambil pistol yang disimpannya di almari baju dan mengisinya dengan dua butir peluru.

Bagi Robbie saat itu, tangannya adalah tangan Tuhan. Dua butir peluru di pistolnya adalah mesiu perang suci. Sebutir peluru untuk menegakkan hukum Tuhan karena kekasihnya melakukan dosa besar sangat hina yang melanggar ketetapan Tuhan dan sebutir peluru lagi untuk membersihkan hatinya dari pecahan derita pengkhianatan. Robbie berdoa begitu khusyuk agar ibadah sucinya ini berhasil lalu berjalan tenang menuju rumah kekasihnya.

 

Sarah Victoria

PEREMPUAN yang gemar memakai gaun dengan aksesori renda spanyol itu bernama Sarah Victoria. Sarah adalah perempuan periang dengan kegembiraan yang terasa sakral. Dia memiliki aura ketulusan yang selalu memancar dari dirinya. Jika ada anggapan bahwa ada manusia yang dilahirkan untuk tidak mempunyai musuh di dunia ini, mungkin Sarah Victoria adalah manusia itu.

Hidup Sarah Victoria barangkali klise. Dia senang berderma dan aktif dalam beberapa gerakan kemanusiaan. Hidupnya adalah pertolongan bagi sesama. Sarah memiliki banyak kawan yang berusaha membalas ketulusan hatinya dengan kebaikan yang berlipat.

Sejauh ini hidup Sarah terlihat mulus dan bahagia. Sarah memiliki seorang kekasih yang walau berpandangan kolot tapi sangat mencintainya. Kekasih Sarah adalah seorang umat yang taat dan pendoa yang militan. Kekasihnya selalu ada saat Sarahmembutuhkannya. Hidup merekabaik-baik saja dan mungkin dalam waktu dekat akan menalikan kasih dalam sebuah ikatan pernikahan.

Sarah merasa hidupnya adalah lautan berkah. Tuhan selalu bersamanya dan menjaganya dari segala marabahaya. Dengan tindakan baik yang kerap dilakukannya, Sarah merasa telah menjaga dan merawat hubungan baiknya dengan Tuhan. Tak ada yang perlu Sarah risaukan. Dunia seakan adalah semesta kecil dan Sarah Victoria adalah pusatnya.

Dan tentu saja kematian tragis Sarah Victoria mengguncang jiwa siapa saja yang pernah mengenal sosoknya. Kematian Sarah Victoria seperti fiksi mengerikan yang menetas di ranah kenyataan. Pada pagi yang berlarat, mayat Sarah Victoria ditemukan di kamarnya. Ada dua butir peluru bersarang di tubuhnya, sebutir di tengah jidatnya dan sebutir lagi tepat di jantungnya. Dan yang paling mengguncangkan jiwa adalah di tangan kanan mayat Sarah Victoria erat tergenggam rosario.

 

Ciuman Catalina

DI lokasi penggalangan dana untuk para penderita kanker payudara itu, Catalina adalah bintang kejora. Dia jauh dan tak terengkuh oleh sentuh lelaki mana pun. Catalina adalah kerlap cahaya cemerlang yang memantul dari lampu kristal dan denting termerdu dari gelas beradu. Catalina terlihat sangat anggun dan elegan.

Dia nampak jelita dengan gaunnya yang menyala. Ada motif gradasi yang mengesankan ada jutaan noktah merah menyebar di gaunnya. Kecantikannya merekah sempurna. Langkahnya menggoda, membikin tatapan tiap lelaki lamur melebihi mabuk yang ditawarkan berbotol anggur.

Malam itu kenangan seperti pecah. Lagu-lagu dari masa lalu mengalun lembut. Lampu Kristal menawarkan sisi teduh dan temaram. Orang-orang berdansa dengan melankolia yang bersahaja. Tapi tetap saja pusat dari keindahan seremoni dansa itu adalah Catalina. Tiap pria seakan ingin menjadi pasangannya. Tapi seperti udara, Catalina senantiasa meliuk menghindari tiap peluk.

Catalina seperti kupu-kupu elok yang hinggap dari satu meja ke meja lainnya. Sebagai ketua panitia penggalangan dana, dia ramah menyambangi tiap meja para donatur dan penderma. Tapi di meja ke sekian tempat sepasang kekasih bercakap hangat, Catalina hinggap agak lama. Dia mendadak ingin melantai tapi justru tangannya terulur pada si perempuan. Si lelaki hanya melihat dengan tatapan yang susah diartikan ketika melihat kekasihnya berdansa mesra mengikuti gerak tubuh Catalina.

Sebenarnya Catalina dan gadis itu belum pernah saling kenal sebelumnya tapi entah kenapa ada sesuatu yang aneh pada malam itu yang menautkan mereka. Ada keakraban purba yang tiba-tiba menyelimuti mereka. Mereka berdua berdansa seperti sepasang senyawa yang tak lagi bisa diurai unsur-unsurnya. Mereka seperti pasangan abadi dari masa lalu yang kembali bertemu setelah menempuh parak waktu. Mereka adalah puncak keindahan pada malam itu.

Pada sebuah momentum yang ganjil dan ajaib, pada klimaks sebuah lagu cinta, tiba-tiba bibir mereka berpagutan. Dalam dan lama. Itulah sebuah ciuman yang memurnikan sekaligus mematikan. Bibir Catalina menawarkan bara dan perempuan itu membalasnya. Bibir mereka saling melumat. Semua yang hadir di tempat itu menyaksikan adegan ciuman itu dengan jantung berdesir. Mata Catalina dan perempuan itu terpejam dan dunia seakan berhenti sesaat. Tapi sesungguhnyalah dunia tak pernah berhenti berputar, kehidupan sedang menyiapkan kejutan. Selama mereka berciuman sebutir debu merah di baju Catalina terhempas angin dan berpindah ke renda spanyol di baju perempuan itu.

Beberapa perasaan yang belum ternamai lahir dari ciuman itu. Dan tentu saja ada seorang laki-laki yang tiba-tiba memikirkan Tuhan. (62)

 

 

Solo, Maret 2013

— Cerpen ini dikembangkan dari lima judul lagu instrumental milik grup Acoustic Alchemy yakni ‘’Red Dust and Spanish Lace’’, ‘’Road Dogs’’, ‘’Robbie’s Revenge’’, ‘’Sarah Victoria’’, dan ‘’Catalina Kiss’’ yang kebetulan tersusun secara acak di playlist pengarang. Terjadi improvisasi pemaknaan terhadap pengalihbahasaan ‘’Road Dogs’’ sebagai subjudul.

Gunawan Tri Atmojo, cerpenis, tinggal di Solo

Advertisements