Archive for March, 2014

Harapan Guru Zulkifli
March 30, 2014


Cerpen Muftirom Fauzi Aruan (Republika, 30 Maret 2014)

harapan-guru-zulkifli-ilustrasi-rendra-purnama

Harapan Guru Zulkifli ilustrasi Rendra Purnama

BARU saja Guru Zulkifli pulang dari mengajar di sekolah tempat ia mengabdi. Sekarang, ia sedang berbaring di atas ranjangnya dan masih mengenakan seragam yang sama. Ia menatap langit-langit kamar. Pikirannya melayang pada sesuatu yang begitu ingin digapainya pada pertengahan tahun ini.

Adalah seorang perempuan, kekasih dari Guru Zulkifli, yang selalu meminta agar ia segera menikahinya. Tapi, betapa berat bagi Guru Zulkifli untuk mendapatkan biaya pernikahan yang telah ia kumpulkan tiga tahun belakangan ini. Begitu juga, uang tabungan dari hasil mengajar sebagai guru honorer, tetap tak cukup untuk ongkos perkawinannya.  (more…)

Advertisements

Tangan Ratu Adil
March 30, 2014


Cerpen Iksaka Banu (Media Indonesia, 30 Maret 2014)

Tangan Ratu Adil ilustrasi Pata Areadi

…di dalam sana di atas tikar, aku segera tertidur dan tidak tahu apa mimpiku.

AKU tergagap bangun. Max Havelaar! Ya, itu potongan sajak dari buku yang kubaca sebelum berangkat ke Cilegon. Melintas begitu saja di kepala. Kuperiksa perban pembalut pinggang. Tak ada infeksi. Kurasa aku kelelahan sehingga tertidur sampai pagi memeluk leher kuda. Untung tidak terpelanting di jalan. Kutarik kekang. Hewan yang semula berjalan sangat lambat itu kini berhenti. Kujatuhkan diri ke atas rerumputan tepi jalan. Gerakan itu ternyata membuat pinggangku seperti disobek tangan raksasa. Luka kembali terbuka.  (more…)

Mawar Hitam
March 30, 2014


Cerpen Candra Malik (Koran Tempo, 30 Maret 2014)

Mawar Hitam ilustrasi Munzir Fadly

ENGKAU adalah kata yang hendak diucapkan pensil yang, meski telah kuruncingkan, ternyata tak segera berani memilih aksara pertama. Namamulah yang pada mulanya akan kutulis, namun kita belum saling mengenal. Kau diam di sana, duduk dengan selembar kertas kosong dan sebatang pensil pula. Aku di sini. Dan, kita bernasib sama.

Pada akhirnya kugambar saja ruas senyum yang kaubenamkan di antara bibir indahmu yang cemberut. Layak kuduga kau menunggu seseorang. Seseorang yang sangat dekat, yang sanggup membuatmu gagal menulis menu. Kau menantinya pasti untuk bertanya, ”Jadi, kita pesan apa?“ Aku memesan secangkir kopi saja. Tanpa gula. Aku memang tak terlalu suka pemanis untuk hal-hal yang memang dikodratkan pahit.  (more…)

Batu Sri Delima
March 30, 2014


Cerpen Ullan Pralihanta (Suara Merdeka, 30 Maret 2014)

Batu Sri Delima ilustrasi Toto

‘’DOMAR! Keluar kau!’’

Laki-laki yang namanya sedang diserukan oleh Jakub, tergopoh-gopoh membuka daun pintu rumahnya yang terbuat dari kayu tembesu yang hampir lapuk. Di luar, telah ramai massa berdatangan, berdiri dengan wajah merah padam, penuh murka. Masing-masing dilengkapi sebilah golok dan obor menyala. Sekilas Domar melirik pada orang-orang dan berusaha mengenali satu per satu pemilik wajah yang memadati pekarangan rumahnya. Tapi, satu wajah yang pasti ia ingat selamanya bahkan hingga hayat menjemput, adalah wajah Jakub.  (more…)

Istri Pengarang
March 30, 2014


Cerpen Gunawan Tri Atmodjo (Jawa Pos, 30 Maret 2014)

Istri Pengarang ilustrasi Bagus

HANYA manusia bodoh yang menganggap cemburu sebagai tanda cinta. Tapi adakah cinta yang datang tanpa kebodohan? Kau tak akan bisa menghindari cemburu tapi kau bisa mengolahnya. Jika gagal, mungkin jalan hidupmu akan berakhir sepertiku saat ini, mendekam di tempat ini dan berurusan dengan rekan-rekan seprofesimu sekarang ini. Mungkin juga kau tak akan percaya pada cerita cemburuku ini karena ini seperti kisah cemburu pada hantu. Sebaiknya kau menyimak ceritaku ini dengan saksama karena mungkin kau dapat belajar banyak darinya.  (more…)

Tentang Seorang Yang Membunuh Keadilan di Penjaga Konstitusi
March 30, 2014


Cerpen Remy Sylado (Kompas, 30 Maret 2014)

TENTANG SEORANG YANG MEMBUNUH KEADILAN DI PENJAGA KONSTITUSI ilustrasi

MALAM itu tampak lebih kelam, suram, dan padam tidak seperti biasa. Bukan karena gelap dan dingin malam, tetapi karena wajahnya tertunduk lesu, pucat pasi dengan tangan terikat dan lolongan anjing-anjing yang begitu memaki selalu meneriaki.

Laki-laki paruh baya itu mendatangi gedung itu. Tentu tidak sendiri, beserta para penjaga yang memborgol kedua tangannya. Mendatangi gedung itu berarti mendatangi sebuah masa depan yang lebih buruk. Masa depan di jeruji besi. Bisa dikatakan begitu.  (more…)

Lembudana-Lembudini
March 23, 2014


Cerpen Eka Nur Apiyah (Republika, 23 Maret 2014)

lembudana-lembudini-ilustrasi-rendra-purnama

Lembudana-Lembudini ilustrasi Rendra Purnama

“JON, ke sini!” panggil seseorang pada Joni. Suaranya lirih hampir tak terdengar sedangkan napasnya berjungklatan tak teratur. Joni langsung mencari sumber suara. Ternyata itu suara Sapri, teman sekampungnya. Dengan rasa malas, Joni mendekati temannya itu.

“Kamu ngapain sih, Pri, ngumpet di situ?”

“Ssstt … jangan keras-keras, Jon, aku takut.”

“Takut sama siapa? Orang kampung sedang yasinan kok. Lagian buat apa ngumpet segala.” Sapri masih diam. Mengatur napas lalu meminta Joni untuk mendekat. (more…)