Tulah


Cerpen Wi Noya (Jawa Pos, 23 Februari 2014)

Tulah ilustrasi Bagus

PEPATAH bilang, ”Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.“ Masihkah diyakini banyak orang? Pasalnya, peribahasa tersebut tidak terbukti padaku. Aku gelundung terlalu jauh dari pohon nan subur itu. Padahal, ketiga buah lain yang ranum berguguran persis di bawahnya. Berbeda denganku, sudah jatuh puluhan hasta, kadung busuk pula. 

Konon, entah dari mana pernah kudengar, anak pertama biasanya terlahir istimewa. Yah, kata orang, sih, sebab pengantinnya masih gres, maka benih yang dihasilkan pun berkualitas. Namun, rupanya tak jua berlaku bagi kelahiranku. Dua adik laki-laki serta si bungsu perempuan, bernasib lebih baik ketimbang kakaknya. Secara kasat mata saja, warga sekampung bisa menilai, aku ini buah yang gagal.

***

Siapa pun mesti kenal empunya rumah gedong di seberang balai desa. Beruntung, aku termasuk penghuni di dalamnya. Meski dijuluki orang terkaya sekecamatan, keluargaku juga beroleh cibiran. Aku ibarat benalu. Bapakku lurah, ibuku guru madrasah. Semua saudaraku memiliki masa depan cerah. Andai diriku mumpuni layaknya mereka, pastilah hidup kami sempurna.

Singgih lahir setelahku, mewarisi wajah ganteng bapak berikut gayanya yang supel. Di samping bakat, tampang rupawan tentu modal utama menggeluti dunia pertelevisian. Adikku yang kedua, Galang, cerdas seperti ibu, kodratnya mujur juga. Kuliah dapat beasiswa, lulus sarjana langsung jadi pengacara. Belum lagi si ragil Wati. Sikap konservatif ibu dan kakek temurun padanya. Kariernya lumayanlah, pegawai kantoran. Mereka memang kebanggaan orang tua, kecuali si sulung yang apes. Jauh-jauh merantau, paling mentok jadi buruh pabrik, itupun pakai sogokan. Berharap unggul dalam pelbagai hal, kiranya angan belaka.

Demikian belum seberapa, ada lagi yang lebih kentara. Famili bapak-ibu, mulai buyut hingga cucu, tak seorang pun berkulit segelap dahan bacang, minimal sawo matang. Bahkan, kakekku yang amat sepuh, daging keriputnya sepucat kencur. Fisikku paling kontras. Dari ujung rambut sampai kaki, kemiripanku ditaksir hanya sekitar lima belas persen.

Ketika usiaku masih belasan, aku pernah iseng bertanya, ”Bu, Yoga ini anak pungut, ya?“

”Hush!“ Ibu mendelik. ”Ngawur! Ayo ke rumah Bidan Sur, biar tahu bagaimana susahnya Ibu waktu lahiran kamu.“

”Kok aku nggak mirip Ibu, ya? Apalagi bapak.“

”Kata siapa, Le?“

”Anak Ibu yang jelek kan aku, yang bodoh  cuma aku, mana sampai dua kali tinggal kelas.“

Selanjutnya, ibu mendengus. Ia bungkam beberapa saat. Tangannya mungkin sibuk menumis kembang durian, namun otaknya memilah jawaban untuk anak kritis semacamku.

Tahu-tahu ibu sudah berdendang sembari menjawil hidungku.

Hitam manis hitam manis

Yang hitam manis

Pandang tak jemu pandang tak jemu

Yang hitam manis pandang tak jemu [1]

”Rajin belajar, Yoga, supaya tidak kebalap adik-adikmu. Kamu kan hobi nonton wayang, siapa tahu nanti jadi dalang.“

Jawaban ibu membuatku makin tidak puas. Seakan aku ini bocah ingusan, padahal anak tertua. Jadi dalang? Bukan cita-cita. Aku memang gemar nonton acara begituan. Wayang, ketoprak, jaran kepang, namun tak lantas kugeluti sebagai profesi.

Tetapi, kalau dipikir-pikir masuk akal juga. Pekerjaan yang cocok untukku memang tak harus menguras otak. Aku putus sekolah saat berseragam putih-abu. Bukan lantaran malas, melainkan dasarnya aku terlampau bebal. Singgih sukses mendahului kakaknya yang dungu ini, Galang pun hampir menyusulku. Daripada menanggung malu lebih parah lagi, akhirnya kutinggalkan bangku pendidikan.

Adu jotos, itulah bakatku. Aku kerap berbuat onar. Kesenggol sedikit bakal kuajak tawuran. Hidupku luntang-lantung. Biarlah, aku anggap sebagai proses pengukuhan jati diri.

Aku terus menyelidiki, barangkali ada sesuatu yang sengaja disembunyikan bapak-ibu. Bukannya sibuk menyejahterakan orang tua, malah sebaliknya. Aku pernah mencurigai ibu berselingkuh, sebelum atau sesudah menikah. Mungkin dengan mantan kekasihnya yang seorang pedagang buah itu. Tapi lagi-lagi terpatahkan sewaktu aku tertabrak angkutan umum karena memata-matainya. Bapak mendonorkan sebagian darahnya padaku. Lagipula, pedagang buah tersebut tak bisa dikategorikan jelek, biarpun tak setampan bapak. Kulitnya langsat, rambutnya tidak berombak. Semua nihil. Tiada satu petunjuk pun yang mengarah bahwa aku bukan anak kandung Bu Guru dan Pak Lurah.

***

Sekalinya untung, aku pernah memiliki seorang kekasih. Ia perempuan yang tak sengaja kujumpai saat nonton jaran kepang. Ah, tampang sepertiku ada yang mau saja sudah syukur. Persetan orang berkomentar, ”Wanita itu cuma menjadikanmu pelarian semata, bukan betul-betul berlandaskan cinta.“

Betapa bangga menggoreskan tinta merah jambu dalam riwayatku. Ternyata aku masih laku, terlebih gadisku berparas ayu. Pada waktu kepayang itu, aku benar-benar lupa segala kemalangan. Sejatinya, kisah asmaraku dengannya terbilang picisan. Ia mengaku sayang, aku keluar uang. Ia dicegat preman, aku pasang badan. Ia kesepian, aku ruahkan perhatian. Sumpah, aku rela habis-habisan.

Nasib… nasib.

Ia yang mengajari kencan, ia pula yang menghadiahi tamparan. Saking aku muak mengingat namanya, kuberi julukan Rangkap Tiga; cinta, pacar, sekaligus mantan pertama. Ia mencampakkanku usai dilamar lelaki gagah dan kaya. Secara blak-blakan ia bilang menyesal pernah berhubungan denganku. Aku sangat sakit hati. Ia menudingku menggunakan ilmu pelet, hanya demi menyakinkan calonnya bahwa ia tiada rasa terhadapku.

Sinting!

Kalau mau tega, kukirimkan guna-guna sekalian, seperti fitnah yang seenaknya ia lontarkan. Tapi, aku lebih senang mengandalkan otot. Hatiku yang terluka, kesumatku yang membara, kemudian takluk jua oleh air mata. Baru kali itu kulihat Rangkap Tiga sedemikian histeria. Ia terus menangisi tunangannya yang terkulai pasca duel denganku.

Aku merasa kalah.

Laraku kian teruk, manakala tersiar selentingan Rangkap Tiga lekas diperistri si hartawan. Batinku tak bakal kuat menerima undangan pernikahannya. Aku minggat.

***

Sebulan lamanya aku menginap di tempat Paklik Nas, adik kandung bapak. Satu-satunya kawan setiaku di waktu senggang yang nyaris tiap hari. Ia menetap di dusun pinggiran sungai yang hanya berjarak sepuluh kilometer dari alun-alun. Gubuk sederhananya sangat nyaman untuk menenangkan pikiran. Terutama bagi orang patah hati sepertiku.

Sepulang merumput, Paklik Nas tampak kesal. Ia mondar-mandir sembari menggerutu. Sempat jua bergaduh di dapur sebelum menemuiku di ruang tengah.

”Kenapa, Paklik?” selidikku.

Mulutnya silih berganti antara cakap, rokok, kopi. ”Ndari itu nggak berubah. Ketemu di jalan, masih sinis sama aku.”

”Ndari? Siapa?”

”Istrinya pengurus pondok di samping alun-alun.”

Aku merengut, pasang roman penuh tanda tanya.

”Ndari…” Paklik Nas berdeham, kemudian mengepulkan lagi asap rokoknya. ”Dulu incaran bapakmu, tapi ditolak terus, akhirnya kawin sama ibumu.“

”Oh…,“ lirihku sedikit kecewa. Kesannya ibuku sekadar pelampiasan. Iparnya ini bicara enteng sekali, seolah bukan sedang berhadapan dengan darah daging ibu.

”Bapakmu sampai dendam sama Ndari.“ Ia memancingku kembali.

”Ah, masa?“

Lho…? Yakin.” Ia membenahi posisi duduk, lantas berjagang. Aku paham, obrolan ini bakal merembet ke mana-mana. Dua pengangguran asyik melantur sepanjang masa. ”Waktu bapakmu masih jadi carik di kampung sini, sempat heboh kasusnya.“

”Kasus apa?“

”Zaman muda dulu, bapakmu sombong, mentang-mentang ganteng. Maunya, semua perempuan itu manut sama dia. Giliran ditolak, bencinya setengah mati.“

”Ah, perempuannya saja yang sok jual mahal.“

”Wajarlah… Santri. Mana mau dinikahi bapakmu yang genit itu.“

”O… pantas. Cantik mana sama ibu?“

”Hmm… Beda tipis, tapi Ndari bikin lebih penasaran.”

Paklik Nas melanjutkan kisah perempuan bernama lengkap Sundari. Mulanya aku heran alasan Ndari lebih memilih dinikahi siri oleh seorang kiai ketimbang menerima pinangan bapak. Padahal, suaminya nomad lantaran sibuk berdakwah di luar pulau. Warga mulai curiga saat memergokinya muntah tiap pagi. Perut makin melendung tapi suami belum kelihatan batang hidung. Surat nikah tiada, wali dan saksi tak cukup alibi, habislah ia jadi bulan-bulanan warga. Gosipnya tambah santer, warga sekampung menduga ia hamil tanpa suami.

Sejengkal melangkah dari pintu tetangga bersahutan mencaci. Rumahnya dilempari sayuran busuk. Posisi bapak yang kala itu menjabat sebagai carik tak berarti apa-apa. Bapak malah ikutan memprovokasi atas nasib yang menimpa Ndari. Ia dianggap telah mengotori kampung. Rasa cemas kian menghantui seisi desa bilamana Tuhan murka lalu menjatuhkan bala. Klimaksnya, warga berbondong-bondong mendatangi balai desa, mendesak lurah untuk mengusir Ndari. Belum sempat keluar kampung, rumor tersebut terbantahkan oleh kerabat suaminya dari Jambi. Nahas, si perempuan malang terlanjur keguguran karena depresi.

***

”Yoga, kamu jangan bilang bapakmu, lho, aku cerita begini.“

”Kenapa?“

Pamanku yang kelewat serampangan itu tiba-tiba terkekeh.

”Apanya yang lucu, Paklik?“

”Pokoknya, kalau sampai ketahuan ibumu…“ Paklik Nas memberi isyarat tebasan pada lehernya. ”Modar!“

”Ibu belum tahu?“

”Tentang Ndari, tahu. Tapi masih ada rahasia lain.“

Aku mulai tegang. Tidak biasanya seantusias ini menyimak omongan si gondrong.

”Bapakmu sempat jenguk Ndari di puskesmas. Waktu sadar ibumu ternyata hamil muda, bapakmu takut kualat. Walau sudah minta maaf, nyembah berkali-kali, Ndari tetap tidak sudi mengampuni. Parahnya, sambil sesenggukan dia malah menyumpahi.“

”Menyumpahi apa?!“ Dadaku bergemuruh.

Anak mbarepmu sesuk mesti elek, ireng, bodo!“ [2]

Paklik Nas membenamkan puntung rokok ke dalam asbak. Sementara ia merasa cerita barusan patut untuk ditertawai, aku hanya melongo. Tak habis pikir, serapah itu meluncur dari perempuan alim yang baru kehilangan janinnya.  ***

 

Wi Noya, bermukim di pinggiran Jakarta. Salah satu penulis antologi cerpen Banten; Suatu Ketika (2012) dan Suki Desu (2013)

Catatan :

[1] Petikan lirik lagu Hitam Manis  yang hit pada era ’80-an dipopulerkan oleh pedangdut berdarah Minang, Irni Yusnita. Dilantunkan kembali oleh Emilia Contessa.

[2] Anak sulungmu nanti pasti jelek, hitam, bodoh!

One Response

  1. Reblogged this on Celoteh si bocah and commented:
    Terkadang diri kita terlalu sombong atas kesempuraan yang telah diamanahkan-Nya. Sehingga kita seringkali lupa dan lalai. “Tulah” mungkin awamnya kita kenal dengan “karma”. Ia akan selalu menghantui kita di setiap jejak perangai yang kita tinggalkan. Jika bukan diri kita, mungkin orang terdekat kita. Mawas diri lah karena waktu tak bisa diputar balik.

    Selamat membaca..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: