Cerpen S Prasetyo Utomo (Media Indonesia, 16 Februari 2014)

Tubuh Sukro Menggeletar ilustrasi Pata Areadi

GUNDUKAN makam Nyai Laras terselubung remang senja. Mandor Karso, yang tinggal di surau dekat makam Nyai Laras, melihat kedatangan seorang lelaki setengah baya berkaki kanan buntung. Langkah kakinya berdetak-detak di jalan setapak. Kruk yang menyangga kaki kanannya tiap ayun menakik tanah basah.

Lelaki berkaki kanan buntung itu datang diam-diam berziarah. Tubuhnya serupa bayangan. Duduk di batu menghadap makam Nyai Laras, lelaki itu meletakkan kruknya. Menunduk. Larut dalam doa.

Berdiri di surau, Mandor Karso melihat lelaki setengah baya itu berdiam diri setelah berdoa. Mandor Karso berhasrat menemuinya. Ingin mengenal siapa sebenarnya dia. Mandor Karso bertanya pada beberapa orang di sekitar surau, siapa lelaki berkaki kanan buntung yang senantiasa berziarah ke makam Nyai Laras? Satu-dua orang berusia tua masih mengingatnya sebagai keturunan Nyai Laras, bernama Sukro. 

Semasa muda, lelaki itu bertubuh sempurna. Ia menjual bukit peninggalan Nyai Laras yang kini diratakan dengan jalan raya, didirikan mal dan pertokoan. Satu dua orang berkisah; uang penjualan bukit itu dihambur-hamburkan Sukro di meja perjudian dan digunakan untuk menikah lagi.

Ia ayah kandung Aji, yang kini menjadi santri Kiai Sodik. Telah lama Sukro dibebaskan dari penjara di pulau kecil, semenjak tertangkap merampok dan membunuh. Kaki kanannya buntung saat melarikan diri dari pulau pengasingan itu, berenang di pantai Segara Anakan yang berhutan bakau. Ia diburu buaya. Kaki kanannya digigit. Terputus.

Kini ia mengenakan kruk ke mana pun pergi. Kruk yang terbuat dari kayu bakau. Ada bekas kruk menakik tanah basah makam Nyai Laras.

“Apa yang kaulakukan di sini?“ sapa Mandor Karso, mendekati makam.

“Ini makam leluhurku. Aku ahli waris Nyai Laras. Tinggalkan aku sendiri di makam ini. Kau tak perlu merisaukanku.“

Takut, Mandor Karso surut. Meninggalkan makam. Diurungkannya segala niat berbincang-bincang dengan lelaki berkaki kanan buntung itu.

Sukro tak ingin berdebat dengan Mandor Karso yang sangat setia menjaga surau dan makam Nyai Laras. Dalam hati Sukro masih ingin menjelaskan silsilah dirinya.

Nyai Laras memiliki seorang putri, Nyai Dewi. Nyai Dewi memiliki seorang putri, Nyai Kinanti. Nyai Kinanti memiliki seorang putri, Ibu Sari. Dari rahim Ibu Sari inilah lahir seorang anak lelaki yang kini merantau jauh ke Ibu Kota, dan adik lelakinya bernama Sukro. Anak lelaki pertama menerima warisan berupa rumah, surau, dan ladang luas. Sukro menerima warisan bukit gersang yang di puncaknya dimakamkan Nyai Laras. Sukro menjual bukit gersang itu dengan harga sangat murah. Ketika bukit diratakan dengan jalan raya, didirikan mal dan pertokoan, makam Nyai Laras yang semula berada di puncak bukit dipindahkan ke pekarangan rumah yang sudah lama dikosongkan.

Menjelang senja ini suasana makam Nyai Laras menjadi lain. Aji, anak kandung Sukro dari istri kedua, tak bisa menahan diri untuk berziarah ke makam Nyai Laras. Telah beberapa tahun ini Aji tinggal di pesantren Kiai Sodik. Makam Nyai Laras tak begitu jauh dari pesantren Kiai Sodik. Begitu Aji mencapai makam, seorang lelaki setengah baya dengan kaki kanan buntung, tengah berdoa. Lelaki setengah baya itu tergeragap.

Getaran perasaan Sukro sebagai ayah, cepat sekali menentukan sikap: ini anak lelakiku. Telah bertahun-tahun ia berpisah dengan Aji, menitipkannya pada keluarga Pakde, kakak lelakinya. Tapi Aji meninggalkan rumah Pakde, memilih hidup di pesantren Kiai Sodik.

“Aji? Kau sudah sebesar ini?“ seru Sukro, tak menduga akan bertemu dengan anak lelakinya.

Tak dapat menahan kangen, Sukro memeluk Aji. Memeluk rapat. Menepuk-nepuk punggung anak lelakinya. Dia seperti tak percaya, mereka bertemu di makam Nyai Laras. Kini Aji tumbuh menjadi lelaki dewasa. Tegap. Gagah.

Merasa canggung, Aji tak membalas pelukan Sukro. Ia tak menduga bakal ketemu ayahnya dalam ziarah di makam Nyai Laras. Dia merasa asing dengan lelaki yang mengatakan diri bernama Ayah. Hanya sewaktu berumur lima tahun, ia pernah bertemu ayahnya, yang menjenguk di rumah Pakde.

Memang bila memandangi wajah ayahnya, Aji merasa memandangi wajahnya sendiri. Tapi bila melihat sepasang matanya yang garang, Aji seperti melihat sesuatu yang aneh. Sesuatu yang bukan dirinya.

Ketika pelukan Sukro mengendur, Aji masih termangu memandangi lelaki berkaki kanan buntung, dengan kruk di bawah ketiak.

“Bagaimana Ayah bisa buntung begini?“

Sukro terus-menerus menatap Aji, anak lelakinya, yang telah dia telantarkan. “Aku melarikan diri dari pulau pengasingan. Ketika aku mencebur ke Segara Anakan, berenang ke laut, seekor buaya menyambar kakiku. Beruntung aku ditolong seorang nelayan, hingga sembuh dan dapat melarikan diri. Aku mencarimu ke mana-mana, hingga ke pesantren Kiai Sodik. Tidak bertemu. Kau sedang pergi. Aku diterima Kiai Sodik. Di pesantren itu aku ditangkap, dan dikembalikan ke pulau pengasingan, sampai masa hukumanku habis.“

“Ayah tinggal di mana?“

“Sudahlah. Jangan pikirkan Ayah.“

“Ayah tak ingin tinggal bersamaku?“

Bimbang, Sukro menggeleng. “Tidak, Nak. Jalan hidup kita berbeda. Aku memiliki jalan hidup sendiri, yang berbeda denganmu. Biar aku hidup sendiri. Aku sudah aku hidup sendiri. Aku sudah sangat bangga ketemu kau di sini. Aku tidak pernah menduga, akan memiliki seorang anak yang menjadi santri.“

“Lalu, pekerjaan Ayah sekarang? Masih merampok?“

“Tidak lagi, Nak. Ayah jadi tukang parkir.“

Dengan kruk di bawah ketiak tangan kanan itu, Sukro bergerak lamban meninggalkan makam Nyai Laras, menjelang magrib. Ia menjauh dari keremangan senja.

***

Di makam Nyai Laras, senja meredup. Tanpa diduga orang-orang berwajah garang menyergap Sukro. Orang-orang kekar itu sangat sengit menghampiri si lelaki buntung. Wajah mereka dengki. Lima orang lelaki bertubuh kekar, dengan pandangan beringas, mengepung Sukro, rahang-rahang mereka bergemeretak.

“Serahkan wilayah parkir yang kau kuasai,“ ancam lelaki beringas dengan luka bacok di pipi kiri, “atau uangnya kau setorkan padaku?“

“Kau kira aku seorang pecundang? Aku tidak akan tunduk pada kalian!“

“Cuah! Tak ada jalan lain bagimu!“

“Kalian tak bisa memaksaku!“ seru Sukro, tenang menghadapi lima lelaki beringas. “Aku tidak pernah takut pada kalian.“

Serentak, seketika, kelima lelaki kekar itu menghajar Sukro. Lelaki berkaki kanan buntung itu terjatuh, dengan dagu dan mulut yang pecah, melelehkan darah, terkena hantaman.

Tubuh Sukro diinjak-injak. Kruk dibuang jauh. Lelaki buntung itu tergagap-gagap. Mandor Karso, yang menyaksikan pengeroyokan lelaki buntung itu, buru-buru menghampiri tubuh yang terkulai. Ia mengambilkan kruk, membangunkan lelaki buntung itu. Sukro tidak mengerang sedikit pun. Ia berjalan, tertatih-tatih, dan lambat-lambat meninggalkan makam Nyai Laras.

***

Menjelang subuh rekah, penangkapan Sukro berlangsung di rumah kontrakannya. Lelaki-lelaki bersenapan, berambut cepak, mengepung rumah kontrakan itu saat pagi berkabut, mendobrak pintu. Tak terdengar suara tembakan. Hanya teriakan-teriakan. Bentakan lelaki-lelaki kekar berambut pendek, seperti geledek. Lelaki berkaki kanan buntung itu dibawa dengan mobil bak terbuka. Tak tampak kesedihan pada wajah Sukro, ketika duduk di bangku panjang mobil bak terbuka itu. Tangannya diborgol. Duduk dihimpit lelaki-lelaki bersenapan. Tenang. Dingin. Tak peduli.

Aji yang mengunjungi rumah kontrakan Sukro, mendapati pintu depan terpental rusak, didobrak paksa. Tergeletak di ruang tamu itu sebuah kruk yang biasa digunakan Sukro ke mana pun pergi. Aji meneruskan perjalanan ke kantor polisi. Berada di ruang tunggu, dia menanti bersua ayahnya.

Wajah Sukro tenang. Tak tampak kesedihan terpancar di wajah itu.

“Kamu jangan bersedih dengan keadaan ini,“ kata Sukro.

“Ayah tak melakukan perampokan itu, kan?“ Tapi Sukro terdiam. Memandangi Aji, seperti seseorang yang menjajaki telaga sebelum ia mencebur ke dalamnya. Sukro menemukan ketenangan telaga pada sepasang mata anak lelakinya: bening, menenggelamkan siapa pun yang merindukan kesegaran.

Sukro bimbang. Menimbang. Dan ia memutuskan untuk berterus terang, “Aku memang melakukan perampokan itu, Aji.“

Aji memandangi wajah ayahnya dengan tatapan yang semula terkejut. Ia mencari ketenangan dalam dirinya sendiri.

“Suatu saat, mungkin Ayah akan bersamaku,“ kata Aji. Mohon diri. Mencium tangan lelaki setengah baya berkaki kanan buntung itu. Meninggalkan kantor polisi. Dia harus kembali ke pesantren.

Punggung tangan Sukro terasa dingin, basah, tercecer luruh tetesan dari sudut mata anak lelakinya.Tubuh Sukro menggeletar, mula-mula lembut. Lama-kelamaan mengguncang seluruh nadinya. Ia tak pernah merasakan guncangan sederas ini.  (*)

S Prasetyo Utomo, sastrawan kelahiran 1961. Bekerja sebagai dosen IKIP PGRI Semarang. Pada 2007, ia menerima Anugerah Kebudayaan dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen Cermin Jiwa. Buku fiksinya Bidadari Meniti Pelangi (2005).

Advertisements