Joseph dan Sam


Cerpen Rilda A.Oe. Taneko (Koran Tempo, 16 Februari 2014)

Joseph dan Sam ilustrasi Yudha AF

”TAHUKAH kamu di mana orangtua kami?“ anak itu bertanya.

Dan pertanyaan semacam itu, baginya, adalah pertanyaan paling menyedihkan yang bisa dilontarkan oleh seorang anak kecil.

***

Buzzer kembali berdering. Ini untuk kali kedua. Kali pertama, anak itu membangunkan ia dari lelap yang baru saja akan nyenyak. Ia kembali melempar selimut dan berusaha bangkit dari tempat tidur. Kepalanya masih berat dan demam belum mau pergi dari tubuhnya. Terhuyung-huyung ia berjalan ke lorong rumah dan mengangkat gagang buzzer.  

”Ya?“

”Bisakah kamu menolong untuk menghubungi orangtua kami?“

Anak itu lagi.

”Orangtuamu pasti datang sebentar lagi.“

Ia tidak mendengar jawaban dari anak itu. Ia menatap tombol bergambar kunci dan ragu untuk menekannya. Ia menggeleng dan menguatkan hati. ”Tidak,“ tekadnya, ”tidak untuk kali ini.“

Ia mendengar suara berbisik, ”Tanya saja, bolehkah kita masuk ke rumahnya.“ Ia tahu anak itu tidak sendiri. Ia bersama seorang adik perempuannya. Mereka baru saja pulang dari sekolah.

”Tunggu saja,“ ia kembali berkata.

”Oh. OK.“

Anak itu terdengar kecewa.

Ia meletakkan gagang buzzer kembali ke tempatnya, menempel pada dinding lorong rumah. Biasanya, ia selalu mengundang anak-anak itu masuk ke rumahnya. Biasanya, ia menawarkan segelas susu hangat dan setangkup roti selai stroberi. Tapi kali ini ia berusaha untuk tidak peduli. Ia merasa ia sudah terlalu banyak memedulikan orang lain dan menyampingkan perasaannya sendiri.

What about me? Aku toh sedang demam dan butuh istirahat,“ pikirnya. Ia kembali ke tempat tidurnya dan berusaha memejamkan mata. Tapi tetap saja, benaknya terus berpikir tentang anak-anak itu: ”Mereka di luar sendirian, kedinginankah mereka? Mungkin sekali mereka lelah dan lapar.” Kemudian ia berusaha membunuh perasaannya. ”Mengapa aku harus peduli, sementara orangtua anak-anak itu saja tidak?”

Umur anak-anak itu enam dan lima tahun. Keduanya bertubuh kurus, bermata biru, berambut pirang kecoklatan dan berkulit sangat pucat. Mereka tiga bersaudara. Adik perempuan mereka masih berumur tiga tahun dan belum sekolah. Mereka semua terlihat serupa. Hanya saja yang perempuan berambut ikal panjang, hampir menyentuh pinggang. Bersama orangtua mereka, anak-anak itu tinggal di gedung apartemen yang sama dengan dia.

Pertama pindah ke apartemen itu, enam bulan yang lalu, ia merasa senang mendapat tetangga yang baik. Ketika ia sedang sibuk mengatur barang-barangnya, tetangga itu mengetuk pintu rumahnya dan menyodorkan seloyang Victoria sponge cake. Saat itu ia mempersilakan mereka masuk ke rumahnya untuk berkenalan. Andy, Toni, Joseph, Sam dan Bobbie, demikian nama anak-anak mereka.

”Anak-anakmu sungguh elok,” ia memulai percakapan. Toni mengangguk dengan bersemangat dan mulai memuji-muji kebaikan anak-anaknya.

Toni bertubuh kurus dan pendek, berbeda dengan Andy yang berbadan besar dan berleher lebar. Andy berkepala botak, sementara ia tidak pernah tahu warna asli rambut Toni. Seingatnya, selama ia tinggal di apartemen ini, rambut Toni selau berganti-ganti warna: pirang, ginger, cokelat dan hitam. Mereka berdua selalu mengenakan pakaian olahraga bermerek Reebok, Nike atau Adidas. Mereka berdua senang tertawa-tawa kecil.

Satu hari sejak hari itu, ia mendapati lorong lantai apartemen mereka, yang tadinya bersih dan lapang, kini dipenuhi mainan anak-anak: tiga buah sepeda, tiga buah skuter, satu buah mobil-mobilan, satu buah motor plastik dan dua buah kereta dorong.

***

Ia kembali menggeliat. Matanya tak juga bisa terpejam. Ia tidak mendengar suara-suara dari luar. Ia membayangkan anak-anak itu sedang duduk kedinginan di tangga. Ia ingin bangkit dari tempat tidur dan mengundang anak-anak itu masuk ke rumahnya. Namun ia kembali mengurungkan niat. Tidak, dia tidak kesal dengan anak-anak itu. Tidak sama sekali. Tapi kepada orangtua mereka, ia sungguh merasa gemas. Bagaimana bisa mereka membiarkan anak-anak mereka sendirian, tanpa penjagaan dan pengawasan orang dewasa?

Ia berpikir, jika ia terus mengundang anak-anak itu bertandang ke rumahnya, bagaimana orangtua mereka bisa belajar dan kemudian mau berubah? Setidaknya dengan membiarkan anak-anak itu menunggu di luar, ia berharap mereka akan protes ke orangtua mereka dan kemudian orangtua mereka memikirkan hal tersebut lebih serius lagi: membagi waktu mereka berdua dengan lebih teliti atau membayar baby sitter untuk menjaga anak-anak mereka. Yang terjadi selama ini, Andy dan Toni seolah menganggap ia pasti selalu ada untuk anak-anak mereka. Seakan-akan sudah seharusnyalah ia menjaga anak-anak mereka ketika mereka sedang tidak ada. Terkadang, ia merasa dimanfaatkan secara licik oleh Toni dan Andy.

Seminggu sejak ia pindah ke apartemen ini, Toni mengetuk pintu rumahnya. Toni mengundangnya minum teh dan ia memenuhi undangan tersebut. Di sela basa-basi tentang cuaca, segelas teh dan sepiring Hobnob, Toni bertanya, ”Bisakah kamu menjaga Bobbie besok pagi? Tak lama, sekitar tiga jam saja. Dari jam 9 sampai 12.”

Ia tidak menyangka mendapat pertanyaan demikian di pertemuan pertama mereka, setelah perkenalan. Ia terdiam dan berpikir. Ia masih mengerjakan lukisan yang sama sejak dua bulan lalu, dan ia benar-benar ingin menyelesaikan lukisan itu secepatnya.

Toni, yang melihat ia lama berpikir, segera menambahkan, ”Bobbie anak yang baik. Dia tidak akan menganggumu. Nanti aku bawakan beberapa mainan untuk dia. Dia akan duduk tenang dan bermain sendirian.“

Setelah mendengar perkatan Toni yang seakan mendesaknya begitu, ia tahu ia tak bisa menolak. Akhirnya ia mengangguk.

Keesokan harinya, Bobbie, dengan piyamanya yang pudar, ditinggalkan Toni di rumahnya. Bobbie membawa sebuah papan gambar, boneka Barbie lengkap dengan mobil-mobilan berwarna merah muda dan sebuah kotak makanan. Semua bendak yang Bobbie bawa terlihat rusak dan kotor, termasuk kotak makanannya. Ia mempersilakan Bobbie duduk di sofa dan berkata jika Bobbie butuh sesuatu bilang saja, tak perlu sungkan. Ia pikir Bobbie akan duduk tenang bermain dengan mainannya. Tapi nyatanya tidak. Bobbie mengikuti ke mana pun ia melangkah sambil bertanya, ”Apa itu?“, ”Kamu sedang apa?“ dan ”Boleh saya ikut  bermain denganmu?“

Akhirnya ia menyerah. Ia meletakkan kembali cat dan kuas ke kotaknya. Sepertinya ia tidak akan bisa melukis selagi Bobbie ada di rumahnya. Ia menghabiskan waktu menemani Bobbie menggambar dan mewarnai. Tiga jam setengah berlalu ketika akhirnya Andy datang menjemput Bobbie.

Lima hari sejak itu, ia berpapasan dengan Toni di Market Square. Dan Toni, dengan riangnya, berkata, ”Terima kasih banyak sudah menjaga Bobbie. Rabu besok aku perlu bantuanmu lagi, boleh ya? Aku akan antar Bobbie jam 9 tepat ke rumahmu.“

Dan tanpa menunggu jawabannya, Toni melambaikan tangan dan berlalu dengan teman-temannya.

Sepertinya ia tertidur sekejap tadi. Jantungnya berdebar keras dan kepalanya berdenyut. Ia lupa menutup tirai dan di luar hari sudah pekat. Ia sempat kehilangan orientasinya akan waktu. Apakah ini malam hari atau telah pagi? Ia berbalik dan melirik jam di dinding. Pukul 4:30. Ternyata hari masih sore dan ia hanya sempat tertidur selama 45 menit. Ia melangkah ke dapur; menghidupkan ketel dan menuangkan sebungkus bubuk Lemsip ke mug. Untuk kedua kalinya, Rabu itu, Bobbie ditinggalkan Toni di rumahnya.

Untuk kedua kalinya, ia harus menemani Bobbie bermain selama hampir empat jam. Kali kedua ini, Bobbie terkencing di karpet ruang tamunya. Ia harus membersihkan karpet itu, membasuh Bobbie ke kamar mandi dan mencari pakaian yang bisa Bobbie kenakan (sebuah kaus yang menjadi daster bagi Bobbie).

Ketika akhirnya Toni datang menjemput Bobbie, ia bertanya. ”Sebenarnya apa yang kamu lakukan setiap Rabu pagi?“

Toni dengan wajah lelah, dan seperti mengeluh, berkata, ”Aku melakukan kerja sukarela di sebuah toko charity.“

Toni mengucapkan terima kasih dan menghilang di balik pintu rumahnya. Sementara ia masih tercenung di depan pintu. Kerja sukarela? Ia hampir tak percaya apa yang ia dengan. Ia tak habis pikir bahwa Toni bisa meninggalkan anaknya untuk sekadar melakukan kerja sukarela. Tidak masuk akal baginya. Dulu, ia harus berhenti dari pekerjaannya demi mengurus anak-anaknya. Dan sekarang Toni menyuruh ia menjaga Bobbie secara sukarela, tanpa bayaran, demi Toni bisa pergi menjadi relawan? Ia menggeleng-gelengkan kepala. Sungguh ia tidak habis pikir.

Beberapa hari dari itu, Toni meminta tolong untuk hal yang sama dan dia menolak. Ia beralasan sibuk mengerjakan lukisannya. Toni terlihat tidak senang akan penolakannya itu.

Ia memegang mug berisi Lemsip dengan kedua tangannya, mencoba menghangatkan tubuhnya yang menggigil. Beberapa kali, ia hirup Lemsip itu. Ia sudah terbiasa hidup sendiri. Sejak anak-anaknya dewasa dan pindah ke kota lain, lalu suaminya meninggal setahun yang lalu, ia harus melakukan semua hal sendiri. Termasuk belanja dan memasak di kala ia sedang sakit. Ia tidak pernah meminta bantuan orang lain. Ia tidak ingin merepotkan dan membebani orang lain dengan urusannya. Selama ini, ia merasa bangga telah mengurus dan membesarkan anak-anaknya seorang diri. Tidak pernah sekali pun ia meninggalkan anak-anaknya kepada orang lain, termasuk orangtuanya sendiri atau pun baby sitter. Tidak, ia mengingat-ingat, sekali pun tidak pernah ia mendahulukan kepentingannya dan keinginannya sendiri.

Sekarang suami dan anak-anaknya tidak lagi memerlukan pengasuhannya dan perawatannya, ia akhirnya bisa memperoleh kembali hal yang dulu dengan tulus ia serahkan kepada mereka: kebebasannya. Sekarang ia bisa melakukan apa pun yang ingin ia lakukan. Menjaga dan mengurus anak-anak kecil tidaklah termasuk dalam daftar hal-hal yang ingin ia lakukan. Namun, sejak ia tinggal di apartemen ini, rata-rata tiga kali seminggu ia harus membukakan pintu rumahnya untuk Joseph dan Sam. Beberapa kali, bahkan, Toni dan Andy tidak kembali hingga jam delapan malam. Menelepon mereka pun percuma: mereka tidak pernah mengangkat telepon darinya. Karena Joseph dan Sam kelaparan, ia harus memasak dan menyediakan makan malam untuk mereka. ia merasa harus melakukan semua itu. Ia merasa tidak tega. Tapi, tidak kali ini, kali ini, ia bertekad untuk tidak menaruh belas kasihan.

***

Ia menghabiskan Lemsip di mug-nya dengan sekali teguk, berharap sekejap lagi parasetamol akan bekerja dan menghilangkan nyeri di kepalanya. Ia baru saja berbaring di sofa dan berniat menonton televisi ketika ia mendengar ketukan di pintunya.

Toni berdiri di depan pintu. Bobbie berdiri tak jauh darinya. Ia melihat ingus hijau di antara hidung dan bibir Bobbie.

”Apa Joseph dan Sam ada di rumahmu?“

Ia menggeleng.

”Apa kamu tahu di mana mereka?“

Ketika anak-anak menanyakan di mana orangtua mereka, baginya itu sungguh menyedihkan. Dan sekarang, ketika seorang ibu menanyakan di mana anak-anaknya berada, ia kehabisan kata. Ia kembali menggeleng.

Toni mulai terlihat khawatir.

”Tolong kamu jaga Bobbie sebentar. Aku harus mencari Joseph dan Sam.“

Toni gegas menuju pintu keluar. Ia mendengar Toni memanggil-manggil nama kedua anaknya. Ia mengajak Bobbie masuk ke rumahnya, mengambilkan segelas susu dan membuatkan setangkup roti stroberi untuk Bobbie. Sebelum Bobbie mulai makan, ia mengambil tisu dan mengelap ingus yang sedari tadi menggantung di hidung Bobbie. Ia duduk di hadapan Bobbie yang dengan lahap mengunyah rotinya. ”Ke mana Joseph dan Sam pergi?“ pikirannya melayang. ”Apa mereka bosan menunggu di luar dan memutuskan main ke taman, tak jauh dari apartemen ini? Apa mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli jajanan, demi menahan lapar?“

Dua jam berlalu dan ia tidak mendengar kabar dari Toni. Di luar apartemen, kapas-kapas putih salju melayang perlahan dalam pekat malam.

Pukul delapan malam, ia mendengar suara-suara pintu dibuka dan orang ramai bercakap-cakap. Ia membuka pintu rumahnya. Toni terlihat menangis tersedu-sedu sementara Andy memeluknya. Tiga orang polisi berdiri tak jauh dari mereka.

“Kalian tahu bahwa kalian tidak boleh meninggalkan anak-anak sendirian?” tanya seorang polisi.

”Tapi biasanya mereka menunggu kami pulang. Tidak pergi ke mana-mana,” Andy membela diri.

”Biasanya mereka pergi ke rumah tetangga kami,” Toni menimpali.

Saat itu Toni menoleh ke arahnya dan menyadari keberadaannya.

”Apa Joseph dan Sam memanggilmu tadi?“

Ia mengangguk.

Seperti menemukan harapan baru, mereka segera mendekatinya.

”Lalu apa yang terjadi?“ tanya seorang polisi.

”Aku menyuruh mereka menunggu orangtua mereka.“

”Kamu tidak membukakan pintu?“

Ia menggeleng.

”Mengapa?“

”Aku sedang demam,“ jawabnya.

”Jam berapa itu?“

”Sekitar setengah empat.“

”Lalu apa yang kamu ketahui setelah itu?“

Ia mengangkat bahu, ”Aku tertidur.“

Toni meraung, ”Setidaknya kamu bisa membukakan pintu utama dan membiarkan mereka menunggu di lorong!“

Ia terdiam. Mereka semua memandangnya lekat. Seakan menyalahkan ia.

”Bobbie! Bobbie! Kita harus pergi sekarang!” Toni berteriak, gegas mengambil Bobbie yang muncul dari dalam rumah.

Ia berdiri canggung di depan pintu. Hingga akhirnya tiga polisi itu pergi keluar apartemen bersama Andy dan Toni membawa Bobbie masuk ke rumah mereka, membanting pintu sekuat ia bisa; ia menutup pintunya pelan-pelan.

***

Lima hari berlalu sejak hari itu. Beberapa kali polisi dan pekerja sosial datang ke rumahnya atau menghubunginya lewat telepon. Toni dan Andy tidak pernah lagi menegurnya ketika mereka berpapasan di lorong apartemen. Di tiang-tiang lampu jalan dan dinding-dinding gedung di sekitar kota, selebaran dengan foto Joseph dan Sam ditempel. Di koran-koran dan televisi, berita tentang hilangnya mereka berdua menjadi pokok berita.

Ia sering terbangun dari tidurnya di tengah malam dan menemui dirinya menangis dan berkeringat. Terkadang, ia berdiri berjam-jam di depan buzzer, mengangkat gagangnya, dan menekan tombol kunci, berkali-kali. Ia pun kerap berdiri di depan jendela, menunggu Joseph dan Sam pulang. Namun yang ia lihat hanyalah pekat malam, kapas-kapas salju yang terbang dipermainkan angin dan pantulan wajahnya di kaca jendela; seorang perempuan tua, bertubuh kecil dan kurus, berambut perak, berwajah keriput dan terlihat nelangsa. Ia acap kali mereka mendengar dering buzzer, bergegas berlari untuk mengangkat gagangnya, tapi hanya desir angin yang menyapa. Tidak lagi ia dengar suara Joseph dan Sam.

It’s too late,” gumamnya. Dan bukankah “terlambat” adalah kata yang paling menyedihkan yang bisa diucapkan manusia?

 

 

Lancaster, Desember 2013.

 

Rilda A.Oe. Taneko berasal dari Lampung dan sejak tahun 2005 ia menetap di Inggris. Kumpulan cerita pendeknya, Kereta Pagi Menuju Den Haag (2010).

2 Responses

  1. Suka banget ><
    Betapa yang kita anggap sepele bisa bisa berakibat fatal

    Like

  2. Seringkali kebaikan kita dimanfaatkan orang lain. Tapi, saat kita mencoba tidak perduli selalu saja berbuah penyesalan. Hidup memang sulit. Ceritanya bagus!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: