Warung Nyi Taslima


Cerpen Badrul Munir Chair (Suara Merdeka, 9 Februari 2014)

Warung Nyi Taslima ilustrasi Hery Purnomo

TAK ada kopi yang lebih nikmat daripada kopi buatan Nyi Taslima. Kopikental hitam agak pahit dengan larutan daun pandan yang aromanya mengundang selera, kopi yang dipetik dari kebunnya sendiri lalu disangrai pada kuali lempung, dengan tambahan rempah rahasia, resep warisan nenek moyang. Gula merah sari siwalan yang dipilih Nyi Taslima menjadikan kopi buatannya semakin kental dengan rasa manis yang hanya sesekali datang, sebab gula merah itu tak sepenuhnya larut dalam seduhan.

Ah, ketika mencium aromanya, seakan-akan seduhan kopi sudah menyentuh kerongkongan. 

Setiap pagi, tukang becak dan kernet angkot yang sedang menunggu penumpang sering mangkal di warung Nyi Taslima.Warung yang menghadap jalan raya, beratapkan asbes dan berdindingkan papan kayu. Kursi-kursi memanjang mengelilingi meja persegi tempat menyajikan aneka makanan dan camilan.

Warung Nyi Taslima memanglah strategis karena terletak di tepi jalan raya tak jauh dari pertigaan di persimpangan jalan ke arah kota dan pantai utara. Biasanya, para penumpang angkot yang kebanyakan pedagang ikan, kerap menunggu di bangku warung itu, menunggu angkot penuh atau menunggu sopir menghabiskan segelas kopi.

Begitupun kami, anak-anak sekolah yang baru belajar ngopi, kerap kali mampirdi warung Nyi Taslima untuk membeli sarapan nasi bungkus, atau berteduh dari sengatan matahari ketika pulang sekolah dan sekadar menikmati aneka gorengan juga camilan kecil sembari menyaksikan para kernet, sopir, dan tukang becak bertaruh bermain kartu remi.

Bi Sumi, anak perempuan Nyi Taslima, sering cemberut dan mengomel ketika kami ikut nimbrung menyaksikan sopir angkot dan tukang becak itu berjudi.  “Kalian masih SMP, jangan ikut-ikutan jadi pemalas. Sekolah saja yang pintar,” begitulah Bi Sumi sering menasihati kami.

“Cepat pulang, orang tua kalian pasti menunggu!”  Secara halus Bi Sumi seringkali mengusir kami yang sedang asyik menikmati permainan dan secangkir kopi.

‘’Lebih baik jadi pemalas daripada jadi maling!’’ Jupri, si tukang becak itu menyindir Bi Sumi, disambut gelak ngakak orang-orang yang berada di warung siang itu. Kulihat wajah Bi Sumi pucat, sedangkan Nyi Taslima diam-diam menitikkan air mata.

Di kampung kami, sudah menjadi rahasia umum jika Abdur Rajah, suami Bi Sumi, adalah seorang maling. Tak terhitung lagi sudah berapa kali Abdur keluar masuk penjara. Untungnya Abdur tak pernah sekalipun mencuri di kampung kami. Biasanya, Abdur bersama komplotannya membobol rumah di kecamatan sebelah, sebelum kemudian Abdur kembali tertangkap dan dijebloskan ke penjara dua hari yang lalu.

Namun ramainya berita tentang tertangkapnya Abdur untuk kesekian kalinya tak pernah bisa mengalahkan ramainya warung Nyi Taslima. Rasa kopi di warung itu tentulah lebih enak untuk dinikmati daripada perbicangan basi tentang tertangkapnya Abdur. Perbincangan yang menarik di warung itu hanyalah perihal kartu remi dan taruhan, pertandingan bola tadi malam, tentang cuaca yang menyebabkan nelayan rehat melaut, hingga perihal angkot dan becak mereka yang sepi penumpang.

Sepinya penumpang menjadi alasan parasopir dan kernet angkot itu untuk berlama-lama mangkal di warung Nyi Taslima. Bermain kartu remi dibumbui taruhan menjadi pelepas penat, selain juga untuk menambah penghasilan bagi yang menang. Abdur bukanlah topik menarik untuk dibicarakan, mungkin mereka merasa tak enak hati dengan Nyi Taslima dan Bi Sumi. Lagipula, Abdur tak pernah lama mendekam di penjara. Dalam waktu kurang dari satu bulan, Abdur kembali bebas dan sesekali menampakkan batang hidungnya di warung Nyi Taslima.

***

Kemasyhuran warung Nyi Taslima di kampung kami memanglah tiada tandingan. Namun lazimnya setiap ketenaran, warung Nyi Taslima juga tak lepas dari cerita miring dan gunjing. Begitu banyak cerita yang didengungkan orang-orang kampung perihal warung Nyi Taslima, keluarga, dan kopi nikmat buatannya.

Pernah kami mendengar cerita dari kakek salah seorang kawan kami. Dulu, sebelum tanah di tepi jalan itu ditempatiwarung Nyi Taslima, di lahan itu berdiripohon asam besar yang kerap mencelakakan para pengguna jalan. Tak terhitunglagi berapa jumlah kendaraan yang mengalami kecelakaan di sekitar pohon asam itu, juga tak sedikit kendaraan besar seperti truk dan bus, yang menghantam batang pohon asamitu hingga menelan banyak korban.

Ketika pohon asam itu kemudian ditebang, semakin banyak saja kejadian ganjil. Seorang sopir angkot mengaku pernah menabrak seorang perempuan yang tiba-tiba menyeberang di sekitar pohon asam yang baru ditebang itu hingga tubuhnya hancur dan ususnya terburai. Namun anehnya, tak ditemukan sedikit pun bercak darah di angkot dan badan jalan, apalagi bekas adanya tabrakan.

Maka ketika Nyi Taslima mendirikan warung di tepi jalan yang terkenal angker itu, semakin banyak cerita miring yang beredar. Tentang tumbal empat ekor kepala kambing yang ditanam di setiap sudut warung. Tentang sesajen yang dihadiahkan Nyi Taslima kepada makhluk halus penunggu lahan itu setiap Selasa Kliwon, cerita ini sedikit masuk akal karena diperkuat dengan tutupnya warung Nyi Taslima setiap hari itu.

Namun cerita yang paling kami sukai tentu saja cerita tentang Bi Sumi. Perempuan berusia tiga puluhan berparas ayu dengan tahi lalat kecil di dagunya. Bi Sumi kerap memakai baju ketat sehingga tonjolan di bagian dada dan pinggulnya tercetak rapi. Senyumnya yang penuh isyarat godaan ketika menghidangkan menu pesanan tak jarang membuat para kernet, sopir angkot, dan tukang becak, para pelanggan setia warung Nyi Taslima, menelan ludahnya mentah-mentah. Kerlingan mata nakalnya kerap membangkitkan fantasi kami yang beranjak remaja.

Maka beredarlah cerita, bahwa warung Nyi Taslima tak hanya digunakan sebagai tempat mangkal para kenek, sopir angkot, dan tukang becak pada pagi dan sore hari, melainkan juga sebagai ‘’tempat penginapan sementara’’ lelaki kesepian pada malam hari.

Sedangkan Abdur Rajah, ah, nama yang membuat bulu kuduk kami berdiri. Siapa yang tak kenal nama itu di seantero kampung ini? Raja Maling, Ketua Bajingan,dan sederet julukan lain yang semakin memantapkan eksistensinya di dunia kriminal. Badan tegap tinggi menjulang. Sorot matanya yang tajam membuat kami tak kuasa menatapnya terlalu lama. Tato naga di lengan kanannya, bekas jahitan memanjang di kening kirinya, ujung kumisnya yang meliuk bagai ombak menjadikan sosoknya semakin sangar dan menakutkan.

Dari bisik-bisik sopir angkot dan tukang becak, kami pernah mendengar bahwa sebenarnya Abdur adalah seorang dukun. Sampai sekarang, masih banyak orang yang meminta petunjuk padanya tentang jodoh, karir, hingga asmara. Tak jarang, para pejabat juga kerap mendatanginya untuk meminta petunjuk agar naik jabatan, menjatuhkan saingan, hingga menaklukkan istri tuanya.

Konon, Abdur tahu kapan waktu yang tepat untuk mencuri,bisa  memperdaya penjaga keamanan, hingga memilih rumah dan target yang tepat ketika akan melakukan pencurian. Abdur bisa begitu mudah keluar penjara karena mengelabui sipir penjara dengan mantra ampuhnya. Kalian boleh percaya, boleh tidak. Entahlah!

Suatu pagi pada hari Sabtu, kami ingat betul harinya karena ketika itu kami mengenakan seragam pramuka, kami melihat Abdur duduk di warung Nyi Taslima. Sorot matanya yang tajam menatap ujung jalan yang mulai ramai. Sebatang rokok kretek dihisapnya dalam-dalam.

Melihat sosok Abdur, saat itu kami sempat mengurungkan niat untuk membeli sarapan di warung Nyi Taslima. Namun tiba-tiba suara berat memanggil kami dan mempersilahkan kami duduk di kursi papan yang sedari tadi didudukinya sendirian. ‘’Duduk di sini!’’ Suaranya berat, hingga membuat jantung kami berdetak lebih cepat.

Ah, bertemu Abdur hanyalah sedikit tantangan bagi kami untuk menikmati kopi nikmat buatan Nyi Taslima, selain antrean yang cukup panjang yang tak jarang membuat kami terlambat tiba di sekolah, juga omelan orang tua yang percaya akan cerita-cerita miring tentang warung Nyi Taslima hingga mereka kerap melarang kami membeli sarapan di situ.

***

Ramai gunjing dan cerita-cerita miring mengenai warung Nyi Taslima tak pernah menyurutkan niat kami untuk selalu mendatangi warung itu. Menyaksikan sopir angkot, kenek, dan tukang becak bertaruh bermain kartu remi. Menikmati kopi kental hitam agak pahit dengan larutan daun pandan yang aromanya mengundang selera, buatan Nyi Taslima. Mengisi perut dengan aneka makanan, gorengan, dan camilan yang tak kalah nikmatnya. Diam-diam mencuri pandang ke tonjolan dada dan lekuk tubuh Bi Sumi yang memantik berahi.

Sepertinya tak pernah sehari pun kami alpa mengunjungi warung Nyi Taslima, kecuali ketika warung itu tutup setiap hari Selasa Kliwon.

Hingga suatu subuh, puluhan orang tak dikenal beramai-ramai mendatangi warung Nyi Taslima. Mengacungkan celurit dan berbagai senjata tajam. Mengenggam batu seukuran kepalan tangan yang kemudian dilemparkan ke warung Nyi Taslima.

“Hancurkan!”

“Warung maksiat!”

Orang-orang yang tidak kami kenali itu semakin membabi buta menyerang warung Nyi Taslima. Menghujani warung dengan batu-batu seukuran kepalan tangan. Mengacungkan celurit dan berbagai senjata tajam. Meneriakkan sumpah-serapah dan ancaman. Tak beberapa lama kemudian, orang-orang itu membakar warung Nyi Taslima tanpa bisa kami hentikan. Api melalap seisi warung Nyi Taslima.Dari kejauhan, kami hanya pasrah melihat asap yang menghitam, warung yang ambruk, mencium aroma kopi yang hangus, mendengar gemeretak kayu yang perlahan menjadi arang. Entah di mana Nyi Taslima dan Bi Sumi? Kami tak melihat bayangan seorang pun di dalam warung.

Pagi menjelang, sisa-sisa arang dan puing warung Nyi Taslima yang berserakan masih jelas dalam pandangan. Kami hanya menatapnya sembari kembali mengingat kenangan. Mengingat para kenek, sopir angkot, dan tukang becak yang bertaruh sembari menyeruput nikmatnya kopi di pagi hari. Mengingat ketika kami, anak-anak sekolah, yang berebutan nasi bungkus di warung Nyi Taslima agar tak kehabisan. Tentu juga mengingat kenikmatan kopi kental hitam agak pahit dengan larutan daun pandan dan gula merah sari siwalan yang rasanya sungguh tiada tandingan.

Entah bagaimana kami harus melewati hari-hari kami, terutama pagi hari, tanpa sarapan nasi bungkus dan menikmati kopi di warung Nyi Taslima. Entah di mana lagi sopir angkot dan tukang becak itu akan beristirahat melepas penat, bermain kartu remi, lalu membagi cerita-cerita kocaknya kepada kami. Entahlah!

Beberapa hari kemudian cerita tentang musabab pembakaran warung Nyi Taslima pun mulai bermunculan. Tentang Bi Sumi yang pada malam harinya sempat berteriak ketakutan. Tentang orang-orang yang tak kami kenali yang merusak dan membakar warung Nyi Taslima, yang menurut kabar burung, adalah orang suruhan. Juga tentang Nyi Taslima dan Bi Sumi yang sampai kini keberadaannya belum kami ketahui.

Cerita demi cerita yang terus bermunculan tak bisa menghibur hati kami yang kehilangan. (*)

 

 

Badrul Munir Chairlahir diAmbunten, Sumenep, 1 Oktober 1990. Karya-karyanya berupa cerpen dan puisi dimuat di sejumlah media massa dan beberapa antologi cerpen seperti “Di Pematang Pandanaran” (Matapena: Yogyakarta,2009), “Bukan Perempuan“ (Grafindo).

One Response

  1. Sayang sekali, mengapa cerpen ini dikirim ulang. Saya sudah membaca cerpen ini di buku “Bulan Kebabian” nominasi lomba cerpen Untirta 2012 lalu.

    Tetapi tak masalah, katanya cerpen bagus harus dibaca banyak orang.

    CMIIW

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: