Lima Cerpen Sapardi Djoko Damono


Cerpen Sapardi Djoko Damono (Kompas, 9 Februari 2014)

Lima Cerpen Sapardi Djoko Damono ilustrasi Rifda Amalia

WARTAWAN Itu Menunggu Pengadilan Terakhir

Seperti yang sudah seharusnya, pada hari baik itu saya mati. Kata seorang sahabat dalam sebuah sajaknya yang mahaindah, kita semua ini turis yang dibekali karcis dua jurusan. Dan tentunya, pikir saya, kita tidak boleh menyia-nyiakan tiket pulang itu. Saudara tahu, saya wartawan sebuah majalah berita. Dididik untuk mengembangkan naluri mewawancarai orang. Itu sebabnya ketika harus menunggu giliran maju ke Pengadilan Terakhir, yang entah kapan dilaksanakan, naluri saya mendadak menyembul. Saya celingak-celinguk di antara begitu banyak orang (mati) dan, alhamdulillah, ketemu seorang (sic!) Malaikat yang sedang tugas keliling mengamati kami. Saya mendekatinya.

”Kalau boleh tanya, apa saya bisa menemui Kakek kami?” 

Malaikat semua baik, ternyata. Ia memegang bahu saya, sorot matanya menimbulkan suasana sejuk sehingga saya berpikir sudah berada di sorga. Tetapi kan belum ada keputusan saya nanti dikirim ke mana. Supaya tidak kelihatan konyol sebagai wartawan saya lanjutkan pertanyaan saya.

”Boleh, ya, Mas?” Aku kaget sendiri ketika menyebutnya ’mas’, tapi Malaikat itu memang baik. Saya tidak bisa menerka umurnya, dan lagi apa malaikat punya umur? Saudara pasti tahu, saya meninggal ketabrak angkot ketika sedang naik motor melaju ke sebuah rumah sakit untuk bezuk seorang rekan yang koma. Malaikat itu tahu siapa saya, ya itu jelas.

”Boleh saja, kenapa tidak? Mau wawancara, kan? Mari saya antar ke sana.”

Ia benar-benar Malaikat baik. Setelah sampai di tujuan, ia menuding ke arah seorang yang lagi duduk di bawah sebuah pohon, lalu segera meninggalkan saya.

Saya mendadak jadi kikuk, kaget dan kikuk. Kenapa kesempatan serupa ini tidak pernah saya dapatkan ketika masih jadi wartawan? Saya pun mendekati Kakek kita itu, siap-siap pertanyaan apa yang akan saya ajukan. Dan ketika sudah dekat dengannya, saya berhenti. Saya timbang-timbang lagi apa jadi mewawancarainya atau tidak. Terus-terang, saya takut mengganggunya.

Soalnya, tampak Kakek kita itu sedang mengunyah-unyah buah khuldi. Saya tidak melihat Nenek kita dan ular itu, entah di mana mereka. Tidak perlulah saya melakukan investigasi, toh redpel tidak akan bisa lagi memarahi saya. Namun, bagaimanapun, saya harus melakukan wawancara. Itu bagian hidup saya.

***

Dalam Tugas

Aku sedang bertugas meliput peperangan yang terjadi di negeri sahabat. Tak usah diberitakan bahwa penyebabnya adalah kemauan yang punya kuasa untuk ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Tapi aku tidak mau memasalahkannya sekarang ini, tugasku jauh lebih luhur dari pertanyaan filsafat atau politik yang susah menjawabnya.

Aku aman, berada di daerah pihak yang menang saat ini. Beberapa tahanan dibariskan siang itu, disuruh (maksudnya disiksa) macam-macam, dan akhirnya salah seorang lelaki yang pakaiannya kumal dan pakai caping—mungkin ia petani—disuruh maju ke depan. Seorang serdadu mendekatinya, mengacungkan pestol, menempelkan moncong senjata itu tepat di pelipis si petani, dan dor!

Aku tidak bisa berbuat lain kecuali menekan tombol kamera yang sudah sejak tadi aku siapkan, juga untuk menembak. Tidak ada yang mempersoalkan kenapa aku tidak menolong petani itu, dan malah ambil gambarnya.

Si korban roboh. Semua sudah terekam dalam kameraku. Aku setengah tak percaya ketika menyaksikan tubuh yang roboh itu pelahan-lahan naik seperti terangkat angin, ringan sekali, semakin tinggi, semakin tinggi. Namun, aku saksikan nyawanya masih tegak bergeming di tanah. Aku melihatnya jelas. Aku keheranan, tentu saja. Seorang serdadu mendekatiku dan dengan tenang berkata, ”Bung kan wartawan, jangan suka heran begitu, dong. Setiap kali ada pembangkang mati ya begitu. Tenang saja, lama-lama Bung juga terbiasa.”

Aku tengok ke arah suara itu. Aku tak boleh kaget ketika melihat tampang serdadu itu persis redpel majalahku.

***

Naik Ka-Er-El

:Bambu

Aku pernah kerja di sebuah majalah berita ketika masih berkantor di Senen. Setiap hari harus naik angkot gonta-ganti tiga kali dan setiap masuk kendaraan kepalaku membentur bendul pintu yang rendah, sedikitnya dua kali seminggu, begitu. Jadi, satu kali jalan tiga angkot, pulang balik enam angkot; kalau dua kali seminggu berarti seminggu benjut dua kali enam = 12 kali. Sebulan empat kali 12 = 48 kali benjut. Akhirnya tidak ada bagian yang bisa benjut lagi karena seluruh permukaan kepalaku sudah benjut.

”Lha mbok naik ka-er-el saja, Mas. Nyaman,” kata seorang gadis cantik yang duduk dekat ketua redaksi; ia wartawan baru.

Ya, kenapa tidak begitu saja dulu-dulu, pikirku. Begitulah, sore itu menjelang jam empat beberapa pegawai mengajakku buru-buru kabur supaya tidak ketinggalan kereta jam empat. ”Lumayan kosong, Mas, kalau yang jam empat,” kata salah seorang ketika menuju ke Stasiun Cikini.

Sampai di stasiun, saya tidak boleh menunjukkan tampang orang kaget meskipun menyaksikan begitu banyak orang bergerombol menunggu kereta. ”Apa gerbong-gerbong itu nanti muat?” tanyaku dalam hati. Dalam gerbong tak tersisa lagi pegangan tangan, dan memang tak perlu sebab tanpa berpegangan apa pun tak akan jatuh saking penuhnya. Sepatu menginjak sendal, dengkul beradu dengkul, bokong menyenggol bokong.

Sampai di stasiun tujuan, tidak perlu berusaha apa pun aku terbawa turun tergencet orang-orang yang berdesakan. Turun dari gerbong aku berjalan terpincang-pincang menuju angkot D-04 yang sudah berbaris. Sampai di rumah, kalimat pertama yang diucapkan anakku ketika membukakan pintu adalah, ”Lho, Pak, kok sepatunya kiri dan kanan gak sama?”

Aku tak menjawab karena tak tahu harus bilang apa. Dan ketika dalam kamar berganti celana, baru aku sadar bahwa kakiku yang kiri dan yang kanan tak sama panjangnya, yang kiri bukan kakiku ternyata. Pantas tadi jalanku terpincang-pincang. Tanpa pikir terlalu panjang aku ganti celana lagi langsung berlari keluar, menabrak istriku, mendorong anakku, membuka pintu pagar.

”Hei, Bapak mau ke mana?” tanya mereka hampir serempak.

Apa ada yang perlu aku jawab? Berjalan terpincang-pincang aku ke jalan menunggu angkot. Akan aku tanyai semua orang di stasiun apa ada yang melihat orang yang membawa kabur sebelah kakiku.

Aku akan sabar menunggu.

***

Naik Garuda

Yang paling aku nikmati ketika naik Garuda adalah membayangkan diriku sebagai dewa yang ke mana-mana berkendaraan burung perkasa itu. Tapi ada hal lain, yang paling aku kawatirkan adalah kalau di ketinggian sekian puluh kilometer mendadak mesinnya mati dan kami rame-rame nyangsang di hutan atau nyemplung di laut.

Jadi, supaya merasa tenang, begitu menginjak anak tangga paling bawah aku buru-buru berdoa seingatku saja mengikhlaskan seluruhnya: tubuh, nyawa, dan kenangan yang ada dalam benakku.

Yang paling aku benci ketika naik Garuda adalah kalau kebetulan di dekat jendela sebelahku duduk seorang lelaki tua, sendirian saja, yang begitu duduk langsung ngorok. Tawaran permen, minuman, dan roti oleh pramugari (yang susah-susah kerja melalui seleksi) sama sekali tak dipedulikannya. Mungkin tak dirasakannya juga ketika Garudaku menembus cuaca buruk atau disedot udara kosong. Mungkin ia juga tidak berdoa ketika penumpang lain ndremimil setelah mengeluarkan kitab saku yang isinya doa.

Dan yang bikin aku kapok adalah ketika lelaki tua di sampingku itu tidak lagi terdengar ngorok, dan ketika Garudaku sudah mendarat dan ketika kami berebut bangkit mengambil barang bawaan ia tetap tak beranjak dari tempat duduknya. Tampaknya ia sudah bebas dari ikatan dunia, tak mempedulikan kami lagi.

Sejak itu aku benar-benar kapok naik Garuda.

”Tapi Bapak mau naik apa, hayo?” tanya orang kantor yang suka membelikan tiket.

***

Meditasi Sunan Kalijaga

: Nano Riantiarno

Sahabatku, yang barusan lulus dari sebuah sekolah drama terkemuka di Jepang, mengajakku nonton pertunjukan drama ”Meditasi Sunan Kalijaga” yang, menurut kata-katanya, ”pasti akan sangat istimewa.” Aku sudah lama tidak pergi bersamanya; sekarang mumpung ada kesempatan bisa ngobrol lagi dengannya. Depan Gedung Kesenian dipenuhi calon penonton yang berpakaian rapi, ada yang pakai jas, ada yang pakai jaket. Aku jadi agak kikuk sebab hanya pakai baju lengan pendek dan celana jeans yang sudah agak belel. Sahabatku hanya pakai t-shirt.

Sampai di dalam gedung baru aku sadar bahwa memang perlu pakai pakaian lengkap karena AC-nya dingin sekali. Setelah pengumuman basa-basi tentang larangan memotret dan menyalakan telepon seluler, layar dibuka. Lampu gedung dimatikan. Panggung sepi dan gelap. Ketika menjadi semakin terang tampak bayang-bayang seorang mengenakan sorban yang duduk bersila. Tidak ada sosok lain. Tidak ada pula benda lain di panggung. Tidak ada suara. Tidak ada musik. Tidak ada gamelan.

Kami, penonton, semua menunggu. Sepuluh menit. Lima belas menit, tiga puluh menit. Tidak ada di antara kami yang tampak gelisah, semua tenang, setenang panggung. Dan kami dengan tajam mengarahkan pandangan ke panggung, menanti apa yang akan terjadi. Bayang-bayang sosok itu tetap tidak bergerak sama sekali.

Tetapi kami tidak pasrah, kami tetap menyimpan keingintahuan dan, tentu saja, kesabaran menunggu apa yang akan terjadi di panggung. Pada satu titik ketenangan kami, di panggung muncul seekor kucing dari arah kiri, menengok kiri-kanan seperti mencurigai sesuatu, lalu menyeberang panggung. Semua pandangan diarahkan kepadanya, kepala kami pelahan serempak bergerak dari kiri ke kanan sampai kucing itu hilang dari pandangan diikuti oleh paduan suara desah kami, sangat panjang dan pelan, menandakan kekaguman. Setelah itu panggung kembali lengang seperti semula.

Kami sangat lega, setidaknya ada sesuatu yang terjadi di panggung. Dan persis sejam setelah dibuka, layar pun ditutup. Lampu ruangan menyala pertanda pertunjukan usai. Seorang pembawa acara (tampaknya begitu) muncul dari arah kiri, membungkuk sopan.

”Terima kasih atas kehadiran Anda semua malam ini. Kami mohon maaf sebesar-besarnya bahwa selama pertunjukan yang seharusnya khusyuk tadi ada seekor kucing lewat. Itu di luar rencana kami. Untung saja Sunan Kalijaga tidak terganggu meditasinya oleh si kucing. Sekali lagi kami mohon maaf. Lain kali kami tidak akan membiarkan kucing berkeliaran di panggung.”

Gedung pun riuh-rendah oleh tepuk tangan kami.

9 Responses

  1. Salam hormat untuk sapardi Djoko Darmono

    Like

  2. Reblogged this on See, Hear, Write It!.

    Like

  3. bagus!

    Like

  4. Sukasukasuka!

    Like

  5. suka sekali 🙂
    http://mahisaajy.web.id/blog/

    Like

  6. Kok keren yaa 😀 suka

    Like

  7. Reblogged this on pingkanayudita.

    Like

  8. Reblogged this on the free bunny.

    Like

  9. Lima Cerpen Sapardi Djoko Damono sangat menghibur saya ketika sedang “galau tingkat provinsi”. Sukses Sapardi Djoko Damono.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: