Cerpen Candra Malik (Kompas, 2 Februari 2014)

Gadis Kupu-Kupu ilustrasi Tatang BSP

SEHELAI daun jatuh dari setangkai mawar, disusul derai bulu-bulu bunga ilalang yang berguguran. Senja dan angin laut melepas rekah-rekah kulit semesta di garis cakrawala. Merah bata berubah warna, menggelap, lambat laun menggulita. Bintik-bintik di atas sana, bintang-gemintang itu, ah, tak ada yang disebut rasi kupu-kupu.

Langit tak lagi sebenderang ketika engkau datang. Masih di sini aku menantimu, memegang selembar kertas bergambar kupu-kupu. Engkau berjanji mewarnainya dengan pastel biru. ’Mana ada kupu-kupu bersayap biru?’ tanyaku. ’Ada! Kupu-kupu angkasa. Dia terbang sangat tinggi, menyatu dengan langit,’ jawabmu. 

Kita masih sangat hijau saat saling berkenalan. Di gurun pasir pesisir ini, kita mengkhayalkan taman yang sama: tak perlu kaktus. Kita lebih suka mawar, liuk-lekuk sungai dangkal yang airnya bening menampakkan batu-batu, dan Dandelion yang berkejaran ditiup angin. ’Satu lagi. Harus ada bunga matahari. Harus!’ pintamu.

Jika ada bunga matahari di sini, kupu-kupu angkasa tak perlu ke sana, pergi ke langit untuk menghisap sari bunga. Ah, kupu-kupu bersayap biru, ada-ada saja engkau ini. Tapi, itulah yang aku rindukan dari kehadiranmu. Kini, aku menertawakan kebodohanku sendiri membacakan ensiklopedia kupu-kupu kepada siswa-siswi di kelas empat ini.

”Ada ratusan spesies kupu-kupu di dunia. Dua di antaranya bersayap biru, yaitu Polyommatus bellargus dan Morpho rhetenor helena.”

”Bolehkah gambar kupu-kupu ini saya warnai merah menyala, Pak Guru?”

”Boleh, Tanaya. Warnai sesukamu. Anak-anak, bebaskan idemu. Warnai kupu-kupu sesuai khayalan kalian. Lalu, sore nanti, temukanlah kupu-kupu itu di taman.”

Anak ini mengingatkanku pada tatap matamu. Setiap melihatku, engkau seperti melamun, seperti melihat lebih dalam dari sekadar bertemu pandang. Lalu, engkau tiba-tiba tersenyum dan berpaling meninggalkanku, memburu kupu-kupu yang diam di ujung sana. ”Ssssst, kita harus mengendap-endap. Jika engkau berlari, dia akan terbang!”

Engkau mengatupkan bibir, dengan sebatang telunjuk kauletakkan bagai slot kunci pintu gerbang, dan spontan aku mematung. Pelan, pelan, pelan, hap! Telunjuk dan ibu jarimu berhasil menangkap sepasang sayap kupu-kupu. Engkau menari-nari kegirangan mengejek aku yang sering gagal dalam operasi perburuan setiap senja itu.

Aku mencintaimu, kurasa. Ya, kurasa itulah alasanku datang setiap senja di taman ini, kadangkala lebih dulu tiba, tapi lebih sering terlambat. Sore itu, bibir mengerucut dan mata cemberut yang kuterima darimu. ”Lama amat! Nih!” Engkau langsung pergi dari taman, seraya menyodorkan baju hangat dari rajutan benang wol hijau kesukaanku.

”Terimakasih. Eh, mau ke mana?”

Punggungmu lenyap di ujung jalan, dan enyahlah jawaban yang kutunggu. Baju hangat ini, ah, ada bordir kupu-kupu di bagian dada kiri. Seharusnya engkau mengucap lebih dari kalimat itu, entah mengapa bergegas pergi. Baju hangat ini untukku? ”Ya, untuk kado ulang tahunmu, bodoh!” aku menggumam sendiri di ruang kelas.

Siswa-siswi sudah pulang. Pelajaran menggambar, mata pelajaran dariku, adalah jam terakhir mereka. Tanaya, siswa baru dari Ubud, mengingatkan aku padamu. Pada pesisir, gurun pasir, Dandelion, angin laut, dan kupu-kupu. ”Aku Tanaka,” ujarku, mengulurkan tangan ke arahmu. ”Aku Tanaya,” tukasmu. Kita bersalaman, tertawa.

Nama kita mirip. Engkau pindah dari Bandung, aku dari Surabaya, dan kita berjumpa di Yogyakarta. Ayahmu dan ayahku sesama pegawai perusahaan kereta api. Sekali keluarga pegawai berkunjung ke Pantai Parangkusumo, abadi ingatan kita yang melihat sejoli kupu-kupu berkejaran lalu hinggap di rumpun bunga matahari.

”Gara-gara kupu-kupu Lepidoptera, aku jadi suka juga warna oranye.”

”Lepidoptera?”

”Ya. Kupu-kupu oranye di Pantai Kupu-Kupu, Langkat, Sumatera Utara.”

”Pantai Kupu-Kupu? Aku harus ke sana!”

Ya, engkau harus ke sana, Tanaya. Tapi, tidak hari ini. Tidak senja ini. Tadi malam, kita berjanji akan bertemu lagi di taman khayalan ini. Kubawa kertas bergambar kupu-kupu darimu, yang harus engkau warnai dengan pastel biru. Apakah engkau balas dendam padaku setelah dua hari lalu datang sangat telat? Engkau masih marah?

Malamnya aku sudah bertandang ke rumahmu membawakan sepotong kue dan mengucap terimakasih untuk baju hangat kado ulang tahun ini. Ini, aku pakai sore ini, baju hangat dengan bordir kupu-kupu di bagian dada kiri. Tak seharusnya begitu marah engkau padaku. Bahkan aku membantumu memasukkan baju-baju ke kardus.

Ya, Tuhan! Baju-baju, kardus-kardus. Engkau, engkau mau pergi ke mana? Alangkah bodoh aku yang melumat habis kudapan bikinan ibumu sambil membantu kalian merapikan rumah. Bodoh benar aku. Kusangka malam itu kalian merapikan rumah. Sampai rapi betul. Hampir semua perkakas dan baju dimasukkan ke kardus-kardus.

Butuh tumbuh mendewasa dulu untuk akhirnya paham ternyata malam itu malam terakhir kita. Engkau pergi tanpa berpamitan, dan aku menunggu di taman, tak bergairah mengejar kupu-kupu seperti senja-senja yang telah kita jalani selama bertahun-tahun. Dari taman, aku mendatangi rumahmu. Tak lagi berpenghuni.

Kata ayahku, kalian pindah ke Jakarta. Dan, kami pun tak lama lagi akan ke Surabaya. Ayahmu diangkat menjadi kepala stasiun di Cikini, sedangkan ayahku memilih kembali ke kampung halaman mendekati masa pensiunnya. Aku bersyukur pekerjaan orangtua telah mempertemukan kita. Masih kusimpan foto kita di gerbong kereta.

”Pernah, seekor kupu-kupu hinggap di kaca jendela kereta api yang kunaiki dari Bandung. Dia diam saja sepanjang perjalanan.”

”Tidak engkau tangkap?”

”Aku memandanginya sampai terlelap, dan tahu-tahu kami sudah sampai di Yogyakarta.”

”Dan, kupu-kupu itu?”

”Itulah kupu-kupu bersayap biru yang pernah kulihat dan tak kulihat lagi.”

Entah Polyommatus bellargus dari Inggris atau Morpho rhetenor helena dari Amerika Selatan, tak kudebat ceritamu tentang kupu-kupu bersayap biru di kereta api pagi itu. Jika kita bisa mengkhayalkan taman gurun pasir di pesisir, dengan rimbun mawar, sungai, dan Dandelion, apa pun bisa saja kita sulap dalam sekejap. Simsalabim!

Engkau menamai kupu-kupu oranye yang kusuka dengan sebutan Kupu-Kupu Tanaya. ”Agar engkau selalu mengingatku,” serumu. Dan kunamai kupu-kupu biru dengan julukan Kupu-Kupu Tanaka. ”Engkau takkan pernah terlelap lagi memandanginya, seperti ketika menatap aku.” Ah, masa-masa konyol itu kini terngiang kembali.

Masih rapi terlipat baju hangat darimu di lemari. Ah, andai punya istri, aku akan memintanya merajutkan baju hangat dengan bordir kupu-kupu di bagian dada kiri. Baju hangat ini aku temukan di binatu. Entah bagaimana bisa tercampur dengan baju-bajuku yang lain. Sudah ada begitu saja kala kuambil baju-bajuku dari sana.

Ya sudah, kupakai saja siang ini ke sekolah. Tanaya, siswi yang lekas mengingatkanku padamu, sempat bertanya,”Pak Guru suka kupu-kupu ya? Ibuku juga! Baju ini rajutan istri Pak Guru?” Aku terbengong. Merah padam romanku, antara malu dan ingin menjawab,”Sampai sekarang, Bapak masih membujang.”

Sebenarnya, aku ingin pula bertanya siapa Ibu anak itu. Tapi, alangkah tak sopan. Setelah uban mengeroyok seluruh kepalaku, barulah aku kini menyesal mengapa tidak sekali itu mendobrak kesopanan. Dia Tanaya dan engkau Tanaya. Setidaknya, aku bisa basa-basi dengan bertanya,”Siapa yang memberimu nama, Nak?”

Ah, sudahlah. Gara-gara Kopi Bali ini berlogo kupu-kupu, mengapa pula ingatanku terbang jauh ke masa lalu? Baiklah, Nona, secangkir kopi Luwak khas Bali. Berapa pun, akan kubayar asalkan setelah engkau sajikan kopi itu engkau lantas duduk menemaniku. Takkan kuceritakan padamu selain mengapa aku mencintai kupu-kupu.

”Saya juga cinta kupu-kupu, Om.”

”Hush. Jangan panggil aku Om.”

”Maaf. Saya harus menyapa Anda bagaimana?”

”Tanaka. Namaku Tanaka. Seluruh rambutku sudah perak, memang, tapi engkau tak punya alasan menyebut aku Om. Siapa namamu?”

”Tanaya. Tunggu sebentar, saya akan bawakan Kopi Luwak khas Bali dari The Butterfly Globe Brand, lalu kita akan mengobrol tentang kupu-kupu.”

Tanaya? Tanaya lagi? Malam apa ini? Mengapa malam ini seluruh ingatanku disergap ribuan kupu-kupu biru dan namamu? Sudah tiga puluh lima tahun, mungkin lebih, kita terpisah. Tanaya, untukmu yang di sana, entah kau di mana, rinduku terjaga, selalu berjaga, untukmu, Cinta. Kurasa, aku cinta padamu. Gagal aku melupakanmu.

”Siapa tadi nama Om? Eh, Anda?”

”Tanaka. Dan, engkau Tanaya.”

”Ta-na-ka. Seingat saya, ada seorang guru di sekolah dasar yang bernama Tanaka.”

”Engkau Tanaya, gadis kupu-kupu?”

”Ya, Tuhan! Pak Tanaya?”

Secangkir Kopi Bali mempertemukan aku dengan siswiku di sekolah dasar. Ingin aku menceritakannya padamu, Tanaya. Sudah berlembar-lembar surat kutulis. Kutumpahkan kisah-kisahku sejak engkau pergi tanpa berpamitan. Setiap surat kuakhiri dengan stempel bertinta biru bergambar kupu-kupu. Entah ke mana harus mengirimnya.

”Ibumu. Dulu aku ingin bertanya siapa Ibumu dan dari siapa kaudapatkan nama Tanaya.”

”Dari ibuku. Dia juga bernama Tanaya.”

”Tanaya? Perempuan ayu dengan bekas luka di lengan kirinya?”

”Om tahu dari mana? Eh, Pak Guru..”

Engkau memanjat pagar bambu, tak mau mendengar kata-kataku. Bukan kakimu yang ringkih, tapi deretan bambu itu. Engkau terjatuh, lengan kirimu terkoyak ditembus bambu, dan kupu-kupu yang kau incar pun kabur menertawakan kita. Mana bisa aku melupakan kebodohanmu? Tak akan hilang bekas luka sedalam itu.

”Ibu masih ada. Tapi, sekarang lebih sering melamun. Memandang jauh, entahlah, sepertinya dia menunggu seseorang.”

”Menunggu ayahmu?”

”Ibu seorang diri merawat saya. Ayah tidak pernah pulang sejak pergi melaut ketika saya masih bayi.”

”Kalian tinggal di Kedonganan?”

”Ya. Dulu. Ibu lalu membawa saya ke Ubud. Kami lama tinggal di sana. Semula, ibu ingin menjauh dari angin laut. Tapi kami sekarang di Legian. Ibu ternyata tak bisa jauh dari pantai. Dulu, sesekali ibu suka sendiri menyusuri pesisir, tak peduli usianya sudah senja.”

”Apa sekarang kegiatan ibumu?”

”Dia sudah pikun. Sepanjang hari, ibu hanya merajut baju hangat. Nanti dulu, nanti dulu. Pak Guru juga memakai baju hangat ke sekolah!”

”Dengan bordir kupu-kupu di bagian dada kiri!”

”Ya, Tuhan! Pak Guru harus ikut saya ke rumah! Sekarang!”

Kami bergegas ke Legian, malam ini, Tanaya, demi menemuimu. Engkau masih ingat aku? Aku Tanaka, bocah yang suka mengganggumu setiap akan menangkap kupu-kupu. Kusenggol pundakmu, buyarlah semua. Engkau marah mengejarku. Kita berlarian. Dari mengejar kupu-kupu, menjadi saling berkejaran di antara kita.

Ayo masuk ke rumah. Angin malam terlalu dingin untukmu. Ini, kubawa baju hangat dengan bordir kupu-kupu di bagian dada kiri. Kuperoleh dari binatu. Apakah ini milikmu? Aku tinggal tak jauh dari sini, tak pernah kusangka akan bersua engkau lagi di usia kita yang sesenja ini. Ayo Tanaya, masuklah ke rumah. Dingin di sini.

Lihat, lihat itu. Seekor kupu-kupu hinggap di daun pintu rumahmu. Kita harus mengejarnya. Seperti dulu tatkala senja tiba dan kita berdua saja di taman gurun pasir, dengan mawar, sungai dangkal yang airnya bening menampakkan bebatuan, Dandelion yang berguguran, dan tanpa kaktus. Tanaya, mengapa engkau diam saja?

Terpisah waktu, selama ini aku jauh darimu, tapi tak menyerah kutempuh kesunyian untuk akhirnya bertemu lagi denganmu. Setiaku padamu ada di sini, di dada ini, Tanaya. Perasaanku padamu sejati, dan aku percaya nyala cintamu padaku pun abadi. Maafkan aku yang sangat terlambat datang. Tanaya, ini aku Tanaka, kupu-kupumu.

 

 

Advertisements