Cerpen Fandrik Ahmad (Suara Merdeka, 02 Februari 2014)

Andeng Karawung ilustrasi Putut Wahyu Widodo - Suara Merdeka.png
Andeng Karawung ilustrasi Putut Wahyu Widodo/Suara Merdeka

KABAR itu tersiar cepat, seperti sambaran petir. Bergemuruh dari telinga ke telinga. Sebagian orang merasa selempangan. Sebagian yang lain menganggap peristiwa itu cuma gejala alam biasa. Kabar yang menjadi silang selisih terjadi pada suatu pagi setelah malam harinya hujan turun dengan sangat deras.

Desas-desus memburai saat puluhan pasang mata tengah menyaksikan retakan tanah yang amblas.  Memanjang hampir dua puluh meter dengan kedalaman hampir semeter. Retakan yang melempang di lereng bukit Karawung. Di kertas patok, tanah yang retak masih menjadi bagian dari sawah Juragan Kawi.

Persepsi pertama didalangi oleh Sumar, cucu dari Ki Sarpomo. Ia meramalkan betapa retakan tersebut sebagai pertanda sesuatu yang buruk segera terjadi. Tak pernah ada hujan sederas itu sebelumnya. Telah keluar dari kedalaman setengah meter itu. Ular. Ya, ular! Ular Karawung.

Dalam cerita yang diwariskan secara turun temurun, termaktub bahwa bukit itu dijaga oleh ular raksasa bersisik keemasan. Kedua matanya merah menyala. Bisanya sangat mematikan. Ular itu menjadi beringas bila ada yang berani mengganggu tempatnya. Bila ekornya dikibaskan, ratalah seluruh bukit. Mulutnya dapat menelan bukit dengan sekejap.

Mereka sepenuhnya percaya betapa peristiwa itu sebagai pertanda akan terjadi sesuatu. Namun tak bercokol di kepala mereka musabab dan pertanda apa yang akan terjadi.

Bukit Karawung adalah bukit bertuah—sebagaimana keyakinan para pendahulu. Bukit yang dianggap banyak memberi berkah; menyuburkan tanah dan memujuri panen berlimpah. Di lereng bukit, ada sumber air yang sangat besar. Sumber yang mampu mengairi tanah berhektar-hektar. Sumber yang mampu mengaliri ratusan tenggorokan. Sumber yang mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari; memasak sampai mencuci. Kemarau tak membuat volume air menjadi surut. Hujan pun tak membuatnya pasang.

Di atas sumber, sebuah pohon beringin berdiri kokoh. Banyak rongga di bagian batang pohonnya. Pangkalnya menganga seperti goa. Bila dilihat dari kejauhan—tak ada yang berani dari dekat—tampak di dalamnya sepasang mata menatap tajam. Mengancam. Sepasang mata yang kerap digambarkan sebagai penunggu pohon beringin.

Rimbun dedaunannya sangat digemari aneka macam burung. Sebuah tempat yang nyaman untuk beristirahat, bertelur atau berkembangbiak, sampai berlindung dari segala ancaman. Akar yang menyumbul dari batang bergelantungan menyentuh permukaan air. Sekumpulan ikan tampak melesat di bawah dedaunan kering yang mengambang. Lumut dan belukar pakis di tepian menyiratkan betapa tempat itu tak pernah ada campur tangan manusia.

Advertisements