Archive for February, 2014

Pembuat Peta dan Penenun Kain
February 23, 2014


Cerpen Diani Savitri (Media Indonesia, 23 Februari 2014)

Pembuat Peta dan Penenun Kain ilustrasi Pata Areadi

DI Kota Tuamana yang pernah dialiri sungai purba, hiduplah seorang pembuat peta dengan istri dan putra semata wayang mereka.

Bakat dan keahlian orang memang berlainan. Si pembuat peta ini sedikit berbeda dari para pembuat peta lainnya.Sebetulnya ini biasa. Seperti sering kita lihat bagaimana seorang penari mengungguli penari-penari kebanyakan. Penari kebanyakan menjadikan gerakannya hiburan bagi kita, pemirsanya. Sebaliknya, ada seorang penari yang melenggang-lenggok seiring irama, seperti ia bernapas dengan udara. Menari ia dengan segenap jiwa.  (more…)

Enam Cerita
February 23, 2014


Cerpen Agus Noor (Koran Tempo, 23 Februari 2014)

Enam Cerita ilustrasi Edward Richardo

SENJA DI MATA YANG BUTA

BILA ada yang menceritakan padamu senja terindah yang pernah dilihatnya, dengan langit yang selalu kemerahan, dia pasti belum datang ke tempat kami. Senja terindah hanya ada di sini. Senja yang kuning keemasan, seolah madu lembut dan bening yang ditumpahkan ke langit hingga segala yang mengapung di permukaan air menjadi tampak kuning berkilauan. Senja yang tak hanya bening, tapi begitu hening. Selembar daun yang jatuh tak akan mengusik keheningannya. Angin sejuk selalu membiarkan daun-daun kelapa setenang bayang-bayang.  (more…)

Tulah
February 23, 2014


Cerpen Wi Noya (Jawa Pos, 23 Februari 2014)

Tulah ilustrasi Bagus

PEPATAH bilang, ”Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.“ Masihkah diyakini banyak orang? Pasalnya, peribahasa tersebut tidak terbukti padaku. Aku gelundung terlalu jauh dari pohon nan subur itu. Padahal, ketiga buah lain yang ranum berguguran persis di bawahnya. Berbeda denganku, sudah jatuh puluhan hasta, kadung busuk pula.  (more…)

Puang Rohani
February 23, 2014


Cerpen M Dirgantara (Suara Merdeka, 23 Februari 2014)

Puang Rindu ilustrasi -

SAYA baru bangun pagi itu, dibangunkan telepon. Malam sebelumnya saya menghadiri pesta koktail seorang teman. Dia merayakan kemenangannya di Grammy untuk kategori “Lagu Tahun Ini”. Dia mengalahkan saya untuk kategori itu, tapi saya menang untuk kategori lain. Kepala saya masih berat, leher saya kaku dan bunyi-bunyi saat saya bergerak.

Isi telepon dari suami Zubaedah itu singkat saja: Anda dimohon hadir di acara pemakaman Puang Zubaedah. Anda diminta menyumbang satu lagu. Saya tahu Anda teman dekatnya.  (more…)

Orang Alim dari Klampis
February 23, 2014


Cerpen Dadang Ari Murtono (Republika, 23 Februari 2014)

Orang Alim dari Klampis ilustrasi Rendra Purnama

TIDAK ada alasan yang mendasari kepulangan terburu-buru Sakti kali ini selain untuk menemui Gus Malik, orang alim dari Klampis, dan menyampaikan pesan yang dititipkan sesosok makhluk bersayap pada malam Jumat kemarin, ini juga sesuai ia berwirid sepanjang Kamis. ”Gus, makhluk itu mengaku bernama Jibril. Dan ia mengatakan bahwa Gus sebenar-benarnya ahli neraka!” Sakti bercerita dengan mimik ketakutan. Tapi, ketakutan Sakti tak ada seujung kuku kegetiran Gus Malik. Wajah orang alim itu dengan segera berubah. Melebihi pucat pasi seonggok mayat. Badannya gemetar dan apa yang kemudian keluar dari mulutnya adalah kalimat samar yang terbata-bata.  (more…)

Darah Pembasuh Luka
February 23, 2014


Cerpen Made Adnyana Ole (Kompas, 23 Februari 2014)

Ilustrasi Cerpen karya Bambang AW

LUKA di lutut kiri Tantri tumbuh lagi. Mula-mula hanya bintik kecil dengan bunga nanah yang anggun. Tapi kemudian membesar. Bintik itu mengembang seperti gunung kecil dengan kawah nanah yang siap meledak jadi borok.

Tantri ngeri. Karena luka sekecil apa pun yang muncul pada lutut kiri adalah soal amat besar bagi hari-hari yang akan dilewatinya. Bukan hanya hebatnya sakit yang akan dirasakannya, namun lebih karena luka pada lutut kiri akan menyeret ingatannya kepada sebuah gumpalan waktu yang teramat kelam. Waktu, yang jika mampir dalam kotak ingatan, akan memberi Tantri sebongkah rasa sakit melebihi rasa sakit dari luka paling parah.  (more…)