Cerpen Wina Bojonegoro (Jawa Pos, 26 Januari 2014)

Tentang Drupadi ilustrasi Bagus

“SEHARUSNYA tempat ini menjadi kenangan yang indah. Saksi sebuah pesta pernikahan yang tak akan terlupakan…“

Kalimat itu meluncur rapuh dari bibir seorang lelaki tua yang tak kukenal, ketika aku sedang duduk bersantai di taman ini menikmati langit November yang dipenuhi guguran kelopak flamboyan. Aku terhipnotis dalam waktu sekejap. Lelaki tua itu memandangi ranting-ranting yang menjulur rendah di hadapan kami. Semata merah. Bulir-bulir daun hijau seolah hanya kelopak, dan mahkotanya adalah merah yang menyala kontras di paparan langit biru sore hari. 

Namun, seperti halnya virus, kenangan pahit menular begitu cepat meskipun kita buta terhadap lakon yang sebenarnya. Begitu pula aku. Kata-kata sekelumit yang ditaburkan dengan perih itu membuatku tertular getirnya.

Kupandangi dalam-dalam raut wajah lelaki tua di sampingku itu. Usianya kira-kira menjelang 70 tahun. Keriput di sepanjang kulitnya mengabarkan angka itu. Sepasang mata kelabu yang memendam duka, khususnya saat menatapi merahnya flamboyan di sekujur pohon-pohon itu.

”Seharusnya putriku menikah di tempat ini,“ ujarnya pahit. Aku memandangi wajahnya dalam-dalam. Terasa sekali mendung yang menggayut di sana, meski sore ini cuaca sedang cerah.

”Dua puluh empat tahun lalu…,” kata-katanya terhenti. Wajahnya menegang.

”Apa Bapak bersedia membaginya dengan saya? Saya mau mendengarkan cerita Bapak,“ ujarku pelan, berusaha untuk tidak menyinggung perasaannya. Sejujurnya aku mulai penasaran.

”Pak Tua itu diam. Bibirnya mengatup rapat, mengeriput di sekujurnya. Agaknya ia sedang mengolah kembali rangkaian peristiwa pahit itu gara-gara pertanyaan idiot dariku. Kemudian dahinya mengerut, menciptakan deretan parit.

”Maaf, saya terlalu lancang. Jangan diceritakan jika itu… Mmm…menyakitkan,“ ujarku berusaha meralat, tapi Pak Tua itu menggeleng.

”Kepedihan,“ desisnya, ”kadang harus dilepaskan untuk mengurangi rasa sakit. Kau tahu, bercerita adalah terapi yang baik untuk luka batin.“

Kemudian hening memenuhi udara.

”Terima kasih sudah bersedia menjadi pendengarku,“ ucap Pak Tua itu, ”Tapi ini akan menjadi cerita yang sangat panjang. Apa kamu tidak bosan nanti?“

Aku menggeleng. ”Tentu tidak, Pak,“ jawabku mantap. Kulihat senyum mengembang di bibir keriputnya.

Kami lalu berjanji untuk bertemu lagi di sini besok, sebab hari ini sudah semakin sore. Sebelum kami berpisah, ia sempat menyebutkan namanya: Haidar. Sebuah nama yang akan membekas dalam di otakku, sejak hari ini dan seterusnya.

***

Arlojiku menunjukkan pukul tiga sore. Aku bergegas, takut jika Pak Tua menungguku terlalu lama. Sepeda putih tulang yang tersandar di tiang teras segera kusambar. Hari ini aku akan menjadi pendengar yang baik. Hanya saja sekarang aku perlu menyiapkan sesuatu. Termos kecil dan dua cangkir plastik, kopi susu panas untuk kami berdua.

Taman bundar dengan 17 tahun pohon flamboyan berusia puluhan tahun yang melingkarinya. Bagian tengah taman dibiarkan kosong, hanya ada hamparan rumput. Anak-anak berlarian bersama para suster dan inang pengasuh di sana. Sementara beberapa wanita duduk-duduk di bangku taman yang ada di bawah tiap-tiap pohon.

Dia sudah di sana. Duduk tenang pada salah satu bangku, dengan kaus polo dan celana cardigan. Langkahku bergegas menujunya. Tanpa bicara aku membuka termos dan menuangkan kopi ke dalam dua cangkir. Aku mengulurkan satu cangkir untuknya tanpa preambule. Dia menoleh, menatapku penuh haru. Senyumnya mekar, aku membalas senyumnya. Aku merasa sedang bercengkerama dengan kakekku sendiri, yang tak pernah kumiliki.

”Terima kasih. Sore yang indah. Flamboyan yang memesona. Dan teman berbincang yang kupikir akan menyenangkan. Oh ya, siapa namamu?“

”Saya Drupadi.“ Pak Tua itu menoleh seketika. Batal meneguk kopi susunya. Kami bersitatap sejenak. Ada kekagetan yang tak biasa di sana. Aku berusaha melepaskan ketegangan sesaat itu dengan tertawa.

”Memang terdengar kuno,“ sahutku.

Kata ayah, Drupadi itu perempuan yang tabah dan perkasa. Kataku, Drupadi itu pelaku poliandri. Dan jujur, aku kurang suka nama itu. Tapi ayah menamaiku Drupadi pasti dengan alasan, bukan sekadar kagum pada ketabahannya sebagai perempuan di antara lima Pandawa.

”Kamu begitu mirip dengan anakku, Drupadi. Karena itu aku langsung menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu.“

Aku kembali tersenyum. Pak Tua tetap membisu. Kami sama-sama meniup kopi dan meneguknya dengan gerakan perlahan, seolah inilah kopi terakhir di dunia.

”Anakku yang malang. Secantik itu, namun nasibnya begitu tragis….“ Pak Tua mendesah. Sembari bibirnya bergetar menceritakan kisah putrinya, bulir-bulir bening perlahan menggelincir dari sudut matanya.

Ini adalah kisah lama yang bisa terulang kepada siapa saja. Tentang seorang permpuan yang ditinggalkan oleh kekasihnya, tepat sehari sebelum pernikahannya. Tak ada alasan. Tak ada kabar. Lelaki itu raib begitu saja, seperti angin.

Perempuan itu hanya bisa menangis. Selama berbulan-bulan setelahnya, ia mengurung diri di kamar dan tak pernah keluar. Isak tangis yang amat menyayat merembes dari balik pintu kamar. Selama berbulan-bulan, rumah kami seolah penuh dengan kesedihan dan amarah yang mengental.

Lalu pada suatu malam, perempuan itu memilih untuk berbuat nekad. Seseorang yang kecewa mungkin bisa menyembunyikan perasaannya, namun orang yang sedang patah hati bisa melakukan apa saja di luar kendali. Dan tanpa seorang pun yang mengetahui. Diam-diam, ia menoreh nadinya sendiri. Kami menemukannya di kamar mandi yang terkunci, tubuhnya terendam di bath-tub yang penuh dengan warna merah.

Mulutku terkunci mendadak, menatapi Pak Tua yang menghembuskan nafas berat. Meskipun hanya rangkaian kalimat, seolah aku hadir dalam peristiwa itu dan menyaksikan bagaimana sebuah drama mengerikan terhampar di hadapanku. Terkutuklah laki-laki yan meninggalkan mempelainya sehari sebelum pernikahan.

”Saya bisa merasakan bagaimana sakitnya…“

”Tidak, kamu pasti tak mengerti. Tidak sesederhana itu,” nadanya semakin berat dan lirih.

Aku bisa merasakan getar itu. Dari volume suaranya, tempo dan kedalaman artikulasinya. Ketegangan pada wajah tua itu meningkat. Gelas dalam genggamannya gemeretak. Aku memang hanya mengira-ngira seberapa sakitnya, meskipun sulit.

Dalam sejarah kehidupanku sendiri, tak pernah ada rasa sakit yang terlalu. Bahkan mungkin, akulah anak tunggal paling bahagia di dunia. Hingga usiaku mendekati 24 tahun, segala berjalan seolah Tuhan menciptakan aku hanya untuk hidup bahagia.

Setelah pertemuan sore itu, kami pun menjadi semakin akrab satu sama lain. Kami kerap menghabiskan waktu berdua di taman ini, sekadar memandangi kelopak-kelopak flamboyan yang luruh dan menari-nari di udara, atau menikmati beberapa camilan yang kubawa dengan segelas kopi di sore hari. Kami bercakap tentang apa saja, seolah-olah kami adalah sepasang kakek dan cucunya sendiri.

Dan di hari kami bertemu untuk terakhir kalinya, Pak Haidar sempat membisikiku sebuah rahasia.

***

Makan malam keluargaku selalu indah seperti biasa. Bagi kami bertiga –ayah, ibu, dan aku—acara makan malam bukan sekadar memenuhi rongga perut, melainkan berbicara dari hati ke hati. Meja makan senantiasa menjadi medan keakraban yang kami tunggu. Inilah surga kami, sebuah keluarga kecil yang tak pernah kekurangan apa pun. Tak ada rahasia bertahta terlalu lama di rumah ini. Segalanya begitu transparan.

”Kamu kelihatannya ingin mengatakan sesuatu, Dru,“ ucap ayah sambil menikmati pindang patin. Ayah selalu lebih dahulu tahu apa yang sedang disembunyikan oleh orang lain. Entahlah, apa beliau memiliki indra keenam atau kebiasaan itu terbentuk akibat pekerjaannya di bidang human resources.

”Tidak penting kok, cuma kisah pilu di masa lalu seorang kakek.“

”Oh ya? Sejak kapan anakku berkencan dengan kakek-kakek?“ suara ayah terdengar penuh nada ejekan meskipun disampaikan dengan serius.

”Kupikir tak ada salahnya berteman dengan seorang kakek. Bukankah tak ada satu pun kakek kumiliki? Kakek dari Ibu sudah lama meninggal. Sementara kakek dari Ayah tak tahu di mana rimbanya.“ Ibu lalu melirik ayah dengan tanda khusus yang tak kupahami.

”Memang teman kakek-kakekmu itu bercerita tentang apa?“ tanya ayah. Kurasakan nadanya menyelidik.

”Hmm… Tentang kisah tragis anak perempuannya yang batal menikah karena calon pengantin prianya melarikan diri. Oh ya, nama anak kakek itu rupanya sama dengan namaku: Drupadi!“

Ayah berhenti menyendok nasi ke mulutnya. Tangannya dibiarkan tergantung di udara. Ibu terbatuk karena tersedak, minum, lalu terbatuk lagi. Sejurus kemudian mereka menatap tajam ke arahku, lalu kembali saling berpandangan. Terlihat sekali raut kekagetan di wajah mereka.

”Ada apa?“ tanyaku penuh curiga.

”Ah, tidak. Hanya saja, kisah kakek itu begitu menyedihkan.”

Aku mengangguk dalam-dalam.

”Oh ya, apa Ayah mengenal Drupadi lain selain aku?”

Ayah tercekat. Gelas yang telah condong ke bibirnya tiba-tiba berhenti dan menggantung begitu saja. Ia lalu membuang matanya pada ibu yang sama-sama terdiam. Mereka bertatapan aneh, sebelum akhirnya kembali menatapku dengan sorot yang tak kalah anehnya.

”Ada apa? Kenapa kalian jadi aneh begitu?” protesku.

Kudengar mereka saling menggumam tak jelas. Aku segera bangkit dengan gemas. ”Dan sejak kapan ada rahasia di rumah ini?“ ketusku sebelum beranjak pergi. Mereka bungkam. Hingga beberapa jeda kemudian aku belum mendengar suara kursi ditarik atau langkah kaki terayun dari ruang makan.

***

Bulan Desember dengan intensitas hujan meningkat menciptakan keindahan yang makin dahsyat di taman itu. Taman ini berubah, sepenuhnya merah. Sebuah sensasi yang hanya terjadi pada bulan November dan Desember.

Ayah berlari perlahan mengelilingi bundaran, sementara aku mengiringinya dengan sepeda. Ini adalah ritual kami setiap Minggu pagi. Ibu di rumah menyiapkan sarapan dan kudapan pagi. Saat matahari semakin berjaya, aku menempati bangku yang biasa kunikmati bersama Pak Haidar, menikmati teh manis bekal dari ibu. Membayangkan betapa sebuah pesta pernikahan sederhana dapat berlangsung indah di antara belantara merahnya flamboyan. Sebuah keinginan aneh menyelinap dalam otakku. Mungkin, jika itu mungkin, aku akan menikah di sini, di bulan November.

”Seharusnya dia menikah di sini, dua puluh empat tahun lalu…“

Aku menoleh ke arah ayah yang duduk mencangkung di sebelahku, meletakkan berat badannya pada kedua paha. Matanya menatap deretan merah flamboyan. Seperti Pak Haidar ketika menikmati sore-sore bersamaku. Menerawang.

”Jadi memang benar Ayah mengenalnya?“ ujarku pura-pura terkejut, meski sesungguhnya aku telah tahu.

”Drupadi…,“ Ayah menunduk. Mendung tiba-tiba menggelayut di raut wajahnya. ”Akulah lelaki yang melarikan diri itu. Tapi kamu harus tahu mengapa…“

Lagi-lagi aku tidak terkejut. ”Ya, aku sudah tahu, Yah. Mungkin kelak aku akan menikah di tempat ini. Mengulang sejarah yang batal terlaksana. Aku berjanji akan melunaskannya.“

”Tidak akan pernah ada sebuah kejahatan tanpa alasan, Drupadi.“

Pandangan Ayah semakin menerawang. Kesiur angin menerbangkan kelopak-kelopak flamboyan di depanku, lalu jatuh tepat di pangkuan ayah.

”Pelarianku memang sebuah kejahatan, tetapi itu kuputuskan untuk menyelamatkan sesuatu. Drupadiku tahu itu, dan dia sudah mengizinkan. Tapi sayangnya, dia tidak tahan guncangan. Teror masyarakat membuatnya sakit, padahal aku sudah mengatakan, tunggulah aku sampai waktunya aku kembali. Ternyata dia tidak kuat. Dia sakit, fisiknya, juga jiwanya…“

Aku menghela nafas. ”Entah mengapa aku mulai bersimpati pada Drupadi kekasih ayah itu. Dia wanita hebat, melepaskan calon pengantinnya untuk sebuah alasan yang hanya Ayah tahu…,” ujarku seraya memberikan tekanan pada kalimat terakhir itu.

”Alasan itu, Dru, adalah kamu.“

Aku membelalak. Smash telah menghunjam dadaku. Jantungku serasa berhenti bekerja beberapa detik. Sepasang mata ayah memerah.

”Aku?“ Suaraku meluncur serak disertai tanda tanya tebal.

”Kau sudah ada dalam kandungan ibumu…”

”Jadi Ayah mencintai dua wanita pada saat yang sama?“

”Demi Tuhan! Aku hanya mencintai Drupadi.”

“Lalu?”

”Ibumu, Dru, adalah sahabatku sejak di bangku SMA. Ia seorang yatim piatu, yang mengalami musibah ketika pulang kerja malam hari. Ia dibius dan diperkosa lelaki yang sedang mabuk.” Suara angin menusuk-nusuk lubang telingaku. Aku menepiskannya dengan gundah. Berharap aku hanya salah dengar.

”Jadi…”

“Dia butuh penyelamat. Ibumu… Drupadi…”

Langit runtuh. Bahkan flamboyan di bulan Desember yang begitu indah tak sanggup melawan badai dalam dadaku dan kiamat di kepalaku. Jantungku berguguran seperti helai-helai bunga flamboyan yang menggincui tanah di lapangan bundar ini, bersamaan dengan isak tertahan dari seorang lelaki di sampingku. (*)

Advertisements