Cerpen Yanusa Nugroho (Media Indonesia, 26 Januari 2014)

Perut Tanah ilustrasi Pata Areadi

MALAM larut, pekat, panas seperti ter. Tak ada udara yang mau bergerak, dan orang-orang itu pun seperti kehilangan pikiran. Sementara laki-laki itu sendiri bahkan tak punya sebatang rokok pun untuk diisap. Kemarin istrinya marah besar. Mungkin kesurupan roh Betari Durga. Semua dikutuknya. Bahkan tempayan kosong, yang sudah beberapa bulan ini tak sempat terisi apa-apa, dikutuknya habis-habisan. Untunglah, kutukannya tidak manjur, sehingga tempayan itu tetap berwujud tempayan.

Sesaat dia hanya melihat sekeliling. Panas yang pengap ini tak memberi harapan apa-apa. Suara orang-orang mengaji di surau dan langgar-langgar terdengar sayup, menyelusup dari celah-celah udara panas. Sampai malam ini, istrinya masih saja mengomel dan mengutuki apa saja yang bisa dikutukinya. Mungkin itulah yang bisa dilakukannya untuk saat ini. Dan, laki-laki itu memilih keluar rumah. 

Dilihatnya anaknya duduk diam bertelanjang dada. Umurnya baru 6 tahun, tapi dia sudah menerima kutukan emaknya. Laki-laki itu tak tahu harus bersikap bagaimana. Akan membela atau membenarkan ibunya. Dua-duanya salah, sekaligus punya alasan yang bisa membenarkan tindakan masing-masing.

Dipanggilnya anak itu. Dan bocah itu pun berjalan ke arahnya dengan langkah gamang. “Sini,” tegasnya. Dengan langkah kecilnya yang ragu-ragu akhirnya mendekat dan duduk di samping ayahnya.

“Belum tidur?”

“Belum ngantuk….”

“Kemarin kenapa?”

“Haus….”

Dia diam. Sebetulnya laki-laki itu sudah tahu akar masalahnya, tapi dia ingin agar anaknya bicara sendiri padanya. Laki-laki itu seolah ingin menguji apakah masih ada kejujuran dari mulut seorang bocah.

“Haus, Pak. Aku bilang sama Emak, aku haus. Lantas aku cari yang bisa diminum. Terus yang di botol itu aku minum.”

“Tapi, itu kan minyak tanah.”

“Tapi aku haus.”

“Kamu minum minyak tanah?”

“Aku haus.”

Sekarang laki-laki itu yang diam. Dia kehilangan kata-kata, sebagaimana biasanya. Dan sebagaimana biasanya, tangannya ingin segera ambil bagian. Tapi entahlah, melihat sosok anaknya yang kecil dan dekil itu, dia tak bisa apa-apa. Minyak tanah yang harus dibeli dengan harga selangit itu, dengan antrean hampir setengah hari itu, ditenggak tuyul kecil itu sampai tuntas.

“Kenapa tidak minum air saja?”

“Nggak enak, Pak. Air nggak ada rasanya.”

Laki-laki itu, Najib, tersenyum dalam hati. Diam-diam dia pun membenarkan ucapan anaknya. Minyak tanah memang lebih nikmat. Dapat memberikan tenaga luar biasa. Dia sendiri pernah meneguk sesendok–tentu saja diam-diam.

***

Dibiarkannya anaknya tertidur di balai-balai luar. Orang-orang yang juga duduk di pelataran menunggu angin lewat itu mendekatinya. Mereka juga tak jauh beda dari laki-laki itu. Pasti mereka sedang disemprot habis-habisan oleh istri masing-masing.

“Kau tahu Bukit Sungsang?” tiba-tiba Najib meludahkan kata-katanya.

“Pernah dengar namanya, tapi belum pernah ke sana. Ada apa?” jawab laki-laki itu.

“Di kakinya, katanya, ada sekubangan tanah yang bisa dimakan.”

Semua terdiam, sebuah gambaran peluang melintas di benak masing-masing. Nikmat betul jika ada tanah yang bisa dimakan. “Tapi, apa tak perlu dimasak?” tukasnya menegaskan.

“Tidak. Raup dan masukkan mulut. Katanya gurih. Ada garamnya.”

“Ooo… aku ngerti, dulu Mbahku juga bikin campuran kerupuk pakai tanah. Kalau ndak salah namanya bleng,” ucap entah siapa.

“Mungkin. Aku ingin ke sana. Ada yang mau ikut?”

“Kapan?”

“Kenapa tunggu besok jika bisa dilakukan sekarang?”

“Iya, tapi Bukit Sungsang itu di mana?”

Semua diam kembali.

***

Bumi melengkung kepanasan. Sawah-sawah meruam, mengelupas, pecah-pecah. Sungai-sungai kecil mati kering dengan lidah-lidah terjulur kehausan. Terik kemarau membuat laki-laki itu berpikir keras soal makanan. Maka, melangkahlah kaki-kaki orang sekampung. Tentu semuanya laki-laki. Sekelompok manusia yang hanya bisa berpikir soal makan apa. Ya, ini harus diperjuangkan dan memang pantas diperjuangkan.

Bukit Sungsang. Sebuah nama yang samar-samar tertinggal di kenangannya. Nama yang hanya sering muncul lewat cerita bapak, kakek, atau orang-orang tua di kampung ini. Di mana persisnya, dia sendiri belum tahu, dan rasanya, mereka–orang-orang dalam rombongan ini—juga tak lebih tahu.

Tapi, persetan dengan semua pengetahuan. Perut akan menuntun kita, ke mana makanan bisa diperoleh.

“Rasanya itu…” ucap Najib yang berjalan di depan. Dia menghentikan langkah. Semua yang ada di belakangnya pun berhenti. Mata mereka terpaku pada bukit yang entah mengapa menurut mata mereka aneh bentuknya. Seharusnya, bukit mengerucut, mirip gunung dengan ukuran lebih kecil tentu saja. Ini tidak.

“Kok kayak ketimun?”

“Hus! Ketimun nggak gitu… itu gada.”

“Itu Bukit Sungsang,” tandas Najib yang segera melanjutkan langkah.

“Jib, jangan buru-buru ke sana!” cegah Ngatiman.

“Kenapa?”

“Biasanya, tempat aneh seperti itu ada ‘penjaganya’.”

Ucapan Ngatiman menghentikan langkah semuanya, sekali lagi. Tak jelas, sebetulnya, apakah karena takut atau alasan lain, yang jelas mereka akhirnya berhenti pada jarak tertentu.

Tetapi, tanpa alasan yang jelas pula, tiba-tiba Najib melangkah dan mereka pun ikut melangkah, termasuk Ngatiman. “Tanggung jawab lho Jib,” ujar salah seorang entah siapa, cemas.

***

“Itu… itu… yang menggunduk di tanah lapang itu.“

“Apa mungkin itu tanah yang dimaksud?”

“Mungkin.”

“Terus gimana?”

“Ya, kita coba.” Maka bergegaslah kelompok itu mendekati gundukan tanah halus kecokelatan, agak basah di tanah lapang. Mereka kemudian jongkok berkeliling, mengamati gundukan tanah yang sekilas warnanya mirip gula Jawa itu. Seseorang kemudian menutulkan telunjuknya. Yang lain mengawasi. Jari itu masuk mulut. Semua mata mengikuti. Mulut yang komat-kamit, lalu menelan. Semua mata terpaku, jakun turun-naik.

“Enak….”

Maka, tanpa komando, para lelaki yang mengepung gundukan tanah itu meraup tanah dan memasukkannya ke mulut. Pipi menggembung, kecap mulut berkeceplakrakus. Keriangan dan kenikmatan membias di wajah mereka. Lidah mereka mencecap rasa gurih yang nikmat.

“Seperti keripik kelapa, ya?”

“Pernah makan, memangnya?”

“Belum…” dan mereka pun tak mau tahu lagi jawaban apa yang pantas keluar untuk setiap pertanyaan. Mereka hanya mau makan dan makan.

Malam itu sekampung kenduri tanah. Tanah makan tanah, sebelum kembali menjadi tanah.

***

Kampung itu masih dilanda kemarau. Mereka sepakat akan ke bukit lagi. Tak perlu minyak tanah. Tak butuh api. Tak usah beras. Perut mereka kenyang makan tanah. Cukup sudah  kebutuhan hidup. Maka, berkemaslah mereka membawa pikulan bambu.

Namun, begitu langkah mereka tiba di kaki bukit, betapa terkejutnya mereka ketika dilihatnya bukit itu dijaga tentara. Senapan mereka laras panjang dan mustahil tanpa peluru. Sebagai penemu, mereka merasa berhak. Meskipun moncong senjata yang mereka ajak bicara, para lelaki itu berkeras mempertahankan isi perut mereka.

“Ini sumber makanan kami!” teriak Najib seakan mewakili kawan-kawannya.

“Ini pertambangan negara. Siapa pun dilarang menambang di sini!”

“Kami nggak cari apa-apa, cuma tanah itu. Itu makanan kami, Pak!”

Komandan penjaga mengerutkan dahi. Dia sadar hanya akan menghadapi orang kurang waras. Kelaparan membuat pikiran terbalik. Dia pun memberi aba-aba agar membiarkan saja orang-orang itu berlalu. “Awas, kalian tidak boleh memasuki batas ini,” ucapnya sambil menunjuk pada tanda larangan.

Para lelaki itu tak menjawab. Mereka hanya ingin segera menggali makanan mereka dan membawanya pulang. Tentu saja, setelah sebelumnya mereka berkenduri di kaki bukit itu. Para penjaga itu terlongong-longong ketika mata mereka menyaksikan kenikmatan para lelaki itu menyantap tanah. Ada yang menjilati jari-jari mereka sendiri, layaknya membersihkan sisa bumbu gulai kambing di sela-sela jari. Ada yang bersendawa besar, lalu mematahkan lidi, mengorek-ngorek mulut, seolah mencongkel sisa daging terselip di gigi.

Komandan penjaga bergidik. Perlahan dia memerintahkan anak buahnya mundur teratur. Pemandangan yang disaksikannya benar-benar tak masuk akal. Melihat para penjaga itu mundur, salah seorang yang melempar-lemparkan butiran tanah kecil ke mulutnya seakan makan kacang bawang, segera memanggil dan mengajaknya bergabung. Panggilan itu rupanya terdengar lebih menyeramkan daripada lolongan serigala di malam hari, dan itu membuat para penjaga daerah pertambangan itu pontang-panting.

“Hahahahaha…. Orang bego. Diajak makan malah mabur,” ujar salah seorang.

“Biar saja, perut mereka tak bisa makan tanah.”

“Lidah mereka sudah keriting… hahahaha. Yang penting kita sudah menawari mereka, kalau tak mau, ya, salah dia. Ayo, lho… jangan malu-malu,” ucap salah seorang sambil mencolek tanah dan menjilatinya, layaknya menjilati semangkuk gulai kambing.

***

Sekarang, entah apa yang terjadi dengan kampung itu, tak ada yang peduli. Para penjaga yang pernah ditugaskan di daerah pertambangan emas milik negara itu dianggap orang gila, lantaran mewartakan ada kelompok manusia yang makan tanah mentah-mentah. []

 

 

Pinang, 982

Yanusa Nugroho, sastrawan, tinggal di Ciputat. Buku terkininya, Setubuh Seribu Mawar (2013)

Advertisements