Luxor


Cerpen Radna Tegar Zakaria (Suara Merdeka, 26 Januari 2014)

Luxor ilustrasi Toto

KALAU tidak sedang patah hati dan merencanakan bunuh diri, jangan sekali-sekali mengunjungi Bioskop Luxor di malam hari. Sebaiknya memilih jalan lain yang tidak harus melewati Bioskop Luxor. Walaupun jalan tersebut harus mengambil rute memutar yang lebih jauh. Bila sangat terpaksa melewati gedung itu, perbanyak menderas doa dan terus saja membuang muka. 

Banyak kejadian ganjil terjadi di kota ini usai melewati Bioskop Luxor. Kejadian tak mengenakkan yang paling sering dituturkan adalah kisah seorang penari dalam perjalanan pulang pentas diantar becak langganan dari Keraton Ngayogyakarta menuju rumahnya di Kusumanegara. Tukang becak yang mengetahui keangkeran Bioskop Luxor sudah mengingatkannya untuk memutar melewati Jalan Mas Suharto meski harus dua kali lipat lamanya. Karena terlampau lelah, penari memaksa lewat Bioskop Luxor agar gegas sampai. Di atas becak penari menghapus riasan dan melucuti hiasan di konde. Di depan Bioskop Luxor, punggung penari dicolek-colek dari belakang. Merasa menjadi sasaran pelecehan, si penari membalik muka hendak memaki-maki tukang becak. Tukang becak itu raib. Becak dikayuh oleh benda gaib. Penari itu menjerit sekencang-kencangnya. Gelap malam menelan semua jerit ketakutan penari itu. Keesokannya, ditemukan dua pakaian tergeletak di jalan tanpa tuanpuan. Kisah itu tumbuh bersama ratusan kisah tak masuk akal di persendian kota.

Tak akan jadi soal kalau melewati Bioskop Luxor siang hari. Di sana pusat jajajan kaki lima dengan rasa enak luar biasa. Kerumunan merubung Es Campur PK, kurang dari dua ratus meter timur Bioskop Luxor. Di simpang tiga Purokinanti, juga ada jejeran nasi rames, lotek, kupat tahu yang disesak orang santap siang. Area itu primadona orang rehat saat panas menyengat ubun-ubun. Beberapa fotografer memotret sebagai objek gotik klasik. Tukang becak menanti ibu-ibu pekerja pulang menjelang sore. Pengemis, gelandangan biasa berteduh di emperan Bioskop Luxor.

Keadaan itu menjadi berbalik ketika sore semakin gelap. Gerobak digiring pulang kosong tanpa dagangan. Kedai bongkar-pasang dikemasi rapi-rapi. Bioskop Luxor berubah mengerikan. Terus-terusan dipayungi mendung. Samar tercium aroma tengik, seperti campuran bangkai dan apak mahoni. Lukisan tembok Bioskop Luxor menjadi bagian paling menyeramkan dan paling dihindari. Gambar berupa sosok manusia bertangan besi, memegang belati terhunus mulus, wajah tidak begitu jelas dan dari pergelangan tangan yang tidak sama panjang, meneteskan cairan-cairan warna hitam sangat busuk menetes pada rimbun mawar berduri di bawah bundar matahari.

”Sekarang jam berapa? Langit masih terang. Makan oseng-oseng mercon dan wedang secang enak kayaknya.” Lelaki berdasi motif segitiga berkata tidak membuka lebar mulut, menahan air liur. Dari perutnya dapat diketahui baru pada piring keempat atau kelima lelaki itu merasa kenyang.

”Kamu gila?” pemilik kedai kaki lima menimpali, sambil mengepaki.

”Memang sekarang jam berapa? Pantang menolak pelanggan. Hari masih terang.”

”Lihat sendiri jammu!”

”Apa jam ini benar? Ini masih terang?”

”Tetapi hantu Bioskop Luxor tidak pernah lupa kapan dia keluar dan menghabisi orang yang mendekatinya.”

***

Tidak ada hal buruk yang muncul tiba-tiba. Teror datang saat Bioskop Luxor tenar di tahun 1978. Bioskop Luxor tempat favorit berkencan. Film menjerat anak muda di kota ini untuk menghabiskan malam-malam di Bioskop Luxor. Orang-orang londo (begitu orang-orang menyebut pelancong dari luar negeri, meski tidak semua asli Belanda) bergabung menikmati film-film mutakhir masa itu.

Seorang pelukis, Aaron Noble, asli San Fransisco berlibur di kota ini. Selama tiga bulan di kota yang dipenuhi mahasiswa pesepeda dari penjuru kota menuju Keraton di alun-alun utara dan Sitihinggil. Noble menyewa losmen tak jauh dari Bioskop Luxor, tempat paling direkomendasikan untuk berkerumun dengan penduduk asli. Noble berniat melukis keadaan-keadaan kota ini, seperti yang ia lakukan di setiap kota yang dikunjungi. Terlebih masa itu kota ini benar-benar menawarkan pemandangan yang eksotis.

Stasiun Lempuyangan masih setengah jadi. Gedung-gedung bertingkat belum ada, hingga Merapi masih bisa dilihat dari sisi manapun. Juga Keraton masih sering membunyikan tetembangan selama 24 jam. Cukup duduk di alun-alun utara, orang dapat melihat dan mendengar seluruh isi kota lengkap dengan pemandangan memesona. Noble seperti menemukan model wanita idaman di semua pojok kota untuk dijadikan objek lukisan.

Malam itu Noble bermaksud melukis Bioskop Luxor yang ramai. Penonton mengular. Noble mengeluarkan perkakas melukis dan menempatkan pada posisi strategis. Kuasnya melukis deretan orang, dengan pakaian longgar atasan dimasukkan. Sepatu hak tinggi tebal. Lelaki memakai celana cutbrai dan kancing baju bagian atas dibiarkan terburai.

Noble menangkap seorang wanita mengemut rokok dengan gincu merona, duduk-duduk di kursi tunggu. Tampak tak hendak ikut mengantre tiket bioskop. Sesekali matanya berkedip sebelah. Senyum dipermanis. Rok tipis transparan. Sangat tidak cocok dengan onderoknya yang warna gelap. Bingo!

”Mengapa melukisku?”

”Kamu sangat cantik di tengah kerumunan itu,” Noble gugup.

Wanita itu menyemburkan asap rokok ke wajah Noble. Lalu tertawa menang. ”Kalau aku tidak cantik, orang tidak akan membayarku mahal. Aku makan dari kecantikanku.”

”Aku akan membayarmu karena telah menjadi objek lukisan.”

”Namaku Ros.”

”Secantik mawar. Aku Noble.”

”Duriku juga tajam, Tuan Noble.” Perkataan Ros yang sengaja dilembut-lembutkan dan dibumbui desahan halus memancing lelaki untuk berpikiran kotor.

Ros menemani Noble merampungkan lukisan. Lewat tengah malam, ketika pengunjung mulai sepi, film sudah berganti tiga kali, Noble memasukkan perkakas dalam kopor. Kanvas dijaga agar tidak lecek. Noble mengajak Ros menginap di losmen. Tak perlu menunggu lama, manusia muda itu saling bekerja. Noble ingin mencoba duri-duri Ros. Pun Ros berhasrat mencicipi londo.

Setiap malam Noble ditemani Ros melukis. Hingga menjelang kepulangan, di malam terakhir, Noble menyampaikan sesuatu yang besar.

”Aku ingin menikahimu, Ros.”

Ros tersedak, lalu batuk-batuk sebentar.

”Kamu sedang mabuk, Tuan Noble?”

”Tidak, aku serius. Kamu cantik dan begitu baik.”

”Aku baik? Hanya orang ‘baik’ yang menganggapku ‘baik’,” Ros membuat apostrof dengan jari telunjuk kedua tangan dengan maksud metafora.

”Aku mencintaimu.”

”Aku dilarang mencintai klien. Cinta membuatku tidak profesional.”

Noble hanya diam. Ia menjadi lelaki penakut. Tidak seberani lukisannya. Di tengah riuh Bioskop Luxor, Noble dan Ros menyelami hati masing-masing.

Ros berdiri.

”Aku pergi. Lupakan aku. Pulang saja ke negaramu. Kotaku akan lebih indah tanpa lelaki semacammu. Lelaki hidung belang.”

Noble tidak bisa menghalangi jalan cepat Ros yang tiba-tiba menghilang di tengah keramaian. Noble hanya tergugu. Mencoba menahan jatuhnya air mata. Terlihat jelas kesedihan di wajahnya. Seperti ditumpahkan semua. Keesokan harinya, Noble ditemukan tukang bersih-bersih Bioskop Luxor mati menggantung diri di pojokan timur dekat kamar mandi wanita. Nadi terpotong. Ada beberapa botol karbol kamar mandi tercecer di bawah kaki. Selain menggantung lehernya Noble juga menenggak cairan karbol, seperti benar-benar ingin berhasil mati bunuh diri.

Bioskop Luxor dinaungi kengerian. Ada suara-suara tidak jelas memekakkan telinga. Ada suara tangisan ketika adegan bahagia sedang diputar dalam film. Ada laju napas berat saat adegan lucu. Penonton menghindari duduk di barisan kosong. Sosok Noble akan muncul pada menit dan adegan tak terduga saat film berlangsung. Orang-orang di kota ini percaya arwah Noble yang menggambar gambar-gambar jorok, hantu seram, lelaki tanpa kepala di tembok Bioskop Luxor. Hingga suatu pagi muncul lukisan besar di tembok Bioskop Luxor, yang tidak diketahui siapa pembuatnya. Tetapi orang sangat percaya itu ulah arwah Noble yang kecewa kepada Ros. Hantu tentu bisa melakukan apa pun yang dimau.

Sedang Ros sendiri seperti menyusul Noble, hilang dari peredaran dunia malam.

Bioskop Luxor makin sepi. Bahkan ketika film beradegan panas mulai diminati dan laris, Bioskop Luxor tetap sepi peminat. Tidak lagi ditemukan pengantre tiket, lelaki tua dengan sepeda onthel pengantar rol film, juga wanita-wanita berpakaian tipis dengan perkataan menggoda. Lukisan Noble di tembok Bioskop Luxor kian hari kian menebar teror. Korbannya para barisan patah hati. Di pemutaran Gairah dalam Pergaulan, film terakhir sebelum Bioskop Luxor ditutup, hanya ditonton tidak lebih sepuluh.

Melintasi malam-malam gedung Bioskop Luxor adalah pilihan buruk. Kecuali bagi orang patah hati macam diriku. Andai besok ditemukan pakaian tanpa tuan di emper Bioskop Luxor, itu tentulah aku. Karena lukisan di tembok Bioskop Luxor atau tidak, itu tidak penting. Bulat tekad menyusul Noble menjadi hantu yang menyebar hawa seram. Kalau boleh, aku ingin menjadi hantu yang membuat tulisan mesum dan caci maki di setiap pojokan kota ini. Hingga kekasihku paling bajingan itu tahu aku sudah mati.(62)

Catatan:

Bioskop Luxor adalah nama pertama Bioskop Permata, di Jalan Sultan Agung Yogyakarta, yang resmi ditutup pada 1 Agustus 2010. Aaron Noble pernah mempercantiknya dengan mural berjudul ”Matahari” pada 2002.

Radna Tegar Zakaria, lahir di 26 Juli 1990. Belajar menulis di Klub Sabtu FLP, meski bukan anggota resmi FLP.

One Response

  1. Agak miss data-nya, es campur PK itu tidak ada di pertigaan bioskop permata. Tetapi di Jalan Godean…..
    CMIIW

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: