Cerpen Miguel Ángel Asturias (Koran Tempo, 26 Januari 2014)

Gadis Berambut Panjang ilustrasi Yuyun Nurrachman - Koran Tempo
Gadis Berambut Panjang ilustrasi Yuyun Nurrachman/Koran Tempo

Dan El Cadejo, yang mencuri gadis-gadis beruntai-rambut-panjang dan mengikat surai kuda-kuda, muncul di lembah.

PADA saat itu Bunda Elvira dari ordo Santo Fransiskus, biarawati di Biara Santa Katerina, masih menjadi calon biarawati yang bertugas memotong hosti di gereja. Dia gadis yang terkenal dengan kecantikannya dan cara berbicaranya yang memesona. Kata-kata laksana menjelma bunga kelembutan dan cinta kasih di bibirnya. 

Dari sebuah jendela lebar tanpa kaca, sang calon biarawati kerap menatap dedaunan yang diterbangkan angin kering musim panas, pepohonan yang bebunganya tengah bermekaran, dan bebuahan ranum yang jatuh di taman samping biara. Jendela itu adalah bagian dari bekas biara yang telah menjadi puing-puing, tempat dedaunan rimbun menyembunyikan dinding-dinding yang terluka dan atap-atap terbuka. Ruang-ruang tertutup dan kamar-kamar berkhalwat bertiwikrama menjadi surga beraroma tanah liat dan mawar liar. Sementara, para biarawati digantikan oleh burung-burung dara berkaki merah jambu dan madah pujian mereka berganti kicauan burung kenari.

Di luar jendela, di dalam ruang-ruang yang telah ambruk, bayangan kehangatan tempat sekawanan kupu-kupu mengubah debu di sayap mereka menjadi sutra, berpadu dalam kesunyian tanah terbuka yang hanya disela oleh gemerisik hilir-mudik kadal melata. Aroma lembut dedaunan menggandakan perasaan menenangkan dari pepohonan besar dengan akar-akar mencengkeram kuat ke dalam dinding-dinding puing kuno.

Di dalam, tempat terdapat tubuh Kristus yang disalibkan, ditemani kehadiran indah Tuhan, Elvira menyatukan jiwa raganya dengan rumah masa kecilnya, dengan kunci-kunci berat dan mawar-mawar lembut, dengan pintu-pintunya yang menyamarkan isak tangis dengan semilir angin, dengan dinding-dindingnya yang memantulkan air mancur seperti ruap napas di atas kaca bening.

Suara deru kota merusak kedamaian jendela Elvira: kesedihan terakhir para penumpang di tengah kesibukan pelabuhan saat waktu berlayar tiba; derai tawa seorang pria saat berupaya menghentikan kuda yang dinaikinya; putaran roda kereta; tangisan bocah papa yang dirundung duka.

Kuda, kereta, pria, dan bocah papa melintas di depan mata Elvira, membangkitkan kenangan akan pemandangan pedesaan: di bawah langit tenang tampak mata air dan palung tempat makan hewan serta penderitaan panjang para perempuan pelayan.

Dan bayangan-bayangan itu datang disertai aroma yang tercium. Langit beraroma serupa langit, bocah papa serupa aroma bocah papa, ladang beraroma serupa ladang, kereta beraroma jerami, kuda beraroma mawar tua, pria beraroma orang suci, palung serupa bayangan, bayangan serupa libur hari Minggu, dan hari Minggu untuk beribadah serupa air segar pembasuh tubuh….

Gelap mulai datang. Bayangannya menghapus kilau debu yang melayang dalam terpaan cahaya matahari. Lonceng gereja mendekatkan bibir mereka pada cangkir malam yang hening. Tapi siapakah yang berbicara tentang kecupan? Angin menggoyangkan bunga-bunga. Dan burung-burung memuaskan kerinduan mereka kepada Tuhan melalui bunga-bunga. Tapi siapakah yang berbicara soal kecupan?

Detak tumit sepatu bergegas menyadarkan Elvira dari lamunannya. Suara itu menggema di lorong seperti pukulan tambur.

Benarkah yang dia dengar? Apakah itu lelaki berbulu matalentik yang kerap mampir pada Jumat malam untuk mengambil hosti dan membawanya sejauh sembilan kota dari tempat ini, menuju Lembah Perawan, tempat satu kerahiban yang menyenangkan terdapat di puncak sebuah bukit?

Mereka menyebutnya lelaki-candu. Angin menggerakkan sepasang kakinya. Ketika bunyi langkah kakinya yang serupa langkah kambing berhenti, muncullah dia, serupa hantu: tangan memegang topi, sepatu mungil sewarna emas, tubuh terbalut mantel biru. Dan dia menunggu kotak hosti di muka gerbang.

Ya, itu memang dia. Tapi kali ini dia masuk dengan bergegas dan raut wajah ketakutan, seolah-olah harus mencegah datangnya sebuah bencana.

”Nona!“ teriaknya. ”Mereka akan memotong rambutmu! Mereka akan memotongnya!”

Ketika Elvira melihatnya muncul, wanita itu lanjgsung bangkit dengan maksud hendak menuju pintu. Namun, mengenakan sepatu bekas yang diwarisi dari seorang biarawati lumpuh yang telah mengenakannya seumur hidup, ketika mendengar lelaki itu berteriak Elvira merasa biarawati lumpuh yang menghabiskan seumur hidupnya tanpa bergerak itu merasuki kakinya, dan dia tak mampu bergeser selangkah pun….

Isakan menggugu di tenggorokan Elvira. Burung-burung seakan menggunting senja di antara reruntuhan kelabu. Dua pohon ekaliptus raksasa memadahkan doa.

Terikat oleh kaki sesosok mayat, tak sanggup bergerak, Elvira menangis tersedu, menelan isakannya diam-diam seperti orang sakit yang anggota tubuhnya mengering dan membeku, satu demi satu. Dia merasa seolah-olah mati, terkubur di dalam tanah. Dia merasa di dalam kuburnya—baju kematiannya berlumur tanah merah—tumbuhlah serumpun mawar. Sedikit demi sedikit kegalauannya beralih menjadi kebahagiaan. Berjalan melintasi rumpun mawar, para biarawati memotong sekuntum demi sekuntum bunga untuk menghiasi altar Bunda Maria dan mawar-mawar itu pun menjelma musim semi, jalinan aroma mewangi yang memerangkap sang Bunda Suci laksana seberkas cahaya.

Namun, sensasi indah bahwa tubuhnya akan berbunga setelah kematian hanya berlangsung singkat.

Seperti layang-layang yang kehabisan tali di antara awan, bobot untaian rambutnya menarik jatuh kepalanya, bersama seluruh busananya, ke dasar neraka. Misteri bersembunyi di dalam rambutnya. Puncak kecemasan melandanya. Dia kehilangan kesadaran selama dua helaan napas dan baru merasa kembali menjejak bumi saat dia nyaris terperosok hingga ke ujung lubang bergolak tempat para iblis berada. Kenyataan terbuka mengelilinginya: malam yang dipermanis oleh pasta, pepohonan pinus yang beraroma serupa altar, serbuk sari kehidupan yang melayang di rambut udara, kucing tak berbentuk dan tak berwarna yang mencakar air dari palung mata air, dan lembaran-lembaran perkamen tua yang berserakan.

Jendela jiwa Elvira dipenuhi oleh aroma surga….

”Nona, ketika aku menerima komuni suci, Tuhan terasa seperti tangan lembutmu!“ lelaki bermantel itu berbisik, ujung bulu matanya menyentuh kelopak bawah matanya.

Elvira menarik tangannya dari hosti saat didengarnya perkataan kurang ajar yang menghujat Tuhan itu. Tidak, ini hanya mimpi! Lalu Elvira menyentuh lengannya sendiri, bahunya, lehernya, wajahnya, untaian rambutnya. Dia menahan napas saat menyentuh untaian rambut panjangnya, begitu lama seakan berlangsung seabad. Tidak, ini bukan mimpi! Di bawah segenggam hangat untaian rambutnya, dia merasa hidup, menyadari daya tarik kewanitaannya, ditemani kehadiran si lelaki-candu dan sebatang lilin yang menyala di ujung ruangan berbentuk persegi panjang serupa peti mati.

Cahaya itu menerangi sosok nyata seorang lelaki yang menjulurkan tangan seperti Kristus, sedangkan tubuh yang disentuhnya adalah dagingnya sendiri! Terkungkung oleh kebutaan yang didapatnya dari bayangan neraka, Elvira memejamkan mata agar dapat meloloskan diri dari lelak yang mengelus tubuhnya dan menjadikannya sesosok wanita dewasa—dengan menyentuhnya sebagai seorang lelaki!

Namun, begitu Elvira menutup kelopak matanya yang bulat pucat, si biarawati lumpuh terasa sirna dari kakinya. Elvira bersimbah air mata, bergegas membuka mata. Dia memberontak dalam kegelapan, membelalak, bola matanya nyalang, gelisah seperti tikus kena perangkap. Sepasang pipinya pucat pasi. Dia terpuruk di antara kepedihan ganjil yang dirasanya dalam sepasang kakinya yang hendak berlari dan siksaan untaian rambut sehitam batubara yang meliuk-liuk seakan membara seperti nyala api gaib di punggungnya.

Dan itulah hal terakhir yang disadarinya. Seperti seseorang yang dikendalikan mantra sihir tak tertangkal, dengan isak tertahan di lidahnya yang seolah dipenhui racun seperti juga hatinya, dia melarikan diri dari lelaki itu, separuh gila, melemparkan hosti ke segala arah demi mencari-cari gunting. Lalu, setelah berhasil menemukan gunting itu, dia memotong untaian rambut panjangnya…. Terbebas dari pengaruh mantra, Elvira berlari mencari perlindungan biarawati kepala, tak lagi merasakan kelumpuhan yang tadi menyerang kakinya….

***

Namun, ketika untaian rambut itu terjatuh, benda itu bukan lagi seuntai rambut panjang: ia bergerak, meliuk-liuk di atas hamparan hosti yang berserakan di atas lantai.

Si lelaki-candu menoleh ke arah cahaya lilin. Air mata membasahi bulu mata lentiknya serupa nyala api mungil di ujung korek api yang nyaris padam. Dia merambat di sepanjang tepi dinding dengan napas terengah, tanpa bayangan, tanpa suara, sia-sia mencari nyala api yang diyakininya akan menjadi penyelamatnya. Namun, langkahnya yang semula terukur segera berubah menjadi langkah seribu ketakutan. Makhluk melata tanpa kepala itu bergerak cepat melintasi serakan hosti dan terbang ke arahnya. Benda itu hinggap di bawah kakinya serupa darah hitam kental sesosok binatang mati. Sekonyong-konyong, saat lelaki itu hendak meraih lilin yang menyala, benda itu melompat dengan kecepatan air bah dan membelit melingkari lilin serupa cambuk. Lilin itu mencair, membakar diri sendiri, dan apinya pun padam. Sementara, jiwa si lelaki pun sirna bersamaan dengan padamnya nyala api lilin. Untuk selamanya. Dengan itu, si lelaki-candu yang hingga kini nasibnya masih ditangisi oleh kaktus-kaktus di lembah gersang, mencapai keabadian.

Iblis melintas serupa desah napas dari untaian rambut yang kini teronggok diam tak bernyawa di atas lantai ketika nyala api lilin itu padam.

Dan pada tengah malam, berubah wujud menjadi sesosok binatang panjang—bertambah panjang dua kali lipat saat bulan purnama, membesar seukuran pohon raksasa saat bulan muda—dengan kaki kambing, telinga kelinci, dan wajah serupa kelelawar, si lelaki-candu itu menyeret untaian rambut hitam sang gadis calon biarawati ke neraka.

Itulah kisah asal-muasal iblis El Cadejo berakhir.

Sementara, kelak, sering berjalannya waktu, sang gadis menjelma menjadi Bunda Elvira Santa Fransiska. Di bawah lututnya, di dalam ruang khalwatnya, tersenyum laksana sesosok malaikat, sang biarawati bermimpi tentang bunga-bunga dan domba-domba yang gaib dan suci.

 

Catatan

El Cadejo adalah sejenis makhluk gaib berwujud serupa anjing yang kerap mengganggu manusia dalam cerita rakyat Guatemala.

 

Miguel Ángel Asturias (1899-1974), pengarang Guatemala, memenangi Hadiah Perdamaian Lenin 1966 dan Hadiah Nobel Sastra 1967. Novelnya yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia adalah Tuan Presiden. Cerita di atas dialihbahasakan Anton Kurnia dari terjemahan Inggris Hardie St. Martin.

Advertisements