Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 12 Januari 2014)

Hikayat Presiden Kurap ilustrasi Bagus - Jawa Posw.jpg
Hikayat Presiden Kurap ilustrasi Bagus/Jawa Pos 

Yang kutahu, aku tidak dinamai Embun Semibar sebagaimana bisikan itu. Nama yang diberikan ibuku yang merupakan keturunan kesekian dari Raja Ketemenggungan dan Putri Sari Banilai terdengar begitu gagah dan berwibawa walau sangat tidak Melayu. Aku sangat cemas mengetahuinya. Untuk apalah aku dilahirkan—oleh manusia—bila akhirnya akan menjelma seorang panglima yang mahakuasa selama satu dekade untuk dilengserkan oleh kerumunan orang yang merasa paling mewakili suara Tuhan. Sayangnya, mereka takpernah tahu, bahwa tubuhku digerakkan oleh arwah Orang Melayu yang menyaru menjadi Iblis ketika membayangkan sejumlah uang yang akan diraup suatu waktu!

Ratusan tahun sebelumnya: pada hari kedua Safar, ketika Perang Pagarbesi tengah berkecamuk di utara Karasidenan Palembang, aku dilahirkan. Aku takpernah tahu, gua garba milik perempuan mana yang aku terobos demi melihat Suvarna Dwipa, begitu orang-orang menyebut pulau tempatku diturunkan. Jadi, tentu saja aku pun tak tahu siapa laki-laki yang telah menanami pejuh kentalnya di rahim ibu. Ah, sebenarnya aku pun tak yakin kalau aku adalah anak manusia. Aku lebih yakin dan bangga kalau Tuhan menurunkanku tiba-tiba tanpa tertib tertentu, sebagaimana orang-orang Melayu percaya bahwa moyang pertama mereka dilahirkan oleh hikayat.

Aku pun besar di rimba, diasuh oleh segerombolan rusa bertanduk tiga. Mereka menyusuiku pagi, siang, dan malam. Sesekali mereka memberiku buah-buahan yang telah mereka kunyah terlebih dahulu. Pada akhir pekan, mereka mengajakku ke padang sabana di selatan Sungai Musi, aliran air tawar terpanjang di Suvarna Dwipa. Di sana, aku diajak melihat dan bermain dengan ikan, udang berkulit tembus pandang, dan kepiting yang hitam kulitnya seperti ujung tombak.

Namun itu tak berlangsung lama. Ketika usiaku—anggaplah kira-kira—menjelang empat tahun, satu per satu dari mereka meninggalkanku dengan teratur. Mereka tahu benar kalau menelantarkanku dengan tiba-tiba hanya akan mengangakan luka yang takpernah kumengerti, kusembuhi, dan kumaafi. Apa yang mereka lakukan adalah cara cerdas untuk membuatku mengerti bahwa aku sudah besar—setidaknya itulah yang ada dalam benakku kala itu.

Aku pun mengembara. Ke mana-mana. Di tengah perang saudara antara Puak Musi dan Puak Col, aku menyelinap ke dalam keriuhan rimba. Ya, riuh rimba. Siapa bilang rimba itu hening. Di rimba yang sesungguhnya, tupai, simpai, harimau, babi, rusa, burung, dan binatang-binatang lainnya seperti berlomba menunjukkan keberadaan dengan timbre dan nada suara yang beragam. Jujur, aku bingung dan taknyaman. Sampai suatu ketika, aku memutuskan untuk keluar dari rimba yang takkumengerti itu.

Tanpa sadar aku sudah menginjak remaja. Namun aku seperti terdampar di dunia yang berbeda. Tahukah kalian, aku tersesat di dalam perang. Bukan Perang Pagarbesi atau perang antarpuak, melainkan perang antara orang-orang Sumatera—tiba-tiba banyak orang taklagi mengenal Suvarna Dwipa—dan orang-orang berambut mayang ilalang, berkulit daging kentang, bau tubuhnya tak bersahabat, mengenakan seragam perang yang banyak kantungnya, dan menenteng bedil ke mana saja. Tentu saja, aku sudah cukup mengerti apa yang terjadi. Tentu saja pula, aku lebih memihak pribumi. Aku ikut bergerilya dengan ketapel mengalungi leher, kerikil sebesar biji salak di kantung celana kain, dan kayu kasau yang runcing ujungnya di tangan kananku. Aku berhasil melukai kepala tiga kompeni dengan ketapelku dan membunuh seorang lagi dengan kasau runcingku. Namun, ternyata aku takcukup beruntung ketika hendak menombakkan kasauku ke arah pemimpin mereka. Selain tombakanku meleset, seorang kompeni berambut sebahu keburu memelintir lengan kananku. Aku memekik kesakitan. Namun kawan-kawan tampaknya lebih sibuk dengan lawan masing-masing. Kompeni itu lalu mengangkat tubuhku seperti mengangkat sebatang pohon dengan lingkar batang seukuran pinggangku. Ia tidak mengempaskanku ke tunggul-tunggul tajam di sekitar arena perang. Ia malah membuangku ke Sungai Binjai, anak Sungai Musi yang mengalir membelah Muarakelingi. Awalnya aku merasa sangat bersyukur. Namun itu tak berlangsung lama. Ketika hendak berenang menepi ke seberang, kaki kiriku takbisa digerakkan. Seperti ada sesuatu yang menahannya, menjepitnya, menggigitnya …. O, baru sadarlah aku kalau kompeni itu melemparku di dekat lubuk, pusaran air mematikan yang terdapat di beberapa sudut sungai. O, lubuk adalah kediamannya buaya dan ular tiung—ular yang bisa terbang rendah di atas permukaan sungai bila hendak memangsa burung-burung kuau yang melintas.

Aku gerakkan kaki kiriku sekuat tenaga untuk melepaskan gigitan buaya—ya, aku yakin, itu gigitan buaya! Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Makin kuentak kakiku, makin terseret aku ke dalam sungai, ke dalam lubuk. Aku pun memilih mengalah, membiarkan lubuk mengisapku, memusar-musar tubuhku semaunya, hingga gigitan buaya itu terlepas dan aku terlelap dengan sendirinya di dalam pusaran yang panjang, sangat panjang seperti takberujung …..

Keesokan harinya, atau keesokan-keesokan harinya, atau pekan berikutnya, atau bulan berikutnya, atau tahun berikutnya, atau sewindu ke depan, atau di abad yang lain … oh, benar-benar aku tunawaktu … aku keluar dari lubuk di utara Sungai Komering. Bukan dalam keadaan taksadarkan diri apalagi takbernyawa lagi. Aku muncul dalam sebuah biduk dengan sauh yang kukayuh dengan gagahnya. Orang-orang yang berjumpa denganku memanggilku Mamang. O, telah tua niankah aku? Ah, itu tak penting! Untuk apa memikirkan sesuatu yang takjelas nasab dan tertibnya, sebagaimana muasal hidupku yang penuh rongga, liukan, dan kejutan.

Aku menambatkan biduk di salah satu jambanan yang ramai oleh para perempuan. Pagi hari begini, perempuan-perempuan Puak Komering memang biasa mencuci pakaian dan pekakas rumahtangga di jambanan yang terbuat dari bilah-bilah kayu bulat—biasanya kayu merbau atau kayu sungkai atau kayu onlen; sementara para lelakinya masih terlelap atau bila pun terjaga; mereka sedang melahap nasi gemuk, rebusan ubi selong, atau memeriksa jala, bubuh dan tajur, mencari cacing di bawah rumah tinggi, atau mengasah parang dan pisau yang akan dibawa ketika memancing atau memasang tajur dan bubuh. Entah, aku pun taktahu, bagaimana aku hafal tabiat puak yang baru kutemui itu.

Tapi ada yang takbiasa. Ya, takbiasa. Percakapan perempuan-perempuan itulah yang—terdengar—takbiasa. Mereka ternyata tak sekadar membincangkan melonjaknya harga beras dayang rindu, hajatan salah satu penduduk, anak gadis pesirah yang belum kawin, atau ikan seluang yang ramai mengerumuni jamban pembuangan. Mereka justru masyuk membicarakan orang yang berkuasa. Anehnya, mereka tak menyebutnya adipati atau raja. Mereka menyebutnya Persiden. O, siapa pula yang mencetuskan istilah itu? Ah, sudahlah. Aku cukup cerdas menalari bahwa yang mereka maksud adalah raja!

Ya, raja yang ingin memperpanjang usia kekuasaannya walaupun hampir sepuluh  tahun direngkuhnya.

Perempuan-perempuan itu sudah maju pikirannya sekaligus kurang ajar ucapannya. Sudah berani mereka membincangkan raja dengan terang-terangan—main hardik-hardikan juga!

“Siapa nian kau, Mang?”

“Kau masih taktahu dengan Persiden?

Masa sudah tua tapi tak tahu kalau dia mau maju lagi?”

“Umurmu 55 atau 60?”

“Kau bekas pejuang, ya?”

“Bekas pejuang yang takdiakui Negara sebagai veteran, ya?”

Apa? Setua itukah aku? Tidak. Aku benar-benar takmengerti dengan apa yang mereka bincangkan. Pejuang? Veteran? Nah, apalagi veteran itu?”

Aku pun berjalan menyusuri perkampungan. Di dusun ini, Rumahtinggi sudah banyak dirubuhkan dan berganti rumah beton. Para penduduk asyik dengan kotak warna yang hidup gambarnya. Mereka menyebutnya tipi. Ah, hebat sekali dunia! Anak-anak menekuri tipi dari pagi hingga pagi lagi. Lalu, mana waktu mereka untuk belajar silat kuntau, bermain kawanan, pantak lele, yeye, boer, cengkling, atau sumputan. Mengapa takada lagi yang bermain, berkerumun, dan bersorai di lapangan usai magrib sebelum berangkat ngaji di surau. Surau? Siapa yang mengisi surau selain seorang muazin dan imam yang menunaikan salat seorang diri?

Aku sangat kesal dengan tipi. Aku pun memutuskan masuk ke dalamnya.

Ketika orang-orang tua sedang hikmat menonton barisan dan kerumunan anak muda yang dengan begitu semangatnya hendak menurunkan Si Persiden, aku menyelinap ke dalam laki-laki tua berambut putih di dalam istana—orang-orang di luar sana menyebutnya Istana Negara.

Aku sudah muak dengan kekacauan dan ketakjelasan negeri ini!

Aku menguasai tubuh Pak Persiden. Hari ini, aku ingin berjasa terhadap negeri ini. Aku pun membisikinya untuk menuliskan sebuah maklumat yang akan membuka sejarah baru bagi negeri ini kelak!

Dia mengundurkan diri!

Sujud syukur di mana-mana!

Sorak-sorai kemenangan di mana-mana!

Salawat bergema di mana-mana.

Aku baru keluar dari tubuh Si Persiden beberapa tahun kemudian. Kepergianku bukanlah kabar baik bagi kesehatannya karena serombongan penyakit seperti saling salip mengambil jatah di tiap bagian dan organ tubuhnya!

Aku taktega melihatnya menderita. Sungguh!

Aku pun memutuskan kembali ke kampung halamanku. Sebuah hikayat dari selatan Sumatera. Hikayat yang melahirkan dan menyesatkanku hingga sejauh ini.

Aku menyelami lubuk di Sungai Komering. Aku ikuti saja ke mana pusaran air itu akan mengisap dan melabuhkanku. Tapi ternyata aku salah. Aku justru dikumpar arus di bawah permukaan air. Aku takbisa bernapas dan bergerak. Bukan karena kakiku digigit buaya, melainkan arus sungai yang berubah menjadi jala raksasa yang memerangkapku. Aku mencoba berteriak, tapi takbisa. Aku berdoa dalam hati walau aku tahu takada guna. Aku pun memasrahkan keadaan pada keajaiban yang—aku yakin, apabila benar ada—akan membawaku ke mana saja, menjadi apa saja. Apalah arti seorang laki-laki yang beranak dari setangkai dongeng dari entah sepertiku. Bila pun aku akan mati, itu takubahnya dengan apa-apa yang kujalani selama ini; dibilang hidup, aku seperti bukan manusia; dibilang mati, aku masih dianggap oleh orang-orang.

Arus yang membawaku semakin kuat dan deras. Tiba-tiba sebuah tali yang panjang takterkira tumbuh dari pusarku. Tubuhku pun mengecil, melembut, memerah, dan melengkung di dalam semacam cangkang yang ganjil, yang berwarna cokelat kemerahan.  Anehnya, aku merasa tenteram di sini. Aku takmerasa kelaparan. Takada buaya dan ular tiung. Aku takharus dipusingkan dengan turunnya raja dari singgasana. Aku hanya diharuskan menjawab pertanyaan yang lamat-lamat dibisikkan ke telingaku yang masih lembut:

“Sudah siapkah kau dilahirkan?”

Tentu saja aku takmengerti maksud pertanyaan itu.

“Bila sudah, tugasmu adalah melahirkan hikayat!”

Nah, bukankah sebelumnya aku telah dilahirkan oleh hikayat.

“Hikayat yang akan terus dibelokkan oleh orang-orang yang hidup di masa setelahmu.”

“Aku lahir sebagai apa?” Akhirnya aku memberanikan diri bertanya.

“Embun Semibar!”

“Embun Semibar?”

“Ya. Laki-laki paling baik hati di Suvarna Dwipa yang mengidap penyakit kulit sepanjang hayatnya …”

Aku takbisa berkata-kata ….

“ … namun mereka takpernah tahu kalau kau pernah hidup di masa depan!”

Aku meneguk liur.

Beberapa saat kemudian, air bah yang sangat dahsyat mendorongku keluar dari gua yang menyempil dari sepasang batang pisang yang sudah dikuliti pelepahnya. Aku menangis sangat hebat. Seorang perempuan paruh baya berpakaian serbaputih mengangkatku dan gegas membersihkan darah-darah yang membercaki beberapa bagian tubuhku.

“Bujang atau betino, suster?” tanya ibuku taksabaran.

“Laki-laki, Bu,” ujar perempuan itu dengan wajah semringah. “Ibu sudah menyiapkan nama untuknya, mungkin?”

Ini benar-benar membingungkan!

Sudahlah! Yang kutahu, aku tidak dinamai Embun Semibar sebagaimana bisikan itu. Nama yang diberikan ibuku yang merupakan keturunan dari Raja Ketemenggungan dan Putri Sari Banilai terdengar begitu gagah dan berwibawa walau sangat tidak Melayu. Aku sangat cemas mengetahuinya. Untuk apalah aku dilahirkan—oleh manusia—bila akhirnya akan menjelma seorang panglima yang mahakuasa selama satu dekade untuk dilengserkan oleh kerumunan orang yang merasa paling mewakili suara Tuhan. Sayangnya, mereka takpernah tahu, bahwa tubuhku digerakkan oleh arwah Orang Melayu yang menyaru menjadi Iblis ketika membayangkan sejumlah uang yang akan diraup suatu waktu! (*)

 

Lubuklinggau, November 2013