Archive for January, 2014

Perut Tanah
January 26, 2014


Cerpen Yanusa Nugroho (Media Indonesia, 26 Januari 2014)

Perut Tanah ilustrasi Pata Areadi

MALAM larut, pekat, panas seperti ter. Tak ada udara yang mau bergerak, dan orang-orang itu pun seperti kehilangan pikiran. Sementara laki-laki itu sendiri bahkan tak punya sebatang rokok pun untuk diisap. Kemarin istrinya marah besar. Mungkin kesurupan roh Betari Durga. Semua dikutuknya. Bahkan tempayan kosong, yang sudah beberapa bulan ini tak sempat terisi apa-apa, dikutuknya habis-habisan. Untunglah, kutukannya tidak manjur, sehingga tempayan itu tetap berwujud tempayan.

Sesaat dia hanya melihat sekeliling. Panas yang pengap ini tak memberi harapan apa-apa. Suara orang-orang mengaji di surau dan langgar-langgar terdengar sayup, menyelusup dari celah-celah udara panas. Sampai malam ini, istrinya masih saja mengomel dan mengutuki apa saja yang bisa dikutukinya. Mungkin itulah yang bisa dilakukannya untuk saat ini. Dan, laki-laki itu memilih keluar rumah.  (more…)

Advertisements

Gadis Berambut Panjang
January 26, 2014


Cerpen Miguel Ángel Asturias (Koran Tempo, 26 Januari 2014)

Gadis Berambut Panjang ilustrasi Yudha AF

Dan El Cadejo, yang mencuri gadis-gadis beruntai-rambut-panjang dan mengikat surai kuda-kuda, muncul di lembah.

PADA saat itu Bunda Elvira dari ordo Santo Fransiskus, biarawati di Biara Santa Katerina, masih menjadi calon biarawati yang bertugas memotong hosti di gereja. Dia gadis yang terkenal dengan kecantikannya dan cara berbicaranya yang memesona. Kata-kata laksana menjelma bunga kelembutan dan cinta kasih di bibirnya.  (more…)

Luxor
January 26, 2014


Cerpen Radna Tegar Zakaria (Suara Merdeka, 26 Januari 2014)

Luxor ilustrasi Toto

KALAU tidak sedang patah hati dan merencanakan bunuh diri, jangan sekali-sekali mengunjungi Bioskop Luxor di malam hari. Sebaiknya memilih jalan lain yang tidak harus melewati Bioskop Luxor. Walaupun jalan tersebut harus mengambil rute memutar yang lebih jauh. Bila sangat terpaksa melewati gedung itu, perbanyak menderas doa dan terus saja membuang muka.  (more…)

Tentang Drupadi
January 26, 2014


Cerpen Wina Bojonegoro (Jawa Pos, 26 Januari 2014)

Tentang Drupadi ilustrasi Bagus

“SEHARUSNYA tempat ini menjadi kenangan yang indah. Saksi sebuah pesta pernikahan yang tak akan terlupakan…“

Kalimat itu meluncur rapuh dari bibir seorang lelaki tua yang tak kukenal, ketika aku sedang duduk bersantai di taman ini menikmati langit November yang dipenuhi guguran kelopak flamboyan. Aku terhipnotis dalam waktu sekejap. Lelaki tua itu memandangi ranting-ranting yang menjulur rendah di hadapan kami. Semata merah. Bulir-bulir daun hijau seolah hanya kelopak, dan mahkotanya adalah merah yang menyala kontras di paparan langit biru sore hari.  (more…)

Surat Untuk Ayah
January 26, 2014


Cerpen Sam Edy Yuswanto (Republika, 26 Januari 2014)

Surat Untuk Ayah ilustrasi Rendra Purnama

ENTAH telah berapa ratus surat yang Nadia tulis untuk Ayah semenjak masih duduk di bangku ibtidaiyah kelas satu hingga kini ia kelas empat. Tiap pekan, saat hari libur sekolah atau ketika hari bertanggal merah, Nadia selalu menyempatkan waktu duduk berlama-lama di dalam kamar menuliskan semua hal yang ia alami sehari-hari sekaligus mengutarakan bahwa telah lama ia merindu kehadiran Ayah.

Menurut cerita Ibu, kelak suatu ketika Ayah akan kembali ke rumah. Ayah, kata Ibu, pergi meninggalkan rumah untuk mencari uang. Ayah pergi ketika usia Nadia belumlah genap dua tahun. Ayah, kata Ibu, memiliki wajah tampan, berwibawa, dan gagah mirip almarhum Bung Karno.  (more…)

Matinya Seorang Demonstran
January 26, 2014


Cerpen Agus Noor (Kompas, 26 Januari 2014)

Matinya Seorang Demonstran ilustrasi Rahardi Handining

PAHLAWAN hanyalah pecundang yang beruntung. Ratih selalu tak bisa melupakan kata-kata itu setiap kali melewati jalan ini. Telah banyak yang berubah. Tak ada lagi deretan kios koran, warung gado-gado, dan penjual bensin eceran di pojokan. Bangunan kuno asrama mahasiswa yang dulu berada di sisi kanan telah menjadi ruko bergaya modern. Waktu mengubah gedung-gedung, tapi tidak mampu mengubah kenangannya.  (more…)