Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 10 November 2013)

Bunga Kecubung Bergaun Susu ilustrasi Budiono - Jawa Pos (1)
Bunga Kecubung Bergaun Susu ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

Pada akhirnya, sesuai arti namanya, Mukhlisin harus ikhlas menerima kenyataan. Bukan sekadar kenyataan bahwa negara tak mengakuinya sebagai bekas pejuang atau kenyataan bahwa justru si Samin—teman seperjuangannya—yang mendapat tunjangan dari pemerintah setiap bulan, tapi juga kenyataan bahwa mungkin saja ia adalah seorang perjaka paling tua yang pernah ada! Di usia lewat 70, Mukhlisin masih belum kawin. Mungkin banyak laki-laki yang tak kawin-kawin hingga usia tua, tapi banyak dari mereka sudah tak perjaka karena tergoda berbuat “nakal” dengan beberapa wanita yang rela menanggalkan keperawanan tersebab rayuan atau muslihat rupiah. Tidak, itu tak terjadi pada Mukhlisin!

Ia memang tidak rajin ke masjid, tapi bukan berarti tak pernah shalat. Walaupun tak pernah khatam Al-Qur’an, ia hafal Surat Yasin yang saban malam Jumat ia bacakan untuk kedua orang tuanya yang sudah tiada. Tentang tampang, ia memang tidak tampan, namun tutur katanya sangatlah sopan walau sesekali ia marah pada anak-anak yang kerap mencuri kayu keringnya untuk dijadikan senapan-senapanan atau pada orang-orang yang meragukan perjuangannya di masa perang kemerdekaan. Dan kini, sebagai seorang pencari kayu, walaupun jauh dari yang dikatakan kaya, ia tak punya utang. Singkat kata, hidupnya tak banyak tingkah.

Maka, ia sungguh bingung dengan apa yang menimpanya. Bukan lagi tentang kiprahnya di medan perang yang tak pernah terakui. Bukan! Bukan itu! Namun kerap ia bertanya sendiri, apa yang menyebabkan Tuhan tak menunjukkan satu wanita pun untuk mendapingi hidupnya. Ini tak berarti Mukhlisin merutuki ketentuan-Nya. Ia percaya, manusia yang merana di dunia akan memiliki nasib sebaliknya di akhirat. Ya, bila Mukhlisin ingin marah, sudah lelah ia. Bila ingin menggerutuk, pasti bosan Tuhan mendengarnya. Bila ingin menangis, malu ia pada usia. Bila ingin bercerita, kepada siapa seorang sebatangkara sepatutnya mengaitkan rasa percaya?

Saban pagi hingga matahari membuat tubuh kehilangan bayangan, Mukhlisin mencari kayu ke hutan-hutan. Kadang ke Hutan Bukit Sulap tempat pondoknya berada, kadang ke hutan Belalau, kadang ke hutan di sepanjangan bantaran Sungai Kelingi, kadang ke hutan-hutan kecil di Kenanga, Kayuara, atau Batuurip. Ia baru akan menjual kayu kering itu ke pasar usai Dzuhur atau jelang Ashar atau keesokan paginya. Namun, sebenarnya jarang, jarang sekali ia menjualnya ke pasar karena sepanjang perjalanan menuju pasar, biasanya barang bawaannya habis dibeli orang-orang.

Ia memang tak pernah memberi harga tinggi. Hanya Rp. 5.000,- untuk satu ikat yang berisi 10 potong kayu. Ah, apalah arti uang sejumlah itu di masa sekarang. Mungkin karena kasihan pada orang tua sepertinya, banyak pembeli yang membayar lebih. Bagai tahu berterima kasih, Mukhlisin membalasnya dengan memberikan apa pun yang menyertai kayu-kayu kering di dalam sarau-sarau yang diikatkan pada kedua ujung kasau yang dipanggulnya. Kadang ia memberi cendawan yang dipungut dari tunggul-tunggul, kadang satu-dua tandan pisang, kadang jantung pisang, kadang beberapa ikat pakis yang ia petik di hutan. Dan yang tak kadang-kadang adalah, selalu ada beberapa tangkai bunga kecubung di dalam keranjang anyamannya itu. Bunga-bunga itu kerap ia tawarkan kepada orang-orang yang membeli kayu keringnya, walaupun jarang sekali ada yang mau menerimanya, selain satu dua anak perempuan yang suka pada bunga.

Tentang bunga kecubung itu, orang-orang kampung tak lagi menyelipkannya dalam perbincangan. Musim gunjing itu sudah lewat. Dulu, ketika usia Mukhlisin belum 50, banyak yang bilang kecubung-kecubng itu jelmaan peri hutan. Di malam hari mereka menjelma perempuan yang sangat cantik. Peri-peri hutan itulah yang menemani malam-malam sunyi si tukang kayu. Sebenarnya ada lagi kabar-kabari yang lain, namun gemanya kalah nyaring dibanding kabar kecubung jadi-jadian. Tentu saja Mukhlisin mengetahui kabar keparat itu. Pernah ia memberi pelajaran beberapa perempuan yang tertangkap basah sedang menggunjingkan kecubung-kecubungnya. Ia mengambil semua kecubung dari dalam sarau, membawanya ke hadapan mereka, lalu meremas semuanya hingga hancur tak berbentuk.

“Bila benar kecubung-kecubung yang barusan hancur ini adalah peri hutan, maka matilah mereka, atau terkutuklah aku!” ujarnya penuh amarah kala itu. Entah karena gentar ada kemarahan Mukhlisin atau memang zaman yang sudah bergasing terlalu cepat hingga kabar-kabar itu pun tenggelam oleh riuhnya perbincangan tentang harga karet yang anjlok, harga bawang dan jengkol yang naik, dan susahnya daging sapi didapatkan di pasar-pasar. Tak ada lagi yang menggunjingkan bunga kecubungnya.

Mukhlisin sempat berpikir, jangan-jangan desas-desus perihal kecubung jadi-jadian itulah yang membuat jodohnya makin menjauh. Namun sangkaan itu segera ditepisnya begitu waktu berlarian. Ia pun sempat menyoal pekerjaannya sebagai aral hingga tulang rusuk kirinya tak kunjung menemukan jalan pulang. Siapa yang sudi menikah dengan tukang kayu? Tapi, lagi-lagi ia malu sendiri: mengapa pula aku harus malu dengan pekerjaanku; bukankah selama ini kayu-kayu kering itu menghidupiku dan memberiku banyak kebahagiaan?

Mencari kayu kering telah menjadikan Mukhlisin seorang pengembara. Dengan sarau di punggung dan mandau di tangan, tak jarang ia membuat jalan sendiri untuk menerabas kerimbunan tanpa menyebabkan banyak kerusakan. Ya, Mukhlisin tak pernah menggunakan mandaunya untuk menebang pohon atau menebas dahan yang dirimbuni daun, bunga, dan buah-buahan. Ia hanya menebang batang dan menebas dahan yang meranggas. Dengan cara seperti itu pengembaraan sederhana itu memberinya gairah dan ketenangan. Sampai-sampai ia sempat berpikir, jangan-jangan hutan dan kayu-kayu kering ang ada di dalamnya adalah belahan jiwa yang sebenarnya.

Maka, seperti ada bagian tubuhnya yang terluka dan mengucurkan darah bila tak sengaja ia dapati pohon besar ditebang atau semak-semak hijau ditebas semaunya oleh mereka yang memiliki kapak atau bahkan mesin chainsaw. Ia pernah menegur mereka, namun alih-alih malu atau merasa bersalah, para penganiaya hutan itu malah balik mengancam. Mukhlisin baru tahu kalau para pengguna mesin chainsaw itu dikawal orang-orang bersenjata. Ia masih tak habis pikir, bagaimana aparat bisa menjadi kacung. Atau mereka itu bukan aparat, melainkan orang-orang hebat yang bisa beroleh senjata dengan cara di luar perkiraan? Ia lelah dan marah pada dirinya yang tak bisa berbuat apa-apa.

***

Tiga puluh tahun yang lalu, ketika kesedihan merundungnya karena alasan yang bertindihan—tubuh yang masih membujang dan hutan-hutan banyak berubah jadi persawahan—Mukhlisin duduk bersandar di bawah batang durian yang besar. Tiba-tiba pandangannya bertabrakan dengan beberapa batang kecubung yang semua bunganya sedang mekar ke bawah. Bunga-bunga kecubung itu seperti berempati kepadanya, ikut merasakan kepedihan dan kekesalan panjang yang mengerubunginya. Ia mendekati kecubung-kecubung yang menunduk itu, memandangi mereka lekat-lekat. Ia tak tega memetiknya. Mengagumi tidak harus memiliki, apalagi menyakiti, batinnya.

Ajaib, semua kecubung yang mekar itu tiba-tiba begitu memesonanya! Di mata bujangan 40 tahun, kecubung-kecubung itu tak ubahnya bidadari yang kerap hadir dalam mimpi basahnya: kulitnya kuning duku, wajahnya cantik bercahaya, dagunya lekuk mangga, rambutnya disanggul sekenanya…. O ya, sang bidadari juga sangat anggun dalam balutan gaun landung berwarna susu, dengan kalung berkilau berwarna daun di lehernya yang jenjang.

Ah, lekas Mukhlisin kibaskan khayalan itu dengan penuh kegeraman dan sakit hati. Mahkota bunga kecubung di hadapannya itu memang merekah sangat lebar, tembus pandang, dan warna putih susunya menenangkan untuk dipandang; kelopak mungilnya yang berwarna hijau, menyejukan perasaan; dan tangkai sarinya yang menjulang tampak bersih dan menerbitkan keindahan…. Sejak itu, beberapa tangkai kecubung selalu menyertainya. Ya, menyertai dengan sendirinya. Mukhlisin tak merasa memetik kecubung-kecubung itu karena ia memang tak sampai hati melukai tangkainya. Awalnya ia heran, namun itu tak berlangsung lama. Kesendirian mengajarinya peka terhadap keajaiban. Ya, siapa yang akan percaya pada cerita seorang bujang tua tukang kayu? Bila berjalan di tengah kesunyian, ia akan mengajak kecubung-kecubung dalam sarau bercerita. Tak ada pendengar sebaik dan sehikmat kecubung. Ia memang sempat merasa sangat menyesal ketika meremas lima tangkai kecubung beberapa tahun kemudian. Ia mengutuk kebodohannya yang tunduk pada bisik-bisik kecubung-kecubung sehingga meremukkan mereka. Betapa kecubung-kecubung itu rela berkorban agar aku tak dikatakan beristri dengan siluman, sesalnya kala itu.

Hingga, di siang Jumat yang terik itu, keanehan terjadi. Dalam perjalanan menuju pasar usai shalat Jumat di masjid di lereng Bukit Sulap, Mukhlisin sangat heran karena tak seorang pun yang membeli kayu keringnya. Tak lama kemudian ia mendengar kabar yang berhasil membekapnya dalam ketakutan. Orang-orang kampung menjulukinya Perjaka Tua Pecah Bulu. Bagaimana mungkin aku dikatakan laki-laki yang tak mampu menahan nafsu hingga melampiaskannya kepada apa pun yang dapat merangsang birahi?

Mukhlisin sangat tak terima dan sakit hati. Barulah ketika celetukan ibu-ibu di pinggir jalan mengetuk gendang telinganya, nyalinya ciut dan rasa malunya membubung.

“Pagi tadi, anak-anak yang sedang mencari buah para di lereng bukit, menemukan si tukang kayu sedang memeluk batang kecubung yang sedang lebat-lebatnya berbunga. Kata mereka lagi, batang kecubung itu sampai patah. Dan si tua gila itu berguling-guling dengannya seperti sedang bergulat dengan perempuan di atas ranjang. O ya, tukang kayu itu telanjang ketika melakukannya!”

“Haram jadah!”

“O ya, ia juga menyebut-nyebut nama perempuan!”

“Siapa?”

“Mayang!”

“Mayang?”

“Ya. Dasar bujang liat! Ternyata selama ini diam-diam tukang kayu tu menaruh hati pada bekas kekasih karibnya. Tak kusangka kalau Mukhlisin menyukai perempuan itu. Asal kau tahu saja, ya, Mayang itu sudah disumpahi si Samin jadi perawan sampai mati?”

“Kau yakin Samin menyumpahinya begitu?”

“Bisa saja. Apalagi sejak penolakan pinangannya ditolak oleh keluarga Mayang puluhan tahun lalu, Samin cuma menyendiri di pelosok Muarakelingi dan tak pernah ke kota.”

“Menyendiri?”

“Ya.”

“Sama seperti Mukhlisin?”

“Mungkin karena mereka sama-sama berperang dulunya.”

“Tapi kan hanya Samin yang diakui sebagai veteran, Mukhlisin tidak?”

“Mukhlisin sibuk memikirkan jodohnya yang tak sampai-sampai.”

“Sibuk dengan kecubungnya!”

“Kecubung binal!”

“Dasar tua bangka binal!”

“Tak ada bini, kecubung pun jadi.”

“Hahahaha….”

Demi Tuhan, aku tidak melakukannya, gumam Mukhlisin dengan bibir bergetar. Memang, ketika kantuk menyerang pagi tadi, ia menyandarkan diri ke tiang pondok yang berada tak jauh dari rimbun kecubung yang ditanamnya 4 tahun yang lalu. Ia sungguh tak mampu melawan kehendak matanya sebab semalaman begadang menunggu durian jatuh. Ia sadar, sebenar sadar, kala itu seorang perempuan yang kerap hadir dalam mimpi basahnya datang menghampirinya.

Seperti biasa, kulitnya kuning duku, wajahnya cantik bercahaya, dagunya lekuk mangga, rambutnya disanggul sekenanya…. Dan tentu saja tubuhnya dibalut gaun landung berwarna putih susu yang sedikit transparan, dengan kalung berwarna hijau berkilau di lehernya yang jenjang. Mukhlisin hakkul yakin kalau kedatangan perempuan mirip bidadari itu adalah hadiah dari Tuhan karena ia menunggu durian seraya mengirim Surat Yasin pada almarhum kedua orang tuanya hingga sepuluh kali. Tiba-tiba ingatannya memberontak. Bila memang itu mimpi, mengapa pagi tadi pakaianku tergantung di semak pakis di dekat batang kecubung.

Mukhliin melongok ke dalam sarau-saraunya. Selain beberapa ikat kayu kering, ada lima buah durian, dua ikat pakis, 9 papan petai. Tak ada bunga-bunga kecubung di sana! Ia menatap langit dengan mata yang mengandung api. Beberapa saat kemudian, ia menghempaskan kasau hingga sarau-sarau beserta isinya berhamburan di jalanan. Orang-orang di tepi jalan yang memperhatikannya sedari tadi, terenyak menyaksikan gerakan mendadaknya. Mukhlisin memutar badan dengan tangan kanan menghunus mandau. Dalam dua-tiga kejap, ia sudah berlari meninggalkan arah pasar. Orang-orang ketakutan dan berlarian masuk ke dalam rumah. Ternyata setali tiga uang saja dengan negara dan si Samin, rupanya kalian juga nak mengolok nasibku, Kecubung Keparat! (*)

 

Lubuklinggau, 28 Juli-13 Oktober 2013

BENNY ARNAS lebih banyak menulis cerpen. Saat ini tengah mempersiapkan kelahiran novel perdananya. Twitter: @bennyarnas