Archive for September, 2013

Aswatama Pulang
September 8, 2013


Cerpen Gunawan Maryanto (Koran Tempo, 8 September 2013)

Aswatama Pulang ilustrasi Yuyun Nurrachman

“AKHIRNYA kuda itu datang, Anakku. Menolongku.”

Aswatama menghela napasnya. Panjang. Di kejauhan terdengar ringkik kuda dari sebuah padang—seperti sebuah panggilan pulang. Cukup. Kalimat itu sudah menjawab seluruh pertanyaannya. Ia tak memerlukan kelanjutan cerita itu. Cukup! Ibuku adalah seekor kuda! Jadi benar kata tetangga. Jadi benar kata teman-teman sekolahnya dulu. Krepi bukan ibu kandungku. Tubuh Aswatama bergetar. Kebenaran itu membuatnya gentar. Matanya menatap tajam tubuh bapaknya yang tergolek di ranjang. Tubuh lelaki tua itu tampak lebih kecil dari yang seharusnya. Mulutnya terbuka seperti hendak melanjutkan cerita. Tapi tak keluar suara apa pun dari mulut itu.  (more…)

Halusinasi Seorang Suami
September 8, 2013


Cerpen Imtihan Taufan (Suara Merdeka, 8 September 2013)

Halusinasi Seorang Suami ilustrasi Hery Purnomo

SETELAH mendorong istrinya dari dalam bus dengan wajah yang ditutup sapu tangan biru bergambar tengkorak, Nikolo melambaikan tangan tanpa tersenyum pada Salina. Dia berkata kepada dirinya, usaha untuk berpisah dengan Salina harus segera dilaksanakan. Dan tepat saat dia merasa sudah waktunya, tangannya pun bekerja sebagaimana yang dia bayangkan.

Namun, pada saat tangannya telah berhasil menjalankan tugas sebagaimana mestinya, sang sopir bus di depan, berteriak pada Nikolo, ‘’Kerja belum selesai, belum apa-apa, Bung!’’

Nikolo menoleh. Sopir itu gerangan rupanya. Adapun penumpang-penumpang lain tenggelam saja di laut sana: di tempat duduknya, atau bergelayutan bak primata.  (more…)

Siti Mahiya
September 8, 2013


Cerpen Gunawan Maryanto (Jawa Pos, 8 September 2013)

Siti Mahiya ilustrasi Bagus

MASIH ingat cerita Tambijumiril, seorang saudagar kaya raya dari Benggala yang tak pernah bahagia? Ya, ia yang kemudian meninggalkan seluruh harta kekayaannya dan pergi bertapa sungsang –kepala di bawah kaki di atas– hingga delapan tahun lamanya. Konon ia mendapat wangsit dari Malaikat Jabarael untuk pergi berlayar untuk bertemu dengan jodohnya di sebuah padang pasir yang gersang. Pendeta Kanjulmukmin yang ditemuinya di sebuah pulau memberinya petunjuk agar ia pergi ke tanah Mekkah. Mungkin di sanalah ia akan mendapatkan kebahagiaannya atau entahlah apa namanya.  (more…)

Laki-laki Tanpa Celana
September 8, 2013


Cerpen Joko Pinurbo (Kompas, 8 September 2013)

Ilustrasi cerpen karya Patriot Mukmin

DI sebuah gang kecil dan lengang saya berpapasan dengan seorang perempuan muda, wajahnya milik trauma. Kepalanya tertunduk, matanya sembab. Saya urung menyapanya dengan selamat pagi karena ia tampak cuek sekali. Ia biarkan serbuk hujan bertaburan di atas rambutnya yang agak acak-acakan. Seakan-akan ia ingin bilang, ”Selamat tinggal, kecantikan.”

Saya terkesima. Rasanya saya pernah melihatnya entah di mana. Sebelum saya sempat mengingatnya, tubuhnya lebih dulu lenyap ditelan tikungan. Dari jauh samar-samar saya mendengar ia menyanyikan puisi Sapardi Djoko Damono, ”Hujan Bulan Juni”: tak ada yang lebih tabah /dari hujan bulan juni /dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu…  (more…)

Kenapa dengan Pulau Evolut?
September 1, 2013


Cerpen Eko Triono (Media Indonesia, 1 September 2013)

Kenapa dengan Pulau Evolut ilustrasi Pata Areadi

“MEREKA berhasil!” teriak ayah dari sofa. Tidak biasanya ia mengajak bicara. Meski kami serumah, kadang kami lebih mirip orang yang kebetulan bersama. Kebetulan aku sebagai anak, dan ia sebagai ayah.

“Lihat, mereka berhasil!” teriak ayah lagi. Ia menunjuk-nunjuk televisi 19 inci. Kupadamkan kompor dulu, sebelum mendekat padanya di jarak 15 langkah. Aku punya pengalaman buruk menggosongkan panci karena terbius oleh acara sulap. Bukan hanya gosong, panci itu juga lumer, dan setelah dingin bentuknya jadi tak keruan, seperti pulau yang penyot di sana-sini.

“Lihat, Nak, cepat! Tinggalkan pancimu. Ini benar-benar mengagumkan,” tumben ayah menyapaku dengan ‘Nak’.  (more…)

Kapal Perang
September 1, 2013


Cerpen Yusi Avianto Pareanom (Koran Tempo, 1 September 2013)

Kapal Perang ilustrasi Yuyun Nurrachman

Semarang, 1975-1981

SATU hal yang lebih menjengkelkan Abdullah Yusuf Gambiranom daripada harus membersihkan lantai rumahnya pada sembarang pagi setelah banjir surut adalah pertanyaan tidak perlu dari tetangga-tetangganya tentang suatu perkara yang sudah terang-benderang bagi semuanya: “Ngepel, Pak Yus?”   (more…)