Rashida Chairani


Cerpen A.S. Laksana (Koran Tempo, 15 September 2013)

Rashida Chairani ilustrasi Yuyun Nurrachman

IBU memintaku mengingat nama-nama: tiga lelaki dan satu perempuan dan salah satu dari ketiga lelaki itu sudah pasti ayahku. Ia telah mengatakan hal ini sejak aku kanak-kanak dan mengulanginya berkali-kali sepanjang hidupnya seolah takut aku lupa. Sebetulnya ia sudah menyampaikannya sejak aku masih janin. Aku tahu karena ibu memberi tahu, namun ingatanku tak mampu menjangkau apa saja yang dikatakannya saat aku masih di dalam perut.

“Leluhurku adalah para bajak laut, orang-orang yang menolak tunduk dan pantang dipermalukan,” katanya. Itu kalimat pertama yang bisa kuingat darinya. 

“Dan para bajingan itu telah mempermalukanku. Aku meninggalkan rumah untuk mendapatkan sekolah yang baik. Aku bekerja di toko pakaian sepulang sekolah dan malam itu mereka menerkamku saat aku pulang kerja dan menyeretku ke tempat sunyi.”

Kami berbaring di dipan kayu dan ibu suka bercerita sebelum kami tidur. Suaranya berbaur dengan suara-suara serangga di luar sana. Rumah kami dikelilingi alang-alang dan aku mendengar suara-suara serangga tiap malam, selain suara ibu. Seringkali aku tertidur sebelum ia selesai bercerita dan aku akan menanyakan kelanjutannya pada malam berikut dan ia biasa mengulang beberapa bagian sebelum meneruskan ceritanya.

Mula-mula aku sering bertanya jika ada kata-kata yang aku tak paham—bajak laut itu apa, leluhur itu apa, bajingan itu apa—dan ia terus saja bercerita tanpa pernah menjawab pertanyaanku.

“Dua bulan setelah kejadian itu aku menghadap kepala sekolah di ruangannya dan menyampaikan apa yang telah mereka lakukan kepadaku. Baru sekali itu aku bertemu langsung dengannya. Selama ini aku mengenalnya hanya dari cerita teman-teman. Kudengar ia tegas dan baik hati dan tidak pernah menghukum siswa.

“Seorang temanku pernah bercerita tentangnya suatu hari:‘Ia datang ke kantin saat istirahat dan aku sedang merokok di sana. Cepat-cepat kumatikan rokokku namun ia telanjur melihat. Ia mendekatiku dan memintaku menyulut rokok yang tadi kumatikan dan menungguiku merokok sampai habis. Rasanya sungguh tersiksa, kautahu. Tapi ia benar-benar baik hati. Waktu itu ia bilang, kuharap ini rokok terakhirmu di sekolah… kau boleh saja memutuskan jadi perokok, dengan risiko yang kautanggung sendiri, tapi kau juga harus menghormati peraturan bahwa tak ada satu orang pun boleh merokok di lingkungan sekolah.’

“Temanku masih tetap merokok di sekolah setelah kejadian itu, namun ia lebih berhati-hati. Aku benci padanya. Ia tak menghargai kebaikan kepala sekolah kami.

“Ketika aku masuk ke ruangannya, kepala sekolah sedang membaca berkas-berkas. Ia mengangkat mukanya dan menanyakan ada apa dan dengan suara lemah aku mengatakan: ‘Mereka memerkosa saya.’ Kepala sekolah mengamatiku agak lama, aku menunduk.

“’Apa kaubilang?’ tanyanya.

“’Mereka memerkosa saya,’ ulangku.

“’Siapa mereka?’ tanyanya.

“Kusebutkan nama ketiga bajingan itu—semuanya murid kelas tiga. Aku kelas dua. Kepala sekolah diam beberapa waktu, menyentuh kacamata besarnya, dan kemudian mengeluarkan gumam, seperti desah: ‘Ini akan menyusahkan kita semua.’

“’Bukan keinginan saya,’ kataku.

“’Lalu, apa yang hendak kaulakukan?’ tanyanya.

“Aku menggeleng dan balik bertanya, ‘Menurut Ibu, apa yang harus saya lakukan?’

“Ia memandangiku seperti menebak- nebak apa yang ada di dalam kepalaku. Lalu ia membuat suaranya terdengar lebih berhati-hati dan lebih berputar-putar. Ia bilang dua dari tiga anak yang kusebutkan itu adalah andalan tim basket sekolah kami dan mereka dikenal sebagai murid-murid yang baik. Dan yang satu lagi adalah anak walikota. ‘Selama ini ia tidak pernah aneh-aneh dan ayahnya orang baik,’ katanya. Ia memberi tahu bahwa ayahnya banyak menyumbang untuk sekolah.

“’Anaknya memerkosa saya,’ kataku. ‘Ia dan dua temannya.’

“’Kuharap kau tidak membesar-besarkan masalah ini hanya karena ayahnya walikota.’

“’Saya menyampaikan kepada Ibu apa yang saya alami. Saya ingin mendengar dari Ibu apa yang bisa saya lakukan dan apa yang akan dilakukan sekolah ini terhadap mereka.’

“Kepala sekolah menggeleng pelan dalam gerak yang seperti tidak disadarinya. Tiba-tiba aku khawatir itu adalah isyarat bahwa ia dan pihak sekolah tidak akan melakukan apa-apa terhadap mereka.

“’Bagaimana kau akan membuktikan bahwa mereka memerkosamu?’ tanyanya.

“’Saya mengatakan yang sebenarnya,’ kataku.

“’Dan setiap orang akan mempercayaimu karena kaubilang saya mengatakan yang sebenarnya?’

“’Ibu tidak mempercayai saya?’

“’Kautahu, Nak… siapa namamu?’

“’Rashida,’ kataku. ‘Rashida Chairani.’

“’Kautahu, Rashida, jika setiap pernyataan tak perlu dibuktikan, nanti akan ada gadis lain datang ke sekolah ini dan mengaku ia diperkosa oleh anak walikota dan kami harus mempercayainya karena ia bilang saya menyampaikan yang sebenarnya.’

“Aku datang kepadanya karena kudengar ia baik hati. Namun rasa-rasanya siang itu ia menutup celah. Aku merasa ia bahkan tidak sudi menunjukkan simpatinya atas nasib buruk yang menimpaku.

“Dua bulan berikutnya aku harus keluar dari sekolah karena perutku mulai membesar. Padahal aku sudah bertekad untuk terus bertahan di sana, tidak peduli seperti apa pun keadaanku. Jika sekolah tidak mengambil tindakan sama sekali terhadap ketiga bajingan itu, aku akan membongkar apa yang mereka lakukan. Perutku yang akan mengungkapkan perbuatan mereka. Perutku akan kian membengkak dan setiap orang di sekolah akan menggunjingkan kehamilanku dan aku akan memberi tahu mereka siapa saja yang telah menjarahku.

Tetapi kepala sekolah memanggilku ke ruangannya dan mengatakan bahwa aku tidak bisa lagi melanjutkan sekolah.

“’Ini akan terdengar pahit, Rashida. Tapi peraturan sekolah harus ditegakkan,’ katanya. ‘Kau tidak bisa lagi melanjutkan sekolah di sini karena hamil.’

“’Itu hukuman bagi orang yang menjadi korban para bajingan?’ tanyaku.

“’Biacaralah santun, kau tahu dengan siapa kau bicara?’ katanya.

“’Jadi saya harus keluar dari sekolah karena mereka memerkosa saya?’

“’Karena kau hamil, Rashida. Sekolah ini tidak mengizinkan murid-muridnya hamil, terlebih hamil tanpa suami.’

“Mendengar jawaban itu, aku tiba-tiba seperti kehilangan suara. Tak ada yang bisa kusampaikan lagi kepadanya, sebab saat itu aku hanya merasa ingin mencakar mukanya. Lalu seseorang masuk, guru bahasa Indonesia, dan mereka bicara perihal murid pertukaran pelajar dari Norwegia yang akan datang minggu depan.

“Dulu, kautahu, aku bertekad harus bisa masuk sekolah itu setamat SMP karena kupikir ia sekolah yang hebat. Pernah kubaca di koran bahwa hampir tiap tahun ada siswa dari negara lain yang belajar di sana.”

Suaranya terdengar getir di bagian ini, seperti suara orang yang dikhianati. Ibu datang dari pulau lain. Ia menyeberangi laut dengan kapal penumpang selama tiga hari dan menetap di kota R untuk mendapatkan sekolah yang lebih baik—dan ia mendapatkan bayi di dalam rahimnya.

“Orangtuaku percaya diri untuk melepasku sendirian menyeberangi laut pada umur lima belas. Mereka yakin para leluhur melindungiku. Mata ibuku berkaca-kaca ketika melepasku, tetapi ia tidak menangis. ‘Kami akan selalu mendoakanmu,’ katanya. Ayahku terlihat bangga, tapi suaranya agak bergetar: ‘Sekarang kau berlayar ke Jawa. Kelak kau akan berlayar keliling dunia dan pulang dengan dunia di dalam genggamanmu.’

“Dan aku karam pada tahun kedua. Layarku dikoyak oleh tiga bajingan. Tanganku menggapai-gapai mengharap pertolongan, tetapi kepala sekolah tidak mengulurkan tangannya. Ia seperti bongkahan batu.

“’Apa peraturan sekolah untuk pelaku pemerkosaan?’ tanyaku kepadanya, suaraku agak meninggi.

‘”Itu bukan urusanmu,’ jawabnya.‘Yang jelas, mulai besok kau tidak perlu masuk karena kau bukan lagi murid sekolah ini.’

“Ia memutuskan nasibku hari itu, tapi aku tak ingin berhenti di situ. Sebelum meninggalkan ruangannya aku mengatakan: ‘Saya akan melaporkan masalah ini ke polisi. Saya akan membawanya ke pengadilan.’

‘”Keluar sekarang juga dari ruanganku,’ katanya.

“Kepala sekolah itu bernama Rustini. Kau harus mengingat nama perempuan ini baik-baik. Ia mengusirku padahal aku sendiri sudah berniat meninggalkan ruangannya. Aku benar-benar bertekad membawa masalah ke pengadilan meski aku tak tahu caranya. Keesokannya aku datang ke kantor polisi. Seseorang menemuiku dan mencatat dengan malas apa yang kusampaikan dan aku tidak tahu apa yang kemudian dilakukan polisi itu setelah mencatat. Para bajingan itu tak pernah diadili dan beberapa waktu kemudian pemilik kos mengusirku karena perutku kian membesar.”

Ia mengutuk pemilik kos yang mengusirnya, tetapi tidak memintaku mengingat namanya.

“Aku minta waktu kepada pemilik kos sampai urusanku selesai dengan pihak sekolah dan para bajingan itu, tetapi ia tidak memberi waktu. ‘Kalaupun aku menyetujui permintaanmu, anak-anak lain yang tinggal di tempat ini akan mengusirmu,’ katanya.

“Sekarang kautahu, Nak, ketika kau karam, tidak mungkin bagimu meminta belas kasih kepada orang lain yang hidupnya nyaman. Hari itu aku tak punya tempat lagi di kota R dan tak punya muka untuk pulang ke rumah orang tuaku. Aku bahkan tidak mengirim kabar sama sekali kepada mereka—sampai hari ini.

“Mungkin mereka pernah datang ke kota R untuk mencariku, tapi aku berharap tidak. Aku tidak ingin mereka bertemu dengan kepala sekolah atau ke tempat kosku dan bertemu pemilik kos. Lebih baik mereka menganggapku hilang atau sudah mati. Dan aku juga mencoba tidak memikirkan mereka. Sebenarnya aku bisa saja membohongi mereka bahwa semuanya baik-baik saja, dan mengirimkan kabar-kabar yang bahkan lebih baik dari hari sebelumnya, seolah-olah semuanya berjalan sesuai doa mereka untukku.

“Sekarang aku berpikir bahwa mestinya aku melakukan itu, mengirimi mereka kabar-kabar yang sesuai harapan mereka, namun keadaanku saat itu tidak memungkinkan. Tak bisa kuceritakan tentang cahaya kepada mereka ketika mataku hanya bisa melihat kegelapan. Aku bahkan tidak tahu apakah esok pagi aku akan meneruskan hidup atau mengakhirinya.”

“Kenapa tak kaulakukan, Ibu?” tanyaku.

“Apa maksudmu?” tanyanya.

Biasanya ia tidak pernah menanggapi pertanyaanku. Itu kali pertama ia melakukannya, suaranya terdengar sengit dan matanya mengawasiku lekat-lekat.

“Kaupikir aku sebaiknya mati?” lanjutnya. “Tidak akan! Aku tidak akan mempermalukan para leluhur dengan tindakan pengecut.”

 

IBU hidup memencilkan diri setelah diusir dari tempat kos. Ia pergi ke kota lain dan melamar pekerjaan pada pemilik warung makan di daerah pinggiran. Malam hari ia tidur di warung itu dan mengajak bercakap-cakap perutnya yang kian membengkak. Aku tidak pernah punya ingatan tentang warung tersebut. Satu-satunya tempat tinggal yang bisa kuingat adalah rumah kecil yang dikelilingi alang-alang, jauh dari siapa pun. Di tempat ini ibu membesarkanku, dengan rasa kecewa karena ia berharap anak lelaki.

Ia menyampaikan kekecewaannya kepadaku pada hari pertama aku masuk sekolah. Kami menyusuri setapak yang menurun dan berkelak- kelok dan rasanya kami tidak akan pernah sampai ke sekolahan. Di sekolah aku mendapatkan nama Sutanto sebagai ayahku. Ibu mengatakan kepada guru, pada hari pendaftaran, bahwa aku tidak punya surat-surat dan tidak punya ayah.

“Semua anak punya ayah,” kata guru.

“Saya sudah menyampaikan apa adanya,” kata ibu.

“Tulis saja Sutanto atau apa pun,” kata guru.

Ibu mengikutinya. Ia menuliskan nama Sutanto di lembaran data siswa dan nama itu bisa kaubaca di semua raporku dan di semua lembaran yang aku harus mengisikan data diriku. Nama ayah: Sutanto. Itu orang yang tak pernah ada.

Aku menangis ketika harus masuk kelas dan duduk di sebuah ruangan bersama anak-anak lain dan harus mendengarkan omongan perempuan dewasa yang bukan ibuku. Aku tidak pernah mengenal orang lain kecuali ibu. Kadang-kadang aku melihat anak-anak lain dari kejauhan. Kadang-kadang aku berpapasan dengan orang dewasa saat mencari kayu bakar. Namun hanya dengan ibu aku bercakap-cakap.

Dalam perjalanan pulang kubilang kepadanya aku tak mau sekolah.

“Jangan membuatku marah,” katanya. “Kautahu, kau sudah mengecewakan aku sejak hari kelahiranmu. Sekarang jangan bikin aku marah.”

Sebagaimana ia telah berterus terang tentang apa saja mengenai dirinya, pada hari itu ibu mengatakan bahwa sebetulnya ia menginginkan anak lelaki. Ia membangun rencana dengan harapan bahwa anaknya lelaki dan aku membuat segala rencana di dalam kepalanya berantakan karena aku perempuan.

“Jadi aku tak ada gunanya bagimu, Ibu?” tanyaku.

“Tak ada gunanya bagi rencanaku,” jawabnya.

“Dan apa rencanamu, Ibu?” tanyaku.

Ibu diam saja sampai kami tiba di rumah dan ia baru menjawab pertanyaanku dua tahun kemudian:

“Demi darah leluhur yang mengaliri tubuhku, aku akan membuat perhitungan dengan mereka. Karena itu aku ingin anakku lelaki. Ia akan melakukan apa yang harus dilakukan.”

Kalimat ini kudengar saat aku sedang mengerok punggungnya dengan uang logam. Ia masuk angin. Kulit punggungnya menjadi merah tua pada jalur-jalur bekas kerokanku. Empat tahun kemudian, ketika umurku tiga belas, ia mengulangi kalimat yang kurang lebih serupa. Aku mengingatkannya:

“Kau tidak pernah melahirkan anak lelaki, Ibu. Aku anakmu dan aku selalu mengingat nama-nama.”

“Tapi kau perempuan,” gerutunya.

“Aku bisa mengingat nama-nama mereka meski aku perempuan dan kau bisa mengatakan kepadaku apa yang harus kulakukan.”

Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Jika ibu mengatakan kepadaku apa yang harus kulakukan, aku akan melakukannya. Di dalam tubuhnya mengalir darah bajak laut leluhur kami. Di dalam diriku mengalir separuh darahnya dan separuh darah bajingan yang menghancurkan hidupnya. Di atas semua itu, aku berutang nyawa kepadanya.

Ia tidak menyingkirkan aku dari rahimnya meski aku menyusup tanpa ia kehendaki. Dan aku berterima kasih ia telah berterus terang kepadaku tentang keadaannya, juga tentang asal muasalku, sejak aku masih di dalam perut.

Namun, sampai hari kematiannya dua bulan lalu, ia tidak pernah menyebutkan apa yang harus kulakukan.Aku memohon kepadanya dan menggenggam tangannya kuat-kuat hari itu. Ia hanya memandangiku. Bibirnya bergetar namun ia tetap tidak mengatakan apa pun sampai kurasakan tangannya menjadi dingin.

Umurku 33 saat itu dan aku memahami seluruh kepedihannya. Meski ia tidak pernah mengatakan kepadaku apa yang harus kulakukan, di depan makamnya aku mengucapkan janji: “Darah leluhur kita juga mengalir di dalam diriku, Ibu, dan aku selalu mengingat nama-nama mereka. Maka, tenteramlah tidurmu di sana, aku pasti melakukan apa yang harus kulakukan. Mungkin caraku tidak sesuai dengan rencanamu, tetapi aku anakmu dan aku tahu apa yang harus kulakukan.”

 

 

 

A.S. Laksana tinggal di Jakarta. Buku cerita pendeknya yang mutakhir adalah Murjangkung, Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu (2013).

 

 

One Response

  1. Cerpen ini tastenya hampir sama seperti cerpen AS Laksana yang berjudul “Menggambar Ayah”. Tetapi, dasar sastrawan hebat, meski sebagai pembaca saya sudah punya dugaan tentang bagaimana endingnya, dan dugaan itu ternyata terbukti benar, cara beliau bercerita selalu membuat ingin menuntaskan membaca sampai akhir. Mantap! 👍👍👍👍

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: