Karim tak Pernah Pulang


Cerpen Arie F Batubara (Media Indonesia, 15 September 2013)

Karim tak Pernah Pulang ilustrasi Pata Areadi

WAJAH Haji Suleman tiba-tiba tegang. Surat yang sedang dibacanya langsung ia remas. “Tidak!” sergahnya. “Aku tak mengizinkannya pulang ke kampung ini!”

“Maaf, Buya. Saya cuma…”

“Dengar, Sobek! Kau tak perlu membelanya. Bila bertemu lagi dengannya, katakan, ia tak boleh pulang ke kampung ini. Sampai kapan pun. Bila ia nekat, aku sendiri yang akan menghajarnya dan mengusirnya. Aku tak punya anak yang bernama Karim lagi. Aku sudah menganggapnya mati!” 

Sobek terkesiap. Kini ia sudah tahu apa isi surat itu. “Maaf, Buya. Saya sebatas menyampaikan amanah.”

“Aku tidak menyalahkanmu. Aku cuma geram pada anak yang tidak tahu diuntung itu.”

“Baik, Buya. Apa yang Buya katakan tadi akan saya sampaikan kalau bertemu lagi dengannya,” Sobek merasa serba salah.

Sobek pamit. Langkahnya mengarah ke kedai Mak Amat.

“Buatkan aku kopi, Mak Amat. Gulanya sedikit. Tenggorokan ini sudah kering sekali,” ucapnya saat memasuki kedai.

“Apa hal denganmu, Sobek? Haus malah minta kopi manis! Mestinya kau minum teh pahit,” Jamangatas yang lebih dulu berada di kedai itu menyela.

“Aku tak bilang haus, tapi tenggorokanku kering,” suara Sobek meninggi, membuat orang-orang di kedai menoleh.

“Ha? Kau emosi pula, padahal yang kukatakan tadi benar. Ada soal berat agaknya,” lanjut Jamangatas.

Laki-laki itu benar. Pikirannya memang mendadak kacau-balau melihat reaksi Haji Suleman. Kini ia ingin menenteramkannya dengan meminum segelas kopi.

“Bila ada yang mengganjal di hati, tak elok dipendam sendiri. Baiklah ia dilepaskan. Jamangatas siap menjadi kawan berbagi.”

Benar juga, pikir Sobek. Maka, sebuah cerita segera meluncur dari mulutnya. “Ini tentang Karim,” ucapnya.

“Karim?” mulut Jamangatas menganga. Begitu pun pengunjung kedai yang lain.

“Aku bertemu dengannya. Tadi aku ke rumah Haji Suleman mengantarkan suratnya. Ia ingin pulang ke kampung ini.”

Sobek lantas menceritakan pertemuannya dengan Karim. Pertama di atas kapal penyeberangan Merak-Bakauheni. Waktu itu Sobek yang menjadi kernet bus lintas Sumatera trayek Medan-Bandung sedang duduk sambil merokok di buritan kapal.

“Tahu-tahu ada yang menepuk bahuku. Saat aku berbalik, seorang laki-laki berkacamata hitam, berjenggot, dan bercambang tebal telah berdiri di depanku. Sesaat jantungku berdegup. Bahaya mengancam, pikirku_sambil pasang ancang-ancang. Tapi, laki-laki itu kemudian menyebut namaku!”

Sobek sempat kaget. Namun, setelah laki-laki itu membuka kaca mata hitamnya, menjadi terang siapa dia sebenarnya.“Karim? Kau…?” Sobek mendesis.

“Iya, aku!”

“Tapi…,”

“Aku tahu kau pasti terkejut. Semua orang kampung kita juga pasti terkejut kalau sekarang bertemu denganku.”

“Karim yang dulu sudah mati. Yang sekarang ada di depanmu adalah Karim yang baru. Karim yang dulu menjadi sahabatmu.”

Karim menceritakan perjalanan hidupnya sejak diusir dari Batang Soantukon enam tahun silam. Inti dari seluruh ceritanya adalah bahwa kini ia telah berubah. Ia bukan penjahat lagi, tapi telah kembali ke habitatnya sebagai orang yang pernah belajar ilmu agama.“Aku mengajar mengaji di Jakarta, Bandung, Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya, sampai ke Lampung dan Palembang. Juga di Jawa,” ujarnya.

Sobek manggut-manggut.

“Sudah lama aku mencarimu. Setiap bus lintas Sumatra yang menyeberang kuamati, tapi selalu sia-sia. Sempat aku berpikir, kau sudah berhenti jadi kernet.”

“Kenapa kau mencariku?”

“Aku ingin bercerita kepadamu, karena aku yakin kau pasti percaya padaku! Kau satu-satunya sahabat karibku di kampung.”

Tiga bulan kemudian, Sobek kembali bertemu Karim. Kali ini di pool bus lintas Sumatra di Bandung. Karim datang dengan sebuah minibus yang di pintunya tertera nama satu kelompok pengajian.

“Aku rindu kampung. Ayah, mak, dan adik-adikku. Aku ingin pulang, mau minta maaf pada mereka, terutama ayahku. Juga pada semua orang kampung. Aku telah banyak menyusahkan mereka,” ujarnya sebelum pamit, sambil menyodorkan sepucuk surat untuk disampaikan kepada ayahnya.

Sobek terharu seraya berjanji akan menyampaikan surat itu langsung kepada Haji Suleman. Sebagaimana Haji Suleman, semua warga Batang Soantukon memberikan reaksi sama: tak menghendaki kepulangan Karim! Latar belakang kepergiannya dari kampung itulah penyebabnya. Ia dipaksa pergi, tepatnya diusir. Pengusiran itu puncak kejengkelan pada Karim yang dianggap bejat luar.

Karim biang segala macam kejahilan. Kecuali membunuh, semua bentuk kejahatan sudah dilakukannya: mencuri, berjudi, merampok, zina, mabuk-mabukan. Reputasinya sebagai penjahat bahkan sudah menyebar ke kampung lain. Bila ada yang kemalingan, istri atau anak perempuannya diganggu, niscaya nama Karim yang disebut. Karim berulang kali masuk penjara. Jangankan kapok, kejahilannya makin menjadi. Hari ini keluar penjara, besok ada yang kemalingan, dan nama Karim dengan serta-merta dipautkan.

Aparat sudah bosan menangkap dan menghukum Karim. Bahkan pada beberapa peristiwa kemalingan di mana Karim dicurigai sebagai pelakunya, ia tak sampai dipenjara dengan alasan tidak cukup bukti, Karim hanya ditahan satu atau dua hari.

Jika menengok latar belakangnya, sebenarnya agak sukar dipercaya bahwa Karim akan menjadi penjahat. Ayahnya guru mengaji yang sangat disegani sekaligus imam utama di masjid Batang Soantukon. Karim lulusan Pesantren Padang Imbaru yang terkenal itu. Namun, segala macam jenis setan telah bersarang di tubuhnya, membuat ilmu agama yang pernah dipelajarinya tak lagi berarti.

Kalau cuma Karim yang menanggung akibat, tak terlalu masalah bagi orang kampung. Namun, setiap kali Karim melakukan kejahatan, nama Batang Soantukon senantiasa disebut, seakan-akan kampung itu adalah kampung penjahat.

Jengkel karena Karim mencemarkan nama kampung, warga akhirnya sepakat untuk bertindak. Mereka mengusir Karim. Ia tak boleh lagi menginjak kampung itu seumur hidup. Bila ia membandel, warga tak segan-segan mengambil tindakan lebih tegas: menghajar, bahkan kalau perlu menghabisi Karim ramai-ramai. Haji Suleman, yang sudah angkat tangan menghadapi kelakuan anaknya, menyetujui keputusan orang kampung.

“Kalau perlu, aku sendiri yang akan menghajarnya dulu,” katanya. Sejak itu Karim menghilang.

Kabar bahwa Karim akan pulang cepat merebak. Tak sampai sepekan, semua warga sudah mengetahuinya. Di kedai kopi, surau, maupun masjid, pasar, bahkan kampung tetangga, orang-orang membicarakannya. Dan, semua orang sepertinya sepakat: Karim tidak boleh pulang. Bila ia memaksa juga, itu berarti Karim menjemput sendiri ajalnya.“Sejak ia pergi, kampung jadi aman. Tak ada lagi yang kemalingan, berjudi, dan mabuk-mabukan. Tak ada yang mengganggu istri atau anak perempuan orang lain. Kita tidak mau hidup yang sudah tenteram kacau-balau lagi karena bajingan itu,” kata mereka.

Tapi, kabar itu masih berupa kabar. Hingga bulan berganti tahun, Karim tak juga muncul. Itu membuat orang-orang percaya, sesungguhnya kabar tentang kepulangan Karim hanya isapan jempol. Sobek serba salah. Lebih-lebih ketika orang-orang kampung mengaitkan posisinya sebagai sahabat karib Karim semasa kanak-kanak. Ia tidak cuma dituding sebagai penyebar berita bohong, tapi juga dianggap kaki tangan Karim.

“Sebenarnya bukan Karim yang menemui Sobek, tapi Sobek-lah yang mengajak Karim pulang. Rencana Karim hendak pulang itu adalah keinginan Sobek. Surat untuk Haji Suleman itu boleh jadi Sobek yang menulis,” simpul orang-orang.

Sobek merasa dipermainkan. Betapa inginnya ia menemui Karim, meminta pertanggungjawaban. Kalau perlu, membuat perhitungan. Tapi, ke mana ia akan mencari Karim? Dalam dua kali pertemuan mereka sebelumnya, Karim tak pernah memberi alamat. Ia tak pernah muncul lagi sejak kedatangannya ke pul bus di Bandung.

Sobek lantas berencana untuk menghilang dari Batang Soantukan. Lalu, sebuah peristiwa besar terjadi. Bom meledak di sebuah hotel besar di Jakarta. Menurut aparat keamanan, itu bom bunuh diri. Pelakunya diduga kuat terkait dengan jaringan teroris, yang sebelumnya juga melakukan perbuatan serupa di tempat lain.

Tak berselang lama, sejumlah petugas tiba-tiba muncul di Batang Soantukon. Mereka datang untuk mencocokkan identitas seorang laki-laki yang ciri-cirinya mirip Karim. Laki-laki itu diduga kuat sebagai pelaku bom bunuh diri. Sobek terhenyak. Begitu pun warga Batang Soantukon. Haji Suleman yang didatangi petugas membenarkan laki-laki itu memang Karim.

“Karim? Ia meledakkan bom?” orang-orang saling bertanya. Mereka mulai percaya bahwa Sobek benar-benar pernah bertemu Karim, dan berita tentang Karim yang ingin pulang juga benar adanya.Tapi hingga kini berita itu tinggal berita. Sebab, sesuai harapan orang kampung, Karim tak akan pernah pulang. Sampai kapan pun.

 

 

Pamulang, 2013

Arie F Batubara, sastrawan, tinggal di Tangerang Selatan.

 

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: