Cerpen Joko Pinurbo (Kompas, 08 September 2013)

 

Ilustrasi cerpen karya Patriot Mukmin
Laki-laki Tanpa Celana ilustrasi Patriot Mukmin/Kompas

 

DI sebuah gang kecil dan lengang saya berpapasan dengan seorang perempuan muda, wajahnya milik trauma. Kepalanya tertunduk, matanya sembab. Saya urung menyapanya dengan selamat pagi karena ia tampak cuek sekali. Ia biarkan serbuk hujan bertaburan di atas rambutnya yang agak acak-acakan. Seakan-akan ia ingin bilang, ”Selamat tinggal, kecantikan.”

Saya terkesima. Rasanya saya pernah melihatnya entah di mana. Sebelum saya sempat mengingatnya, tubuhnya lebih dulu lenyap ditelan tikungan. Dari jauh samar-samar saya mendengar ia menyanyikan puisi Sapardi Djoko Damono, ”Hujan Bulan Juni”: tak ada yang lebih tabah /dari hujan bulan juni /dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu…

Malamnya saya bermesra-mesraan dengan demam setelah seharian banyak minum hujan. Dalam demam saya tergoda untuk menjumpai sajak-sajak kesayangan saya. Buat orang semelankolis saya, membaca puisi sering lebih mujarab dari minum obat dan saya berusaha tidak telat minum puisi sebab akibatnya bisa gawat.

Nah, itu dia. Saya terhenti lama di sebuah sajak Sapardi, ”Pada Suatu Pagi Hari”: Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Saya yakin, perempuan yang berpapasan dengan saya di gang kecil dan lengang pagi tadi adalah perempuan dalam sajak Sapardi. Saya sempat berniat menanyakannya langsung kepada penyairnya, tapi saya pikir-pikir untuk apa, sebab Sapardi pasti akan mengatakan bahwa pengarang telah mati.

Ah, gadis kecil itu sudah besar dan dewasa. Sudah pandai berduka dan bernyanyi. Sekian tahun silam ia masih bocah ingusan yang sedang belajar menangis. Saya menemukannya dalam sajak Sapardi, ”Gadis Kecil”: ada gadis kecil diseberangkan gerimis /di tangan kanannya bergoyang payung /tangan kirinya mengibaskan tangis /di pinggir padang ada pohon dan seekor burung.

***

Advertisements