Cerpen Imtihan Taufan (Suara Merdeka, 8 September 2013)

Halusinasi Seorang Suami ilustrasi Hery Purnomo

SETELAH mendorong istrinya dari dalam bus dengan wajah yang ditutup sapu tangan biru bergambar tengkorak, Nikolo melambaikan tangan tanpa tersenyum pada Salina. Dia berkata kepada dirinya, usaha untuk berpisah dengan Salina harus segera dilaksanakan. Dan tepat saat dia merasa sudah waktunya, tangannya pun bekerja sebagaimana yang dia bayangkan.

Namun, pada saat tangannya telah berhasil menjalankan tugas sebagaimana mestinya, sang sopir bus di depan, berteriak pada Nikolo, ‘’Kerja belum selesai, belum apa-apa, Bung!’’

Nikolo menoleh. Sopir itu gerangan rupanya. Adapun penumpang-penumpang lain tenggelam saja di laut sana: di tempat duduknya, atau bergelayutan bak primata. 

‘’Aku sudah dua kali melakukannya, Bung. Semua lelaki menyalamiku. Saat yang pertama, aku mengajaknya berlibur ke sebuah bukit di utara sana dan kubilang padanya, ‘Tutuplah kedua matamu, Sayang, sejenak saja.’ Dia melakukannya dan tersenyum. Mungkin dia berpikir aku akan memberinya sebuah cincin emas. Atau kecupan buas saat matahari tenggelam. Haha! Padahal tidak. Lalu kudorong ia sambil bernyanyi ‘Potong Bebek Angsa’. ‘Potong bebek angsa, angsa di kuali. Nona minta dansa, dansa empat kali. Sorong ke kiri, sorong ke kanan. Tralala….’’’

‘’Tubuhnya melayang?’’ Nikolo bertanya dengan ragu.

‘’Ia menari-nari di udara. Ia berteriak di kejauhan sana dan berpesan agar aku jangan lupa mandi tiga kali sehari, gosok gigi dan keluar rumah membawa map berisi surat lamaran kerja. Uh! Ia selalu saja tidak puas dengan pekerjaanku selama ini. Aku muak dengan dunia yang compang-camping ini, Yanar! Aku lebih mencintai pekerjaanku sebagai sopir. Aku merasa merdeka, tau!’’’

‘’’Merdekalah selalu. Aku akan pergi ke tempat yang lebih baik dan membahagiakan. Makanlah berkarung-karung buku yang tercecer di lantai milikmu….’ Setelah itu, dia melayang entah ke mana.’’

‘’Istri Anda yang kedua?’’

‘’Tidak di atas bukit lagi, tentu saja. Tapi di atas menara saat tengah malam. Aktingku agak mirip dengan yang pertama. Hanya posisi kami berdua yang berbeda. Lagu pengiringnya juga kuganti. Kupikir, mesti ada pencarian lagi untuk berekspresi. Bagaimana cara berpisah dengan cara yang lebih berwarna. Kurias dia secantik mungkin seperti seorang aktris. Kubentangkan tangannya dan menghadap ke hamparan malam yang penuh lampu. Dan….’’

‘’Anda mendorongnya, tentu saja?’’

‘’Tidak. Dia yang mendorongku. Tapi aku berhasil menarik tangannya. Kami melayang-layang di udara. Di saat seperti itu, dia lupa bahwa aku adalah seorang sopir yang piawai. Kukendalikan tubuhnya dengan tenaga yang terukur. Dia terlempar semakin jauh dan aku menikung di antara awan lantas mendarat ke tempat semula. Aku selamat. Aku mencintai pekerjaanku sebagai seorang sopir bus! Dan mencipta puisi! Kau dengar? Mencipta puisi!’’

Nikolo tahu, dirinya merasa tak lebih seperti bajingan tengik yang tak punya tanggung jawab sama sekali, setidaknya di mata Salina. Perempuan berkulit legam dan sintal itu, tak pernah usai memberondongnya dengan kata-kata yang mengandung batu gunung dan kerikil. Dia akan riang gembira memuntahkannya pada Nikolo. Dan Nikolo seketika seperti mengerucut, bak metamorfosis terbalik: kupu-kupu dewasa-kupu-kupu muda-kepompong ulat membuat kepompong-ulat-telur….

‘’Kerja cuma melamun di atas kali. Pergi kerja sana. Cari uang buat kita!’’

Nikolo teringat pada sumpah-serapah Salina. Sementara sang sopir, telanjur hadir di depannya.

‘’Kukira hidup macam begini sudah cukup bagiku. Aku tak ingin lebih. Tapi dua perempuan itu, rupanya ingin lebih. Aku tak bisa. Jika aku bisa, aku tak ingin bisa. Jika aku mau, aku juga tak ingin mau. Kau mengerti maksudku?’’

Nikolo melempar pandang. Ini bukan sopir biasa, pikirnya. Haha! Dia sungguh suka membaca buku. Buku filsafat! Hahaha! Baiklah, perbincangan akan dilanjutkan sebelum ia sampai di tujuan. Sampai tujuan? Tujuan ke mana? Nikolo tertawa terbahak-bahak. Dia baru ingat, tak pernah berpikir untuk sampai ke tujuan. Dia ingin jalan saja dan duduk dengan tenang di dalam bus seraya melempar jauh-jauh bayangan tentang rumah yang telah membuat kepalanya ingin pecah. Di sana ia melihat Salina yang bangun setelah matahari di atas kepala. Wajah pucat dan salonpas yang menempel di dahi. Berapa sudah laki-laki yang datang tadi malam?

Nikolo yang malang akan teronggok dengan berbotol-botol tuak di warung sambil membual tentang desanya yang subur dan makmur. Juga tentang bajingan-bajingan tanggung di kampung yang mengubah dirinya menjadi petugas keamanan dengan bayaran seharga satu kerat bir. Ah, kadang-kadang ia berpikir untuk menyewa mereka dan menghabisi setiap laki-laki yang datang ke rumahnya dan menggerayangi Salina. Tapi perempuan itu selalu menampiknya.

‘’Aku butuh uang dan mereka datang memberiku uang. Aku sedang berjualan. Kita sedang berada di pasar. Kita ini pedagang!’’

Kalimat usang. Nikolo ingin muntah saat itu. Lebih baik kembali kepada sang sopir. Dia bakal jadi idola baru.

‘’Kau masih ingin mendengarku bicara?’’

Nikolo tersadar kembali dari lamunan sesaat. ‘’Tentu saja.’’

Baiklah, kata sang Idola. Lalu ia berceloteh tentang ke mana Salina selanjutnya, bak peramal cuaca.

Salina, isterimu itu, kata sang Idola, akan berdiri kembali setelah tubuhnya terjengkang. Dia tidak mati. Tidak pula sekarat. Tak ada polisi yang akan datang. Tak ada ambulans mengaung-ngaung. Ia akan menoleh ke kiri dan ke kanan. Melempar senyum kepada setiap orang yang memandangnya. Barangkali ia akan naik bus ke jurusan entah ke mana. Kemudian ia akan sampai di suatu tempat. Dia akan menelpon seseorang, kemudian membuat janji untuk saling bertemu di sebuah warung atau telaga. Atau, ia akan kembali ke rumah orang tuanya. Dia akan bertobat dan ingin tinggal di rumah saja membantu ibunya yang sudah tua. Dia akan merindukan Tuhan di malam buta saat dinihari. Atau bermimpi menjadi petani. Menanam padi. Menanam palawija. Menanam harapan yang sudah lama hilang. Menjadi petani? Hehehe….

‘’Tidak, Bung!’’ Nikolo menampik.

‘’Lantas ia akan ke mana?’’ sang Sopir menyergap.

‘’Dia akan pergi ke pasar. Dia akan berjualan kembali.’’ Nikolo hempaskan nafasnya.

‘’Hohoho… duduklah di sampingku, Anak Muda.’’

Nikolo melangkah di antara kerumunan primata. Bus menikung di satu jalan.

‘’Aku punya sesuatu untukmu. Tapi itu pun jika kau bersepakat denganku. Bawalah ini dan jangan pernah memberikannya kepada yang lain. Ini yang kunamakan sebagai tangan ajaib. Aku mendapatkannya pada suatu hari setelah bertahun-tahun menjadi seorang sopir bus.’’

Nikolo terpana. Tangan ajaib! Beginikah rupanya? Dia memperhatikannya dengan saksama. Tangan itu tampak biasa saja. Hanya memang penuh urat yang menghiasinya. Tangan ajaib! Bagaimanakah gerangan cara menggunakannya?

Sang Idola menatap ke depan dan bus terus merayapi jalan.

***

NIKOLO meraba lengan tangannya. Tak berotot. Inilah tangan sang penyair, pekik hatinya. Ia tiba-tiba seperti merasa memegang sebuah barang yang sangat dicintainya dan tak ingin kehilangan. Ia sungguh menyayangi tangannya. Dari sepuluh jemarinya itulah, begitu banyak kata yang telah mengucur. Telah menjadi puisi. Telah menjadi apa yang diingkinkannya.

Tapi di mata Salina, tangan itu seperti menjelma batang daun pisang yang lunglai. Ah, kadang-kadang ia berpikir ingin mengakhiri segalanya. Ia ingin mematahkan kedua tangannya dengan kayu bakar atau selongsong besi.

Nikolo tersenyum kecut. Dari hari ke hari, Salina mulai bertingkah aneh dan bertanya tentang hal-hal yang membosankan. Ia mulai bicara tentang seberapa penting puisi dalam kehidupan ini. Tentang Nikolo yang tak juga menulis puisi untuk dirinya, seperti janjinya semula saat baru menikah. Tentang nasi dan lauk-pauk yang itu-itu saja. Tentang atap rumah yang meneteskan air manakala hujan….

Salina sungguh riang menghinanya. Akhirnya Nikolo tahu, perkawinan yang ia bangun seperti membuat rumah pasir. Salina tak cukup kuat untuk memahami kehidupan ini dengan cara yang lain. Ia, nyatanya, lebih memilih untuk menjadi orang-orang kebanyakan. Baiklah, kata Nikolo pada dirinya, suatu hari nanti, kita akan berpisah dengan cara seperti yang aku bayangkan. Tunggu saja. Dan sekarang, Nikolo kembali mengelus- elus lengannya. Juga memperhatikan lekat-lekat tangan ajaib yang didapatkannya dari sang Sopir.

‘’Bagaimana menurutmu?’’ Sopir bus itu menusuknya dengan suara.

Nikolo tergeragap. ‘’Tangan yang inspiratif. Aku akan coba. Aku turun di sini saja!’’ ia tiba-tiba mengambil sebuah keputusan.

‘’Turunlah. Hari ini kau adalah penumpang gratis. Selamat berjuang. Hahaha!’’

Nikolo melompat dan terbang dari mulut pintu bus itu. Dia akan menuju pasar seperti pasar yang ia bayangkan selama ini bersama Salina. Di sana, banyak laki-laki yang hidungnya coreng-moreng. Di sana, orang-orang, juga gemar menampakkan hidungnya yang terus memanjang di setiap kata yang meluncur dari mulutnya. Nikolo bergegas, bersiap dengan tangan ajaibnya. (62)

 

 

Advertisements