Dendeng Sapi


Cerpen Dyah Merta (Media Indonesia, 8 September 2013)

Dendeng Sapi ilustrasi Pata Areadi

AYAHKU, Kampret, menceritakan kepadaku ihwal orang terbaik di desa kami, yang kemudian digiring oleh aparatur keadilan ke sebuah penjara. Orang itu adalah Dulrohman yang dikenal lebih pintar dari siapa pun hingga selama 10 tahun tidak pernah ada yang menduga jika dia telah menipu banyak orang. Tipuannya begitu licin. Ayah bahkan menduga jika Dulrohman belajar trik sulap kepada seorang master di Tiongkok. Tak tahu bagaimana, bisnis jagal sapinya membuat ia mampu mengoleksi mobil-mobil baru pabrikan Eropa. 

Padahal kau tahu, jalan aspal di kampung kami penuh lubang. Naik motor Jepang saja rasa-rasanya persis seperti menunggang kuda. Ayahku hanya salah satu tukang jagal di perusahaan Dulrohman. Dia baru sekali ke rumah Dulrohman, itu juga karena Dulrohman percaya kepada ayahku. Dia telah bekerja sejak rumah jagal Dulrohman hanya sebuah bangunan kecil di atas tanah sewa di desaku. Kini, jangan dikira, rumah jagal Dulrohman luasnya 2 hektare dan katanya masih akan diperluas dengan tanah dan properti atas namanya.

Kau pun tidak akan menduga jika Dulrohman seorang penipu. Dia tampan, bahkan di usianya yang keempat puluh tahun. Kata ayahku, istrinya ada di mana-mana. Senyumnya juga tidak menyiratkan dia seorang pendosa, bahkan seluruh desa paham Dulrohman gemar beramal dan membantu berbagai kebutuhan mereka. Kecuali satu, dia membiarkan jalan-jalan desa tetap bolong sebab truk-truk besar yang mengangkut sapi-sapi itu setiap hari keluar masuk desa, belum lagi mobil boks pengangkut daging yang lalu-lalang hingga puluhan kali. Berapa kali ditambal pun aspal akan remuk digilas beban berat. Dia berkilah, itu tanggung jawab negara, “Kita sudah membayar pajak, semestinya jalan-jalan kita itu bagus seperti di Singapura.” Warga hanya manggut-manggut. Urusan pejabat desa yang rewel, Dulrohman paling tahu kapan dia harus berbagi amplop untuk menutup kicau mereka.

Di awal usahanya, sapi-sapi itu dijagal dengan cara tradisional. Ada empat hingga lima orang yang bertugas mengeksekusi seekor sapi. Sapi-sapi dihalau melalui jalur khusus berpagar bambu dan langsung keluar di satu sisi turunan curam yang membuat sapi itu kehilangan keseimbangan. Begitu sapi itu jatuh, salah seorang akan sigap melepaskan semburan air yang melumpuhkan kaki-kaki sapi. Kampret, ayahku, menjadi salah satu eksekutor sapi-sapi itu.

Keahliannya ialah membuat sapi-sapi itu mati dalam sekali sayatan. Dia sepertinya paham benar letak urat kematian seekor sapi. Tapi tak semua penjagal punya belati seperti miliknya, dan tak semua paham urat kematian seekor sapi seperti ayahku. Maka tak jarang, satu sapi baru mati dalam tujuh kali sayatan dengan menyisakan lenguhan yang menyesakkan. “Suara kematian mereka seperti suara perempuan tergilas roda truk,” begitu ayahku mengumpamakannya.

Perihal cara kematian sapi-sapi itu, suatu hari, datang seorang jurnalis dan juru kamera asing hendak meliput rumah jagal Dulrohman. Konon mereka berasal dari negeri sapi-sapi itu didatangkan. Keduanya ingin tahu apakah kematian sapi-sapi dari negeri mereka selayak yang mereka harapkan. Kabarnya, sapi-sapi itu dating dalam kuota besar dengan menumpang kapal Ocean Drover. Seandainya itu kau, menyeberangi lautan berhari-hari hanya untuk dijagal, kukira yang diinginkan oleh jurnalis itu adalah kematian secara terhormat. Meski bagi Dulrohman kematian sapi tetaplah kematian sapi. Bagaimanapun caranya, toh kematiannya awal santapan yang lezat, utamanya bagi orang-orang di kota.

Sepanjang pengapalan, hampir 30 ribu ekor sapi di Ocean Drover diberi pakan layaknya di kandang mereka sebelum akhirnya diturunkan di Pelabuhan Tanjung Priok. Seandainya pun ada selimut untuk sapi-sapi itu, mereka akan mendapat jatah satu-satu. Dari situ, sapi-sapi kemudian dipindahkan ke dalam truk dan sebagian menuju ke rumah jagal Dulrohman.

Konon kata ayahku, dulu, di Pelabuhan Kalimas Surabaya, sapi-sapi dipindah ke truk hanya diangkat dengan beberapa utas tali yang diikatkan pada moncong dan kepala mereka, ditarik sebegitu rupa dengan katrol layaknya seekor kucing menyeret anaknya untuk dipindahkan? Sekali angkat sejumlah enam ekor lalu diturunkan ke atas bak truk-truk yang sudah berjajar di tepi pelabuhan yang merapat di dekat kapal. Sapi-sapi di sana kondisinya lebih mengenaskan, sebab tubuh mereka kurus kering akibat sepanjang pengapalan tak pernah diberi pakan. Membandingkan cerita ayahku dengan kecemasan jurnalis itu, aku sepertinya mafhum.

Tentu Dulrohman tak ambil pusing ketika sebulan kemudian berita buruk mengenai penjagalan sapinya beredar luas oleh liputan jurnalis di negeri para sapi berasal. Berita yang sampai juga di telinganya. Bisnis harus tetap berjalan, begitu prinsipnya. Bagaimana pun berita pasti akan berlalu. Sungguh benar pandangan Dulrohman. Protes di negeri para sapi tak hinggap di negerinya.

“Kubilang apa, daging tetap daging!” perintahnya kepada ayahku.

Ayahku, asal gaji dan tunjangannya tetap dibayarkan, akan menuruti semua instruksi Dulrohman. Berton-ton daging sapi siap edar dan kirim ke supermarket-supermarket besar hingga pasar tradisional di Nusantara diproduksi saban hari. Entah sudah berapa ekor sapi yang mati di belati jagal ayahku.

Penangkapan Dulrohman tak ayal membongkar sebagian jaringan kartel sapi dalam negeri. Kisah itu kemudian mencuat sepanjang enam bulan sejak dia digiring oleh aparatur keadilan. Nyaris berita tentangnya tak pernah sepi. Para jurnalis makin getol melakukan investigasi. Seiring dengan itu, keingintahuan ayahku seakan menggelembung. Tapi ia justru bungkam ketika jurnalis datang ke desaku. “Aku tidak mau muncul di TV,” kilahnya. Dia mengikuti perkembangan kasus Dulrohman melalui berita saban malam.

Acap kali berita Dulrohman di dengarnya, serentetan kalimat akan keluar dari mulutnya beriring dengan keratan giginya menahan amarah. Dia yakin bahwa dia lebih tahu tentang Dulrohman daripada para aparatur dan jurnalis itu.

Menurut cerita ayahku, Dulrohman menyuntikkan sesuatu ke daging sapi yang baru dikuliti, begitu kisah awal bisnis Dulrohman dimulai. Ketika ayahku bertanya, “Apa yang kau suntikkan?” Dulrohman menjawab, “Air berkah.”

Meski ayahku bukan orang terpelajar, dia mencium aroma kebusukan sedari awal. Sebab daging-daging itu tampak segar dan kenyal meski tak habis dijual dalam sehari. Tak ada lalat yang berani hinggap. Teksturnya masih tampak mengilat dan ronanya seperti bunga mawar merah. Tapi apa ayahku peduli, dia lebih butuh ongkos untuk anak dan istrinya.

Waktu itu aku baru kelas empat SD, begitu ingatanku mencatat pertama kali ayah membawa daging sapi dari rumah jagal ke rumah kami dengan rasa bangga, sebab hari itu dia telah bekerja keras. Aku juga masih ingat aroma ramuan rempah untuk merendam daging sapi yang telah diiris tipis-tipis oleh ibu tak lama selepas itu. “Ini untuk membuat dendeng sapi,” jelasnya.

Sepanjang tahun ini, di negeriku, harga daging sapi terus melangit. Namun semburat aroma racikan rempah untuk dendeng sapi belum hilang sama sekali, terbit dan menguar dari dapur. Kulihat irisan daging sapi terendam dalam air rempah. “Bumbu dendeng itu paduan parutan lengkuas, ketumbar, bawang merah dan putih yang telah diremuk, gula jawa, dan garam,” terang ibu.

Bumbu ketumbar konon menurutnya mampu menimbulkan bau sedap dan rasa pedas yang gurih. Bawang putih menimbulkan rangsangan tajam dan memicu selera makan. Sedang gula mampu melunakkan daging. Ibu merendam irisan daging itu semalaman, dan baru pada keesokan harinya dia mengangkat dan menjemurnya di bawah terik matahari hingga benar-benar kering.

“Kalau sudah kering, dendeng sapi lebih awet selama berhari-hari,” jelasnya.

Dendeng sapi kering itulah yang nantinya akan digoreng dan kami santap.

“Berapa kau beli?” tanya ayah yang tiba-tiba muncul menghadang ibu.

“Seratus ribu lewat sedikit. Aku menawar setengah mati, hanya turun lima ribu. Itu pun katanya dia sudah merugi, ‘Menghabiskan saja, Bu’, katanya,” jelas ibu.

“Dan kau percaya saja?”

“Kau pergilah ke pasar sana kalau tak percaya,” balasnya tak kalah sengit.

“Sudah kau periksa ada formalin? Gelonggongan?”

“Memangnya aku ini pegawai makanan? Periksa ini-itu. Sudah, makan saja! Perkara mati itu urusan Tuhan.”

Sesungguhnya dengan ketekunan dan keahliannya, ayahku bisa memiliki rumah jagal sendiri jika dia mau, dia paham seribu satu hal perihal sapi. “Sapi jenis limosin akhir-akhir ini paling digemari,” ujarnya, “Berbeda dengan dua puluh tahun lalu, tak ada yang mengalahkan sapi Brahman.”

Sementara ibuku bisa mengembangkan bisnis dendeng sapi hasil racikan rempahnya. Tapi ayahku sepertinya merasa cukup dengan memiliki kesederhanaan yang dinikmatinya.

Maka, di balik tangannya yang mampu mematahkan leher sapi, ayahku tidak membentuk dirinya seberingas banteng dan serakus Dulrohman. Kujamin kau akan tertegun melihat sabetan belati jagal ayahku saat menghadapi seekor sapi dalam sekali sayatan.

 

 

Dyah Merta, tinggal di Yogyakarta Novelnya Peri Kecil di Sungai Nipah (2007)

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: