Cerpen Manaf Maulana (Suara Merdeka, 1 September 2013)

Kayu Siwak Kiai Hasan ilustrasi -

KAYU siwak yang selalu dipakai Kiai Hasan menggosok giginya tiap-tiap menjelang shalat sejak lama menjadi incaran banyak santrinya. Mereka menduga, kayu siwak sebesar rokok itu adalah benda mulia atau mungkin juga jimat sakti. Siapa yang memilikinya akan menjadi tokoh paling berpengaruh di negeri ini.

Dugaan mereka makin kuat sejak Kiai Hasan kebingungan mencari-cari kayu siwaknya yang katanya hilang entah di mana. Mungkin jatuh dalam perjalanan dari masjid ke rumahnya. Kiai Hasan menyuruh beberapa santrinya untuk membantu mencari kayu siwak itu. Tapi kayu siwak itu tidak bisa ditemukan.

Lalu Kiai Hasan putus asa dan menyuruh santri-santri itu menghentikan pencarian. 

‘’Mungkin sudah takdirnya kayu siwak itu harus berpisah dengan aku.’’ Kiai Hasan bicara di depan santri-santrinya dengan wajah murung, seolah-olah sangat berduka atas hilangnya kayu siwak itu.

Santri-santrinya ikut berduka. Tapi mereka kemudian gembira dan sangat ingin bisa menemukan kayu siwak itu, lalu menyimpannya sebagai jimat.

Menurut kabar burung entah dari mana sumbernya, kayu siwak yang hilang itu dulu diperoleh Kiai Hasan dari Madinah pada saat berziarah di makam Rasul. Tapi ada juga kabar bahwa kayu siwak itu diperoleh Kiai Hasan dari makam Sunan Kalijaga yang sering diziarahinya. Dan karena memiliki kayu siwak itu, Kiai Hasan menjadi ulama yang sangat berpengaruh. Banyak pejabat datang minta doa restunya agar mereka naik pangkat atau menjadi pejabat yang paling berkuasa. Tokoh-tokoh politik yang mau menang pilkada juga berdatangan minta doa restunya. Sejumlah pengusaha juga sering datang minta berkah doa restunya agar makin sukses dan tidak sampai bangkrut.

Kiai Hasan semakin kaya, karena semua yang datang memberikan amplop berisi sejumlah uang. Rumahnya diperluas dan ditingkatkan menjadi berlantai dua. Demikian juga pondok pesantrennya.

Selain sibuk mengajar santri-santri di pondoknya, Kiai Hasan sering diundang berceramah di berbagai acara.

***

TAPI sejak kayu siwaknya hilang, Kiai Hasan tiba-tiba seperti kehilangan pengaruhnya. Tidak ada lagi tamu yang datang minta doa restunya. Dan tidak lagi diundang berceramah di berbagai acara. Sehari-hari selalu menyendiri. Bahkan setiap shalat juga sendirian, tidak lagi menjadi imam. Tugasnya menjadi imam shalat di masjid dan mengajar di pondoknya dialihkan kepada santri tertua.

Dalam kesendiriannya, Kiai Hasan tampak selalu khusuk berdzikir. Bibirnya selalu komat kamit. Bahkan ketika sedang berjalan-jalan memperhatikan lingkungan sekitar pondoknya, bibirnya selalu momat kamit.

‘’Kiai Hasan sekarang tidak seperti dulu lagi, ya?’’ tanya seorang santri kepada rekan-rekannya ketika hendak tidur. Malam sudah larut.

‘’Ya. Beliau berubah karena kehilangan kayu siwaknya. Sekarang tidak punya pengaruh lagi. Buktinya, tidak ada lagi tamu yang datang minta doa restunya,’’ jawab seorang rekannya.

‘’Sekarang hidupnya sudah damai. Mungkin sudah mencapai derajat kewalian. Artinya, tidak lagi dibebani urusan-urusan duniawi,’’ sambung rekan lainnya.

‘’Mungkin ajalnya sudah dekat, dan sudah diketahuinya, lalu berusaha menyambutnya. Kiai Hasan pasti bercita-cita bisa wafat khusnul khatimah,’’ lanjut rekannya yang lain lagi.

‘’Kita sebaiknya mencari lagi kayu siwak yang hilang itu. Siapa tahu di antara kita bisa menemukannya, lalu menjadi ulama paling berpengaruh.’’

‘’Ya, kita harus diam-diam terus mencari kayu siwak yang hilang itu. Semoga di antara kita bisa menjadi penemunya. Jika kayu siwak itu kita temukan, tak perlu diserahkan kepada Kiai Hasan.’’

Tanpa sepengetahuan Kiai Hasan, semua santrinya yang berjumlah ratusan jiwa itu diam-diam mencari kayu siwak yang hilang. Mereka sering berpura-pura membersihkan halaman dan gang-gang di sekitar pondok dan masjid. Mereka menduga, kayu siwak yang hilang itu pasti jatuh tidak jauh dari lingkungan masjid dan pondok.

***

BERHARI-HARI sampai berbulan-bulan pencarian kayu siwak terus berlangsung dan tidak ada satu pun santri yang berhasil menemukannya. Lalu di antara mereka ada yang mencoba menebak: mungkin kayu siwak yang hilang itu sudah digondol kucing lalu dimakan habis. Bisa jadi ada kucing yang menemukannya, lalu menganggapnya sebagai tulang ayam, karena kayu siwak yang sering digunakan menggosok gigi bisa jadi berbau amis khas bau mulut yang justru disukai kucing.

Dugaan itu menyebar ke semua sudut pondok. Semua santri mendengarnya, kemudian ikut-ikutan menduga bahwa kayu siwak mungkin memang sudah dimakan kucing. Lalu di antara santri mendapat gagasan untuk mencoba mencari kucing untuk dipukul dengan sapu lidi.

Sekelompok santri berhasil menangkap seekor kucing hitam yang sejak lama hidup di lingkungan pondok. Kucing hitam itu diikat dengan tali rafia, lalu dipukuli dengan sapu lidi. Ajaib, kucing hitam itu sepertinya tidak merasakan kesakitan saat dipukuli.

‘’Mungkin kucing inilah yang telah menelan kayu siwak. Buktinya sekarang kebal. Tak sakit dipukuli dengan sapu lidi,’’ tutur seorang santri kepada rekan-rekannya.

Lalu seorang rekannya mencoba memukul kucing hitam itu dengan sebatang ranting bambu. Ternyata kucing hitam itu tidak kesakitan. Hanya diam saja, sebagaimana kucing-kucing yang sedang dielus-elus bulu-bulunya dengan lembut oleh seorang penyayang hewan.

Seorang santri tiba-tiba ingin membanting kucing hitam itu. Tanpa belas kasihan, kucing hitam itu pun dibanting keras-keras. Ajaib. Kucing hitam itu sepertinya tidak merasakan kesakitan. Ketika terbanting, tubuh kucing hitam itu seperti benda ringan yang jatuh di atas permukaan tanah. Tanpa suara.

Sehabis dibanting keras-keras oleh seorang santri, kucing hitam itu bahkan kemudian tidur. ‘’Kita harus yakin, kucing hitam inilah yang menelan kayu siwak yang hilang itu,’’ seorang santri mencoba memengaruhi rekan-rekannya.

‘’Ya, agaknya kita layak percaya, kucing ini telah menelan kayu siwak milik Kiai Hasan sehingga tidak bisa merasakan kesakitan.’’

‘’Kalau kita makan dagingnya atau minum darah kucing hitam ini, mungkin kita juga akan sakti, tidak bisa merasakan sakit lagi.’’

‘’Tapi kita tidak boleh menyembelih dan makan kucing.’’

‘’Ya, syariat memang melarang kita menyembelih dan makan kucing. tapi kucing hitam ini istimewa, jadi kita layak melanggar syariat agar bisa menjadi manusia yang istimewa.’’

Tanpa diskusi lagi, sekelompok santri itu sepakat untuk segera menyembelih kucing hitam itu untuk dimakan dagingnya dan diminum darahnya.

Eksekusi terhadap kucing hitam itu dilakukan diam-diam pada tengah malam di halaman belakang pondok yang agak gelap. Tapi ketika kucing hitam itu hendak dipotong lehernya, tiba-tiba memberontak dan berlari menuju kegelapan. Santri-santri segera mengejarnya. Tapi kucing hitam itu sudah lenyap entah ke mana. Dan tidak pernah muncul lagi.

Santri-santri tidak mau putus asa untuk terus memburu kucing hitam itu ke semua sudut kampung. Mereka menyebar. Ada yang membawa pisau, ada yang membawa kayu, ada juga yang membawa cemeti. Mereka sudah bertekad bulat untuk membunuh kucing hitam itu dengan segala cara, jika binatang itu berhasil ditangkapnya lagi.

Tapi ternyata kucing hitam itu seperti sudah minggat jauh-jauh. Tak terlihat lagi di semua sudut kampung. Lalu sekelompok santri yang memburunya bertekad bulat untuk terus memburunya ke desa-desa lain. Mereka telah melupakan tugas belajarnya di pondok. Mereka juga telah lupa pulang ke kampung masing-masing untuk mengambil sembako dan uang saku sebagaimana biasanya mereka lakukan setiap bulan sekali.

***

KIAI Hasan tidak peduli kepada sekelompok santrinya yang telah meninggalkan pondok untuk berburu kucing hitam ke berbagai desa. Lalu santri-santri lain yang masih bertahan di pondok ikut-ikutan berburu kucing hitam. Mereka mendengar isu bahwa siapa saja yang berhasil menangkap kucing hitam itu untuk disembelih dan dimakan dagingnya serta diminum darahnya akan menjadi tokoh paling berpengaruh.

Suasana pondok dan masjid di samping rumah Kiai Hasan menjadi sunyi. Hanya Kiai Hasan, istrinya dan kedua anaknya yang tinggal di rumahnya. Kiai Hasan tetap saja suka menyendiri dengan mulut komat kamit. Adapun istri dan anak-anaknya menjalani hidup sebagaimana warga desa biasa.

Perubahan suasana pondok rupanya mendapat perhatian dari masyarakat sekitar. Mereka berdiskusi.

Dan, mereka kemudian mendengar kabar hilangnya kayu siwak milik Kiai Hasan yang konon sudah ditelan seekor kucing hitam yang kini sedang diburu oleh semua santri.

‘’Kita rugi kalau tidak ikut memburu kucing hitam itu. Siapa tahu di antara kita berhasil menangkapnya, kemudian menyembelihnya, lalu minum darah dan makan dagingnya, dan jadilah kita tokoh paling berpengaruh,’’ seorang warga berkata tegas.

‘’Ya, siapa saja berhak ikut memburu kucing hitam yang telah menelan kayu siwak milik Kiai Hasan.’’

Tanpa banyak diskusi lagi, semua warga ikut berburu kucing hitam. Mereka juga menyebar ke desa-desa lain. Lalu warga desa-desa lain mendengar cerita dari mulut ke mulut tentang kayu siwak milik Kiai Hasan yang ditelan seekor kucing hitam yang tidak bisa merasakan sakit lagi. Mereka kemudian ikut berburu.

Dalam waktu sebulan, hampir semua orang ikut memburu kucing hitam. Dan setiap kali ada yang menemukan kucing hitam langsung dibantai untuk diminum darahnya dan dimakan dagingnya mentah-mentah.

Semua warga penyayang binatang yang memelihara kucing hitam kemudian berusaha untuk menyembunyikan kucing hitam miliknya masing-masing di dalam rumah. Mereka tidak percaya kucing hitam miliknya telah menelan kayu siwak milik Kiai Hasan.

‘’Mana mungkin kucing hitam milikku menelan kayu siwak milik Kiai Hasan yang rumahnya sangat jauh. Rupanya banyak orang sudah kehilangan akal sehat.’’

Semua santri dan warga desa yang berburu kucing hitam tidak peduli lagi dengan akal sehatnya yang telah hilang. Dan kabar burung mengenai kucing hitam yang tak bisa lagi merasakan sakit karena telah menelan kayu siwak Kiai Hasan semakin menyebar ke seluruh penjuru.

Banyak orang memercayainya, kemudian ikut berburu kucing hitam. Semuanya tak peduli kehilangan akal sehat.

‘’Jangan peduli akal sehat, karena di negara ini akal sehat sering tak ada gunanya!’’

‘’Ya, untuk apa punya akal sehat jika hidup kita semakin miskin dan sengsara? Lebih baik ikut berburu kucing hitam, dan jika kita berhasil menangkapnya mungkin kita akan menjadi orang hebat dan paling berpengaruh.’’

Bagaikan sihir, berita burung mengenai keistimewaan kucing hitam itu semakin mempesona banyak orang kota. Para pejabat, tokoh-tokoh politik, pengusaha, militer, dan bahkan kaum intelektual juga terpesona dan kemudian ikut-ikutan berburu kucing hitam. Tapi tak ada yang berhasil menangkap kucing hitam. Di banyak desa dan kota ada banyak kucing tapi bukan kucing hitam.

‘’Kucing hitam yang kita buru bisa jadi sudah kembali ke surga. Tapi jika dia jantan, sebelum kembali ke surga mungkin sering bercinta dengan kucing-kucing betina dan kemudian kucing-kucing betina yang telah bercinta dengan kucing hitam itu telah beranak-pinak tapi semua keturunannya tidak berbulu hitam. Jadi tak ada salahnya kalau kita mencoba membantai kucing mana saja untuk kita minum darahnya dan kita makan dagingnya. Mencoba sesuatu dengan harapan memperoleh berkah tidak ada ruginya,’’ seorang tokoh politik beropini di dalam acara breaking news yang disiarkan sebuah stasiun televisi. Banyak orang kemudian terpengaruh opini itu dan kemudian ramai-ramai berburu kucing sembarangan untuk dibantai.

Di seluruh kota dan desa, aksi berburu kucing sembarang kucing terus berlangsung dan sering diwarnai pembantaian terhadap sembarang kucing yang berhasil ditangkap.

Sampai akhirnya tidak ada lagi kucing yang hidup berkeliaran di sembarang tempat.

Lantas, tiba-tiba muncul berita tentang hasil survei yang dilakukan sebuah organisasi pencinta hewan yang menegaskan bahwa kucing telah nyaris punah dan karena itu layak dianggap sebagai hewan langka yang harus dilindungi. Lalu upaya untuk melindungi kucing digalakkan dengan berbagai macam kampanye.

Ada kampanye yang bersifat teologis untuk melindungi kucing yang kemudian sangat populer: Siapa saja yang membunuh kucing tidak akan masuk surga, karena kucing adalah hewan kesayangan bidadari.

Sementara itu, Kiai Hasan masih hidup dan pada hari tuanya dia suka menghabiskan waktunya dengan menyendiri. Suatu ketika tiba-tiba dia teringat kecelakaan kecil yang terjadi ketika dia hendak shalat Subuh dengan rasa kantuk karena sepanjang malam sibuk menerima banyak tamu yang minta doa restunya. Ketika kayu siwaknya digosokkan ke giginya, tiba-tiba dia menguap dan pada saat mulut dan kerongkongannya terbuka lebar-lebar itulah kayu siwaknya lepas dari tangannya kemudian tertelan.

Kiai Hasan tersenyum geli sambil bergumam, ‘’Masya Allah, rupanya aku sudah mulai pikun, sehingga kayu siwak yang tertelan kuanggap hilang….’’ (62)

 

 

 

Pondok Kreatif, 20072013

— Manaf Maulana menulis prosa, puisi, dan esai dalam bahasa Indonesia dan Jawa yang dipublikasikan di sejumlah media massa

 

Advertisements