Kapal Perang


Cerpen Yusi Avianto Pareanom (Koran Tempo, 1 September 2013)

Kapal Perang ilustrasi Yuyun Nurrachman

Semarang, 1975-1981

SATU hal yang lebih menjengkelkan Abdullah Yusuf Gambiranom daripada harus membersihkan lantai rumahnya pada sembarang pagi setelah banjir surut adalah pertanyaan tidak perlu dari tetangga-tetangganya tentang suatu perkara yang sudah terang-benderang bagi semuanya: “Ngepel, Pak Yus?”  

Kepada penanya pertama Abdullah Yusuf akan memberi senyum palsu, kepada penanya kedua ia akan mengangguk dan ujung bibirnya tertarik ke bawah, dan kepada penanya ketiga dan seterusnya ia tak memberi tanggapan apa-apa selain memalingkan tubuh ke dalam rumah sembari menggerutu, “Hei, wong sudah ngerti kok masih tanya.” Kejengkelan Abdullah Yusuf ini akan terasa lebih legit lagi jika kau mendengarnya dalam versi aslinya, bahasa Jawa Semarangan. Pertanyaan itu mungkin tak dimaksudkan tetangganya sebagai ejekan, tetapi Abdullah Yusuf tetap sulit menerimanya sebagai kepedulian. Rasa gusar yang muncul akibat pertanyaan itu makin membesar dari tahun ke tahun. Lagi-lagi karena perkaranya memang sudah terang sehingga ia merasakannya seperti penegasan bahwa ia tak kunjung sanggup memutar balik peruntungannya.

Para tetangganya sebenarnya tidak lebih punya duit ketimbang dirinya, beberapa malah lebih rudin. Bahkan, kalau fakta yang satu ini punya arti, ia ketua RT di kampungnya, yang tanda tangannya dibutuhkan para tetangga jika mereka hendak membuat surat jalan. Hanya saja, tetangga-tetangganya memang sedikit lebih beruntung saat banjir datang. Sekalipun sama-sama kebanjiran, banjir di rumah Abdullah Yusuf lebih lama surutnya karena rumahnya yang berada di ujung timur Kampung Karangapi lebih rendah ketimbang jalanan. Terkadang banjir baru berlalu sehari setelah rumah para tetangga kering.

Karangapi bukan kampung kumuh. Letaknya di tengah kota, sekitar tiga kilometer sebelah timur-laut Simpang Lima. Namun banjir sering sekali bertamu dan khusus di rumah Abdullah Yusuf ia kerasan singgah berhari-hari. Situasinya tidak selalu seperti itu. Banjir mulai datang sejak dua jalan besar yang mengapit kampung ini, Jalan Mataram di sebelah barat dan Jalan Dr. Cipto di sebelah timur, ditinggikan pemerintah kota.

Kalau saja Abdullah Yusuf punya kuasa, ingin betul ia menjadikan Karangapi kampung tertinggi di Semarang sehingga untuk mencapainya orang luar mesti menggunakan tangga berjalan seperti yang ia dan juga kebanyakan orang Semarang lainnya lihat pertama kali di pertokoan Kanjengan di kawasan Pasar Johar. Namun, ia tahu itu hiburan kosong.

Penghasilan bulanannya, gaji pegawai perusahaan percetakan milik negara dan uang setoran dari beberapa becak yang ia miliki, mesti ia bagi ke tiga jurusan: rumah Karangapi yang ia tinggali bersama ibu dan ketiga anak lelakinya dari perkawinan pertamanya, rumah kontrakan di Rejosari yang ditinggali mantan istrinya dan anak perempuan bungsu mereka, dan rumah Kampung Wotkapal—yang ia tinggali secara bergantian dengan rumah di Karangapi—yang ditempati istri keduanya dan ketiga anak mereka. Mantan istrinya bekerja sebagai guru SD dan punya penghasilan sendiri, tapi tak mungkin Abdullah Yusuf lepas tangan.

Sebetulnya ketiga anak lelakinya yang tinggal di Karangapi bersamanya tak pernah terlihat risau saat banjir tiba. Malah mereka senang bisa bermain air. Mereka memang masih kanak-kanak. Tetapi, lidah Abdullah Yusuf terasa pahit setiap melihat ibunya yang sudah berumur enam puluh tahun lebih harus berbasah-basah. Ia tak mungkin meminta ibunya berjalan di atas dua kursi yang bergantian dimajukan seperti dirinya jika tak ingin menyentuh air.

Kadang Abdullah Yusuf membayangkan peruntungannya akan berbeda sekiranya paman-paman dan bibinya dari pihak ibu tidak gila judi dan gemar kawin cerai. Sejatinya, kakeknya adalah tuan tanah yang cukup kaya. Selain di Karangapi, kakeknya juga memiliki tanah dan rumah di kampung-kampung sebelah timur Karangapi seperti Tirtayasa, Pancakarya, dan Rejosari. Sayangnya kekayaan ini dengan cepat berpindah tangan setelah kakeknya meninggal dunia karena keempat pamannya dan bibinya selalu butuh uang cepat dan enggan bekerja. Perangai bibinya, bungsu dari keenam bersaudara, malah lebih grusa-grusu sekalipun nama yang disandangnya Sabar.

Hanya ibu Abdullah Yusuf, Siti Aminah, anak sulung keluarga itu, yang berbeda. Siti Aminah adalah Muslim taat dan harga dirinya tinggi—terlalu tinggi di mata orang-orang. Ia tak pernah mau ribut soal pembagian harta penjualan tanah warisan sehingga adik-adiknya dengan enteng menyisihkan untuknya bagian yang jauh lebih kecil daripada haknya. Baginya, bertengkar soal uang memalukan. Satu-satunya yang tak pernah adik-adik Siti usik adalah rumah yang ditinggalinya bersama Abdullah Yusuf. Ketika adik-adiknya hidup dengan uang warisan, Siti Aminah memilih berjualan udang dan blenyik—semacam bakso udang ebi yang baunya kuat—di Pasar Langgar.

Siti Aminah masih terus berjualan sampai Abdullah Yusuf berkeluarga dan mempunyai anak. Abdullah tak sanggup melarang ibunya karena bekerja adalah salah satu sumber kegembiraan utama Siti Aminah. Siti Aminah juga tak mempan saat dibujuk berhenti oleh cucu-cucunya dari anak pertamanya, kakak sulung Abdullah Yusuf. Anak pertamanya ini didapatkan Siti Aminah dari suami pertamanya, bukan ayah Abdullah Yusuf. Cucu-cucu ini sudah dewasa, salah seorang bahkan sudah menjadi pengurus teras Nahdlatul Ulama sekaligus anggota DPRD Jawa Tengah dari Partai Persatuan Pembangunan. Mereka tak enak hati dengan anggapan orang bahwa mereka membiarkan nenek mereka terus bekerja sementara mereka sudah sanggup menyantuni. Siti Aminah baru mau berhenti setelah seorang pedagang daging babi membuka kios tepat di samping titik ia biasa berjualan.

Abdullah Yusuf tak sempat benar-benar mengenal kakeknya karena kakeknya meninggal dunia ketika ia baru berusia tiga tahun. Abdullah Yusuf juga praktis tak mengenal ayahnya, Haji Abdul Mukri, pedagang kap lampu dari Buyaran, Demak. Ayahnya jarang hadir sejak ia kecil karena sepertinya selalu berkeliling Jawa menjajakan kap-kap lampu yang didatangkan dari Eropa. Ia tak tahu apakah kedua orangtuanya bercerai atau tidak, yang ia dengar dari ibunya adalah ayahnya punya banyak keluarga lain. Ia tak pernah mendesak ibunya soal ini, sampai akhirnya ada kabar Haji Abdul Mukri meninggal dunia saat ia remaja. Abdullah Yusuf melayat setelah ayahnya dimakamkan di kampung halamannya. Ayahnya tak meninggalkan apa-apa.

Ketika Abdullah Yusuf beranjak dewasa, paman-paman dan bibinya mulai hidup susah. Setelah Abdullah Yusuf bekerja, mereka tak malu-malu meminta uang sekalipun tak membebankan seluruh hidup mereka kepadanya. Mereka semua meninggal terlebih dahulu daripada Siti Aminah. Abdullah Yusuf yang mengurus semua pemakaman mereka. Dari kelimanya hanya seorang pamannya yang mempunyai anak yang kemudian tinggal di samping rumah Abdullah Yusuf. Sepupu perempuannya ini salah satu dari sedikit orang yang tak cerewet saat melihatnya mesti mengepel pagi-pagi setelah banjir surut.

 
NABI Nuh Alaihi Salam membangun bahtera raksasa untuk mengangkut umatnya yang percaya dan semua hewan yang kasatmata—masing-masing sepasang—setelah mendapatkan wahyu tentang banjir bandang yang sedemikian menakutkan besarnya yang akan menenggelamkan dunia selama berhari-hari. Abdullah Yusuf Gambiranom membuat perahu-perahu kertas yang ia pasangi mercon setelah mendapatkan keyakinan bahwa kampungnya bakal kebanjiran lagi setidak-tidaknya setengah meter setelah hujan deras turun tanpa ampun satu jam lamanya dan belum menunjukkan gejala ingin berhenti pada suatu malam. Keinginan membuat perahu ini timbul karena Abdullah Yusuf tahu bahwa keesokan pagi atau lusanya ia mesti mengepel rumahnya dan tetangga-tetangganya akan melontarkan pertanyaan yang sama.

Nabi Nuh membangun kapalnya di lapangan selama berbulan-bulan dan selalu mendapatkan cibiran, bahkan dari anggota keluarganya sendiri. Abdullah Yusuf melipat-lipat kertas di ruang depan rumahnya di bawah tatapan kagum ketiga anak lelakinya. Abdullah Yusuf terberkati dengan tangan terampil, sesuatu yang kelak hanya diwarisi salah seorang anak lelakinya, perahu-perahu kertas buatannya kuat dengan alas sedatar meja. Kecakapan tangannya sebetulnya tak mengherankan ketiga anak lelakinya—mereka pernah melihat ayahnya membuat layang-layang, menjahit, bertukang, bermain gitar, dan masih banyak lagi. Tapi, pemasangan mercon di atas perahu sungguh tak terduga. Mercon-mercon ini sisa Lebaran sepekan sebelumnya.

“Bapak, ayo nyalakan sekarang,” kata anak lelaki ketiganya.

“Sekarang masih hujan,” ujar Abdullah Yusuf.

Ketika hujan berhenti dan kampung mulai kebanjiran, anak-anak Abdullah Yusuf kembali mendesak ayah mereka segera menyundut mercon di perahu sebelum mereka makin mengantuk. Tetapi, ia meminta ketiganya bersabar sampai tengah malam karena pasti bakal lebih seru. Mata ketiga anak lelakinya membelalak bersamaan. Mereka sudah bisa membayangkan para tetangga yang bakal terkaget-kaget dan tawa mereka tak terbendung. Perasaan girang ini menumpas kantuk mereka sepenuhnya.

Setelah lewat tengah malam, Abdullah Yusuf dan ketiga anaknya membawa keluar perahu-perahu itu dan menaruhnya di buk depan rumah mereka.

“Aku mau menyundutnya,” kata anak pertama Abdullah Yusuf.

“Tidak, kalian menonton saja, berbahaya,” kata Abdullah Yusuf.

Mereka sedikit kecewa tetapi patuh.

Abdullah Yusuf memberi sumbu tambahan sebelum menghanyutkan perahu. Selain untuk keamanan juga agar perahu bisa mencapai tengah kampung sebelum mercon meledak. Perasaan berdebar selama berjam-jam menunggu tengah malam sebelum perahu dibawa keluar ternyata pucat saja bila dibandingkan dengan sekitar tiga puluh detik menunggu ledakan dari perahu pertama yang bergerak ke arah barat.

Beberapa orang keluar rumah, ada yang hanya melongok dari balik jendela atau pintu begitu mercon pertama meledak. Potongan kertas sisa perahu mengambang di air, beberapa masih melayang di udara. Ketika mereka masih bertanya-apa, Abdullah Yusuf sudah menghanyutkan perahu kedua dan ketiganya. Mercon di perahu ketiga adalah jenis yang istimewa, Gatotkaca, yang meledak dua kali—setelah ledakan pertama ada bagiannya yang mumbul ke udara sampai lima belas meter dan meledak lagi.

Malam itu ada sembilan belas perahu bermercon yang Abdullah Yusuf luncurkan. Setelah perahu kelima, tetangga-tetangga yang sempat melongok keluar sudah menghilang ke dalam lagi kecuali satu orang yang menyaksikan sampai selesai. Mereka tidak berkata apa-apa. Abdullah Yusuf tak sempat memikirkan apakah tetangga-tetangganya memaki-maki di dalam rumah mereka. Malam itu ia begitu berbahagia melihat paras bungah dan tawa berderai ketiga anaknya.

 
KEESOKAN paginya banjir surut dan Abdullah Yusuf harus mengepel lagi. Tapi, kegirangan semalam masih kental. Bukan karena tak ada lagi orang yang melontarkan pertanyaan tentang suatu perkara yang sudah terang-benderang bagi semuanya—ia mengepel—melainkan karena pemikiran bahwa ia bakal bisa bergembira lagi dengan cara yang sama bersama anak-anaknya jika kelak banjir datang lagi. Ia masih mempunyai amunisi cukup. Dan, betul saja, peluncuran perahu-perahu bermercon masih terjadi beberapa kali sampai ia dan anak-anaknya bosan sendiri.

 
PADA 1981, bisnis percetakan swasta yang Abdullah Yusuf dan dua temannya rintis setelah keluar dari tempat mereka bekerja mulai cerah. Mereka banyak mendapatkan proyek dari pemerintah daerah Provinsi Jawa Tengah. Pada tahun itu pula ia merenovasi total rumahnya. Yang paling mencolok adalah ia meninggikannya hampir satu setengah meter. Ketika kemudian pada tahun yang sama banjir besar melanda Semarang dan semua rumah di kampungnya kebanjiran lebih dari satu meter, rumahnya tetap kering. Hari itu ia sudah melupakan perahu-perahu bermerconnya, tapi ia sungguh berharap air makin tinggi saja.(*)

 

Yusi Avianto Pareanom mengelola penerbit Banana di Jakarta. Buku cerita pendeknya adalah Rumah Kopi Singa Tertawa (2011).

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: