Fordesia


Cerpen Sori Siregar (Kompas, 1 September 2013)

Fordesia ilustrasi Mangku Wayan Bawa

DI kegelapan Fordesia ini menjadi lampu yang membawa terang. Namun, ketika memecahkan masalah yang konkret Fordesia berfungsi sebagai puisi yang mengantarkan pembacanya kepada yang abstrak dan gulita. Ada orang yang mengatakan begitu. Benarkah?

Ketika seorang laki-laki muda masuk ke sebuah apotek dan menyodorkan selembar kertas kepada perempuan yang bertugas di apotek itu, petugas apotek berkata:

”Kami tidak menjual obat ini lagi. Yang tersedia di sini hanya obat lain yang fungsinya sama. Harganya tidak mahal. Hanya setengah harga obat yang tertulis di kertas ini.” 

”Tadi Anda bilang tidak menjual obat ini lagi. Artinya, obat ini pernah dijual di sini.”

”Betul.”

”Mengapa sekarang tidak?”

”Pembelinya hampir tidak ada.”

”Karena harganya yang mahal itu?”

”Benar.”

Laki-laki muda itu mengangguk untuk memperlihatkan bahwa ia paham mengapa obat itu tidak dijual lagi di apotek ini.

”Karena itu kami menjual obat ini (petugas apotek menyebutkan nama obat itu) sebagai penggantinya. Dan ternyata pembelinya lumayan banyak.”

Laki-laki muda itu mengangguk lagi. Ia menyodorkan kertas selembar itu kepada petugas apotek hanya karena memenuhi permintaan ibunya. Menurut ibunya, Fordesia yang akan dibeli itu adalah obat adiknya. Rasa ingin tahu yang berkecamuk membuat laki-laki muda itu bertanya:

”Obat itu sebenarnya untuk penyakit apa?”

Perempuan petugas apotek menatap wajah laki-laki muda itu.

”Alzheimer.”

”Hh. Alzheimer?”

”Betul?”

Laki-laki muda itu terdiam.

”Yang baru mulai atau sudah lama?”

”Kedua-duanya.”

Laki-laki muda itu segera meninggalkan apotek tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada petugas apotek. Di lapangan parkir ia menelepon ibunya. Ia tidak percaya obat itu untuk adik ibunya yang baru berusia 25 tahun. Setelah ibunya menjawab pertanyaannya, ia tetap tidak percaya. Tidak mungkin adik ibunya, Ines, yang cantik itu digerogoti atau mulai digempur alzheimer. Tidak mungkin.

Laki-laki muda yang bernama Tanjung itu menemui adik ibunya, Ines, yang cantik dan berdiam di rumah orangtuanya, yang juga orangtua ibunya.

”Betul obat itu untuk bunda?” Tanjung bertanya kepada adik ibunya yang usianya hanya satu tahun lebih tua dari usianya.

”Betul.”

”Betul?”

”Bukan bercanda?”

”Bukan.”

Tanjung mengamati Ines. Lama. Ines tersenyum

”Mengapa?”

”Memangnya bunda kena alzheimer?”

Ines yang dipanggil bunda itu tertawa terbahak.

”Ini semua bermula ketika bunda diserang halusinasi. Terkadang sangat mengganggu, karena itu ibumu menyuruh bunda berkonsultasi kepada dr. Marwan, neurolog atau ahli syaraf. Setelah konsultasi ia hanya memberikan resep vitamin bernama Brainact. Setelah itu sebagai ahli syaraf ia menganjurkan bunda agar menjalani pemeriksaan MRI Kepala*. Bunda setuju saja, walaupun biayanya mahal hampir Rp 3 juta. Setelah Brainact dikonsumsi selama satu bulan bunda bertemu lagi dengan dr. Marwan dengan membawa hasil MRI Kepala.”

Ines berhenti. Ia memperhatikan Tanjung yang mendengarkan dengan serius.

”Jadi bunda baru pertama kali mencoba Fordesia ini?”

”Betul.”

Tanjung menggeleng beberapa kali.

”Mungkin dr. Marwan merasa tidak cukup hanya memberikan vitamin. Perlu obat sebagai tambahan. Itulah Fordesia yang kamu cari di apotek, kemarin dulu.”

***

Acarotis dan basilaris tampak normal. Perifer signal flow baik. Tidak tampak tanda-tanda AVM/aneurysma. Tidak mencurigakan thrombus sinus. Atrofi cerebri, tidak tampak infark/SOL/AVM/perdarahan. Difusi parenkim otak baik tidak tampak hyperacute ischemic lesion. Tidak tampak udem cerebri maupun hydrocephalus. Cerebellum dan batang otak baik. Tidak tampak massa di supra maupun paraseller. Multiple sinusitis kronik. Mukosa cellulae mastoid terutama kanan kesan udem. Tidak tampak massa di nasopharynx.

Setelah membaca tulisan di atas kertas selembar tersebut, Tanjung mengangguk seakan-akan ia paham akan isi kesan dokter yang mengirimkan hasil pemeriksaan itu kepada dokter saraf. Surat laporan itu terbuka, tanpa amplop dan diberikan dr. Marwan kepada Ines setelah ia membacanya.

Isi surat yang merupakan laporan itu sebenarnya hampir satu halaman penuh. Membacanya melelahkan juga. Karena itu Tanjung hanya membaca ”kesan” yang tertulis dalam sebelas baris pada bagian bawah surat.

”Kalau hasilnya seperti ini mengapa Bunda harus menelan Fordesia?”

”Aku juga tidak tahu. Tampaknya tidak ada yang serius. Dokter saraf membaca surat itu pun hanya sebentar. Kemudian tujuh lembar film yang Bunda bawa dalam amplop besar itu hanya dilihatnya sekilas, kira-kira satu menit.”

”Perasaan Bunda setelah menelan Brainact dan Fordesia itu bagaimana? Masih sering ditemani halusinasi?”

”Ya, sekali-kali. Tapi Bunda mulai senang berteman dengan halusinasi itu.”

”Senang?” ujar Tanjung yang merasa salah dengar.

”Ya, begitulah.”

Tanjung terperangah.

***

Pada suatu pagi, tanpa ditanya, Tanjung mendengar penjelasan ibunya.

”Kamu ’kan kenal Ines.”

Tanjung diam.

”Dia itu senang beraneh-aneh. Dia merasa dirinya alergi terhadap debu dan makanan tertentu seperti udang dan ikan apa saja. Padahal sebenarnya tidak. Dia menjalani pemeriksaan MRI Kepala* yang menggunakan alat canggih dan mahal itu atas permintaannya bukan atas anjuran dokter. Setelah hasilnya diperoleh Ines pula yang meminta agar ia boleh mengonsumsi Brainact dan Fordesia itu.”

”Dokter mengizinkan?”

”Tidak. Teorinya obat dan vitamin itu harus dibeli dengan resep dokter. Kenyataannya kan tidak begitu.”

”Ide gila ini diperolehnya dari mana?”

”Bukan ide tapi pengalaman. Seorang mantan dosennya benar-benar tidak mengenalnya lagi, walaupun ia telah berkali-kali datang menemui mantan dosen itu dan menyebutkan siapa dirinya. Belakangan Ines tahu bahwa mantan dosennya itu sangat bersahabat dengan penyakit yang namanya alzheimer. Sebagai mahasiswa pengagum mantan sang dosen, empati dan solidaritas kepada mantan dosennya itu membuat Ines memilih untuk bersahabat pula dengan alzheimer itu.”

”Aneh.” Hanya itu komentar Tanjung.

”Halusinasi dan alzheimer itu masih bermain di ruang terbuka dirinya. Yang kamu saksikan adalah pengalaman indra yang benar-benar ngawur.”

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: