Cerpen Ida Ahdiah (Jawa Pos, 25 Agustus 2013)

Aksesoris ilustrasi Budiono

SATU per satu, persiapan untuk pernikahan putriku, Sekar, mulai kelihatan bentuknya. Undangan sudah tinggal mencantumkan nama dan alamat, menu katering sudah dipesan dan baru saja, pesanan 15 baju koko warna kuning untuk anak laki-laki dan 15 setel baju muslimah warna merah muda untuk anak perempuan, kuterima. Aku juga sudah membeli 2 setel baju muslimah dan 2 setel baju koko untuk dewasa.

’’Sebulan menjelang menikah, tolong kamu antar baju-baju ini ke panti yatim. Kamu ajak Beno ke sana. Jangan lupa katakan pada pengasuh panti untuk datang di akad pernikahanmu, pukul 10 pagi. Ibu sudah siapkan mobil untuk menjemput mereka,” pintaku pada Sekar sambil menunjukkan baju-baju itu padanya malam itu, ketika ia tiba di rumah seusai mengepas kebaya pengantinnya. 

Sekar menyentuh baju-baju itu. Ia mengeluarkan satu setel baju muslimah dari bungkusan dan membentangkan di dadanya. ’’Bagus,” pujinya seraya duduk di sampingku.

’’Saya akan mengantarkannya dengan Beno. Namun, Beno bilang pada saya, ia keberatan anak-anak yatim itu hadir di akad nikah kami,” ujarnya pelan dan hati-hati.

Aku membalikkan bahu ke arahnya sambil mengerutkan dahi dan berharap Sekar hanya bercanda. Namun, ia mengangguk-anggukkan kepala serius yang membuatku berkata, ’’Bilang pada Beno, dengan menghadirkan mereka Ibu ingin perkawinan kalian semakin diberkahi. Semua biaya untuk mereka juga Ibu yang menanggung, kok…

Sekar menatapku tidak percaya mendengar kata-kata itu keluar dari mulutku. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia berlalu dan kembali dengan segelas air putih yang ia sodorkan padaku. Lalu katanya dengan pelan tapi kukuh, ’’Beno, minta maaf atas keberatannya.”

’’Lantas, Beno tidak jadi menikahimu, jika Ibu tetap mendatangkan mereka?’’

Aku sungguh menyesal mengeluarkan ucapan dengan nada tinggi yang terdengar berlebihan dan reaktif itu. Wajah Sekar pun seketika tampak tertekan. Aku bisa melihat dari usahanya untuk menahan diri, tidak menjawab pertanyaanku dengan membereskan baju-baju yang berserakan. Rupanya, kelelahan menyiapkan perkawinan telah membuat masalah yang kelihatannya sepele menjadi masalah besar bagiku. Membuatku lepas kendali.

Aku tak sabar ingin membicarakan penolakan Beno dengan Mas Har, suamiku. Ia telah mempercayakan urusan pernikahan Sekar sepenuhnya kepadaku. Katanya, aku pasti lebih tahu karena dulu pernah menjadi calon mempelai perempuan. Aku juga senang jika diminta cawe-cawe membantu jika ada saudara atau tetangga yang menikah. Bukan saja membantu memberi tahu dan membandingkan harga undangan, jasa perias pengantin atau katering, tapi juga membantu menemukan tema yang tepat untuk pesta pernikahan sesuai dengan karakter mempelai dan keluarganya. Di keluarga besar, aku terkenal sebagai seksi repot. Ia mengangguk setuju, tanpa komentar, ketika kutunjukkan deretan acara yang kususun. Mas Har hanya berpesan, pernikahan putri semata wayangnya, yang ia masih gamang melepasnya, berjalan khidmat dan lancar.

’’Menurutmu, Beno itu cocok untuk Sekar? Apa dia bisa melindungi anak kita?” Itulah keraguan ayahnya yang diungkapkan kepadaku malam itu, seusai ia menggosok gigi dan bersiap berbaring di sampingku. Aku merasa suamiku belum siap mempercayakan anak gadisnya yang baru diwisuda menjadi dokter kepada pria lain, yang malam itu datang mengenalkan diri.

Sudah lama Sekar bercerita tentang Beno, seorang dokter muda yang ditugaskan di sebuah puskesmas dan kalau sore menjadi dokter di klinik bersama milik seniornya. Sementara Sekar, masih menunggu surat penugasan PTT di Indramayu. Putriku mengaku salut pada Beno, seorang anak singkong dari desa yang percaya bisa meraih mimpi dengan bekerja keras. Karena nilai-nilainya yang istimewa, Beno selalu memperoleh beasiswa dan selesai menjadi dokter terbaik di angkatannya.

’’Bagiku pria seksi adalah yang pintar seperti Beno,’’ kata Sekar yang tentu saja pintar, karena ia juga diterima di kedokteran, menjadi adik kelasnya Beno di universitas paling bergengsi di negeri ini.

Sekar telah menolak cinta Topan, yang juga tampan dan pintar. Alasannya, karena tak menemukan ’’greget’’ pada dirinya saat mengobrol, berdiskusi atau saat ia memberikan pendapat. ’’Cerita Topan kurang penuh warna. Ia anak kota yang terbiasa segalanya tersedia karena orang tuanya berada. Tanpa usaha keras pun ia akan tetap mewarisi perusahaan keluarga. Hidupnya datar, tidak semeledak namanya. Malas, ah, hidup dengan pria seperti itu…”

Seperti Sekar itulah aku dulu, saat memutuskan untuk menerima pinangan Harianto. Anak seorang guru sekolah dasar dan lahir di sebuh desa terpencil. Namun, ia percaya, pendidikan adalah pintu untuk mengubah kehidupan, mewariskan kebudayaan dan ilmu kepada generasi mendatang. Aku selalu menahan napas setiap kali mendengarkan penuturan dan cita-citanya yang menggelora, yang aku percaya dan kudoakan ia berhasil meraihnya.

Kini, Dr Harianto adalah direktur di sebuah lembaga riset biokimia dan tetap menyempatkan diri untuk mengajar. Hari-harinya ia habiskan di laboratorium, membaca dan berbicara di seminar di dalam dan luar negeri. Bersamanya aku hidup bahagia, dikarunia seorang anak perempuan pintar, tidak kekurangan, meskipun tidak berlebihan.

Maka, aku menghargai dan diam-diam bangga pada cara berpikir Sekar, yang tak kusangka membuat ayahnya semakin cemas.

’’Gaji dokter pemula itu berapa, ya?” Pertanyaan itu diajukannya ketika aku hampir terlelap dan Mas Har berbisik sambil menyentuh lenganku.

Aku menggelengkan kepala dan memeluk lehernya. ’’Mas, aku tahu kau khawatir Beno tak bisa melindungi dan memenuhi kebutuhan Sekar, seperti kita melindungi dan memahaminya. Sama seperti bapak dulu khawatir ketika melepasku ke tangan seorang pria dari daerah terpencil yang culun. Tapi aku percaya, hidup bersamamu memiliki tujuan dan akan menyenangkan. Sekar pun percaya Beno akan membahagiakannya!’’

’’Hei, kau tidak pernah mengatakan itu padaku.’’

’’Karena aku tak ingin Mas mabuk sanjungan,’’ candaku.

’’Karena aku percaya pada kesungguhanmu maka aku berani melamar anak gadis seorang diplomat senior.’’ Mas Har tertawa. ’’Tapi, sebagai orang tua, kita tetap perlu memikirkan masa depan Sekar. Aku berpikir untuk menghadiahi Sekar rumah. Rumah kecil saja.”

’’Sebuah usulan yang bagus. Tapi…”

Kuceritakan pada Mas Har, aku pernah menolak rencana bapak membelikanku rumah karena aku percaya satu saat akan bisa membeli rumah hasil perjuangan bersama. Aku tidak ingin tinggal di sebuah rumah tanpa jiwa karena tidak ada setetes pun keringatku dan suamiku. Tapi, aku tidak keberatan bapak dan ibu membuat pesta besar, sebab itu semata bukan untuk aku. Itu adalah bentuk kebanggaannya sebagai orang tua yang memiliki banyak teman, relasi, dan saudara. Terus terang kukatakan, aku dan Mas Har tak memiliki cukup uang untuk sebuah pesta besar. Uang tabungan Mas Har sebagai dosen digunakan untuk hal-hal mendasar, mas kawin, dan mengontrak rumah dekat kampus yang akan kami tempati setelah pesta usai.

’’Jadi, tak usahlah memberi Sekar rumah,’’ usulku.

’’Baiklah. Nanti Beno merasa tidak dianggap juga, ya.” Mas Har mulai menyadari bahwa limpahan kasih sayangnya pada Sekar bisa menjadi sembilu buat suaminya kelak jika tidak diberikan secara hati-hati. ’’Mereka berdua sudah dewasa dan akan memiliki kehidupan sendiri. Kita sebagai orang tua tetap harus mendoakannya. Semoga perkawinan mereka mendapat ridha-Nya.” Mas Har mengatakan itu dengan suara agak tersendat. Aku bisa merasakan kepedihannya akan ditinggalkan anak perempuan yang sejak kecil kami jaga, rawat, dan didik.

Selanjutnya, Mas Har tampak berusaha rileks saat bertemu dengan Beno. Ia mencoba mengajaknya berbincang tentang banyak hal, termasuk sepak bola. Tapi, Beno meminta maaf ia tidak suka bola, lebih suka balap mobil. Alasannya karena balap mobil mengandalkan keterampilan individu, selain kecanggihan mesin dan lebih memacu adrenalin, ketimbang menonton satu bola yang ditendang bersama-sama. Ketidaksamaan kegemaran ini sering membuat keduanya saling ledek dan tertawa-tawa.

Semakin dekat hari pernikahan Mas Har semakin menunjukkan sikapnya sebagai bapak terhadap Beno. Di hari libur, beberapa kali ia meminta Beno menemaninya ke bengkel yang dilanjutkan dengan ngopi. Sementara aku semakin stres mempersiapkan pernikahan. Setiap hari aku menghubungi orang-orang yang terlibat untuk memastikan semuanya akan siap pada waktunya. Maka, aku kesal bukan main ketika malam itu Sekar menyampaikan keberatan Beno.

Aku sungguh tidak mengerti mengapa Beno keberatan pernikahannya disaksikan anak-anak yatim? Bukankah itu adalah kesempatan untuk berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yang tidak beruntung itu? Kami akan memberinya baju seragam, menyediakan tempat khusus, makanan dan amplop berisi uang ketika mereka pulang. Kurasa perbuatan itu sangatlah terpuji. Dengan petimbangan itu, aku yang kerap diminta menjadi panitia perkawinan saudara atau teman-teman, selalu memasukkan anak yatim ke dalam acara pernikahan selain menyiapkan seragam panitia, menyewa gedung dan memesan bunga.

’’Bu, Beno sama sekali tidak keberatan bersedekah untuk anak yatim. Dia yatim sejak kecil, yang menerima banyak uluran tangan, menjadi pusat belas kasihan…,” tutur Sekar beberapa saat kemudian sambil menggenggam jemariku.

’’Lantas?’’

’’Semasa kecil Beno dan teman-temannya juga sering diundang ke akad nikah anakanak penggede di kota kecamatan. Mereka menerima banyak buah tangan…’’

Cerita Sekar membuatku berupaya mencari benang merah kisah hidup Beno dengan kisah akad nikahnya yang akan datang. Namun, aku tidak berhasil menemukannya!

’’Namun Beno merasa ia hanya dijadikan benda yang melengkapi pernikahan. Hanya sebagai aksesori seperti bunga! Dan perasaan tidak berdaya itu mengganggunya hingga sekarang. Ia tak ingin perasaan itu dirasakan oleh anak-anak yatim saat menghadiri akad pernikahan kami. Itu saja pertimbangannya. Maaf, jika saya dan Beno telah menolak niat baik Ibu.”

Dadaku seperti dipecut mendengar penuturan Sekar yang tanpa tedeng aling-aling. Benarkah aku telah menjadikan mereka aksesori? Dalam upacara akad nikah anak-anak yang memakai seragam khusus itu akan duduk di tempat yang disediakan khusus pula. Mereka, tentu saja, tak berani angkat bicara. Jika membuat suara, pengasuhnya segera menempelkan telunjuk, meminta anak-anak itu diam. Tugas mereka adalah duduk, diam menyaksikan upacara, dan pulang dengan membawa buah tangan. Itukah aksesori yang dimaksud oleh Beno?

’’Kau dan Beno tetap harus mengantarkan baju-baju ini ke panti,” kataku akhirnya setelah bergelut dengan pikiranku sendiri.

Sekar menatapku tegang dan putus asa.

’’Jangan lupa membawa amplop yang sudah Ibu siapkan…’’

Sekar menghela napas, pasrah.

’’Jangan lupa katakan pada mereka untuk tidak datang di hari akad nikahmu!’’

Sekar berdiri mendadak dari duduknya yang lesu.

’’Ibu?’’

Kutepuk-tepuk hidung bagus Sekar, lalu kucium keningnya. Aku senang melihat senyum putriku merekah, mekar. Ia mengambil lenganku dan menciumnya dalam, berulang-ulang.

Sungguh, aku masih belum paham sepenuhnya, mengapa Beno begitu sensitif, merasa sebagai aksesori. Namun, aku sudah siap dengan jawaban jika Mas Har dan saudara-saudara bertanya, mengapa perkawinan Sekar dan Beno tidak dihadiri oleh anak yatim? ***

 

 

Advertisements