Cerpen Bertolt Brecht (Koran Tempo, 18 Agustus 2013)

Kisah Seorang Pandai ilustrasi Yuyun Nurrachman

ALKISAH, hiduplah seorang anak lelaki yang pandai. Sangai pandai. Bahkan luar biasa pandai. Karena kepandaiannya ia dapat mendengar tanaman yang sedang tumbuh di kesunyian malam, dan bahkan kadal yang sedang batuk sekalipun. Ya, kepandaiannya masih banyak lagi. Semua orang mempercayainya, dan tentu saja yang paling percaya adalah dirinya sendiri. Mau tidak mau ia menjadi teladan bagi setiap orang. Ia sendiri juga menyadarinya. Syahdan, suatu ketika ia pun menjadi orang yang sangat pandai. Ia begitu sangat dihargai. Akan tetapi ia masih punya kepandaian lain yang ratusan.. bukan.. ribuan.. bukan.. ratusan ribu kali lebih terhormat. Oleh karenanya ia pun tidak pernah berpikir lamban seperti seekor keledai atau unta; yang menurutnya tidak mungkin terjadi sama sekali. Ya, tentu saja tidak mungkin! Ia berkata pada dirinya sendiri. Ia harus menyadari hal ini. Bukankah begitu? 

Anak itu tumbuh dewasa, bertambah bijaksana dan baik. Keluarganya sungguh-sungguh memikirkan masa depannya dan apakah ada banyak orang sepandai anak ini?

Sementara itu saudara-saudara dan teman-temannya berembuk dan membicarakan persoalan besar sekali lagi: harus menjadi apa anak muda yang sangat pandai ini? Pertanyaan penting yang sangat mendesak ini juga menghantui dirinya. Ia bimbang antara menjadi seorang bangsawan sastrawan atau panglima bala tentara.

Kedua pekerjaan ini sama baiknya.

Seorang bangsawan sastrawan? Hmm, kalau ini setiap orang mudah melakukannya. Keluarganya juga tidak memungkirinya. Ia telah menulis sajak-sajak indah. Bakatnya jelas telah terbukti. Sajak indahnya yang berjudul “Cinta” adalah sebuah mahakarya klasik yang terindah. Salah satu baitnya berbunyi demikian:

Cinta yang indah penuh berkah
Dari seluruh hati yang terasa
Adalah naluri nan indah,
Mengalahkan segala derita

telah mendapatkan banyak pujian. Keistimewaan sajaknya yang lain telah ditunjukkannya, yaitu sajak serupa yang muncul di dalam karya terbarunya berjudul “Dangau”. Menjadi bangsawan sastrawan sudah dipertimbangkannya.

Yang kedua, menjadi panglima bala tentara. Juga tidak lazim.

Tentu saja di bawah kekuasaan Kekaisaran Perancis-Spanyol, pemuda pandai ini tidak bisa berbuat apa-apa. Mustahil! Cukup mudah baginya untuk menaklukkan mereka. Karena ia mudah menjalin persahabatan dengan Raja Portugis yang sedang berkuasa. Maka saat ia kembali ke Spanyol bersama mereka, ia pun bertitah sebagai seorang Kaisar; tentu saja setelah ia membunuh kaisarnya lebih dahulu. Sangat mudah! Bukankah begitu? Kepandaian militernya ia tunjukkan di usia sangat muda.

Menjadi panglima bala tentara tidaklah jelek!

Tangannya tampak menimbang-nimbang. Anak pandai ini sekarang terombang-ambing di antara dua pilihan pekerjaan ke sana ke mari. Dua pekerjaan yang sama-sama mempunyai kejelekan dan kebaikan masing-masing. Bangsawan sastrawan, sayangnya, harus dapat menulis sesuatu. Panglima bala tentara juga pertama-tama harus mencari seorang raja yang bodoh, yang nantinya bakal digantikannya.

Lama ia menimbang-nimbang.

Akhirnya ia memutuskan menjadi pegawai di sebuah toko. Dan ia pun melakukannya karena sekali ia memutuskan bahwa itu akan dilaksanakannya. Beruntung sekali ia kini berada di antara kaleng-kaleng ikan haring dan peti-peti berisi topi.

Idealnya sekarang adalah menjadi pengusaha. Tapi ia sudah lebih dahulu dikenal sebagai pengemis muda yang sosialis. Karena kini usianya menginjak lima belas tahun, ia pun mengalami suatu peristiwa. Lelaki muda yang pandai itu jatuh cinta. Gejala pertamanya adalah eros bunga mawar yang lapar menghinggapi penjaga toko alias bangsawan sastrawan sehingga membuatnya menulis sebuah sajak.. oh.. oh sajak apa itu? Sajaknya bagaikan sebuah wahyu. Panjangnya dua puluh bait dengan kalimat panjang-panjang. Tiap bait terdiri dari sepuluh baris, tiap baris terdiri dari dua belas kata. Sangat kolosal. Mahakarya luar biasa! Tapi itu adalah karya yang pertama. Untuk karya yang kedua ia bersumpah akan menulis sajak berjudul “Mata Hitam Nan Indah” untuk wanita itu. Ia pun bersumpah disaksikan cahaya lilin malam yang terdiam dan juga janggutnya yang panjang, yang sayangnya salah satunya tercabut tidak sengaja. Kemudian mulailah. Terlihat bangsawan sastrawan kita yang tercinta melakukan satu kesalahan kecil. Ia menjadi malu-malu. Semakin sering ia bertemu dengan calon istrinya, semakin ia khawatir menjadi jauh dari pergaulannya yang lain.

Bulan demi bulan berlalu. Tahun demi tahun. Dekade demi dekade. Abad demi abad. Ya.. sekarang aku jadi bertindak terlalu jauh sekali. Semua ini terjadi hanya dalam tempo dua bulan. Kemudian suatu hari saat hujan turun, ia melihat wanita itu sedang bergandengan tangan dengan lelaki lain. Bagaimana ia akan pulang malam ini ia tidak peduli lagi. Ia duduk di kamarnya yang kecil seorang diri. Dijauhi Tuhan dan manusia-manusia lainnya. Lalu ia pun menangis.

Pertanda buruk jika seorang lelaki sejati menangis.. Tetapi kemudian ia menjadi kesal dengan janggutnya. Selanjutnya dicabutnya helai janggut terakhir di dagunya. Ia menjadi murung. Duduk seharian dengan pikiran kacau. Berbaring di balik peti ikan haring sambil melamun. Melamunkan sebuah persoalan. Persoalan yang tidak biasa. Pokok persoalannya adalah bagaimana mungkin seseorang yang sangat pandai berpikir lamban?

Lama ia duduk dan berpikir…

Karena waktu ia pun menjadi gila. Ia selalu bergumam: Aku tidak berpikir lamban. Kalau sampai hari ini belum mati juga, maka aku masih terus hidup…(*)

 
 

Bertolt Brecht (1898-1956) adalah penyair, penulis naskah drama dan sutradara Jerman. Cerita pendek di atas diterjemahkan dari versi aslinya, “Die Geschicte von einem, der nie zu Spat Kam” oleh Riva Julianto.

 

Advertisements