Cerpen Anita Kastubi (Suara Merdeka, 18 Agustus 2013)

De Schoone Slaapster Ontwaakt ilustrasi ....

SOCIETEIT de Harmonie, awal Mei 1908

Wajahku sungguh kurang Eropa, meski ayahku jelas asli Italia. Itu karena ibuku Marie yang bernama asli Salem, kuat menumbuhkan gen Jawa padaku. Tulang hidungku tinggi, membesar di bagian bawah. Apa pun, aku tak pernah merasa kurang untung. Wajah ini memudahkanku bergaul di kalangan ningrat Jawa maupun elite Belanda dan Eropa. Dari bayangan cermin berukir di depanku, kulihat mereka berdansa musik riang di Harmonie. 

Teman-teman dari kalangan ningrat Jawa, suka topik diskusiku karena aku mengandung darah yang sama. Tak pernah perlu aku bercerita bahwa ibuku Jawa jelata. Toch, menjadi Indo-Eropa yang ramah, lebih diterima.

Namun seperti pemuda Indo-Eropa lain di Jawa, aku berusia 18 tahun, lulusan MULO Djogdja ini, bekerja hanya sebagai klerk, di kantor layanan Pos Weltevreden. Beruntung, pengetahuan mendalam kusimpan dari kabel telegraf tentang lokasi-lokasi di Hindia Belanda yang saling terhubung dan terhubung ke seluruh dunia. Wawasanku lebih luas daripada Indo-Eropa lain. Kutukar pengetahuan luas ini dengan kesempatan bersenang-senang di Societeit de Harmonie, pada teman-teman Belanda. Teman-teman Belanda memanggilku: Itali Gila. Itu karena nona-nona Belanda menggilaiku. Dari jauh aku datang, mereka akan panggil namaku sambil meliuk-liuk persis cacing kehausan dibalut petticoat serupa kurungan ayam. Aku tahu, sekali saja tatapan mata dalam, mereka segera ada di pelukan.

‘’Hei, Berrety,’’ suara Goenawan berbisik mengagetkanku. Cermin sontak kutinggal tanpa pesan, tak elok lelaki sejati bercermin lama-lama.

‘’Saudaraku Goenawan, senang melihatmu di sini,’’ meluncur kalimatku. Bagaimana dia juga bisa hadir di klub ini? batinku. Goenawan tersenyum. Senyum ganjil yang kukenal! Beberapa detik kemudian, Aline Eulodie Marie Berends yang cantik menawan menggandeng tangan Goenawan. Ayah Aline seorang kapten angkatan darat Belanda. Bisa pasti, Aline membawa Goenawan mulus kemari.

Seharusnya, hanya ningrat kelas atas yang bisa bergabung di Societeit de Harmonie, tempat kaum elite berkumpul. Goenawan Mangoenkoesoemo, kutemukan tiga tahun lalu seperti bintang bersinar. Lelaki terpelajar dari STOVIA. Putra seorang pamongpraja Ambarawa, priayi rendah. Dia pernah menulis di koran Java Bode mengecam tingkah laku dan adat Jawa sebagai perintang modernisasi. ‘’Adat yang dibentuk oleh manusia juga bisa diubah oleh manusia,’’ katanya.

Pemikiran kematangan untuk usianya yang 15 saat itu, membuatku memperkenalkan diri padanya. Darinya, aku dikenalkan pada teman-temannya: Soetomo, Soelaiman, Gondo, Angka, Soeradji, Saleh, Soewarno, dan Goembreg, para calon dokter dari STOVIA.

Aline sesekali menyentuh dan merangkul pundak Goenawan. Apa sebenarnya yang ia lihat dari Goenawan? Penampilan Goenawan tidaklah istimewa. Sebagai priayi dia jauh dari gaya dandy orang Eropa yang sedang getol ditiru para priayi Jawa. Di luar rasa percaya diri Goenawan yang kuat, dia bahkan jauh dari rasa halus Jawa maupun keanggunan aristrokat. Namun mungkin justru Aline melihatnya lebih seksi, ditambah kulit gelapnya yang asli.

Kuangkat gelas dan meminumnya, Goenawan mengikuti. Aku menambah minumku berulang-ulang. Kupejamkan mata lebih lama saat meneguknya, untuk mengurangi pemandangan kemesraan yang disodorkan mereka, di depan mataku. Seorang nona Belanda mabuk tak kukenal, ambruk nyasar ke pelukanku. Kesempatanku untuk pergi dari mereka.

***

Tiga bulan sebelumnya….

Suatu istirahat siang, Goenawan datang menemui di Post Kantoor. Ia hanya berpesan kilat seraya berbisik, ‘’Soetomo dan Soeradji telah bertemu Dokter Wahidin. Esok kita akan berembuk di rumah DD, sebelum senja hari, pukul 4. Datanglah.”

Kawasan Weltevreden ini menyenangkan untuk berjalan kaki, meski sado, motor, mobil dan trem, lalu lalang.

Aku cepat-cepat meninggalkan Post Kantoor menyeberang ke Pasar Baroe. Ada yang perlu kubeli di sana. Kemarin sudah kucoba melihat-lihat di toko-toko di Rijswijk dan Molenvliet, tapi harga barang yang ingin kubeli terlalu mahal di sana. Kubawa beberapa surat yang ditujukan pada teman-teman STOVIA. Berjalan kaki meniti jembatan yang membentang di atas sungai, biasa asyik kunikmati. Istimewa kali ini, aku bergegas. Sesuatu telah membuat dadaku bergemuruh. Aku ingin beli kado spesial, kado rahasia!

Kumasukkan kalung sepuh emas, berliontin mawar mungil ke dalam amplop. Cici pemilik toko Pasar Baroe pun bisa rasakan, ini istimewa. Amplop sudah kurekatkan. Cukup tipis hingga layak terlihat sebagai sekedar surat.

Kucari sais sado untuk kupunggungi, menuju ke rumah DD di Kwini. Rumput Taman Wilhelmina tampak hijau segar saat kulewati. Orang-orang tertawa-tawa bahagia di taman sana. Para anggota klub pengendara motor, maupun anak kecil yang bermain lempar bola dengan ayahnya, terlihat riang gembira. Sore yang indah!

DD, panggilan akrab Ernest Douwes Dekker adalah keturunan Belanda pintar. Adik kakeknya, Eduard Douwes Dekker alias Multatuli, adalah penulis buku terkenal: Max Havelaar. Rumah DD hanya beberapa langkah dari STOVIA. Dia memiliki perpustakaan lengkap dengan ruang baca, dan terlebih lagi, sebuah radio!

Seorang nona manis Belanda totok, tinggal di sebelah rumah DD: Aline Eulodie Marie Berends. Hati lembut dan sikap tulus Aline selalu menyentuhku. Adakah yang lebih indah dari itu, aduhai surga Weltevreden?

Aline sering hadir, saat para lelaki calon dokter ini berdiskusi. Dia seolah tahu kehadirannya penting. Para pemuda bercanda pintar untuk disaksikan penonton tunggal. Saat Aline absen, diskusi berlangsung datar semata. Goenawan dan Goembreg, rajin saling umpan. Sama pintar, hanya Goembreg lebih rupawan. Namun Aline manisku, takluk pada tatapan mataku yang dalam. Diam-diam kami berbincang dalam binar mata di sela pembicaraan. Tak satu pula yang tahu. Dan itulah surge sebenar-benarnya. Menang tanpa menjatuhkan, seperti falsafah Jawa. Menang pesona di antara para calon dokter Jawa yang bertarung untuk dipandang kedua belah mata oleh Belanda. Kubagi surat-surat yang kubawa. Satu untuk DD, dari Dokter Wahidin. Dua untuk Soetomo, masing-masing juga dari Dokter Wahidin yang telah memiliki hubungan visi kuat dengan kelompok pelajar STOVIA, dan dari keluarga Soetomo.

Masih tersisa satu surat lagi: Untuk Aline. Yang terakhir ini, dariku. Aku tak bersikap luar biasa. Aline langsung paham saat menerima, dan tidak serta merta membuka suratnya seperti yang lain.

‘’Dengar, dengar… psssttt… diam semua!’’ Soetomo mendekatkan telinganya ke radio. Semua beringsut merubung. Mata-mata tegang menutup, fokus mengarah ke lubang-lubang speaker. Silvertone, kotak kayu berukuran 12 x 17 x 8,5 inci itu seolah sebuah dunia. BBC memberitakan revolusi para pemuda Turki yang dilakukan dengan membangun organisasi yang menghapuskan sistem kesultanan dan membentuk negara modern berbasis dukungan militer. Meski tidak semua kalimat terdengar jelas, tapi suara reporter begitu kuat menginspirasi.

‘’Usaha begini harus terorganisasi jika ingin berhasil di seluruh Jawa,’’ Soetomo menyimpulkan pola Revolusi Turki. ‘’Apa bisa ya? Para kaum priayi rendah tidak bisa membebaskan diri dari belenggu perbudakan yang kuat, mereka tidak bisa lain kecuali menyerah terhadap tekanan dari priayi di atasnya,’’ Soetomo termangu.

‘’Sikap masa bodoh sesama pribumi sendiri, sebenarnya jadi masalah utama. Mereka para priayi paham betul bahwa rakyat jelata perlu diangkat dari kegelapan dan kebodohan, serta perlu bekal lebih baik untuk menghadapi perjuangan hidup maupun melawan penyerbuan asing. Kaum priayi rendah justru yang menekan rakyat jelata kita sendiri,’’ Soelaiman yang pendiam, angkat bicara.

‘’Kita organisasi saja. Kita cari dukungan para Priyayi Ageng. Saya yakin kita mampu. Jika kalangan priayi yang di atas mendukung, sulit bagi lapisan priayi rendah untuk menghambat,’’ Goenawan berkobar.

‘’Kita yang lebih muda ini akan meyakinkan mereka? Apakah mereka Priyayi Ageng itu, akan mendengarkan kita?’’ Goembreg menyadarkan hambatan budaya ewuh-pakewuh bangsa Jawa.

Mereka memang masih muda. Rata-rata di antara mereka berusia 20-23 tahun. Aku menatap DD menunjuk surat yang baru kuberikan dari Dokter Wahidin, dokter tua bersemangat baja, yang tengah bepergian mencari studie fonds untuk pelajar-pelajar yang membutuhkan. DD pahami arah pikiranku.

‘’Dokter Wahidin pasti memiliki pengalaman tentang meyakinkan para priayi kalangan atas ini. Mengingat perjuangannya selama ini mendekati para priyayi untuk pencarian studie fonds,’’ DD bicara. ‘’Saudara Berretty, kami ingin dibantu untuk memastikan komunikasi dengan Dokter Wahidin berjalan lancar. Selain itu, harap bantu Goenawan dengan laporan kegiatan, sebagai bahan tulisan artikel tentang gerakan ini, di Bataviaasch Nieuwsblad.’’ DD mengejutkanku dengan permintaannya. DD adalah Wakil Pemimpin Redaksi Bataviaasch Nieuwsblad. Aku butuh menarik hatinya. DD menurutku adalah penerang jalan layaknya matahariku. Penting bagiku melaksanakan tugas dengan sempurna, agar dia melihat kemampuanku. Aku mengincar direkrut Bataviaasch Nieuwsblad oleh DD, dan tentu saja, ingin Aline bangga tentangku.

Jalan mulai terbuka. Aline menyentuh pundakku perlahan, aku menengok matanya. Kedua bola matanya bersinar bahagia.

Goenawan melirik tajam seperti sedang kecurian. Tapi lalu tersenyum ganjil. ‘’Sebenarnya saya mampu menulis artikel sendiri. Namun tak apa, jika Saudara Berretty ingin membantu. Perjuangan ini penting. Keyakinan batin dibutuhkan. Kita bangsa Jawa sejati yang percaya itu, maka itu kita yakini.’’

Senyum itu menggangguku. Matanya jelas mengarah untukku. Ia seolah membicarakan sesuatu di luar kemampuanku. Entah, yang dimaksud adalah tentang pembentukan organisasi ini, ataukah tentang Aline. Toch yang jelas, urusan batin memang selalu jadi urusan penting bagi orang Jawa.

‘’Goen, salam manis dari adindaku untukmu,’’ Soetomo membuyarkan kontak mataku dan Goenawan. Dia berkata sambil menunjukkan surat. Goenawan tersenyum lagi. Kali ini senyum yang berbeda untuk Soetomo, sejuk.

***

Akhir Mei 1908….

Hari demi hari, menjadi hari-hari yang sangat sibuk bagiku. Di luar Post Kantoor, tugasku cukup berat. Beberapa Priyayi Ageng harus dipastikan mau menerima kehadiran utusan kelompok pelajar STOVIA, sebelum berangkat ke kota tujuan. Semua tugas DD aku kerjakan sebaik-baiknya, termasuk menyiapkan bahan laporan untuk artikel Goenawan. Jadi, tak sempat pula mengunjungi Aline.

Beberapa kali justru kulihat Goenawan pergi berdua dengan Aline. Sekali saat mereka tengah menikmati makan malam di bawah sinar bulan di teras de Harmonie, seperti impianku. Kulihat lagi senyum Goenawan. Ya, yang itu! Senyum yang terasa khusus untuk menggangguku. Saat mereka berada di sisi sudut Rijswijk, aku akan memilih di sisi sudut Rijswijkstraat. Begitu pula sebaliknya. Aku menjauh dari kerumunan. Khawatir hati terbakar, kalah makin besar.

Aku bahkan melewatkan datang saat gerakan kelompok STOVIA sudah diresmikan. ‘’Boedi Oetomo’’ adalah nama gerakan yang mereka pilih. Cita-cita: rakyat mulya. Peresmian pendirian pun dilakukan sekadarnya di ruang anatomi sekolah STOVIA, pada tanggal 20 lalu. Pagi-pagi, agar tak mengundang tanda tanya dan kecurigaan Direktur dan para Guru Besar. Bahkan Dokter Wahidin konon tak hadir. Hanya mereka serta adik-adik kelas para pelajar STOVIA yang mendengar dan menyaksikan rapat, karena ruang anatomi memang bergandengan dengan ruang tidur para pelajar. Soetomo menjadi Ketua, Goenawan sebagai Wakil Ketua, dan Soeradji sebagai Bendahara.

Gerakan mereka di luar dugaan bergerak meluas cepat. Para bupati di Jawa dan Madura yang memiliki pengaruh besar pada Belanda, mendukung pergerakan ini. Goenawan menangani para wartawan dengan baik. Pihak Belanda bukan tidak menyadari hal ini. Mereka yang ethis melukiskannya dengan kalimat: De Schoone Slaapster Ontwaakt, Putri Tidur telah bangun. Bahkan kudengar, mereka merencanakan gebrakan pertama berupa kongres, di Yogyakarta.

***

1910, dua tahun kemudian….

Aku sudah diterima sebagai reporter di Bataviaasch Nieuwsblad. Waktu senggang tetap kuhabiskan di Harmonie. Lalu lintas informasi sangat strategis di sini.

Tangan lembut menyentuh bahuku saat tengah bermain biliar. Aline! Bahuku dicarinya, untuk jadi sandaran. Hatinya patah oleh Goenawan.

‘’Goenawan menyatakan, dia hanya bermaksud berteman denganku, tidak lebih,’’ jelas Aline di sela isak tangisnya. ‘’Dia menyuruhku menemuimu. Pesannya, aku akan lebih baik bersamamu.’’

Duhai Aline, mengapa pada Goenawan, kau bangun cintamu? Kelembutan hati Aline menidurkan pengetahuannya sendiri. Aline sesungguhnya tahu, Goenawan tengah berperang atas nama bangsanya, untuk kemenangan pemikirannya. Tak ada soal hubungan dua hati. Aline adalah bagian dari kemenangan Goenawan. Sama sekali bukan bagian dari cinta.

Goenawan memang tidak pernah mencintainya. Hati Goenawan tetap pada Raden Ayu Sriati, adik kandung Soetomo. Dia hanya ingin menang: menang di antara para lelaki, dan yang terpenting menang atas seorang Itali Gila idola para nona Belanda, dan anutan para pemuda Belanda di Harmonie.

Kudukung kemenangan Goenawan. Kuterima kembali, Aline Eulodie Marie Berends dengan tangan terbuka. Dua tahun setelah pertemuan itu, aku menikahinya. (62)

 

Jakarta, 20 Mei 2013

 

Catatan:

— Dominique Willem Berretty adalah pendiri Aneta (Algemeen Nieuws-en Telegraaf-Agentschap) pada 1917, kantor berita terbesar di Hindia Belanda. Pemilik Villa Isola di Bandung ini diketahui bekerja di Post kantoor sebagai klerk sebelum bekerja sebagai reporter lepas pada 1910 di Bataviaasch Nieuwsblad, dan pindah ke harian Java Bode pada 1915.

— Aline Eulodie Marie Berends adalah istri pertama Berrety. Berretty menikah sebanyak enam kali. Aline dinikahi selama dua tahun. Hubungan mereka dalam kisah Boedi Oetomo ini adalah fiksi semata.

 

Advertisements