Cerpen Mahwi Air Tawar (Kompas, 18 Agustus 2013)

Bajing ilustrasi Wahyu Amikarsa

”MATI, Bung!” gertaknya, bengis. Riap cahaya kuning kemerahan bagai letupan api dari mulut tungku. Garis merah senja melatari sosok Taroman, yang terus melangkah, begitu lekas. Sepasang matanya nanar, memandang jauh ke timur, ke pangkalan. Suara keresak dan kelepak sandal terus terdengar padu dengan guruh ombak yang terus menderu, seakan mengiringi setiap jejak dan tempias pasir putih pantai dari sela-sela sandal jepit yang ia kenakan. 

Huh! Geram. Sekelebat bayangan Tarebung, anaknya, yang membuatnya malu mengusik. ”Bung…, Tarebung?”

Di pangkalan, gubuk-gubuk tempat biasa nelayan sebelum atau sepulang dari melaut terlihat sepi. Tak seorang nelayan pun ada di sana. Asin garam, amis ikan menyeruak. Jala yang bergelantungan. Beberapa anyaman rotan —tempat menjemur ikan kering—tergeletak di atas pasir. Persis di depan gubuk yang membingkai laut, Taroman berhenti. Lama ia berdiri.

”Tarebung, Bung!” panggilnya, geram.

Terbesit dalam benak lelaki yang dikenal bajing[1] itu untuk segera pulang melewati jalan setapak diapit cemara udang juga rimbun pohon kelapa. ”Tapi,” bisiknya, ragu. ”Tak mungkin. Tak mungkin anak bajing itu pulang.” Buncahan buih berserpihan. ”Celeng!” kutuknya. Sesaat ia kembali, kembali ke arah sampan dan naik mencari anaknya, Tarebung. Bau apek gundukan jaring, paku-paku karat, ngengat yang terus menyeruak dari sela-sela geladak. Tidak. Tidak, di sampan ia tidak menemukan Tarebung yang ia cari. Hingga akhirnya ia memutuskan pulang.

Sepanjang jalan menuju pulang, Taroman tak henti-henti menebarkan pandang ke sekitar, tempat biasa Tarebung bermain. Ia tahu anaknya selalu bermain di sekitar pantai, menjadikan rimbunan cemara udang tempat bermain, bersembunyi. Tapi sia-sia.

Baik di atas geladak sampan, gubuk, tepi pantai maupun di sela-sela rimbunan cemara udang hanya terdengar kerisik daun, dahan yang diayun angin, ombak yang terus menggemuruh, sementara Tarebung, anak lelakinya yang membuatnya malu tak ada. Terbesit untuk kembali ke sampan, ke gubuk tempat para nelayan istirahat. Tapi, ”ah, parcuma!”

Taroman memang terus berlenggang pulang dengan pikiran sengkarut; antara kecewa, marah kepada Tarebung yang telah membuatnya malu di kalangan temannya, sesama bajing. Anak sekecil itu mencuri! Ya, rasanya tak mungkin. Ya, tidak mungkin anak berusia belasan tahun berani mencuri. ”Bah. Berani-beraninya, Tarebung, Tarebung. Kenapa dulu kamu tak mati dalam kandungan!”

Sebenarnya, Taroman tak akan terlalu malu apalagi marah kalau saja tak mendapat teguran langsung dari Durakkap di depan teman-temannya dalam sebuah pertemuan. Tarebung yang telah mencuri di Desa Jangkong, desa tempat tinggal Durakkap, tak lain adalah teman sesama bajing. Apalagi Tarebung membuatnya merasa kehilangan harga diri ketika hendak mengambil sesuatu dari bundelan barang baju dagangan Markoya, hingga tukang bendring, pedagang baju keliling itu terjatuh.

Sial, waktu itu Durakkap yang tahu langsung menangkap dan menyeret Tarebung. Beruntung, Markoya langsung memberi tahu kalau anak yang membuatnya terjatuh tak lain adalah anak Taroman. Mendengar nama yang sudah tak asing di kalangan bajing, Durakkap mengurungkan niat untuk menghabisi anak belasan tahun itu, hingga akhirnya lelaki yang sama-sama dikenal sebagai bajing itu menyuruh Tarebung segera pulang.

Sudah menjadi kesepakatan tak tertulis antara para bajing bahwa, setiap bajing harus saling menjaga desa tempat tinggal masing-masing, dan aib bagi suatu desa yang memiliki warga sebagai bajing namun tetap kecolongan atau, ada seorang warga mengeluh karena kehilangan barang. Untuk itulah, Durakkap segera bertindak ketika Tarebung hendak mencuri barang milik Markoya, di desanya. Bagi para bajing lebih baik mati berkalang tanah ketimbang malu lantaran tak bisa menjaga keamanan kampung dan desanya.

Demikian juga dengan keamanan di Desa Legung, Kampung Nelayan, yang keamanan desanya bergantung kepada Taroman, yang tak hanya dikenal seorang bajing, namun ia keturunan seorang guru mengaji, Kiaji Suappak.

Suara-suara gunjingan dari tengah halaman serta kelekar tawa terdengar padu seiring senandung parau adan dari speaker surau Kiaji Suappak. Di halaman, orang-orang tua duduk berbanjar. Dua-tiga perempuan duduk memanjang dengan rambut lepas tergerai hingga punggung, mereka, perempuan-perempuan itu sambil bergunjing, menisik rambut mencari kutu.

Teras-teras rumah dipenuhi tumpukan jala serta peralatan sampan, dan hamparan pasir putih pantai terbentang di setiap halaman rumah yang dilewati Taroman. Lelaki yang dikenal bajing itu kian mempercepat langkahnya. Acuh dan terus bergegas ketika seseorang menyapanya. ”Tak enak perasaan saya melihat Bindara[2],” bisik seseorang kepada lelaki yang duduk bersila di depannya. ”Paling-paling kalah main, Kak,” sambung perempuan yang saling menisik rambut, mencari kutu. ”Sepertinya memang ada masalah,” sambung yang lain. ”Bukan Taroman kalau tidak seperti itu, Kak.”

”Ada apa, Kak?” tanya seorang perempuan, penasaran.

”Namanya saja bajing,” ketusnya.

”Hus!” seorang lainnya mengingatkan, memberi isyarat dengan raut ketakutan.

Ada lengking sorak-sorai mengaum dari gang-gang rumah. Anak-anak berlarian menuju langgar dengan sarung tersampir di pundak masing-masing. Tapi sejarak pandang dari pagar langgar Kiaji Suappak, anak-anak itu serentak berhenti, raut mereka ketakutan ketika melihat Taroman, yang berdiri angkuh di ambang pintu pagar. Tatap mata orang tua Tarebung itu nanap penuh kebencian, mengamati anak-anak yang hendak mengaji itu satu-satu. Tak lama berselang ia segera menyelinap masuk ke halaman, ”Tarebung di sini, Pak?” setengah menggertak ia bertanya kepada Kiaji Suappak.

Taroman langsung naik ke atas langgar, ”keluar kamu, Bung,” gertaknya. ”Kubunuh kamu.” imbuhnya dengan suara lantang, dan tanpa pamit kepada bapaknya ia langsung pulang. Kiaji Suappak yang duduk di langgar kaget melihat anaknya yang tergesa-gesa. Guru mengaji itu berharap tak terjadi apa-apa dengan anak satu-satunya, meski lelaki berusia senja itu tak bisa menyembunyikan gurat kecemasan pada wajahnya yang keriput.

Benar saja, ketika Kiaji Suappak hendak solat magrib, mendadak dari rumah tempat tinggal Taroman terdengar gemerincing nampan, pecahan piring, erang tangis Sitti, istri Taroman, hingga sontak suasana gaduh.

Mendengar kegaduhan dari rumah tempat tinggal anaknya, Kiaji Suappak, mengurungkan niat untuk solat. Ia segera keluar dan menyuruh santri-santri agar solat sendiri-sendiri.

Kiaji Suappak bergegas ke langgar ketika mendengar nama cucunya yang menjadi penyebab Taroman marah. Tapi sejenak ia tercenung, dan bertanya-tanya: pastilah ada yang tidak beres, gumamnya.

”Anakmu. Anakmu. Anakmu membuatku malu,” gertak Tarebung dengan penuh amarah.

Di luar orang-orang berdatangan, berdiri di ambang pintu, mereka ingin tahu apa yang terjadi. Seorang lelaki yang hanya mengenakan sarung berbisik kepada orang yang berdiri di sampingnya, ”ia baru dari pantai, tampaknya memang marah,” bisiknya.

Orang-orang terus mengintip dari luar pagar. Dari dalam rumah yang menghadap ke utara dengan ruang tamu tanpa sekat itu erang kesakitan Sitti terdengar padu dengan alunan zikir dari surau-surau jauh, dari langgar. Ah. Tidak. Tidak. Langgar Kiaji Suappak, sejak magrib sudah senyap: tak ada senandung adzan, tidak juga senandung zikir sebagaimana hari-hari biasa. Ya, hanya suara kesakitan semakin mendera, semakin santer terdengar. ”Di mana anak itu?” Taroman menendang Sitti, ”disembunyikan di mana?”

”Anak siapa, Kak? Siapa yang dimaksud Kak Taroman?” tangis Sitti pecah. ”Tarebung belum pulang dari pagi,” jeritnya.

”Tarebung, bajing!” gertaknya.

”Anak siapa, Kak, Tarebung?” balas Sitti dengan suara bergetar, menahan isak.

”Anakmu. Anakmu, bajing.” Taroman semakin geram, sekali ini ia melempar asbak ke arah Sitti yang bersimpuh di bawah pintu.

Sudah menjadi rahasia umum pula, Tarebung mempunyai kebiasaan buruk, mencuri bahkan, Taroman sendiri tak pernah menegur. Demikian juga dengan orang-orang Kampung Nelayan, mereka hanya berucap. ”Biasa. Besok-besok juga akan sadar dan mungkin akan lebih baik dari anak-anak kita.”

”Lebih baik apanya?”

”Ya, paling tidak dengan adanya Taroman di sini, kampung kita jadi aman. Itu semata-mata karena berkat Taroman, yang mempunyai hubungan baik dengan para bajing, dengan para pencuri agar mereka tak mencuri di kampung kita.”

”Benar juga, Kak.”

”Lha, iyya. Itu semua berkat Taroman.”

Di langgar, Kiaji Suappak terus mencecar santri-santrinya. Sukri dan Mahbi yang diketahui sebagai teman akrabnya pun hanya menggeleng-gelengkan kepala saat ditanya. ”Jangan kalian berbohong!” gertaknya. ”tahu hukuman orang bagi orang yang suka berbohong?” seorang anak di samping Sukri menyuruhnya segera mengaku.

”Iya. Ngaku saja.”

Alih-alih Sukri menjawab, sebaliknya, ia merespons seruan teman di sampingnya itu dengan menjitak kepalanya hingga Kiaji Suappak yang berada di depannya menyabetkan rotan hingga teman Tarebung itu mengerang kesakitan. Demikian juga dengan erang tangis Sitti, semakin santer terdengar.

Sementara, dari di rumah Taroman, Sitti tak henti-hentinya terus menangis. Ia masih tidak mengerti, tidak percaya ketika mendengar pengakuan suaminya, Taroman. ”Aduh siapa yang ngajari.”

”Kamu menuduhku?” pukulan demi pukulan terus mendarat di tubuh Sitti.

Hingga larut malam, Tarebung tak kunjung datang, tak kunjung pulang. Sambil menjerang air, Sitti terus berisak senik, menahan tangis. Gurat-gurat di wajahnya terlihat kusut. Sepasang matanya membengkak, merah. Terkadang terdengar rintih perih. Memar pada sebelah pipinya lantaran pukulan suaminya tadi sore, terlihat samar dalam terpaan cahaya api dari dalam tungku. Api-api itu semakin membesar menjilat-jilat permukaan tungku, seperti lidah mencecap bibir.

Kemeriap bara berlesatan dari sela-sela lubang hingga ke sela-sela usuk, menyelinap lewat sela-sela genting.

”Kenapa Kakak tak berusaha mencari Tarebung?” tanyanya dengan suara serak.

”Cepatlah kopinya!” teriak Taroman. ”Tak usah khawatirkan Tarebung,” imbuhnya.

Sitti beranjak, mengeluarkan kayu, sebelum akhirnya diselipkan ke sela-sela pasir, hingga di dalam tungku itu tinggal bara yang sesekali meletupkan bara.

 

Jogjakarta, 2013

 

[1] Madura: Preman

[2] Madura: Panggilan untuk anak keturunan guru mengaji.

Advertisements