Zikir Walik Nyai Jagipeken


Cerpen Triyanto Triwikromo (Jawa Pos, 4 Agustus 2013)

Zikir Walik Nyai Jagipeken ilustrasi Bagus

KABAR samar itu sampai juga ke telingamu: ibumu, perempuan terkasih yang tak henti-henti kaucari itu, pernah tinggal di pasar yang menghubungkan Kamp Plantungan dan kawasan-kawasan lain dengan dunia luar.

Itulah sebabnya, di pasar itu, di antara orang-orang yang tengah mempercakapkan harga cabai, di antara sengat sengit aneka bau sayur dan kesegaran ikan yang seakan-akan baru muncul dari lautan, kau lebih menginginkan keajaiban. Kau lebih ingin melihat ibumu yang telah lama menghilang di hutan tiba-tiba muncul dan berteriak, ’’Telah kubunuh para serdadu yang memenjaraku. Aku telah bebas dan kini aku ingin mencari anak perempuan semata wayang di pasar ini!” 

Merasa tidak mungkin mendadak menemukan ibumu, kau pun tersenyum. Lalu kau lebih memilih berjalan ke arah perempuan penjual ayam potong yang kau anggap bakal bisa menjawab segala yang berkait dengan Rumah Sakit Lepratorium, Rumah Tahanan Anak, dan bekas kamp yang pernah meringkus kebebasan ibumu.

Kau bertanya kepada dia apakah tahu segala yang terjadi di kawasan itu. Dia mengangguk, ’’Tetapi jangan berharap aku mau menceritakannya. Kami ingin melupakan apa pun yang kami alami saat itu.”

Kau terkejut mendengar perempuan yang berbicara sambil memotong leher-leher ayam dengan parang yang sangat tajam itu. Kau pun tidak memaksa dia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanmu. Akan tetapi, karena merasa memelas melihat wajahmu yang memancarkan kekecewaan, dia berkata dengan lirih, nyaris bergumam, ’’Hanya orang gila yang bisa menceritakan apa pun yang terjadi di sana tanpa ketakutan sedikit pun.’’

Kau merasa mendapatkan keterangan yang janggal. Jika perempuan tua itu benar-benar penduduk asli, seharusnya dia tidak perlu takut menceritakan segala peristiwa yang indah maupun mengenaskan di tempat itu. Dia toh bukan salah satu dari sekian banyak perempuan yang ditahan di kamp.

’’Dulu kami sangat senang menceritakan segala hal yang dialami oleh para penderita lepra, anak-anak nakal yang ditahan, atau perempuan-perempuan cantik yang suka main badminton di kamp…”

’’Lalu?”

’’Lalu karena siapa pun yang bercerita kemudian pada malam hari hilang atau lehernya digorok dengan gergaji, sejak itu kami tidak mau menceritakan, terutama segala kejadian di kamp, kepada siapa pun.”

’’Sampean tahu siapa yang menculik?”

Perempuan itu menggeleng, ’’Tetapi ada yang bilang mereka serdadu-serdadu rahasia Jenderal Soeharto. Ada juga yang mengira mereka adalah hantu-hantu perempuan yang mati saat disiksa oleh militer sejak 1971. Malah ada yang menyangka mereka malaikat- malaikat pencabut nyawa…”

Meskipun ucapan perempuan itu tidak masuk akal, kau tetap mendengarkan apa pun yang dikicaukan. Lalu tanpa diminta, perempuan itu kemudian mendongengkan kisah-kisah yang tak kau inginkan, sambil terus memotong-motong leher, paha, dan dada ayam. Kadang-kadang sisa-sisa darah muncrat di wajahnya yang telah mengeriput. Kadang- kadang darah itu tepercik ke wajahmu.

’’Apakah kau pernah mendengar kisah seekor ular raksasa yang mencaplok sembilan anak kecil yang bermain di hutan?’’

Kau menggeleng. Kau menebak arah dongeng itu. Dalam tafsirmu yang kau ragukan sendiri, para serdadu Soeharto itu seperti ular. Mereka bisa membunuh siapa pun yang menceritakan kekejaman kamp kepada orang luar.

Karena tetap kau biarkan menjadi pendongeng, dia meneruskan menceritakan kejadian- kejadian tak masuk akal.

’’Pada sebuah siang yang terik seorang dari kami bercerita kepada pelancong tentang perempuan- perempuan di kamp yang menyulam dan menjahit dengan tanpa celana dalam, eh sore hari pria itu terkapar di ladang dengan leher seperti dijerat kawat… Ada juga yang bercerita tentang percintaan seorang perempuan yang sangat manis dengan seorang banci, la kok pada malam hari dia mati mendadak. Ada luka seperti hunjaman peluru di lambungnya…”

’’Adakah cerita tentang seorang perempuan yang diperkosa oleh seorang serdadu dan kemudian dia melahirkan anak perempuan?” katamu lirih, memancing agar dia membeberkan kisah yang ingin kau dengarkan dengan detail setiap kata, setiap kalimatnya itu.

’’Sudah. Sudah. Aku tak mau mati… Bertanyalah kepada Zikir….”

’’Zikir?’’ tanyamu sambil meragukan telingamu karena seperti terdengar kata Zikir, Khidir, dan Jibril –nama-nama yang menurutmu lebih cocok untuk para lelaki.

’’Ya, Zikir. Kami sering meledek dia dengan panggilan Nyai Jagipeken karena dia senantiasa tak mau meninggalkan pasar ini,” dia menunjuk seorang perempuan berselendang ungu yang tengah mengais-ngais sampah.

’’Orang gila itu?” katamu, setengah tak percaya sambil menatap perempuan yang tak lagi muda tetapi masih tampak cantik itu memilah-milah jeruk-jeruk sedikit segar dari buah-buah busuk yang telah berulat di tong sampah.

’’Dia sebenarnya tidak gila. Dia itu ngedan. Dia ngedan agar tidak ditangkap serdadu saat menceritakan kisah-kisah perempuan di kamp…”

’’Siapa dia sesungguhnya?’’

’’Sudah kukatakan dia Nyai Jagipeken. Nanti kau akan tahu sendiri siapa dia sesungguhnya. Dia selalu menganggap dirinya sebagai malaikat. Dia selalu membentangkan selendang ungu dan mengatakan kepada kami selendang itu sebagai sayap yang membentang sepanjang masa. Ah, itu tidak penting bagimu. Yang penting, kau harus ngedan agar bisa bercakap-cakap dengan dia. Wong edan pasti mau ngomong dengan wong edan,” kata perempuan itu serius.

Tidak. Tidak. Kau tidak mau menuruti keinginan penjual ayam potong itu. Apalagi harus berpura-pura menjadi orang gila. Apalagi harus mengais-ngais buah-buah busuk. Kau memang mengenal beberapa orang gila yang kau kunjungi di rumah sakit jiwa saat observasi bahan novel yang kau tulis setahun lalu, tetapi tidak terlalu detail. Pengetahuanmu mengenai aneka orang gila, sama sekali tak menggerakkanmu untuk ngedan. Kau merasa tidak punya bekal sedikit pun untuk menjadi perempuan gila. Kau juga merasa berpura-pura bukan jalan terbaik untuk mencari dan menemukan ibumu.

’’Buat apa kau bersusah payah ke sini, kalau tidak mau bercakap-cakap dengan Zikir?” perempuan tua itu tiba-tiba mencerocos lagi.

Kau tidak peduli pada nasihat perempuan penjual ayam potong itu. Karena itu, kau kemudian memilih meninggalkan pasar. Kau berpikir keras menemukan ibumu dengan cara lain. Kau lalu memandang kabut tebal yang menyelimuti pasar itu. Kau takjub melihat orang-orang yang keluar dari pintu pasar. Mereka seperti orang-orang yang keluar dari dunia lain. Wajah mereka segar. Pasar itu seperti menjadi sendang yang membasuh wajah siapa pun.

’’Ini bukan pasar biasa,” kau bergumam sambil menggugat pandangan mata.

Kau tidak mau hanyut pada temuanmu sendiri.

Kau benar-benar bergegas meninggalkan pasar itu, mencari terminal. Kau berharap ada bus yang akan membawamu kembali ke Jakarta. Akan tetapi tak seorang pun menunjukkan di mana terminal itu berada. Kau berpapasan dengan orang-orang yang hendak ke pasar, tetapi mereka membisu. Menatap mereka lama- lama, kau seperti berhadapan dengan zombi. Karena itu, kau kian yakin untuk tak berurusan lagi dengan mereka. Kau tak mau bercakap-cakap dengan mayat-mayat hidup.

Akan tetapi, sebagaimana hari-hari sebelumnya, hujan begitu gampang turun di kawasan sejuk ini. Hujan ini mengingatkanmu pada kisah-kisah malaikat yang tersesat yang tidak bisa terbang lagi karena sayap-sayapnya menguncup. Kau pun merasa seperti malaikat itu. Kau tidak mungkin menerabas hujan pada saat tubuhmu yang ringkih sudah menggigil.

***

Hujan yang kau sangka akan menghajar pasar seharian ternyata hanya bertahan dua jam. Matahari mulai tampak lagi tetapi tetap saja kabut tebal tak beranjak menyelimuti hampir semua kawasan pegunungan itu. Angin dingin menusuk sangat kencang tetapi kau yakin tidak akan muncul badai yang menerbangkan pohon-pohon lapuk, buah-buahan busuk, genting-genting rumah, kerikil-kerikil tajam, dan mencerabut mayat-mayat yang baru saja dikubur di permakaman.

Pohon-pohon yang mengepung pasar itu basah kuyup. Benalu-benalu dan jamur- jamur tumbuh lebih segar. Aroma tanah menyengatmu. Aroma yang menggerakkanmu meninggalkan emper pasar, mendorongmu mengitari ceruk kampung, merasakan kesunyian yang seakan-akan bangkit dari zaman purba.

’’Sepertinya akan muncul hal-hal menakjubkan di kampung ini…,” kau mendesis.

Kau terus berjalan dan sedikit pun tidak membayangkan badai akan membongkar semua makam, menerbangkan tulang-tulang, kain-kain kafan, dan nisan-nisan kayu lancip bercat hijau. Andaikata terjadi, kau berharap angin ganas seperti itu jangan pernah menghunjam ke tempat lain dan menerbangkan mayat-mayat orang yang kau kasihi.. Kau tidak ingin gaun indah yang dikenakan pada saat kematian tanggal dari tubuh, sehingga daging mereka tercerai- berai ke segala penjuru.

’’Angin seperti ini…. angin yang akan membuat siapa pun tidur dalam kematian yang diselimuti mawar-mawar harum…,” kau mendesis lagi sambil mengenang beberapa lagu yang dinyanyikan dalam nada parau oleh para pelayat.

Tetapi keindahan selalu tidak pernah kau sentuh lama-lama. Kau tidak bisa menikmati aroma tanah sehabis hujan seharian. Begitu sampai di ujung dusun dan sedikit menginjak hutan berpohon beringin besar, kau tersandung semacam akar yang membuatmu mengitari tempat itu berkali-kali hingga kau kelelahan, hingga kau memutuskan terpekur saja di hutan. Pada saat itulah –di antara mimpi dan terjaga— suara Zikir memanggilmu. ’’Kembalilah ke pasar… Aku akan menceritakan apa pun yang kau sangka hanya terjadi dalam mimpi kepadamu…”

Kau berusaha menolak suara itu. Kau berusaha berjalan lagi, tetapi kau tersandung semacam akar lagi, kau berputar-putar di bibir hutan itu lagi, hingga akhirnya kau menyerahkan segala keinginan kepada kakimu. Justru pada saat melupakan keinginan-keinginan otak, kau menemukan kembali jalan ke pasar. Kau juga sudah punya keyakinan baru.

’’Apa salahnya kutemui Zikir? Apa salahnya memasuki alam kegilaan kalau hal itu bisa menjadi jalan untuk menemukan ibu?’’

***

Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke pasar. Tidak butuh waktu lama untuk menemukan Zikir. Mengikuti nasihat penjual ayam potong, kau memulai perjumpaan dengan Zikir dengan ikut-ikutan mengorek-ngorek buah-buah busuk di tong sampah. Berbekal pengetahuan yang kau peroleh saat berkawan dengan beberapa orang gila di rumah sakit jiwa, kau bercerita secara ngawur tentang manusia-manusia harimau yang senantiasa mencakar-cakar wajahmu, tentang suara genderang perang yang menguasai kepala setiap pukul 19.00, dan tentang keinginan bercinta dengan anjing yang menghentak-hentak setiap pukul 21.00.

’’Aku juga suka menerabas hujan dan membongkar makam-makam baru hanya dengan tangan. Kau lihat bajuku basah dan tanganku kotor tak keruan,” kau mulai memancing.

Zikir belum menjawab tetapi kau melihat matanya mulai berbinar. Sinar mata itu meyakinkan dirimu untuk segera mengajak bercakap-cakap sambil terus mengorek-ngorek sampah yang dipenuhi tomat, udang, dan kepiting busuk.

’’Banyak polisi mengejarku. Mereka bilang aku tak boleh bercumbu dengan Ehuang, pacarku. Kau tahu siapa Ehuang? Ehuang itu peri paling bercahaya…,” katamu sekadar menarik perhatian.

Zikir tertawa. Dia kemudian bangkit dan meraih tanganmu. Dia menggandengmu menghindar dari tong sampah sambil membentangkan selendang ungu.

’’Apakah kau juga dikejar-kejar polisi?” Sebuah kalimat konyol muncul begitu saja.

Zikir makin keras tertawa dan kian bernafsu menyeretmu ke arah penjual telur bebek.

Tak disangka-sangka dia kemudian mengambil telur itu di keranjang dan dengan isyarat dan ceracau tak jelas, memintamu menirukan tindakan tolol itu. Tak ingin melukai perasaannya, kau pun menuruti mengambil telur itu. Tak sekadar mengambil, dia memintamu memecah telur itu dengan membenturkannya dengan gigi dan menyeruput kuning telur dan menjilati segala lendir yang tertinggal di kulit.

Tentu saja pedagang telur marah dan mengusir kalian. Zikir tertawa. Dia sudah terbiasa mendapatkan perlakuan semacam itu. Kau yang tidak pernah dibentak siapa pun merasakan semburan pedagang itu sebagai suara geledek yang memekakkan telinga. Apalagi karena saat berlari para pedagang lain menyoraki, kau seperti berada di sebuah dunia lain penuh teriakan kacau.

Kalian pun keluar dari pasar dan berlari menuju ke hutan. Kau lihat selendang ungu Zikir berkibar bagai sayap malaikat yang mengembang. Lalu ketika sampai di hutan, masih terengah-engah kau memancing Zikir dengan serangkaian pertanyaan bodoh.

’’Mengapa mereka memanggilmu Zikir? Karena kau selalu ndremimil, menyebut-nyebut nama Allah? Kau tinggal di mana? Berapa anjingmu? Kau suka mandi di sungai? Kau pernah bercinta dengan batu? Siapa serdadu yang memerkosamu? Kau mau bercumbu denganku?”

Zikir tak merespons pertanyaanmu. Dia masih terus tertawa. Kau jadi jengah menghadapi tawa yang menggelegar itu. Kau merasa diledek. Kau merasa kepura-puraanmu sebagai orang gila sudah diketahui.

’’Tidakkah lebih baik kuperlakukan wong edan ini sebagai orang waras?” kau mendesis.

Belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang menggantung itu, Zikir malah dengan susunan kalimat yang jungkir balik dan alur yang tumpang tindih mencerocos. Setelah susah payah kau tata ulang segala yang diungkapkan, kau jadi tahu apa pun yang ingin dan tak ingin kau dengar. Dia menceritakan hal-hal yang sebelumnya secara samar telah kau ketahui, tetapi lebih banyak membocorkan rahasia-rahasia yang menggelisahkan dirimu.

Zikir mengatakan dalam udara Oktober 1965 yang menggigilkan setelah keluar dari gereja yang dipenuhi dentang lonceng, setelah dihantam gemuruh hujan, sebuah truk berhenti tepat di pintu pagar gereja. Lima orang berseragam hitam membekuk dan menendang perut buntingnya. Para penciduk itu membentangkan tangannya seakan-akan hendak mematahkan sayap malaikat yang tersesat. Kau membayangkan ibumu pasti diperlakukan seperti itu juga.

’’Ihik! Ihik! Mengapa kau percaya pada kisah bohong itu? Mengapa tak kau pertanyakan siapa yang menghamili aku? Mengapa kau tak mempermasalahkan kisah percintaanku dengan Kangmas Mayor?” Zikir terus mencerocos, tentu dalam susunan kalimat yang meloncat-loncat dan sulit dimaknai.

Kau menggeleng. Akan tetapi pada saat yang sama, kau mendapatkan rahasia baru. Ada tokoh Kangmas Mayor di dalam kisah itu.

’’Siapa Kangmas Mayor?” kau bertanya.

’’Lupa!” jawab dia.

Di luar dugaan, dia justru menceritakan kisah lain. Dia bilang seluruh Gerwani di negeri ini kemudian digiring ke kamp, tidak peduli mereka waras atau gila.

Pada saat menyinggung cerita tentang kamp itulah nama Kangmas Mayor muncul lagi. ’’Kangmas Mayor mencintai kami berlima. Kangmas Mayor sering mengajak kami bercumbu bersama-sama… Kangmas Mayor itu lucu. Setiap mengajak kami bercumbu dia mengenakan daster. Dia juga menggincu bibirnya yang tebal. Ah, sama sekali dia bukan pria yang sangar.…,” Zikir keceplosan.

Kau biarkan kalimat-kalimat yang kali ini tersusun rapi itu dan dilagukan serupa zikir serampangan meluncur tanpa hambatan. Kau tidak bertanya siapa saja perempuan yang bercinta dengan Kangmas Mayor agar cerita tidak terhambat, agar Zikir tidak merasa sedang diinterograsi.

“Kangmas Mayor sering mengajak kami piknik ke Semarang. Kangmas sering membelikan kami buah-buah segar, membeli daster baru dan lipstik mahal. Di Semarang, Kangmas Mayor bertingkah bak Arjuna. Dia menggandengku dengan erat, tetapi pada saat lain menggamit pinggang Rukmini…”

’’Rukmini? Siapa Rukmini?” kau bertanya dengan bibir yang gemetar karena nama ibumu mulai disebut.

’’Lupa….’’

’’Apakah dia perempuan yang melahirkan bayi yang kemudian diadopsi oleh Kangmas Mayor?’’

’’Lupa…’’

’’Di sebuah buku kubaca di kamp mengerikan itu Rukmini hamil. Karena istri sang komandan kasihan pada perempuan tapol cantik ini, begitu lahir bayi itu pun diadopsi. Nama bayi Gerwani itu Sekar Arum, bunga yang wangi. Apakah Rukmini sekarang masih tinggal di bekas kamp itu?”

’’Ihik! Ihik! Pada mulanya Kangmas Mayor tinggal di kamp itu. Kangmas Mayor minggat. Rukmini diserahkan kepada Komandan Misuwur. Komandan Misuwur tidur dengan ular semalam suntuk.”

’’Apakah bayi itu kemudian dibawa istri Kangmas Mayor ke Jakarta?’’

’’Ihik! Ihik! Pada mulanya Kangmas Mayor tinggal di kamp itu. Komandan Misuwur tidur dengan ular semalam suntuk. Kangmas Mayor minggat. Rukmini diserahkan kepada Komandan Misuwur,” Zikir mulai membolak-balik atau menyungsangkan kalimat.

’’Komandan Misuwur mengetahui segala yang terjadi pada Rukmini bukan?’’

’’Ihik! Ihik! Pada mulanya Kangmas Mayor tinggal di kamp itu. Kangmas Mayor minggat. Komandan Misuwur tidur dengan ular semalam suntuk. Rukmini diserahkan kepada Komandan Misuwur.”

Agak jengkel kau mendapatkan jawaban Zikir yang penuh teka-teki itu. Akan tetapi meskipun kau tetap menganggap seluruh cerita Zikir sebagai misteri –sebagaimana kau juga yakin kegilaan Zikir terbalut berbagai rahasia, kau kini merasa mendapatkan bekal lebih baik untuk mencari ibumu. Kau menemukan nama Rukmini. Kau menemukan nama Kangmas Mayor. Kau menemukan nama Komandan Misuwur. Kau juga berurusan dengan ular yang bercumbu semalam suntuk. Kau tidak mengenal nama Kangmas Mayor dan Komandan Misuwur, akan tetapi kau yakin Zikir telah memberikan kunci untuk semua rahasia yang akan kau kuak. Juga rahasia tentang ular.

’’Aku akan segera menemukan ibuku di Kamp Plantungan. Siapa pun tak bisa menghalangiku untuk menemui ibuku. Tak juga Kau,” kau mendongak ke langit dan mengira Tuhan mulai berkenan membuka rahasia tentang pemerkosaan seorang perempuan Gerwani oleh seorang serdadu busuk kepadamu.

’’Ayolah, jika Kau benar-benar ada, ceritakan kisah ibuku kepadaku. Jangan diam saja.” Kau merasa Tuhan akan tersinggung dan sesegera mungkin menjawab pertanyaanmu. Kau ***

 

Semarang, 2013

Triyanto Triwikromo, peraih Penghargaan Sastra 2009 Pusat Bahasa untuk Kumpulan Cerpen Ular di Mangkuk Nabi. Buku terbarunya Celeng Satu Celeng Semua (2013).

One Response

  1. owesome.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: