Cerpen Aba Mardjani (Kompas, 4 Agustus 2013)

Embah Simbad Si Pawang Hujan ilustrasi Samuel Indratma

DENGAN jari-jari tangan mengempit sebatang lisong, Simbad coba menahan hujan yang seolah tak lagi bisa dibendung. Kedua tangannya terangkat ke udara, melambai-lambai seolah memberi isyarat mengusir angin pembawa hujan. Bau kemenyan dan kelembak merebak. 

Dari kejauhan terdengar petir bersahutan. Angin berkesiur keras. Keleyang-keleyang dan plastik-plastik beterbangan. Langit tampak pekat. Gelap menyungkup. Beberapa saat kemudian, petir juga berdentuman di sekitar Simbad yang berjalan tak tentu arah dengan lisong yang terus-menerus menyala. Asap putihnya begitu saja menghilang bersama angin. Mulutnya tak henti berkomat-kamit. ”Menjauh… menjauh… menjauh….” Ia berdesis-desis tiada henti. Lalu membaca mantra-mantra, berulang-ulang.

”Kali ini Simbad agaknya takkan lagi bisa tahan. Ambrol semuanya,” gumam Martoyo, bos sebuah kontraktor yang memanfaatkan jasa Simbad untuk menahan hujan selama mungkin di areal proyeknya. Ia duduk terpaku di kursinya, pada sebuah ruang berpendingin udara. Meskipun demikian, dalam hatinya, ia masih tetap berharap Simbad mampu mengatasi persoalan rumit yang tengah dihadapinya seperti hari-hari sebelumnya dalam dua bulan terakhir.

Martoyo tak ingin proyek pembuatan dinding sungai penahan banjir bersamaan dengan pengecoran jalan tol yang tengah digarapnya terhambat oleh curah hujan. Makin sering hujan turun, proyeknya akan makin lama kelar. Makin besar juga biaya yang harus dia keluarkan. Itu sebabnya sejak awal ia menggunakan tenaga Simbad sebagai pawang hujan langganannya. Biaya tak jadi masalah buat Martoyo karena takkan sebesar jika hujan kerap turun. Dan sejauh ini, Simbad tak pernah gagal. Berapa pun waktu yang dia minta, Simbad selalu dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaannya dengan sangat baik. Simbad cuma minta sesekali melepas hujan supaya warga di sekitar proyek tidak melakukan demonstrasi. Untuk itu, Martoyo juga tidak pernah keberatan.

Seperti hari Minggu lalu, Simbad bilang ingin membiarkan hujan turun sejenak saja. Warga di sekitar proyek, katanya, sudah mulai resah karena hujan tak kunjung datang, padahal di kawasan-kawasan lain sudah turun hujan. Makin banyak sumur pompa warga yang kehabisan air. ”Setengah jam saja, Pak Yo. Lagi pula, saya perlu sedikit mengaso,” kata Simbad kepada Martoyo. Dan benar saja, pada hari itu, hujan tak begitu deras turun sekitar setengah jam. Semua warga menyambut dengan sukacita. Rumput-rumput yang mulai meranggas pun mendapatkan air. Mereka tahu, Simbad sengaja membiarkan hujan turun.

Warga di sekitar proyek memanggil Mbah Simbad untuk pria berusia sekitar 65 tahun yang masih tampak kekar itu. Kulitnya hitam karena kerap kena sinar matahari. Hidungnya mancung. Matanya cekung dengan alis mata tebal. Rambutnya dibiarkan panjang sebahu dan berkeriwil-keriwil seperti tidak pernah disisir. Dengan penampilan seperti itu, mereka percaya Simbad memang sangat sakti. Ilmunya sangat tinggi. Mereka percaya hujan dan angin tunduk pada Mbah Simbad. Bila Simbad bilang hujan akan turun, maka hujan pun turun. Bila Simbad bilang nanti dulu, ya hujan takkan turun betapa pun mendung, angin, dan petir seolah mengabarkan hujan akan turun dengan derasnya di daerah mereka. Karena itu, meskipun mereka kerap menggerutu karena hujan tak kunjung turun, mereka sama sekali tak memiliki keberanian untuk mengusik Mbah Simbad, kecuali sesekali memohon agar Mbah Simbad melepas mantra-mantranya agar hujan turun di daerah sekitar proyek.

Setiap hari warga melihat Mbah Simbad berjalan perlahan dengan lisong terus mengepul di tangannya. Kadang mendongak. Kadang merunduk. Kadang menceracau tak jelas. Kadang duduk di gubuknya dengan tubuh bergetar-getar seperti orang kesurupan. Di sekitar gubuk itu selalu tersedia beberapa untai lidi dengan cabai merah dan bawang merah yang ditusuk serupa sate. Setiap dua hari sekali ada orang yang bertugas mengganti cabai dan bawang merah itu. Di salah satu sudut gubuk itu juga selalu tersedia sesajian berupa buah dan bunga tujuh jenis. Buah-buah itu diganti dengan yang baru setiap tiga hari.

Tak ada warga yang mau benar-benar berada di dekat Mbah Simbad, kecuali Maksun. Bukan karena takut mengganggu, tapi karena tubuh Mbak Simbad sendiri memang menguarkan bebauan yang sangat tak sedap. Selama bertugas, ia mengaku tak pernah mandi, tak pernah menyikat gigi, tak juga mengganti pakaian serba hitamnya. Bau lisongnya juga tak disukai orang.

Maksun mengakui sangat mengagumi kemampuan Mbah Simbad. ”Ilmunya benar-benar selangit, tiada tandingan,” kata Maksun jika sedang membangga-banggakan Simbad kepada orang-orang kampung. ”Jangankan hujan, petir pun bisa dia alihkan atau dia lawan. Setiap hari dia cuma minum segelas air kelapa hijau dan sekepal nasi merah. Tanpa garam. Dimakan begitu saja. Dan itu sudah berbulan-bulan.” Maksun selalu menceritakan Mbah Simbad dengan binar-binar kekaguman pada matanya. Di mata Maksun, tak ada orang lain sesakti Mbah Simbad.

Orang-orang biasanya diam saja mendengar celoteh Maksun. Mereka tahu Maksun sudah sangat terobsesi dengan Simbad.

”Aku ingin belajar jadi pawang hujan kepada Mbah Simbad. Lumayan lho bayarannya. Di kampungnya, Mbah Simbad itu kabarnya sudah kaya raya berkat perpawangannya. Punya kebun hektaran luasnya. Punya sapi berpuluh ekor. Punya rumah batu, sementara orang-orang di sekitarnya masih berumah kayu dan papan serta pagar dari bambu. Istrinya tiga. Muda-muda. Cantik-cantik pula. Luar biasa. Benar-benar mengagumkan,” kata Maksun pula.

”Apakah dia mau menurunkan ilmunya kepadamu?” tanya seorang warga.

”Dia? Jangan sebut si Mbah dengan dia saja. Mbah Simbad….” Maksun protes.

”Ya, Mbah Simbad….”

”Mau. Pasti mau.”

”Mbah Simbad sudah bilang begitu kepadamu?”

”Memang belum. Tapi Mbah Simbad, kan, sudah makin umur. Semakin uzur. Pasti Mbah Simbad mau membagi ilmunya kepadaku.”

”Kau sanggup mengikuti segala pantangannya? Termasuk tak tidur dengan istri ketika bertugas?”

”Harus sanggup. Segala sesuatu pasti ada risikonya, ada bayarannya. Tidak ada yang cuma-cuma.”

Sore itu, ketika Simbad sedang sibuk mengusir angin dan hujan yang seolah siap turun, seseorang mendatangi Maksun di warung makan tempat para pekerja proyek makan.

”Bagaimana ini, Maksun? Hujan nampaknya bakal turun. Kesaktian Mbah Simbad mungkin sudah mulai luntur.”

”Tenang saja,” jawab Maksun. ”Lihat saja, hujan pasti takkan jadi turun.”

Tapi, hujan sore itu benar-benar takkan lagi bisa dicegah. Angin kencang terus-menerus bertiup, menerbangkan segala benda-benda ringan. Petir makin sering menyalak bersahut-sahutan, sementara kilat tak henti memamerkan kehebatannya membelah angkasa.

Di sebuah sisi tanah lapang, Simbad pun nampak seperti kocar-kacir. Berjalan hilir-mudik dengan tergopoh. Ia tak lagi merunduk, tapi terus-menerus menengadah dengan tangan bergerak-gerak seolah mendorong angin pembawa air hujan agar pergi ke tempat lain. Lisong menyala di kedua tangannya. Asapnya ikut terbawa angin.

Dada Maksun kini juga bergetar-getar. Ia seolah ikut berdoa agar hujan tak jadi turun betapa pun beratnya mendung. Ia ingin apa yang dikatakannya kepada orang-orang tetap terbukti. Jika hujan sampai tercurah dari langit, sama artinya dengan pudarnya kesaktian Simbad.

Di tempat lain, Martoyo juga sama khawatirnya dengan Maksun. Ia mulai menghitung-hitung kerugian yang mungkin timbul akibat proses pengerjaan proyeknya molor karena hujan. Molor 3-4 hari, artinya dia harus menambah biaya upah bagi ratusan pekerja. Karena itu, dalam hati ia juga ikut berdoa semoga Simbad berhasil menahan hujan, atau kembali mengalihkannya ke tempat lain.

Namun, sore itu, hujan agaknya memang benar-benar tak lagi bisa ditahan atau dialihkan ke tempat lain. Setelah sebuah petir terdengar menggelegar begitu dahsyat dan menyambar sesuatu di sekitar Simbad berada, langit pun menyusul dengan menuangkan air dalam jutaan meter kubik per detik. Angin pun tetap berembus kencang membuat pohon-pohon nampak seperti mau roboh.

Martoyo lunglai.

Juga Maksun.

”Gila! Tak sanggup lagi aku menahan!” Simbad tahu-tahu sudah berada di sisi Maksun dengan tubuh basah kuyup dan menggigil. ”Sudah kucoba giring ke selatan, tapi di sana sedang ada penguburan seorang jenderal, pawangnya juga hebat. Di utara, seorang guru terkenal tengah menggelar pesta perkawinan anaknya. Dia juga menggunakan jasa pawang hebat. Kebetulan dia sahabatku. Kami sepadepokan. Di barat sedang ada acara olahraga yang juga memakai jasa pawang. Lalu di timur, ada pawang yang menolak kirimanku karena dia juga sedang mengamankan proyek jalan tol. Jadi, ya, begini jadinya. Aku tidak bisa mengelak lagi. Jadi, terpaksa kulepas karena kalau tidak, aku bisa mati.”

”Jadi Mbah Simbad menyerah?” Maksun merasa tak puas.

Simbad tersenyum. ”Bukan menyerah, Maksun. Tapi biarlah hujan turun dulu supaya warga di sini juga senang. Kau kan tahu, setelah terakhir hujan kulepas? Itu sekitar dua minggu lalu. Hampir dua puluh hari malah. Jadi, biarlah tanah mendapatkan haknya mendapatkan siraman hujan.”

Setelah berkata begitu, Mbah Simbad melangkah pergi menerabas derasnya hujan, meninggalkan Maksun dan beberapa orang lain yang masih merasa tak puas dengan penjelasannya. Beberapa saat kemudian, tubuhnya hilang ditelan derasnya hujan dan angin.

Menjelang magrib, hujan berhenti menyisakan gerimis. Menerabas sisa-sisa genangan air di jalan, Maksun mencari Mbah Simbad yang dikaguminya. Dari kejauhan ia melihat tubuh pawang pengusir hujan itu di gubuknya. Seperti tengah bersujud. Tanpa gerak. Maksun mengendus bebauan daging terbakar.

 

 

 

Advertisements