Kue Ramadan, Kue Lebaran, Kue-Kue dalam Kaleng


Cerpen Raudal Tanjung Banua (Media Indonesia, 4 Agustus 2013)

Kue Ramadan, Kue Lebaran, Kue-Kue dalam Kaleng ilustrasi Pata Areadi

RAMADAN dan Lebaran kali ini membuat Kudal larut mengenang. Ya, mengenang hari baik bulan baik dari aroma manisan dan rempah. Hijau daun pisang. Singkong diparut. Bambu yang ditebang. Ibu dan adik sibuk di dapur. Semua melintas dalam ingatan, mengendap di indra penciuman. Tapi tidak di lidahnya. Tentu saja karena sudah lama ia tak pulang. Jika sekarang ia pulang, tak lain kue-kue masa kecil itulah yang membawanya datang lebih awal. Selain menghindari padatnya arus mudik, tiket yang sulit, dan calo gentayangan, alhamdulillah, juga lantaran pekerjaannya selesai lebih cepat. 

Ini kepulangan hitungan jari sejak ia menikah di rantau orang. Dari empat belas tahun perkawinannya, dengan dikaruniai dua anak, baru empat atau lima kali ia pulang. Tak pernah saat Ramadan, Lebaran, atau hari raya Qurban. Pulang disengaja hanya dua kali: setelah menikah dan saat membawa anak pertama.

Sisanya kebetulan: jika ia ada acara di kota terdekat, Batam atau Pekanbaru, barulah ia pulang sehari-dua. Ia mesti berbohong mengatakan sengaja pulang, tapi singgah dulu di Pekanbaru untuk suatu urusan, bukan sebaliknya. Sebab, jika sampai ayahnya tahu ia pulang sambil-lalu, si ayah akan tersinggung. Itu yang diingatkan ibu ketika ia dengan tanpa bersalah bilang tak bisa lama karena hanya singgah sehabis acara.

“Jangan bilang di depan ayahmu, cukup ibu yang tahu!”

Ah, ibu, selalu siap jadi tumbal!

Lebaran kali ini akan berbeda. Sejak awal Ramadan, ia merancang mudik ke Sumatra. Ini waktu yang tepat. Anak keduanya, enam bulan, sudah kuat untuk perjalanan Yogya- Padang, dan tiket pesawat belum perlu bayar. Untuk lebih meyakinkan istri dan anak sulungnya, Kudal membongkar cerita-cerita Ramadan dan Lebaran di kampungnya dengan lebih khidmat.

Hampir dua windu berumah tangga, ternyata tak sekali pun ia bercerita tentang itu! Selama ini ia hanya sempat bercerita selintas, dan istrinya bertanya sepintas, lalu keduanya merasa Ramadan dan Lebaran di mana-mana sama saja. Tapi kali ini terasa beda. Ia menceritakan tentang kue-kue Ramadan, kue-kue Lebaran yang bukan sekadar makanan, tapi pencipta suasana, silaturahmi juga kenangan.

***

Ramadan di kampungku tak hanya surau masjid dicat baru, bendera, umbul-umbul dan marawah dipancangkan, tapi juga kue-kue segala ada, kue-kue yang hanya keluar saat Ramadan tiba. Anak-anak penjual pabukoan (kue untuk berbuka) akan keluar dari kampung mereka di kaki bukit, mengalir ke kampung kami di jalan lintas barat Sumatra.

Mereka ‘menjonjong’ talam atau baskom di kepala, ditutup tudung lonjong dari bambu atau pandan. Tanpa perlu memegangnya, mereka lincah melewati jalanan batu dan pematang. Lahanpanjang, Sariak, Sialang, Lubuk Batu, dan Gunung Malelo memang dibatasi hamparan sawah, hutan, dan sungai dengan ‘kampung luar’. Hanya ada jalan tanah berbatu yang takdiaspal sejak alam terkembang.

Meski terisolasi, anak-anak kampung ituterkenal pandai mengaji dan suka bekerjakeras. Suara tadarus mereka terdengar dari toa dibawa angin gunung hingga larut. Kerja keras mereka dapat dilihat dari tradisi ‘menjonjong’. Kampung di sepanjang jalan lintas seolah sepakat Ramadan milik para ‘penjonjong’ dari kampung kaki bukit. Mereka bawa lepat, tapai, kolak, lapek bugih, onde-onde, kue talam, dan bubur labu yang padansebagai sajian buka.

Sejak bakda lohor, sedang berpuntal bayang-bayang, anak-anak kaki bukit berbaris turun menjonjong. Tungkai mereka yang panjang bisa saja melangkah lebih cepat. Tapi mereka sengaja berlambat-lambat supaya terlihat saat lewat, sampai seseorang melambai, ”Kue!”

Pulangnya mereka melangkah cepat, menempuh jalan pintas di tengah sawah. Aku sering melihat kepala mereka terijok-ijok di balik belukar rimba. Salah satu anak yang menarik perhatianku adalah Si’am. Ia tinggi ceking, rambutnya acak-acakan. Kata orang, ia anak yatim.

Ayahnya tewas tertimpa pohon rebah di hutan. Si’am menjadi tulang punggung keluarga. Jika aku malas disuruh-suruh, ayah tinggal bilang, ”Sudah melihat contoh ke yangmenang, masih saja kau malas!”

“Untuk apa kau intip Si’am lewat kalau tak berbekas?” timpal ibu pula.

Aku memang suka mengintip anak itu. Kata cerita lagi, ia rela memberikan sepotong telur di pinggannya untuk adiknya yang belum kenyang. Jika membeli kue, aku akan memanggil Si’am dengan suara bergetar, ”Kue!”

Si’am datang dan menarok talamnya di langkan (rumah kami masih rumah papan). Ibu membuka tudung talamnya. Aku mengambil lapek bugih dan tapai yang kusukai. Ibu bertanya tentang keluarga Si’am dan dijawab sesuai yang ditanyakan. Akuingin ibu bertanya lebih banyak, tapi ibu tak tahu perasaanku. Aneh, tiap teringat lapek bugih dan tapai ubi, aku akan teringat wajah dan bau keringat Si’am yang wangi.

***

Lebaran di kampungku tak hanya baju baru dan pawai takbiran, juga kue-kue yang hanya ada saat Lebaran tiba. Kue loyang, sagun bakar, sapit, roti sagu, kue sangko, bolu, kue semprit. Tak ketinggalan lamang, beras ketan pakai santan, dimasukkan ke dalam bambu yang dilapisi daun pisang muda, lalu dijerang di perapian. Rasanya legit dan gurih, apalagi jika dihidangkan hangat-hangat!

Semua dibuat sendiri oleh ibu-ibu dan saudara perempuan kami, dari malam ke malam. Rasanya ada yang kurang jika tak semua jenis kue dibuat. Meski tak semua dihabiskan saat Lebaran. Sedikitnya satu stoples tiap jenis yang disimpan dalam almari. Dan itu tahan berbulan-bulan, bahkan sampai Lebaran berikutnya. (Meski diam-diam—ini tak boleh kamu tiru, Tsabit—kami anak-anak, sering mencurinya!).

Di malam Ramadan, ibu-ibu seolah berlomba mengaduk adonan, menggiling tepung beras, memarut kelapa, menuang gula untuk kue-kue manisan, dan bumbubumbu untuk kue-kue legit. Kelapa untuk sagun. Semua serba manual. Maklum, belum ada listrik. Peralatan dan cetakan, saling pinjam antar tetangga. Alu lesung, giling batu, loyang, pengocok telur, pada berdentang. Api menyala di kompor dan tungku-tungku. Menyala pula lidah ustaz di masjid kami, ”Lailatul kadar tak jatuh di dapur…”

Ibu-ibu berbisik. “Bikin kue juga ibadah. Nanti Lebaran kan bapak-bapak juga yang minta lebih dulu,” begitu kata Mak Tando.

Dan memang, ketika Lebaran tiba, kue-kue itulah pencipta suasana. Betapa tidak, Aida. Kami punya tradisi maanta kue (mengantar kue) kepada sanak saudara, yang dekat dan yang jauh.

Kue-kue dalam rantang, paling bawah potongan lamang, kami bawa adik-beradik ke rumah kakek-nenek, paman, bibi, uda-uni, saudara semua. Pulangnya, rantang itu diisi uang. Kami tak sabar mengguncangnya di jalan. Ada yang gemerincing. Tong kosong nyaring bunyinya, seloroh kami. Kalau gemerisik, dengan dada berdegup kami buka di kamar.

Anak saudara akan datang pula ke rumah kami. Ibu juga menyiapkan uang buat mereka. Dengan uang hasil maanta kue itu, kami bermain di arena pasar malam, naik buayan kaliang (komidi putar) dan menonton sulap-sulapan.

***

Kini Kudal tak sabar ingin menikmati cerita-ceritanya sendiri. Begitu turun dari mobil travel yang membawa mereka dari Kota Padang, istri dan anaknya disambut orang lebih dulu. Perempuan itu dituntun ke dalam, Tsabit dibimbing, si kecil digendong. Sementara Kudal sibuk menghidu aroma yang ia rindu. Namun masih belum. Ia sadar, mungkin nanti malam. Lebaran beberapa hari lagi, bukan?

Menjelang sore, Kudal menunggu barisan anak kaki bukit lewat. Ia siap melambai jika mereka datang. Tapi tak ada satu pun kecuali deru kendaraan yang kian padat. Ia bertanya,”Anak-anak penjonjong kok belum lewat, Bu?”

“Sudah tak ada lagi. Adikmu sudah membuat pabukoan. Ada lagi yang kau mau?”

“Ndak. Aku hanya ingat Si’am,” Kudal menghindar.

“Si’am anak yatim itu?”

“Ya. Ke mana dia sekarang?” Ibu tersenyum. “Seperti kamu, ia juga merantau. Ke Malaysia. Sejak generasi ia ke bawah sudah jarang ada yang menjonjong, dan beberapa tahun ini tak ada sama sekali.”

Malamnya, dalam lelah, Kudal menajamkan hidung dan telinga. Tak ada aroma, tak ada dentang-denting perabot loyang. Akhirnya ia tertidur, dan keesokan hari ia sibuk menerima tamu dan bertamu. Tapi tak sepenuhnya ia abai. Sepulang dari makam neneknya, mata Kudal melirik almari kaca di ruang tamu. Kosong saja. Terloncat tanyanya pada Monika, ponakannya yang remaja, ”Kue lebarannya mana, Nik?”

“Sudah lama ndak buat kue Lebaran, Mak.”

“Tidak maanta kue ke saudara?”

“Siapa yang mau? Malu. Nah, mumpung Mamak bertanya, nanti antar Monik ya.”

“Ke mana?”

“Cari kue.”

“Di mana?”

“Swalayan Sabur, Pasar Surantiah!”

Aida telah berdiri di sisi Kudal. Mereka saling pandang. Tanpa berkata-kata mereka tahu ada yang hilang. Dan Kudal, dalam sisi perasaannya yang rawan, merasa Lebaran di kampung halaman tak lebih dari kue-kue dalam kaleng. Berdentang-dentang. Mencolok, warna-warni. Tapi di sisi hatinya yang terbuka pada perubahan hidup manusia, ia berbisik rida; biarlah, bukan karena ini aku pulang. Ia melihat ibunya yang setengah bungkuk menyiapkan telekung untuk tarawih nanti malam. Tarawih malam terakhir. Setelah itu, Lebaran. Dentang kue-kue dalam kaleng.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walillahilhamd!

 

 

Rumahlebah, Juli 2013

Penulis mengelola Komunitas Rumahlebah dan Jurnal Cerpen Indonesia di Yogyakarta. Buku cerpennya antara lain Parang tak Berulu (2005).

One Response

  1. RTB sepertinya suka memakai nama Kudal untuk tokoh cerpennya. Kudal, anak Andam di cerpen ‘Laju Buaian di Rumah Tak Berpenghuni’, juga Aida kalau tak keliru, di cerpen Aida Kreol. Ending cerpen-cerpennya selalu memikat.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: