Archive for August, 2013

Muslihat Membunuh Panglima Langit
August 25, 2013


Cerpen Triyanto Triwikromo (Koran Tempo, 25 Agustus 2013)

Muslihat Membunuh Panglima Langit ilustrasi Yuyun Nurrachman

TAK ada yang memperhatikan dua perempuan yang tengah mempercakapkan rencana pembunuhan di Dante Coffee yang sunyi itu. Musik mengalun pelan dan bisik-bisik mereka nyaris tak terdengar.

“Aku meminta tolong kamu membunuh Panglima Langit Abu Jenar untuk Tuhan,” kata perempuan cantik berumur 40-an itu kepada Widanti.

“Membunuh untuk Tuhan?”

“Ya, siapa pun yang bisa membunuh Abu Jenar akan menyelamatkan sebuah tanjung, sebuah dunia. Dan menyelamatkan dunia, berarti menyelamatkan Tuhan, bukan?”  (more…)

Advertisements

Aksesori
August 25, 2013


Cerpen Ida Ahdiah (Jawa Pos, 25 Agustus 2013)

Aksesoris ilustrasi Budiono

SATU per satu, persiapan untuk pernikahan putriku, Sekar, mulai kelihatan bentuknya. Undangan sudah tinggal mencantumkan nama dan alamat, menu katering sudah dipesan dan baru saja, pesanan 15 baju koko warna kuning untuk anak laki-laki dan 15 setel baju muslimah warna merah muda untuk anak perempuan, kuterima. Aku juga sudah membeli 2 setel baju muslimah dan 2 setel baju koko untuk dewasa.

’’Sebulan menjelang menikah, tolong kamu antar baju-baju ini ke panti yatim. Kamu ajak Beno ke sana. Jangan lupa katakan pada pengasuh panti untuk datang di akad pernikahanmu, pukul 10 pagi. Ibu sudah siapkan mobil untuk menjemput mereka,” pintaku pada Sekar sambil menunjukkan baju-baju itu padanya malam itu, ketika ia tiba di rumah seusai mengepas kebaya pengantinnya.  (more…)

Wasiat Bu Kompyang
August 25, 2013


Cerpen Komang Adnyana (Kompas, 25 Agustus 2013)

Wasiat Bu Kompyang ilustrasi Budi Ubrux

IBU Kompyang meninggal. Karena sakit paru-paru meski sudah dirawat di rumah sakit di luar negeri. Sebelum nafasnya terputus, rohnya melayang, ia masih sempat memberikan surat wasiat kepada Gorda, anaknya.

Sebagai pemimpin kelompok media terkenal di pulau ini, Gorda merasa harus menggelar upacara pengabenan dengan megah. Dan benar saja, rentetan upacara kematian itu justru berlangsung seperti sebuah perayaan.

Ya, perayaan. Karena memang konon begitulah sejatinya makna kematian. Tak perlu ditangisi. Harus dilepas. Diterima. Ditolak pun malaikat maut tak akan mundur bila memang sudah waktunya. Klise memang. Tapi kematian Bu Kompyang sama sekali tak klise. Ia istimewa, tepatnya dibuat istimewa.  (more…)

Kisah Seorang Pandai
August 18, 2013


Cerpen Bertolt Brecht (Koran Tempo, 18 Agustus 2013)

Kisah Seorang Pandai ilustrasi Yuyun Nurrachman

ALKISAH, hiduplah seorang anak lelaki yang pandai. Sangai pandai. Bahkan luar biasa pandai. Karena kepandaiannya ia dapat mendengar tanaman yang sedang tumbuh di kesunyian malam, dan bahkan kadal yang sedang batuk sekalipun. Ya, kepandaiannya masih banyak lagi. Semua orang mempercayainya, dan tentu saja yang paling percaya adalah dirinya sendiri. Mau tidak mau ia menjadi teladan bagi setiap orang. Ia sendiri juga menyadarinya. Syahdan, suatu ketika ia pun menjadi orang yang sangat pandai. Ia begitu sangat dihargai. Akan tetapi ia masih punya kepandaian lain yang ratusan.. bukan.. ribuan.. bukan.. ratusan ribu kali lebih terhormat. Oleh karenanya ia pun tidak pernah berpikir lamban seperti seekor keledai atau unta; yang menurutnya tidak mungkin terjadi sama sekali. Ya, tentu saja tidak mungkin! Ia berkata pada dirinya sendiri. Ia harus menyadari hal ini. Bukankah begitu?  (more…)

De Schoone Slaapster Ontwaakt
August 18, 2013


Cerpen Anita Kastubi (Suara Merdeka, 18 Agustus 2013)

De Schoone Slaapster Ontwaakt ilustrasi ....

SOCIETEIT de Harmonie, awal Mei 1908

Wajahku sungguh kurang Eropa, meski ayahku jelas asli Italia. Itu karena ibuku Marie yang bernama asli Salem, kuat menumbuhkan gen Jawa padaku. Tulang hidungku tinggi, membesar di bagian bawah. Apa pun, aku tak pernah merasa kurang untung. Wajah ini memudahkanku bergaul di kalangan ningrat Jawa maupun elite Belanda dan Eropa. Dari bayangan cermin berukir di depanku, kulihat mereka berdansa musik riang di Harmonie.  (more…)

Pohon Tanjung Itu Cuma Sebatang
August 18, 2013


Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 18 Agustus 2013)

Pohon Tanjung Itu Cuma Sebatang ilustrasi Bagus

KETIKA Didin mengantarkan surat itu pada awal Februari 1996, keinginannya berjumpa Misral menjelma gunung berapi yang hendak meletus. Sudah empat puluh tahun mereka tak bertemu. Bapak rindu sekali padamu, Nak. Kau pun begitu, kan? Datanglah ke sini. Ajak Rosnah dan anak-anakmu. Sindulami pasti sudah punya adik, kan? Berlebaranlah di sini, atau bahkan sahur dan berbukalah di rumah ini.  (more…)